Rabu, 27 September 2017

MENGENAL IKAN MASA RAJADANU

Penyediaan benih ikan yang bermutu merupakan salah satu kebutuhan utama dalam meningkatkan produktivitas usaha budidaya ikan air tawar .Benih ikan bermutu yang dihasilkan oleh Balai-Balai Penelitian perlu dikembangkan penyebarluasannya di daerah.

Hasil kajian adaptasi ikan mas strain Rajadanu yang dilaksanakan oleh IPPTP Mataram, kerjasama dengan Balitkanwar Sukamandi pada TA. 1996/1997 diketahui daya adaptasi dan laju pertumbuhannya lebih baik dari Majalaya yang sudah lama dikenal di NTB. Selain itu dari segi rasa tidak berbeda dengan Majalaya. Melihat kenyataan tersebut Balai Benih Ikan (BBI) Batukumbung mengembangkan pembenihan Rajadanu dan pada awal Pebuari 1998 benih Rajadanu telah berhasil diproduksi. Kajian Pembesaran Rajadanu hasil pembenihan tersebut telah dilaksanakan di kolam BBI Batukumbung dan di sawah (minapadi) di desa Teratak Lombok Tengah TA. 1999/2000, menunjukkan bahwa daya adaptasi Rajadanu yang dipelihara di kolam cukup tinggi dengan kelangsungan hidup (SR) mencapai 75%, produktivitas sebesar 5.050 t/ha, masa pemeliharaan 3 bulan. Pada pemeliharaan di sawah (minapadi legowo), tingkat kelangsungan hidup mencapai 73%, dengan produktivitas rata-rata 204 kg/ha, masa pemeliharaan 60 hari.
Ikan mas strain Rajadanu

BIOLOGI IKAN MAS RAJADANU
Rajadanu termasuk bangsa (ordo) Cypriniformes, sub bangsa Cyprinoidei, suku (family) Cyprinoidea, sub suku Cyprininae, marga (genus) Cyprinus dan jenis (speciesCyprinus carpio, strain Rajadanu.

Ciri-ciri morfologi:
  1. Bentuk badan memanjang dengan perbandingan panjang total dan tinggi badan 3,5 : 1.
  2. Badan bersisik penuh dengan ukuran sisik normal.
  3. Punggung berwarna hijau keabu-abuan, makin kearah perut warna sisik semakin memutih dan sampai perut berwarna putih.
POTENSI BIOLOGI
1. Sifat reproduksi induk:
  • Kematangan induk : betina : umur 1,5 – 2 tahun, dengan bobot 2-3 kg; jantan : umur 0,5 -1 tahun dengan bobot 0,6 - 1 kg.
  • Diameter telur :1,3 – 1,6 mm
  • Fekunditas/ kg induk: 148.000 151.000 butir.
  • Derajat penetasan : 85 – 93 %
  • Panjang larva : 4 – 7 mm.
2. Kebiasaan makan
Ikan mas Rajadanu termasuk pemakan segala (omnivora). Makanannya berupa jasad hewan atau tumbuhan yang biasanya hidup didasar perairan. Hewan dasar tersebut seperti Cacing, Siput, dll. Ikan mas Rajadanu makan dengan cara mengambil lumpur, menghisap bagian-bagian yang dapat dicerna dan sisanya akan dikeluarkan. Ikan mas Rajadanu memberikan daya adaptasi dan laju pertumbuhan yang tinggi dengan pemberian pakan buatan.

3. Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan fungsi dari metoda budidaya yang di terapkan, padat penebaran, mutu dan jumlah pakan, mutu air serta kompetisi. Hasil kajian di kolam BBI Batukumbung, benih ukuran 5-8 cm (5-10 gram) dengan kepadatan 10 ekor/m2, diberikan pakan komersial 3-5% dari berat individu dalam waktu 3 bulan dapat mencapai 73,29 gram per ekor. Sementara hasil kajian minapadi dengan cara tanam jajar legowo, benih ukuran 5-8 cm dengan kepadatan 5000 ekor/ha, dalam waktu 60 hari pemeliharaan dapat mencapai 33,87 gram per ekor.

Sumber : Lembar informasi pertanian (Liptan) IP2TP Mataram No. 06/Liptan/200

DISEMINASI TEKNOLOGI: BUDIDAYA UDANG PISANG (PENAEUS Sp) SISTEM SEMI INTENSIF




































SUMBER:
BPBAP Ujung Batee, 2017. Budidaya Udang Pisang Sistem Semi Intensif. Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee. Disampaikan pada acara Temu dan Gelar Teknologi, PENAS PETANI NELAYAN XV 2017. Banda Aceh 5 – 11 Mei 2017

5 (Lima) Hewat Laut Ini Mati Karena Sampah Plastik Kita


Produk plastik memiliki peran yangs angat signifikan dalam kehidupan sehari-hari orang di seluruh dunia. Setidaknya Lebih dari 300 juta ton plastik dikonsumsi setiap tahun, namun pernahkah kita bayangkan seberapa besar dampak dari angka-angka tersebut.
Bagi mereka yang tinggal di wilayah pantai, dengan hanya berjalan-jalan di pantai dapat memberi tahu kepada siapa pun tentang betapa mengejutkannya kecanduan kita terhadap plastik seperti botol, kaleng, tas, tutup dan sedotan telah menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan. Di daerah lain, lebih miris lagi karena sisa-sisa bangkai hewan sering dapat diamati; Puing-puing plastik yang banyak ditelan atau menjerat masih terlihat lama setelah kematian mereka. Sayangnya, sejumlah besar polusi plastik bahkan tidak terlihat oleh mata manusia, dengan sebagian besar polusi terjadi di laut atau pada tingkat mikroskopis.


Penggunaan jutaan ton plastik berumur pendek cukup sederhana, tidak berkelanjutan dan berbahaya. Namun saat ini baru mulai terlihat konsekuensi luas dari jumlah plastik tersebut dan bagaimana hal itu mempengaruhi semua makhluk hidup. Menurut sebuah studi dari Universitas Plymouth, polusi plastik mempengaruhi setidaknya 700 spesies laut, sementara beberapa perkiraan menunjukkan bahwa setidaknya 100 juta mamalia laut terbunuh setiap tahun akibat polusi plastik.

Berikut adalah beberapa spesies laut yang paling terkena dampak polusi plastik.

1. Kura-Kura Laut

Hewan-hewan ini dalam kondisi bahaya akibat polusi plastik. Seperti banyak hewan laut lainnya, penyu menyalahgunakan sampah plastik untuk sumber makanan yang layak, terkadang menyebabkan penyumbatan pada sistem pencernaan mereka. Meskipun populasi penyu yang menurun di lautan disebabkan oleh berbagai faktor (yang sebagian besar melibatkan eksploitasi manusia), polusi plastik memainkan peran penting.
Studi terpisah dari tahun 2013 menunjukkan bahwa sekitar 50 persen penyu laut menelan plastik pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan sekarat karenanya. Studi lain tentang spesies Loggerhead menemukan bahwa 15 persen kura-kura muda yang diperiksa telah menelan sejumlah besar plastik sehingga sistem pencernaan mereka terhambat.

2. Anjing Laut dan Singa Laut

Kehidupan laut bisa terjerat dalam berbagai puing laut termasuk jaring ikan, benang, dan umpan. Meski begitu, ada sejumlah anjing laut dan singa laut yang terjerat dalam kantong plastik atau pita pengepakan plastik yang menyebabkan luka dan kematian.

3. Burung Laut

Polusi plastik menyebabkan kematian jutaan spesies burung laut setiap tahunnya. Diperdebatkan lebih dari burung lain, burung elang Laysan telah sangat terpengaruh oleh puing-puing plastik melalui teknik berburu mereka. Ketika burung elang melintasi menyelam ke laut untuk menangkap ikan, cumi-cumi atau makanan lain, mereka menggunakan paruhnya untuk meluncur ke permukaan, memunguti plastik di sepanjang jalan.
Mengejutkan, sekitar 98 persen elang laut yang diteliti ditemukan telah memakan beberapa jenis puing plastik. Begitu plastik telah tertelan, hal itu menyebabkan penyumbatan di saluran pencernaan dan bisa menusuk organ dalam.

4. Ikan

Ikan, bersama dengan hampir semua mamalia laut yang membawa air melalui insangnya, semakin berisiko mengalami puing plastik mikroskopik. Sebuah penelitian yang dilakukan di University of Exeter Inggris menunjukkan bahwa puing-puing laut mikroskopis bisa memakan waktu hingga enam kali lebih lama agar hewan tersebut melepaskan diri dari perbandingan dengan menelan sampah secara lisan.
Tentu saja polusi plastik sangat mempengaruhi spesies ikan, namun tidak seperti hewan lainnya, inilah salah satu hewan yang juga biasa dimakan manusia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa manusia ikan terus mengkonsumsi pada satu waktu atau beberapa mikrofiber plastik yang tertelan.

5. Paus dan Lumba-Lumba

Seperti mamalia laut lainnya, paus sering menyalahgunakan puing-puing laut untuk sumber makanan potensial. Pada beberapa spesies, mirip dengan elang laut, mulut paus begitu besar sehingga tanpa sadar mengambil puing-puing plastik (teknik yang diamati pada paus baleen). Necropsies dilakukan setelah banyak ikan paus melihat adanya peningkatan jumlah puing-puing plastik yang ditemukan.
Sebuah studi juga menemukan bahwa ratusan spesies cetacea telah terkena dampak negatif oleh polusi plastik dalam dua dekade terakhir. Hambatan sering menusuk dan merobek lapisan perut, menyebabkan kelaparan dan kematian. Menurut Buletin Polusi Laut, cetacea menelan puing-puing plastik setinggi 31 persen, dan pada gilirannya, 22 persen dari cetacea tersebut berisiko tinggi mengalami kematian.

Sumber :
http://www.onegreenplanet.org/animalsandnature/marine-animals-are-dying-because-of-our-plastic-trash

Senin, 25 September 2017

PROSES PENURUNAN MUTU PADA IKAN



Secara umum komoditas/bahan pangan mempunyai sifat mudah mengalami kerusakan/busuk (perishable), tidak terkecuali ikan. Setidaknya ada 2 (dua) alasan mengapa ikan termasuk dalam bahan pangan yang mudah busuk (perishable food) adalah : (1) Tubuh ikan mengandung protein dan air cukup tinggi, sehinggga merupakan media yg baik bagi pertumbuhan bakteri pembusuk dan bakteri mikroorganisme lain, dan (2)  Daging ikan mempunyai sedikit tenunan pengikat  (tendon) , sehingga proses pembusukan pada daging ikan lebih cepat dibandingkan dengan produk ternak atau hewan lainnya. Komposisi kimia dalam daging ikan dapat dilihat pada tabel berikut
Pada dasarnya, proses penurunan mutu / pembusukan pada ikan terjadi sesaat setelah ikan mati. Perubahan – perubahan tersebut terjadi terutama disebabkan oleh : (a) aktivitas enzim; (b) aktivitas kimiawi / adanya oksidasi lemak oleh udara; dan (c) aktivitas mikroorganisme / bakteri.
Enzim yang terdapat dalam tubuh ikan akan merombak / menguraikan organ – organ tubuh ikan dan mengakibatkan perubahan rasa (flavor) bau (odor), rupa (appearance), dan tekstur (texture). Oksigen yang terkandung dalam udara mengoksidasi lemak daging ikan yang mengakibatkan munculnya bau tengik (rancid). Perubahan – perubahan yang diakibatkan oleh aktivitas enzim dan aktivitas kimiawi menyebabkan komponen tubuh ikan menjadi lebih sederhana sehingga dapat memicu pertumbuhan bakteri pada tubuh ikan.
Dalam kenyataannya proses kemunduran mutu ikan berlangsung sangat kompleks. Satu dengan lainnya saling terkait, dan bekerja secara simultan. Untuk mencegah terjadinya kerusakan secara cepat, maka harus selalu dihindarkan terjadinya ketiga aktivitas secara bersamaan.
Perubahan - Perubahan Ikan Setelah Ikan Mati
Hyperaemia
Hyperaemia merupakan proses terlepasnya lendir dari kelenjar - kelenjar yang ada di dalam kulit. Proses selanjutnya membentuk lapisan bening yang tebal di sekeliling tubuh ikan. Pelepasan lendir dari kelenjar lendir, akibat dari reaksi khas suatu organisme. Lendir tersebut terdiri dari gluko protein dan merupakan substrat yang baik bagi pertumbuhan bakteri.

Rigor Mortis
Fase ini ditandai oleh mengejangnya tubuh ikan setelah mati. Kekejangan ini disebabkan alat-alat yang terdapat dalam tubuh ikan yang berkontraksi akibat adanya reaksi kimia yang dipengaruhi atau dikendalikan oleh enzim. Dalam keadaan seperti ini, ikan masih dikatakan segar.

Autolysis
Fase ini terjadi setelah terjadinya fase rigor mortis. Pada fase ini ditandai ikan menjadi lemas kembali. Lembeknya daging Ikan disebabkan aktivitas enzim yang semakin meningkat sehingga terjadi pemecahan daging ikan yang selanjutnya menghasilkan substansi yang baik bagi pertumbuhan bakteri.

Bacterial decomposition (dekomposisi oleh bakteri)
Pada fase ini bakteri terdapat dalam jumlah yang sangat banyak, sebagai akibat fase sebelumnya. Aksi bakteri ini mula-mula hampir bersamaan dengan autolysis, dan kemudian berjalan sejajar.
Bakteri menyebabkan ikan lebih rusak lagi, bila dibandingkan dengan fase autolysis. Jenis-jenis bakteri tersebut adalah: Pseudomonas, Proteus Achromobacter, Terratia, dan Elostridium.

Selama ikan masih dalam keadaan segar, bakteri-bakteri tersebut tidak mengganggu. Akan tetapi jika ikan mati, suhu badan ikan menjadi naik, mengakibatkan bakteri-bakteri tersebut segera menyerang. Segera terjadi pengrusakan jaringan-jaringan tubuh ikan, sehingga lama kelamaan akan terjadi perubahan komposisi daging yang kemudian mengakibatkan ikan menjadi busuk.
Bagian-bagian tubuh ikan yang sering menjadi target serangan bakteri adalah : Seluruh permukaan tubuh, Isi perut, dan Insang.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penurunan Mutu Ikan
Cara Penangkapan
Ikan yang ditangkap dengan alat trawl, pole, line, dan sebaginya akan lebih baik keadaannya bila dibandingkan dengan yang ditangkap menggunakan gill-net dan long-line. Hal ini dikarenakan pada alat-alat yang pertama, ikan yang tertangkap segera ditarik di atas dek, sedangkan pada alat-alat yang kedua ikan yang tertangkap dan mati dibiarkan terendam agak lama di dalam air. Kondisi ini menyebabkan keadaan ikan sudah tidak segar sewaktu dinaikkan ke atas dek.

Reaksi Ikan Menghadapi Kematian
Ikan yang dalam hidupnya bergerak cepat, contoh tongkol, tenggiri, cucut, dan lain-lain, biasanya meronta keras bila terkena alat tangkap. Akibatnya banyak kehilangan tenaga, cepat mati, rigor mortis cepat terjadi dan cepat pula berakhir. Kondisi ini menyebabkan ikan cepat membusuk.
Berbeda dengan ikan bawal, ikan jenis ini tidak banyak memberi reaksi terhadap alat tangkap, bahkan kadang-kadang ia masih hidup ketika dinaikkan ke atas dek. Jadi masih mempunyai banyak simpanan tenaga. Akibatnya ikan lama memasuki rigor mortis dan lama pula dalam kondisi ini. Hal ini menyebabkan pembusukan berlangsung lambat.

Jenis dan Ukuran Ikan
Kecepatan pembusukan berbeda pada tiap jenis ikan, karena perbedaan komposisi kimia ikan. Ikan-ikan yang kecil membusuk lebih cepat dari pada ikan yang lebih besar.

Keadaan Fisik Sebelum Mati
Ikan dengan kondisi fisik lemah, misal ikan yang sakit, lapar atau habis bertelur lebih cepat membusuk.

Keadaan Cuaca
Keadaan udara yang panas berawan atau hujan, laut yang banyak bergelombang, mempercepat pembusukan.
Penurunan mutu ikan juga dapat terjadi oleh pengaruh fisik. Misal kerusakan oleh alat tangkap waktu ikan berada di dek, di atas kapal dan selama ikan disimpan di palka. Kerusakan yang dialami ikan secara fisik ini disebabkan karena penanganan yang kurang baik. Sehingga menyebabkan luka-luka pada badan ikan dan ikan menjadi lembek.
Sumber : Adawyah R. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Jakarta

Selasa, 19 September 2017

TEHNIK BUDIDAYA KEPITING BAKAU


Postingan ini merupakan Kelanjutan dari postingan sebelumya, seperti yang sudah kita ketahui saat ini  para peminat Kepiting Bakau semakin hari kian semakin Bertambah, sedangkan para konsumen yang meminati kepiting ini juga semakin banyak baik dari dalam negeri Maupun Luar negeri.............Kurangnya pengetahuan terhadap Tehnik budidaya kepiting Bakau-Soka dapat memperlambat produksi dari jumlah yang ada terutama  di pasaran,  sehingga jika penangkapan dari alam, yang kesinambungan dan volume produksinya tidak dapat diandalkan, bahkan juga dapat di khawatirkan Habitat dan Regenerasi Kepiting Bakau akan menjadi Berkurang, ini juga pernah disampaikan sahabat saya Dalam Dunia Bloger Seperti catatan si OBOY,  Khususnya untuk Daerah Tarakan. Oleh karena itu sudah saatnya diusahakan secara lebih rasional yaitu melalui system budidaya.  

Tehnologi budidaya kepiting bakau itu telah diperkenalkan dan dipraktekkan di banyak negara seperti Jepang, Australia, China, India, Sri Langka, Philippina, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Khususnya di Negara kita sendiri,  usaha ini masih bersifat kecil-kecilan dan tidak berkesinambungan  karena kendala sumber benihnya mengingat di Indonesia belum ada yang mendirikan usaha Panti Pembenihan Kepiting. 

Budidaya kepiting dapat dikembangkan melalui beberapa jenis usaha , selain Pembenihan , yaitu : 
  1. Pembesaran dari benih menjadi kepiting ukuran konsumsi ; 
  2. Penggemukan yaitu memelihara kepiting hasil tangkapan dari alam yang beratnya dibawah standar menjadi ukuran konsumsi ; 
  3. Produksi kepiting cangkang lunak yaitu memelihara kepiting  yang sudah berukuran konsumsi tetapi bercangkang keras menjadi bercangkang lunak saat ganti kulit;  
  4. Produksi kepiting betina yang mengandung telur (matang gonad.). 

Tujuan utama dari Budidaya kepiting ialah agar harga jualnya lebih tinggi , sehingga meningkatkan penghasilan nelayan penangkap kepiting. Apabila produk dari budidaya itu dapat meningkatkan ekspor tentu akan menaikkan devisa Negara.  


A. Lokasi Budidaya Kepiting
Daerah yang cocok untuk lokasi budidaya kepiting  ialah  tambak yang bisa untuk budidaya bandeng dan udang. Tambak yang dasarnya berlumpur lebih cocok untuk kepiting.  Kadar garam airnya yang optimal berkisar 10-25 ppt . Sifat air lainnya yang cocok adalah : suhu 28-33 oC , pH 7,5 -8,5 dan DO lebih dari 5 ppm.


B. Benih kepiting
Terus terang saja Selama ini  dihasilkan dari penangkapan. ukurannya sangat bervariasi. Anakan kepiting yang berukuran berat  30-50 gram  dijadikan benih untuk budidaya  unit pembesaran .
Kepiting tangkapan yang ukurannya 150-200 gram menjadi benih untuk unit Penggemukan, terdiri dari kepiting jantan dan betina. Kepiting  ukuran itu juga dijadikan benih untuk unit  produksi cangkang lunak dan juga unit produksi kepiting bertelur, (betina saja.).

Benih kepiting untuk dibesarkan di lokasi lain, diangkut dengan cara yang sama seperti mengangkut kepiting untuk konsumsi.  Yaiut diikat capit-capitnya dengan tali , lalu digantungkan terbalik didalam bak atau ember yang diisi air payau. Pedagang biasanya membuat bak untuk penagngkut  itu ukuran garis tengah 50 cm.  Dapat juga dibuat dari fiber glass berbentuk kotak ukuran 50 x 50 cm , dalam 60 cm. 

Bak ukuran itu dapat memuat 150-200 ekor kepiting kecil-kecil berat 20-50 gram/ekor. Selama diangkut, kepiting direndam dalam air payau 10-25 ppt. Pengangkutan selama 7-8 jam , mortalitasnya berkisar 0 -40 %. (Gunarto,1989 dalam Cholik,1991).  


Seperti telah di dokumentasikan oleh  Cholik & Hanafi, 1991,  Tehnik budidaya kepiting yang dipraktekkan diberbagai daerah di Indonesia, dideskripsikan dibawah ini.

1.    Wadah
Wadah untuk memlihara kepiting  pembesaran, penggemukan , kepiting bertelur maupun kepiting cangkang lunak, diberbagai daerah dikembangkan sendiri oleh para petani dan nelayan tradisional secara sederhana, disesuaikan dengan kemampuan dan lokasi yang memungkinkan. 

1.1. Kotak dari bambu
Wadah  penggemukan itu kebanyakan dibuat dari bambu ukuran kotak 2 x 0,5 x 0,2 m  .Terbagi menjadi 2 bagian ( lihat gambar). Yang masing-bagian diberi tutup. Ruangan kotak itu disekat-sekat menjadi kotak-kotak kecil masing- masing  30 cm2. cukup untuk diisi dengan 1 ekor kepiting di setiap kotak tersebut.  Wadah seperti ini digunakan oleh para nelayan di Cilacap (Jawa Tengah ) dan juga di Bone (Sulawesi Selatan), untuk memelihara kepiting bertelur.

1.2. Kotak  plastik
Wadah yang mungkin digunakan juga ialah kotak dari plastic ukuran 60 x 40 x 20 cm.  Kotak ini juga di beri sekat-sekat menjadi 9 ruang masing-masing untuk 1 ekor kepiting.
Sistem kotak kecil ( disebut sistem baterei pada kandang ayam!) , ini berarti sangat hemat ruang atau padat penebaran tinggi ,yaitu 40 ekor kepiting per-M2.  
Dengan system ini mortalitas  hanya 5 % atau kurang, karena kepiting tidak dapat saling menyerang atau memangsa. Menurut Cholik (1991) kematian itu disebabkan oleh kegagalan  pada waktu ganti kulit.

Gambar: 7– Kotak bambu terapung  sistem baterei .

1.3. Kotak dari jaring  (Jaring apung)
Khusus untuk memelihara kepiting, Jaring apung yang dibuat berukuran kecil,  2,5 x 2,5 x 1 m  Bingkai diibagian atas dari papan sedikit agak lebar, sedemikian rupa sehingga papan bingkai itu menjorok kedalam , dapat menghalangi kepiting  keluar.  (lihat gambar : 8 )   dibawah ini.  Agar tidak hanyut terbawa arus, setiap sudut  diberi jangkar dengan  ikatan tali, seperti pada gambar itu.


   Gambar::8. Kotak Jaring Apung   (menurut Cholik dan Hanafi, 1994)

Metoda pemeliharaan kepiting dilakukan di petak tambak air payau . Petak luasnya  20 x 50 m = 100 m2,  petak tambak itu diberi pintu air 2 buah : satu untuk pemasukan air dan  satu untuk pembuangan. Didalam petak itu di sekat-sekat menjadi beberapa bagian dengan cara memasang pagar dari bambu.  Setiap bagian  ukurannya  misalnya 5 m x 10 m . dibagian  sekeliling pagar bambu dibuat lebih dalam berbentuk saluran keliling (caren ) sedalam 50-60 cm , sedangkan dibagian tengahnya menjadi pelataran yang dapat terendam air sedalam  30-40 cm.   (lihat gambar dibawah ini.) Metoda ini dapat ditemui di daerah Kamal, dan Tangerang  

1.4. Kotak berpagar tanpa caren
Dapat juga kotak-kotak yang dibuat dengan sekatan pagar bambu di dalam petak tambak, dibuat tanpa caren . Di dalam kotak-itu di bagian dalam pagar, dipasang bambu atau  gedek 0,5 -1 m dibawah permukaan air, dimana kepiting dapat berteduh. Seperti di  Lukis dibawah ini.. : Gambar: 7 menurut Cholik & Hanafi, 1991.



Gambar:9.Sekat petak tambak dengan pagar bambu.


1.5. Pagar dari jaring  dengan pintu air
Pemagaran  tambak dapat juga dipakai jaring  yang dipasang tegak menggunakan tihang-tihang kayu atau bambu. Pintu air juga dipasang saringan dari kerei bambu , seperti pada gambar: 10, dan tanpa caren  dalam pagar itu. Ditengah diberi pelataran terendam air 40-60 cm dimana kepiting mendapatkan makanan alami yang tumbuh disitu..
Gambar: 10 Pagar dari jaring berpintu air




Kotak dengan system pagar itu selain dipasang didalam petak tambak, dapat juga dipasang pada suatu teluk yang dangkal (lihat gambar: 13). Metoda ini dijumpai dipraktekkan petani tambak di Sumatera Utara. 


2.      Metoda  Pemeliharaan Kepiting
Telah diuraikan diatas, bahwa pemeliharaan kepiting  dilakukan dengan 4 macam  tehnik sesuai dengan tujuan jenis produksinya . Pada bagian ini diuraikan satu persatu. 


2.1. Pembesaran Benih
Yang paling banyak dilakukan metoda ini yaitu pembesaran kepiting hasil tangkapan yang masih berukuran kecil ( kurang dari 50 gram) dipelihara menjadi ukuran yang layak di konsumsi yaitu ukuran lebih besar dari 200 gram .  Pembudidayaan ini dilakukan secara tradisional yang bersifat ekstentif.  


2.2. Tempat Pemeliharaan
Tempat pembesaran ialah tambak yang biasa untuk memelihara bandeng dan udang.  Agar kepiting tidak keluar dari tambak, dibuatlah kurungan atau sekeliling tanggul tambak dipasang pagar dari bambu yang cukup rapat.  

Luas petak tambak yang dipergunakan untuk memelihara kepiting bervariasi, tergantung dari kepemilikan petani dan kondisi pengirannya dan juga aspek keamanan dipertimbangkan. Namun kisaran luas petak  antara  100 m2 sampai 0,5 ha. Petakan yang lebih besar lebih sukar di kelola , misalnya pengaturan air dan biaya pembuatan pagar akan lebih besar, sehingga biaya harus disesuaikan pula dengan kemampuan petani. 

Padat penebaran  sebaiknya 2 ekor/m2.  Derajat kehidupan dipengaruhi oleh kepatan tebar. Karena kepiting bersifat kanibal, semakin padat resiko dimangsa oleh sesamanya semakain besar.  Percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa pada padat tebar 1 ekor/m2 derajat kehidupan 77 % ; kepadatan 3 ekor.m2 sintasan 49% dan kepadatan 5 ekor/m2 sintasan hanya 32 % (Gunarto dan Cholik, 1990). Maka disepakati bahwa kepadatan tebar sebaiknya 2 ekor/M2  dimana sintasan dapat dicapai 70 % atau mungkin lebih. 
Lama pemeliharaan  3 bulan , dimana dari benih kepiting  berat awal 50 gram rata-rata , akan menjadi kepiting  dengan berat rata-rata 200 – 300 gram. Ukuran yang umum dipasarkan.


2.2.1. Pakan
Pakan yang diberikan ialah ikan rucah yang harganya murah atau binatang-binatang pengganggu di tambak seperti ular, belut yang dipotong-potong kecil-kecil. Di Negara lain seperti Malaysia dan Philippina , dianjurkan untuk memberi pakan kepiting  dengan bahan-bahan buangan dari penyembelihan hewan ( jerohan) ayam, dan ternak lain. Banyaknya ransum 3-5 % berat biomassa kepiting  2-3 kali sehari. Pemberian yang terlalu banyak , pakan akan bersisa dan membusuk dalam tambak sehingga kurang baik akibatnya bagi kepiting. Karena itu petani harus mengamati keadaan mutu air tambak, sehingga bila terjadi hal yang memburuk, dapat dilakukan pergantian air, pada waktu terjadi pasang. 


2.2.2. Pemanenan
Pada system pemeliharaan di tambak dengan pagar bambu  itu, cara pemanenan  Secara sederhana yaitu dimulai dengan membuang sebagian air tambak sampai kedalaman dalam petak  30 cm. Beberapa orang akan turun kedalam tambak membawa  keranjang untuk wadah kepiting yang ditangkap dan membawa sebatang bambu . Bambu itu di tancapkan  pada dasar tambak, lalu di tangkap oleh kepiting hingga dapat ditangkap dengan tangan saja.  Tetapi cara ini sering menyebabkan capitnya lepas, sehingga harga jualnya turun.  

Penangkapan secara total biasa dilakukan dengan pengeringan tambak, sehingga kepiting dapat ditangkap dengan seser, dan yang tersembunyi didalam lumpur dapat di juga ditangkap dengan seser dari bambu atau pengki untuk memungkinkan  mengeruk lapisan Lumpur tempat kepiting bersembunyi. 

2.2.3. Mengikat Kepiting Kepiting  mempunyai capit yang kuat, dan anggota badannya mudah putus, sedangkan bila anggota badan tidak lengkap, harga jualnya akan menurun.  Karena itu keterampilan cara mengikat kepiting  haruslah dipelajari dengan cermat. Dibawah ini disajikan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengikat kepiting hidup  dengan cara yang baik dan benar, agar kepiting tidak putus angota badan dan orang yang mengikatnya tidak terluka seperti di lukiskankan oleh  Rattanachote dan Dangwatanakul ( 1991).
Gambar:  14 - Mengikat Kepiting (Rattanachote & Dangwatanakul , 1991)
  
2.3. Penggemukan Kepiting
Penggemukan kepiting dilakukan  menggunakan wadah berupa kotak dari bambu yang di apungkan d dalam petak tambak. Konstruksi kotak bambu  (system) baterai) seperti dibahas pada buti r : 5.1.Setiap kotak kecil diisi seekor kepiting. 
Dengan system kotak-kotak kecil ini, sangat hemat dalam pemakaian ruang , dimana jumlah yang dipelihara  40 ekor kepiting per- m2. Lama pemeliharaan penggemukan ini hanya 3-4 minggu. Dari benih awal yang sudah berukuran 150-200 gram/ekor.  


2.4. Produksi kepiting cangkang lunak
Kepiting Bakau Oleh para petani  di Jawa Barat, kepiting cangkang lunak disebut kepiting “soka”.
Kepiting ini  mempunyai sifat secara periodik berganti kulit. Sementara kulitnya lepas, akan diganti dengan kulit baru yang masih lunak untuk beberapa jam lamanya sebelum menjadi keras kembali. Ketika cangkang lunak itu kepiting juga berkesempatan untuk tumbuh membesar. 

Frekuensi ganti kulit , pada yang masih muda  lebih cepat, semakin tua frekuensinya semakin jarang. 
Kepiting yang di pelihara sudah berukuran cukup besar yaitu 150-200 gram /ekor, dan lama pemeliharaan 2-3 minggu saja.  Pergantian kulit ini secara alami  dirangsang oleh faktor alam yaitu saat air pasang tinggi dari laut masuk  . Juga dipengaruhi oleh banyaknya pakan . Karena itu dalam pemeliharaan kepiting harus diberi pakan dalam jumlah cukup , tidak boleh kelaparan.

Bila wadah yang dipergunakan sistem baterei, dimana kepiting seekor dipelihara dalam satu kotak , sehingga tidak saling memangsa, maka derajat kehidupan selalu tinggi bahkan tidak ada yang mati.

Wadah yang digunakan dianjurkan seperti dilukiskan pada butir 5.1. diatas. Jadi sama dengan wadah untuk tujuan Penggemukan kepiting. 


2.5. Produksi kepiting bertelur
Para konsumen di restoran-restoran internasional, banyak menggemari kepiting yang mengandung telur. Memang kepiting yang penuh mengandung telur  sangat lezat . Telurnya berwarna merah jingga memenuhi seluruh rongga dibawah karapas.  Harganya menjadi berlipat 3-4 kali dibanding dengan kepiting yang gemuk tetapi tidak mengandung telur ! 

Yang dipelihara untuk ini tentu hanya kepiting berjenis kelamin betina saja, dan ukurannya sudah mencapai 200 gram atau lebih.  Petunjuk untuk postingan  ini telah diterangkan bahwa kepiting betina dapat dipercepat proses pematangan gonadnya dengan cara diablasi salah satu matanya.

Untuk jenis produksi ini , sebaiknya digunakan wadah berupa kotak-kotak dari bambu juga (sistem baterei) dimana seekor kepiting dipelihara di dalam satu kotak seperti digambar dan dijelaskan pada butir 5.1. 

Kepiting betina yang dipilih untuk dipelihara  ialah yang sudah cukup ukurannya ( dewasa) yaitu 200 gram atau lebih. Tidak ada tanda-tanda berpenyakit. 

Mula-mula kepiting betina tsb dipelihara dengan diberi pakan yang bermutu baik yaitu ikan rucah yang segar , juga cumi-cumi dan kerang-kerangan. Bahan pakan itu tentu harganya cukup mahal, tetapi harga produksinya juga mahal, sebagai kepiting bertelur .

Banyaknya ransum 2-3 % berat tubuh kepiting per-hari. Jenis pakan tsb. cara pemberiannya dicuci bersih lebih dahulu , lalu dipotong-potong kecil-kecil agak mudah dimakan oleh kepiting yang memang ukurannya sudah cukup besar. Pakan ini diberikan  selang sehari , mengingat kadang didaerah tertentu jenis cumi-cumi dan kerang-kerangn tidak selalu mudah diperoleh dan harganya cukup mahal.  

Selain pakan  tersebut diatas, kepiting  juga dapat diberi pakan berupa pelet kering yang biasa diberikan untuk udang ditambak , yaitu pelet udang klas “grower” (untuk udang yang sedang tumbuh ).Dosis pelet kering itu 2-3 % berat kepiting/hari, yang diberikan 2 kali , pagi dan sore. Malahan pakan pelet itu dapat diberikan sebagai pakan yang utama setiap hari.  Kepiting ternyata suka makan pelet kering itu.  3 hari setelah kepiting dipelihara, sehingga sudah cukup beradaptasi, lalu dilakukan ablasi mata. 

Kepiting dipegang dengan tehnik khusus agar japit dan anggota tubuh lainnya tidak putus.  Biasanya hanya tehnisi yang sudah terampil yang dapat dengan sempurna melakukannya.

Lalu satu mata kepiting itu di potong dengan gunting yang lebih dahulu dipanaskan (dibakar), agar lukanya cepat kering dan tidak mengeluarkan banyak cairan. Selesai ablasi, kepiting di rendam sementara didalam ember yang diisi larutan PK  3 ppm agar tidak infeksi. Setelah di desinfeksi selama 5 menit, kepiting  dikembalikan ke dalam kandangnya /kotaknya . Pemeliharaan selanjutnya , berupa pemberian pakan dan pengaturan pengairannya agar menjamin kepiting calon induk tsb. hidup optimal.

Biasanya setelah 3 hari , telur didalam gonadanya sudah mulai tumbuh dan 7 hari  gonada sudah berkembang penuh.  Tandanya dapat dilihat di bagian belakang tubuhnya di batas antara karapas dengan abdomen yang terlipat itu , mengembang dan berwarna merah -jingga.  Maka kepiting ini harus segera di panen dan dijual kepada pemesan.

Kepiting yang bertelur ini sebenarnya merupakan calon induk yang dapat dipelihara di Panti Pembenihan agar menghasilkan anak-anak kepiting. Yaitu sebelum di ablasi , lebih dahulu dikawinkan, agar betina ini mendapat sperma dari pejantannya un tuk fertilisasi telur-telurnya.  Namun karena tujuannya untuk konsumsi  di restoran, maka tidak perlu dikawinkan lebih dahulu.

Hal yang perlu dijaga oleh setiap petani yang memelihara kepiting, terutama untuk eksport, haruslah menjaga agar anggota badan (kaki-kaki, japit, dll) tidak putus. Karena anggota tubuh yang cacat akan menurunkan nilai jualnya.


Jadi Pada Prinsipnya dalam Usaha Budidaya Kepiting bakau ini, Ada 4 metoda budidaya kepiting  menurut  Produk yang dihasilkan , yaitu 
1.       Pembesaran dari benih menjadi kepiting  ukuran konsumsi.
2.       Penggemukan : kepiting jantan betina  agar menjadi lebih gemuk, harga meningkat
3.       Produksi kepiting cangkang lunak.
4.       Produksi kepiting bertelur. 


Lama pemeliharaan, pada no. 1 , 1-2 bulan , tergantung ukuran benih di awal pemeliharaan dan ukuran permintaan pasar/konsumen.

Pada no:2 ,  hanya 3-4 minggu. Pada no: 3,  3-4 minggu  Pada no:4 , 3 minggu sampai 1 bulan.
a.  Wadah  pemeliharaan  ada beberapa macam. Yang paling baik hasilnya ialah system Baterei,  berupa kotak dari bambu yang disekat-sekat  menjadi kotak-kotak kecil ukuran 30 cm2, masing-masing untuk wadah  satu ekor kepiting. Dengan kotak- kecil ini kepiting lebih aman terhadap kanibaisme , ketika sedang dalam kondisi ganti kulit. Sehingga wadah semacam ini menghasilkan derajat kehidupan 95-100%. 

b.  Wadah  berupa jaring apung, dapt digunakan , dengan ukuran 2,5 x 2,5 x 1 m  dipasang pada perairan  umum , diberi jngkar agar tidak terhanyut oleh arus.    Bila dipelihara jantan atau betina saja  secara terpisah, akan dapat mengurangi kanibalisme.

c.   Tambak bekas memlihara udang dan bandeng, dapat di sekat-sekat dengan  kerei bambu yang di tancapkan  20=30 cm kedalam Lumpur  agar kepiting tidak lolos.  Di bagian tengah kotak di beri pelataran tanah yang lebih tinggi , agar kepiting mencari makan. Sedangkan caren keliling yang agak  dalam ( 30-50 cm) kepiting dapat berteduh.    Pemeliharaan ini untuk pembesaran  dan /atau penggemukan kepiting. Hasilnya  mortalitas mencapai 10-20 % karena kanibalisme.

d.  Pemeliharaan kepiting didalam pagar (pen culture) dengan pagar bambu itu dapat juga dipasang pada teluk yang dangkal. Biasanya kepiting  sebagai benih (diawal pemeliharaan sudah cukup besar (100-150 gram)  agar menjadi gemuk sebelum di jual. 

e.  Wadah pemeliharaan berupa bak dari semen seperti di dalam Panti Pembenihan yang biasanya untuk udang, baik untuk memelihara kepiting calon induk sampai mengandung telur tingkat 2, tetapi tidak sampai memijah.  Ini perlu rangsangan  pengembangan telur /gonada dengan cara  ablasi mata, seperti diterangkan pada Materi Pokok 2. Disini hanya dipelihara kepiting betina saja, pejantan tidak diperlukan  karena yang berproduksi telur hanya yang betina saja. Bila dicampur jantan, malahan bisa  menyebabkan lebih banyak kematian karena kanibalisme.  

Budidaya (pemeliharaan kepiting) kesemuanya memerlukan pemberian pakan  yang harus diberikan secara cermat. Pakan harus  mencukupi dosisnya yaitu 5-10 % berat kepiting yang dipelihara seluruhnya ( biomassa) per-hari, diberikan 2 kali sehari.   Pakan harus dari bahan yang mudah didapat dan harganya tidak mahal, seperti, ikan rucah, kotoran dari penyembelihan hewan, sisa-sisa makanan dari restoran. Bila harga pakan  mahal misalnya pelet, tentu tidak menguntungkan bagi petani. 

Cara pemanenan kepiting dapat secara serentak (panen total) yaitu mengeringkan seluruh tambak tempat pemeliharaan kepiting.  Atau panen secara selektif, bial menggunakan system baterei, dimana kepiting yang bercangkang lunak  di panen. Yang lain, dipelihara lebih lanjut sampai ganti kulitnya.  

Cara panen sebagian (selektif) juga dilakukan untuk kepiting bertelur. Yang sudah mengandung telur saja yang dipanen.  Penanganan kepiting setelah dipanen haruslah dilakukan secara cermat supaya tidak mematahkan kaki-kakinya. Kepiting yang cacat, nilai jualnya akan menurun.  

Kepiting yang dipelihara didalam petak tambak yang diberi berpagar, waktu air surut, air didalam petak juga di surutkan sampai tinggal 20 cm. Ketika pasang naik, air di masukkan melalui pintu air, kepiting akan berenang menentang arus air laut yang mengalir masuk. Ini memudahkan pengumpulan kepiting yang berenang menentang arus air itu. Sifat  yang berenang menentang arus ini disebut “rheotaxis”. 

Kepiting yang ditangkap segera diikat secara sistematik dengan cara ikatan yang benar  agar kaki  atau capit tidak patah.  Hanya orang yang sudah terampil melakukan pengikatan yang berhasil mengerjakannya.  Karena itu para peserta kursus harus  berlatih mengikat kepiting dengan benar.

Pengangkutan jarak dekat, sampai 2-3 jam perjalanan, kepiting yang sudah diikat dengan benar, digantungkan terbalik dimasukan ke dalam kotak, sepanjang perjalanan harus dipercik dengan air payau, agar tetap basah. Metoda pengangkutan ini dapat berhasil hidup 90 % atau lebih.  



Keterangan
Postingan ini di maksudkan sebagai bahan pengetahuan  teori dasar bagi para pelaku utama , Pengusaha dan para pemerhati  budidaya Kepiting. Kemungkinan besar para pembaca  sama sekali belum pernah belajar yang mendalam tentang   Budidaya Perikanan pada umumnya dan budidaya kepiting bakau pada khususnya.  Namun demikian, para pembaca dan pengguna ini mempunyai minat yang cukup terhadap budidaya perikanan. Oleh karena itu  Artikel ini sebagai pengetahuan dasar, haruslah di pelajari dan dipahami secara sungguh-sungguh sebelum yang bersangkutan memulai  melakukan budidaya kepiting bakau.  Tanpa mempelajari teori sebagai dasar, kiranya mustahil, seseorang akan dapat memulai usaha budidaya kepiting ini.  

Juga setelah pelaku budidaya dan pengusaha, memulai usaha ini, tentu secara terus menerus mengingat dasar pengetahuan ini dan juga harus mengikuti  perkembangan  dan kemajuan tehnologi yang mungkin terjadi dikalangan para pelaku utama budidaya kepiting yang lain dan para peneliti serta akademisi yang pasti melakukan penelitian di bidang budidaya kepiting. 

Sangat di anjurkan agar para pelaku budidaya kepiting , mengikuti perkembangan tehnologi budidaya kepiting yang lebih mutahir, yaitu dengan cara menyimak tulisan/publikasi baik berupa karya-karya tulis, seminar, diskusi,  maupun publikasi dari media elektronik (inter net)  baik siaran yang bersumber di dalam maupun di luar negeri.  

Demikianlah , petunjuk singkat ini  merupakan pengetahuan awal untuk budidaya kepiting yang merupakan rangkuman dari berbagai   hasil penelitian para  peneliti/ cendekiawan bidang perikanan yang publikasinya  tersebar di berbagai perpustakaan, sehingga ini memudahkan para pemula dalam menimba ilmu khususnya budidaya Kepiting.  Semoga Karya tulis ini  dapat bermanfaat untuk perkembangan pembangunan Perikanan khususnya Budidaya Perikanan , lebih khusus lagi Budidaya


Untuk diketahui sebagai tambahan
Tambahan  1
1.       Tubuh kepiting berkulit/ bercangkang keras terdiri dari zat khitin. Kulit keras itu menghambat pertumbuhan, karena itu Kepiting secara periodic  berganti kulit, untuk mendapat kesempatan membesarkan tubuhnya. Bentuk tubuh kepiting tambak dari bagian dorsal (atas) berupa karapas yang membulat , sedangkan bagian kepala dada dan organ tubuh bagian dalam seperti alat pencernaan makanan, alat reproduksi , dsb. berada di dalam/ tertutup oleh karapas tsb. Bagian abdomen berupa segitiga terbentuk dari beberapa ruas , melipat erat dibawah ( bagian ventral) dari tubuhnya. Kaki jalan ke-1 berbentuk capit yang besar . kaki-kaki jalan no 2,3,4 berujung runcing berfungsi untuk berjalan; pasangan kaki jalan nomer 5 , berupa kaki dayung. 

2.   Pada kepiting jantan abdomen berbentuk segitiga yang sempit; pada betina berupa segitiga yang melebar.  Pada betina kaki-kaki renang berbulu sebagai tempat melekatnya telur-telurnya setelah dibuahi, dan yang sedang dieramkan. Pengeraman telur lamanya 10-12 hari , dilakukan olrh induk betina.

3.   Tempat hidup atau habitat kepiting bakau ialah wilayah perairan estuaria  yaitu hutan bakau, tambak , saluaran dan sungai sampai laut dekat pantai yang berair payau. Adapun wilayah penyebarannya  meliputi perairan pantai didaerah Indo-Pasifik, dari pantai timur benua Afrika, sampai kepulauan Polynesia, dari pulau-pulau di Jepang bagian selatan sampai pantai utara benua Australia. 

4.  Kepiting melakukan perkawinan di perairan estuaria sampai di laut. Telur setelah dibuahi , ditempelkan pada umbai-umbai (bulu-bulu kaki renang dibawah abdomen induk betina. Lama pengeraman telur 10-12 hari, menetas menjadi Pre-zoea yang setelah 30 menit, berubah menjadi Zoea-1 yang hidup planktonis dan makanannya terdiri fitoplankton : Chaetoceros sp. , Tetraselmis sp.  dan zooplankton yang ukurannya lebih kecil-kecil : Brachionus sp. dan nauplii Artemia.. Zoea bermetamorfosa setiap 3-4 hari untuk ber-turut-turut menjadi Zoea-2, Zoea-3, Zoea-4 dan Zoea -5. Total lamanya 18-20 hari, berubah menjadi stadia Megalopa. Megalopa berumur 5-7 hari berubah menjadi Crablet , yaitu benih kepiting kecil yang organ tubuhnya sudah menyerupai kepiting besar. Crablet berganti kulit setiap 4-7 hari berganti kulit dan tumbuh menjadi berukuran lebih besar. Pada umur 50-70 hari Crablet sudah dapat di jual sebagai benih kepiting untuk di deder ditempat yang lebih luas. 

5.      Benih kepiting yang dihasilkan di Panti Pembenihan berupa stadia Crablet berukuran 2-5 cm ( pada umur 50-70 hari)  untuk di pelihara di tempat pembesaran hingga bebrapa bulan lamanya menjadi kepiting ukukuran konsumsi dengan berat  150-200 gram atau lebih.  Namun sementara ini, benih kepiting   hasil tangkapan dari alam, telah berukuran  berat 30-50 gram . yang juga dijadikan benih dari awal pemeliharaan pembesaran menjdai kepiting ukuran konsumsi. 


Tambahan  2
  1. Calon induk dan induk kepiting dapat diperoleh dari hasil penangkapan di alam. Dengan syarat , anggota badannya utuh tidak ada cacat dan tidak ada penyakit. Calon induk dan induk kepiting  dipelihara  didalam bak-bak  didalam Panti Pembenihan.
  2. Pematangan gonad dilakukan dengan tehnik ablasi satu mata pada kepiting betina . Tehnik ablasi ini mendorong mempercepat proses pematangan gonad pada binatang Krustasea pada umumnya (termasuk udang dan Kepiting). Selain itu, agar proses pematangan gonad berhasil sempurna, harus juga di barengi dengan pemberian pakan yang bernilai gizi sesuai dengan kebutuhan kepiting , dan pengelolaan kualitas air yang sesuai. Telah diketahui juga bahwa bak pemeliharaan induk harus diberi dasar Lumpur agar perkembangan gonad menjadi baik ( telur yang dihasilkan banyak dan kemampuan pertumbuhan larva akan baik).
  3. Induk kepiting  setelah diablasi dipelihara di dalam bak yang di beri  dasar lapisan Lumpur , kedalaman air 50-80 cm diatas lapisan Lumpur , cukup aerasi dengan 1 batu aerasi per –m2 . Pakan berupa daging cumi-cumi , ikan , kekerangan yang segar dengan dosis ransum 5-10% berat  biomassa per-hari yang diberikan 2 kali pagi dan sore. Untuk kelengkapan gizi, dapat diberi pelet kering berkualitas seperti untuk induk udang windu ( kadar protein 40%), sebanyak 2-3 % biomassa per-hari dan diberikan 2-3 kali per-minggu.
  4. Pada Panti Pembenihan, Zoea-1 sampai Zoea 5 diberi pakan  berupa fitoplankton (Chaetoceros sp . dan  Tetraselmis sp.) dan zooplankton (Brachionus sp. dan nauplii Artemia sp.) semuanya disediakan  sebagai kultur di dalam Panti Pembenihan. Stadia Megalopa  ukuran lebih besar dan bersifat lebih agresif dan kanibal. Agar mengurangi kematian akibat kanibalsme, bak perlu diberi tempat persembunyian berupa  potongan jaring-jaring bekas atau tali rafiah yang dibuat ikatan dan pemberat agar tenggelam sampai dasar bak.  Megalopa pakan  berukuran lebih besar , maka diberikan Artemia yang ditetaskan umur 5 hari banyaknya pakan sekenyangnya. Setelah Megalopa umur 10 -12 hari akan berubah menjadi Crablet (benih kepiting). Sifatnya hidup didasar  (bentik). Pakan berupa  cacahan daging ikan, udang atau kerang yang di blender. Sampai kenyang. Umur 50-70 hari  benih kepiting dapat dijual untuk dipelihara di pendederan dalam kolam tanah (tambak) atau didalam hapa yang dipasang di dalam petak tambak.
  5. Penanggulangan penyakit diutamakan dengan cara memelihara kebersihan bak dan ruang dan lingkungan Panti Pembenihan. Penularan dari luar di cegah dengan pelaksanaan Cara Budidaya yang Baik  dan Bio security. Pemakaian anti biotika telah dilarang penggunaannya karena akan bersifat mengendap didalam Lumpur dan beberapa menyebabkan kanker pada manusia. Dianjurkan pemakaian bahan kimia sebagai disinfeksi yaitu merendam benih dan kepiting yang baru didatangkan dari luar  denga larutan PK 2-3 ppm selama 10-15 menit untuk membunuh organisme pemyakit seperti bacteria, jamur, protozoa. Atau sebagai disinfektan juga dapat dipakai larutan formalin 100-200 ppm selam 15-20 menit.

Tambahan 3
1. 4 macam cara budidaya Kepiting dibedakan menurut tujuan produksi yang akan dihasilkan , yaitu : 
  1. Pembesaran   : dari benih menjadi kepiting ukuran konsumsi (200gram atau lebih)
  2. Penggemukan   : kepiting  yang masih ukuran cukup besar 100-150 gram, dipelihara  3-4 minggu menjadi  kepiting berat 200-300 gram atau lebih, agar harga jualnya lebih tinggi.
  3. Produksi kepiting cangkang lunak (kepiting soka), dari kepiting yang berukuran sudah besar  untuk menjadi kepiting yang baru ganti kulit (berkulit lunak). Masa pemeliharaan 3-4 minggu. 
  4. Produksi kepiting bertelur .  Kepiting betina berukuran 150-200 gram dipelihara kira2 1 bulan , dirangsang perkembangan gonadanya dengan cara ablasi mata, ditunggu 1-2 minggu pasca ablasi agar gonada berkembang . Gonad yang berkembang dapat dilihat dari celah belakang karapas yang berwarna merah dan nampak menggembung penuh telur.

2. Wadah  pemeliharaan 
  1. Wadah  pemeliharaan  ada beberapa macam. Yang paling baik hasilnya ialah system Baterei ,  berupa kotak dari bambu yang disekat-sekat  menjadi kotak-kotak kecil ukuran 30 cm2, masing-masing untuk wadah  satu ekor kepiting. Dengan kotak- kecil ini kepiting lebih aman terhadap kanibaisme, ketika sedang dalam kondisi ganti kulit. Sehingga wadah semacam ini menghasilkan derajat kehidupan 95-100%. 
  2. Wadah  berupa jaring apung, dapt digunakan, dengan ukuran 2,5 x 2,5 x 1 m  dipasang pada perairan  umum, diberi jngkar agar tidak terhanyut oleh arus.    Bila dipelihara jantan atau betina saja secara terpisah, akan dapat mengurangi kanibalisme.
  3. Tambak bekas memlihara udang dan bandeng , dapat di sekat-sekat dengan  kerei bambu yang di tancapkan  20=30 cm kedalam Lumpur  agar kepiting tidak lolos.  Di bagian tengah kotak di beri pelataran tanah yang lebih tinggi, agar kepiting mencari makan. Sedangkan caren keliling yang agak  dalam ( 30-50 cm) kepiting dapat berteduh. 
  4. Pemeliharaan ini untuk pembesaran  dan /atau penggemukan kepiting. Hasilnya  mortalitas mencapai 10-20 % karena kanibalisme.
  5. Pemeliharaan kepiting didalam pagar (pen culture) dengan pagar bambu itu dapat juga dipasang pada teluk yang dangkal. Biasanya kepiting  sebagai benih (diawal pemeliharaan sudah cukup besar (100-150 gram)  agar menjadi gemuk sebelum di jual. 
  6. Wadah pemeliharaan berupa bak dari semen seperti di dalam Panti Pembenihan yang biasanya untuk udang , baik untuk memelihara kepiting calon induk sampai mengandung telur tingkat 2 , tetapi tidak sampai memijah.  Ini perlu rangsangan  pengembangan telur /gonada dengan cara  ablasi mata, seperti diterangkan pada Materi Pokok 2.  Disini hanya dipelihara kepiting betina saja , pejantan tidak diperlukan  karena yang berproduksi telur hanya yang betina saja. Bila dicampur jantan , malahan bisa  menyebabkan lebih banyak kematian karena kanibalisme.


3.  Sampai saat ini Bebeapa hal yang Mungkin di  lakukan di Indonesia.
Kendalanya ialah kekurangan benih karena belum ada usaha Panti Pembenihan kepiting Bakau dan selama ini hanya diperoleh dari penangkapan di alam. Juga karena pakan untuk pembesaran kepiting  yang terutama terdiri dari ikan rucah, tidak selalu mudah diperoleh dan persaingan dengan keperluan konsumsi lain.



Sumber Referensi:
Kementerian Kelautan dan perikanan
Badan pengembangan sumberdaya Mnusia kelautan dan perikananan
Pusat penyuluhan kelautan dan perikanan