Senin, 30 Juli 2018

BAHAN TAMBAHAN BERBAHAYA

 Bahan berbahaya adalah bahan kimia baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup secara langsung atau tidak langsung yang mempunyai sifat racun, karsiogenik, teratogenik, mutagenik, korosif dan iritasi (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 472/Menkes/Per/V/1996 tentang Pengamanan Bahan Berbahaya Bagi Kesehatan).

Dasar Hukum:
1.    UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan
2.    UU No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 45 Tahun 2009
3.    UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
4.    PP No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan
5.    Peraturan Menteri Kesehatan No. 722/MENKES/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan No.1168/MENKES/Per/X/1999
6.    Keomen Kelautan dan Perikanan No. MEN.01/KPTS/2002 Tentang Sistem Manajemen Mutu Terpadu

Bahan kimia berbahaya yang sering disalahgunakan dengan ditambahkannya bahan tersebut pada produk-produk pangan ada 3 jenis, yaitu:

1.   Rhodamin B dan Methanil Yellow
a.    Rhodamin B merupakan zat berwarna berbentuk kristal merah keunguan dan tidak berbau. Dalam industri non-pangan rhodamin B digunakan sebagai bahan pewarna tekstil, cat dan kertas. Rhodamin B dalam kemasan plastik kecil dan tidak berlabel biasanya dijual di pasar sehingga dapat diakses oleh industri kecil dalam pengolahan pangan. Rhodamin B sering disalahgunakan sebagai zat pewarna kekerangan yang tidak segar serta ditemukan pada terasi.
 Walaupun memilikitoksisistas yang rendah, namun penggunaan Rhodamin B dalam jangka panjang dan berulang-ulang menyebabkan sifat racunnya terakumulasi. Keracunan pewarna tekstil  ini akan menyebabkan iritasi saluran pernafasan, iritasi pada kulit, mata dan saluran pencernaan serta gangguan hati. Rhodamin B juga bersifat karsiogenik sehingga penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kanker. Oleh karenanya zat pewarna ini dilarang untuk digunakan sebagai bahan tambahan makanan.
 
b.     Metanil yellow merupakan zat warna sintetik berbentuk serbuk berwarna kuning kecoklatan , larut dalam air, agak larut dalam aseton. Methanil yellow dibuat dari asam metanilat dan  difenilamin yang keduanya bersifat racun.

Methanil yellow biasa digunakan untuk mewarnai wool, nilon, kulit, kertas, cat, aluminium, detergent, kayu, bulu dan kosmetik. Zat pewarna ini yang sering disalgunakan sebagai bahan pewarna makanan. Metanil yellow sebagai senyawa kimia azo aromatik amin yang dapat memicu kanker dalam berbagai jaringan hati, kandung kemih, saluran pencernaan atau jaringan kulit.

2.   Formalin
Formalin adalah senyawa formaldehyde dengan rumus kimia (HCOH atau HC2O). Senyawa formalin memiliki banyak nama lain atau sinonim yaitu formol, morbicid, methanal, formid aldehyde, methyl oxide, oxymethylene, methyl adelhyde, oxomethane, karsan, methylene glycol, paraforin, poly-oxymethylene, glycols, superlysoform, tetraoxymethylene dan trioxane.
Pada dasarnya formalin merupakan senyawa berbentuk gas yang mudah menguap dalam suhu kamar. Umumnya formalin diperdagangkan dan digunakan dalam bentuk larutan yang disebut ‘larutan formalin’ dengan konsentrsi maksimum 40%. Senyawa ini memiliki karakteristik tidak berwarna, memiliki bau yang sangat tajam (menyengat) dan mudah larut dalam air. Formalin bersifat sangat beracun  sehingga banyak digunakan sebagai pembunuh kuman (desinfektan).
 
Dalam kehidupan sehari-hari larutan formalin banyak digunakan sebagai bahan campuran obat pembasmi lalat dan serangga, perekat kayu lapis, zat pewarna cermin kaca, pencegah korosi pada sumur minyak dan bahan peledak. Dalam dunia kedokteran formalin biasanya digunakan sebagai bahan pengawet mayat dan hewan-hewan untuk keperluan penelitian dan bukan merupakan bahan pengawet untuk pangan. Karena karakteristiknya yang sangat beracun, maka formalin dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan termasuk dijadikan bahan pengawet ikan dan produk olahannya.
 
Gejala yang ditimbulkan akibat keracunan formalin antara lain sukar menelan, mual, sakit perut yang akut, disertai muntah-muntah, mencret berdarah, timbulnya depresi susunan saraf, atau gangguan peredaran darah. Selain itu formalin bersifat karsiogenik menyebabkan perubahan fungsi sel/ jaringan pada manusia.
 


Ciri-ciri ikan segar:
1.    Warna kulit cemerlang, jika ditekan dengan jari maka bekasnya akan hilang dengan cepat, bau segar
2.    Jika ikan disayar maka dagingnya terlihat cerah
3.    Warna insang merah cerah
4.    Bila dipegang lemas, lunglai

Ciri-ciri ikan berformalin
1.    Warna kulit pucat kusam, jika ditekan dengan jari maka terasa keras dan padat, bau asam
2.    Jika ikan disayat maka daging terlihat pucat kusam, jaringan daging longgar
3.    Warna insang pucat kusam agak keputihan
4.    Bila dipegang, keras, kaku dan tegang
   
3.   Boraks
Boraks adalah garam natrium dengan rumus kimia Na2B4O7.10H2O. boraks berbentuk kristal lunak dan mudah larut dalam air serta dapat mengembang, memberi efek kenyal dan mampu membunuh mikroba. Karena karakteristiknya yang mampu  membunuh mikroba, boraks bersifat sangat beracun sehingga dilarang digunakan sebagai bahan tambahan makanan. Dalam dunia industri non-pangan boraks banyak dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan kertas, gelas, pengawet kayu dan keramik, detergen dan antiseptik lemah. Namun demikian penyalahgunaan boraks sebagai bahan makanan sering digunakan pada produk perikanan seperti pada bakso ikan, dan sosis ikan karena karakteristiknya yang mampu memberi efek kenyal.
 
     Asam borat yang masuk ke dalam tubuh dapat menyebabakan mual, muntah, diare, sakit perut, penyakit kuli, kerusakan ginjal, kegagalan sistem sirkulasi akut, dan bahakan kematian.


     Ciri-ciri visual bakso ikan yang mengandung boraks:
1.    Tekstur kenyal seperti karet
2.    Rasa tepung kecut
3.    Daya tahan lebih dari 1 minggu
4.    Warna cunderung putih mengkilap

     Ciri-ciri visual bakso ikan yang tidak mengandung boraks:
1.    Tekstur kenyal
2.    Rasa khas ikan
3.    Daya athan tidak lebih dari 3 hari
4.    Warna sesuai jenis ikan



Bahaya boraks:
a.    Boraks sangat berbahaya jika dihirup, mengenai kulit, mata dan tertelan dapat menyebabakan iritasi pada saluran pencernaan, iritasi pada kulit, dan mata, mual, sakit kepala, nyeri hebat pada bagian perut atas.
b.    Jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan menyebabakan kerusakan gimjal, kegagalan sitem sirkulasi akut bahkan kematian
c.    Konsumsi boraks 5-10 gr oleh anak-anak dapat menyebabkan shock dan kematian

Sumber : Direktorat Pengolahan Hasil Ditjen P2H

Jumat, 27 Juli 2018

PRINSIP DASAR PENUMBUHAN KELOMPOK PERIKANAN

  Penyuluhan Perikanan merupakan proses pembelajaran dalam rangka peningkatan kapasitas kemampuan sasaran penyuluhan perikanan yakni para pelaku utama dan/atau pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan untuk mengorganisasikan dirinya dalam mengembangkan bisnis perikanan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya dengan tetap memperhatikan pelestarian fungsi lingkungan hidup.
        Untuk efektifitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan penyuluhan perikanan, maka proses penyuluhan tidak hanya dapat dilakukan langsung kepada pelaku utama/pelaku usaha selaku sasaran utama penyuluhan perikanan. Tapi juga dapat dilakukan melalui sasaran antara penyuluhan sebagaimana tercantum dalam UU No. 16 Tahun 2006 tentang sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan yakni kelompok atau lembaga pemerhati perikanan, serta generasi muda dan tokoh masyarakat.
         Kelompok dapat diartikan sebagai kumpulan individu yang saling berinteraksi dan mempunyai tujuan bersama. Sedangkan yang dimaksud dengan kelompok perikanan atau dapat juga disebut dengan kelembagaan pelaku utama perikanan sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor. KEP. 14/MEN/2012 adalah kumpulan para pelaku utama yang terdiri dari nelayan, pembudi daya ikan, dan pengolah ikan yang terikat secara informal atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta di dalam lingkungan pengaruh dan pimpinan seorang ketua kelompok pelaku utama kelautan dan perikanan.
         Keberhasilan pelaksanaan kegiatan penyuluhan perikanan yang ditujukan kepada sasaran antara dalam hal ini kelompok, sangat dipengaruhi oleh proses penumbuhan dan pengembangan dari kelompok itu sendiri. Umumnya, penumbuhan kelompok pelaku utama perikanan lebih didasarkan pada hal-hal yang bersifat fisik atau lebih berorientasi pada homogenitas atau kesamaan-kesamaan secara fisik yang dimiliki oleh setiap anggota seperti usia, jenis kelamin, suku, warna, agama, usaha, dan sifat-sifat fisik lainnya. Sebagai contoh dalam penumbuhan kelembagaan pelaku utama perikanan khususnya para pembudidaya ikan biasanya didasarkan atas prinsip-prinsip berikut:
1. Prinsip Hamparan atau Kawasan
2. Prinsip Kesamaan Jenis Usaha, dan
3. Prinsip Kesamaan Kepentingan dan Kebutuhan 

         Pada dasarnya, prinsip-prinsip tersebut secara umum masih dapat digunakan sebagai dasar penumbuhan sebuah kelompok. Namun yang paling penting dalam proses penumbuhan sebuah kelompok harus didasarkan pada ikatan-ikatan alami yang bersifat emosional/mental (Afinitas) seperti adanya tujuan yang sama, saling pengertian, rasa memiliki, saling percaya, saling perhatian, cinta dan kasih sayang, saling mendukung, dan ikatan-ikatan alami lainnya. Ikatan-ikatan ini diyakini akan akan menjadi pengikat yang kuat bagi kelompok-kelompok perikanan yang akan berkembangan menuju sebuah kelompok yang mandiri.
         Sebagaimana yang tercantum dalam keputusan Menteri Kelautan dan perikanan Nomor. KEP.14/MEN/2012 bahwa yang menjadi unsur pengikat yang kuat bagi kelembagaan pelaku utama perikanan yang mandiri diantaranya:
1.   Adanya kepentingan yang sama;
2.   Adanya motivasi untuk berkembang diantara mereka;
3.   Adanya saling mengenal dengan baik antara sesama anggotanya, akrab, dan saling percaya;
4.   Adanya sentra/kluster/areal/zona yang menjadi tanggung jawab bersama diantara anggotanya;
5.   Adanya struktur organisasi dan pembagian tugas yang jelas;
6.   Adanya pengelolaan administrasi, sarana dan prasarana serta keuangan secara bersama;
7.   Adanya kader yang berdedikasi untuk menggerakkan para pelaku utama dan kepemimpinannya 
       diterima oleh sesama pelaku utama lainnya;
8.   Adanya kegiatan yang dapat memberi manfaatn bagi sebagian besar anggotanya;
9.   Adanya dorongan dari tokoh masyarakat setempat untuk mendukung program yang telah ditentukan;
10. Adanya jejaring kerja/usaha serta akses terhadap kelembagaan keuangan dan pasar; serta
11. Memiliki akses terhadap teknologi dan informasi.

         Adapun proses terbentuknya sebuah kelompok dapat diawali dengan adanya persepsi, perasaan atau motivasi, dan tujuan yang sama dalam memenuhi kebutuhannya. Seperti yang terlihat dalam bagan berikut ini:
Penjelasan dari bagan diatas:

         Pembentukan kelompok diawali dengan adanya perasaan atau persepsi yang sama dalam memenuhi kebutuhan. Setelah itu akan timbul motivasi untuk memenuhinya, sehingga ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi akan  membentuk sebuah kelompok.
         Pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan kedudukan masing-masing anggota (siapa yang menjadi ketua atau anggota). Interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan perbedaan antara individu satu dengan lainnya sehingga timbul perpecahan (konflik).  Perpecahan yang terjadi bisanya bersifat sementara karena kesadaran arti pentingnya kelompok tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri demi kepentingan bersama. Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi.  

Pembuatan Naget Ikan


Naget ikan merupakan salah satu produk fish jelly dimana bentuk dan olahannya berupa adonan yang dicelupkan kedalam butter kemudian dilumuri tepung roti (bread crumb) dan digoreng (flash fry). Bahan baku ikan yang digunakan bias dari fillet ikan atau adonan dari lumatam daging ikan (minced fish atau surimi).

Formulasi :

Bahan Baku :         
- Lumatan daging ikan    84 %        700 gr
- Garam                        1,5 %        10,5 gr
- Tepung terigu              3,5 %        41,66 gr
- Air es                            6 %        21 gr
- Minyak sayur                3 %        24,5 ml
- Gula putih                  1,5 %        10,5 gr
- Tepung roti           Secukupnya    Secukupnya
- Seasoning                 (10:8)
- Bawang merah          3,46 gr
- Bawang putih            4,2 gr

Bahan Butter Mix :         
- Tepung terigu             30 %        300 gr
- Garam                         2 %        20 gr
- Tepung maizena         15 %        150 gr
- Baking powder         0,5 %        5 gr
- Lada                        1,5 %        15 gr
- Air es                        60 %        600 ml

Alat-alat :
- Food processor/silent cutter/mixer
- Timbangan, pisau, blender, talenan
- Set pengukus
- Cetakan naget ikan
- Baskom/wadah plastik

Cara Pengolahan :

  • Lumatan daging ikan atau surimi yang telah dipotong-potong kemudian dilumatkan didalam silent cutter/food processor/mixer.
  • Lakukan pengadukan hingga terbentuk adonan yang lengket. Selanjutnya tambahkan bumbu-bumbu lainnya dan cmpur hingga benar-benar homogeny. Pengadukan dilakukan selama 10 – 15 menit.
  • Cetak dengan menggunakan cetakan naget, lalu celupkan dalam adonan butter dan lumuri dengan tepung roti serta simpan dalam suhu beku.

Cara Pembuatan Butter Mix

Masukkan semua formula, aduk dengan mixer hingga merata sampai kental dan selanjutnya untuk pencelupan produk

 

Alur Proses

Kamis, 26 Juli 2018

PENYAKIT VIBRIO DI DALAM BUDIDAYA UDANG

PENYAKIT VIBRIO DI DALAM  BUDIDAYA UDANG
            Pendahuluan
Kabupaten Pati memiliki potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang terdiri-dari sumberdaya perairan pantai sepanjang +  60 Km dengan lebar 4 mil yang diukur dari garis pantai kearah laut, sumberdaya perikanan air payau berupa tambak seluas + 10.604 Ha yang terdapat disepanjang pesisir dan sumberdaya perikanan air tawar yang semakin berkembang.
Di tahun 1990 an produksi udang di Kabupaten Pati sangat besar tetapi kondisi ini mengalami tingkat penurunan yang sangat banyak mulai tahun 2000an. Kondisi lingkungan yang mulai menurun menyebabkan banyaknya penyakit yang menyerang udang, yang mengakibatkan pada matinya udang. Penyakit karena bakteri vibrio merupakan salah satu penyaklit yang banyak ditemukan didaerah Pati. Penyakit ini merupakan salah satu jalan baginya masuknya penyakit White Spot.
Tulisan ini akan membahas jenis vibrio yang merugikan yang menyerang tambak dan alternatif cara pencegahan dan pengobatannya
Jenis Vibrio
. Di antara kelompok jasad renik yang menyebabkan kerugian serius di dalam budidaya udang, adalah bakteri.  Karena menyebabkan kerugian secara ekonomis dan menyebabkan kerusakan pada tambak. Penyakit karena bakteri, sebagian besar berkaitan dengan bakteri jenis Vibrio, telah dilaporkan menyerang udang dalam budidaya udang.  Sedikitnya berjumlah ada 14 jenis vibrio , yaitu  Vibrio Harveyi, V. splendidus, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, V. anguillarum, V. vulnificus, V. campbelli, V. fischeri, V. damsella, V. pelagicus, V. orientalis, V. ordalii, V. mediterrani, V. logei. Vibriosis adalah suatu penyakit hasil bakteri yang bertanggung jawab pada kematian budidaya udang di seluruh dunia (Lightner et al., 1992; Lavilla-Pitogo et Al., 1990). Jenis Vibrio secara luas terdapat dalam suatu system budidaya diseluruh dunia . Infeksi Vibrio sering terjadi di hatcheries, tetapi juga biasanya terjadi dalam  kolam pembesaran udang. Vibriosis disebabkan oleh bakteri gram-negative dalam keluarga Vibrionaceae. Masuknya vibrio kemungkinan terjadi ketika faktor lingkungan yang menyebabkan tingkat penambahan bakteri yang sangat cepat, dan ada pada  di dalam darah udang . Bagaimanapun juga, Vibrio Spp. adalah di antara bakteri chitinoclastic yang berhubungan dengan penyakit kerang dan kemungkinan masuk melalui  luka ke dalam    exoskeleton atau pori-pori . Insang merupakan bagian yang paling mudah kena karena hanya ditutup oleh suatu exoskeleton tipis , tetapi permukaan mereka dibersihkan oleh setobranchs. Midgut, terdiri atas kelenjar pencernaan dan batang midgut ( MGT, sering dikenal sebagai usus, tidaklah dilapisi oleh suatu exoskeleton dan oleh karena itu sepertinya menjadi suatu tempat untuk masuknya pathogens yang dibawa air, makanan dan sedimen (Lovett& Felder, 1990).
Vibrio Harveyi, merupakan suatu bakteri gram-negative, bakteri bercahaya, adalah salah satu dari agen mikrobia yang penting yang dapat membuat kematian massal larva udang windu dalam suatu sistem pembesaran. Sejumlah besar udang di hatcheries yang memproduksi benih udang sering menderita kemunduran dalam kaitan dengan penyakit bakteri luminescent dan menderita kerugian ekonomi yang sangat besar. Vibriosis adalah disebabkan oleh sejumlah Vibrio Jenis bakteri, termasuk: V. harveyi, V. vulnificus, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, V. penaeicida (Lightner et al, 1992;). Telah dilaporkan berkali – kali mengenai vibriosis yang disebabkan oleh V. damsela, V. fluvialis dan  Vibrio lain yang terdefinisi jenisnya.
 Di antara isolate Vibrio harveyi, beberapanya mematikan dan beberapanya tidak mematikan. Vibriosis ada diseluruh dunia dan semua binatang laut berkulit keras, termasuk udang, adalah yang paling mudah terkena. Infeksi vibrio  terjadi dalam semua tingkat kehidupannya, tetapi kejadian umum di hatcheries. Infeksi vibriosis paling banyak yang telah dilaporkan untuk P. monodon dari kawasan Indo-Pacific, P. japonicus dari Jepang, dan P. vannamei dari Ecuador, Negara Peru, Kolumbia dan Amerika Tengah ( Lightner, 1996). Vibriosis dinyatakan melalui sejumlah sindrom. Hal ini meliputi: mulut dan lenteric (demam) vibriosis, anggota badan dan cuticular vibriosis, luka vibriosis yang terlokalisir, penyakit kulit, systemic vibriosis dan pembusukan hepatopancreatitis ( Lightner, 1990).
Tanda serangan vibrio
Jenis bakteri dari golongan Vibrio harveyi merupakan bakteri yang paling sering menimbulkan kematian massal dalam waktu yang relatif singkat. Bakteri ini menyerang larva udang di panti-panti pembenihan maupun udang yang dibudidayakan di tambak dan dikenal dengan nama penyakit kunang-kunang atau penyakit udang menyala. Udang yang terinfeksi bakteri ini akan  bercahaya dalam keadaan gelap dan biasanya menyerang larva pada stadium zoea, mysis dan post larva. Terjadi lima jenis penyakit vibrio yang menyerang udang : necrosis pada ekor, penyakit kulit, penyakit merah, sindrom lepas kulit ( LSS) dan penyakit usus putih ( WGD) yang kesemuanya disebabkan oleh Vibrio Spp. Diantara itu, LSS, WGD, dan penyakit merah menyebabkan angka kematian massal di dalam kolam budidaya udang. Enam jenis Vibrio-V. Harveyi, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, V. anguillarum, V. vulnificus dan V. splendidus-are berhubungan dengan udang yang sakit . Distribusi Dan Komposisi Jenis bakteri luminens di dalam hatcheries udang menunjukkan dengan jelas terhadap kehadiran V. harveyi ( 97.30%) dan V. orientalis ( 2.70%) di dalam usus udang dimana sumber utama bakteri ini didalam hatchery udang adalah bahan kotoran yang berasal dari brood stock yang kemungkinan terjadi sewaktu bertelur.
Angka kematian dalam kaitan dengan vibriosis terjadi ketika udang tertekan oleh faktor seperti: kualitas air yang buruk, kepadatan tinggi ,suhu air tinggi, rendahny oksigen (DO) dan rendahnya pergantian air (Lightner dan, 1975; Brock dan Lightner, 1990). Angka kematian tinggi yang pada umumnya terjadi pada postlarvae dan juvenil. Larvae udang windu mengalami kematian dalam waktu 48 jam sejak terkena V. harveyi dan V. splendidus ( Lavilla-Pitogo, Et Al., 1990). Juga ada Laporan kematian udang windu yang sudah siap panen yang disebabkan oleh vibriosis ( Anderson et Al., 1988). Udang windu dewasa yang terkena vibriosis nampak hypoxic, menunjukkan badan yang merah ke insang coklat, nafsu makan kurang dan udang berenang lemah di tepi dan permukaan kolam ( Anderson et Al., 1988). Vibrio Spp. juga menyebabkan  penyakit kaki merah. Enam Vibrio Jenis, Termasuk V. harveyi dan V. splendidus menyebabkan luminesensi, yang kelihatan pada malam hari, menyerang udang pada tingkat postlarvae, muda dan dewasa (Lightner, et al., 1992). Postlarvae yang terkena infeksi juga memperlihatkan pergerakan kurang, mengurangi phototaxis dan usus kosong.
Udang yang terkena vibriosis terlihat ada luka yang terlokalisir sepanjang kulit jangat ini merupakan tanda khas penyakit yang menyerang kulit oleh bakteri., infeksi terlokalisr  dari bocornya luka, hilangnya otot, jaringan yang tidak jelas, peradangan usus atau hepatopancreas dan atau keracunan darah ( Lightner, 1993). Luka penyakit kulit hasil bakteri adalah warna coklat atau hitam dan nampak diatas kulit jangat badan, anggota badan atau insang. Postlarvae yang terkena hepatopancreat menunjukkan seperti berawan .Insang sering nampak warna coklat. Pembusukan Hepatopancreatitis dikenali sebagai berhentinya pertumbuhan hepatopancreas dengan multifocal necrosis dan radang haemocytic, yang berisi sejumlah besar  Vibrio parahaemolyticus maupun  V. harveyi dan melepasnya epithel sel dari dasar lapisan MGT . Lepasnya sel Epithelial tidaklah dilihat sebagai kehadiran bakteri non-pathogenic ( probiotics) .
            Pathogens seperti Vibrio Spp., Yang menyebabkan lepasnya epithelium di dalam MGT, dapat mempengaruhi angka kematian tinggi di udang dengan menghilangkan  2 lapisan yang melindungi udang dari infeksi: epithelium dan selaput peritrophic yang dikeluarkannya. Sebagai tambahan, hilangnya epithelium mempengaruhi peraturan air dan pengambilan ion ke dalam badan.
Hasil diagnosa
            Hasil diagnosa infeksi vibrio didasarkan pada tanda klinis dan demonstrasi histological bakteri Vibrio di dalam luka, bongkol yang kecil-kecil atau haemolymph. Organ bagian pengeluaran dan Haemolymph di coba pada media Vibrio-selective (TCBS) atau media agar laut yang umum.. Ketika menyelidiki postlarvae, keseluruhan contoh dihancurkan dan kemudian ditanam ke suatu media agar. Koloni Luminescent diamati setelah 12  sampai 18 jam setelah diinkubasi pada suhu-kamar atau 25 ke 30oC.
            Vibrio diisolasi untuk dikenali dengan  sejumlah metoda, termasuk: Gram strain, Motilas, suatu oxidase test, gaya glukosa utilisasi, ditumbuhkan dalam Nacl, Pengurangan Nitrat Dan cahaya. Jenis vibrio dikenali dengan cepat dengan menggunakan API-20 NFT yang sistemnya dengan menanan koloni vibrio pada API-NFT  dan menghitung angka koloni menurut arah alat tersebut ( Lightner, 1996) atau BIOLOG ( suatu sistem identifikasi miniatur bakteri yang merupakan  suatu alternatif kepada API sistem). Test kepekaan Antimicrobial  mungkin digunakan untuk mengidentifikasi vibriosis dan dapat dijalankan menggunakan metode disk Kirby-Bauer ( DIFCO, 1986) atau Minimum Inhibitory Concentration (MIC) method  ( Lightner, 1996)

Penyebaran Vibrio
 Jenis vibrio hidup di air menggunakan fasilitas budidaya udang ( Lavilla-Pitogo, Et Al., 1990) dan biofilm, yang mana bentuknya berbeda hubungannya antara air di hatcheries dan di kolam. Bakteri masuk udang melalui luka atau retakan kulit jangat dan dicernakan dengan makanan (Lavilla-Pitogo et Al., 1990). Sumber yang utama V. harveyi di hatcheries berada dalam  midgut broodstock udang betina, yang ditumpahkan sewaktu ikan bertelur ( Lavilla-Pitogo et Al., 1992).

Ketahanan Vibrio
 Banyak studi telah dikerjakan mengenai efek membekukan pada  vibrios yang mencemari udang  yang dipanen. V. vulnificus di tiram yang  dipanen ( Crassostrea Virginica) dapat terus hidup pada suhu - 20 C  selama waktu 70 hari . V. parahaemolyticus, diisolasi dari daging daging tiram yang dihomoginasi dan diinactiv di dalam 16 hari pada - 15 C ketika jumlah kandungan bakteri adalah sangat tinggi ( 10 cfu/gm; Muntada-Garriga et Al., 1995). Ada bukti terbaru untuk menyatakan bahwa V. harveyi dapat survive di sedimen kolam genap setelah penjernihan dengan khlor atau perawatan dengan kapur ( Karunasagar et Al., 1996).
Perkembangan vibriosis

 Vibriosis adalah suatu masalah umum diseluruh dunia, V. harveyi terus berlanjut menyebabkan angka kematian diseluruh dunia diperkirakan diatas 30% pada P. monodon larvae, postlarvae dan dewasa di bawah kondisi-kondisi udang yang stres. Suatu strain Vibrio yang sangat pathogenic juga telah muncul dan terus menyebabkan angka kematian dalam budidaya udang ( Le Groumellec et Al., 1996). Permasalahan disebabkan oleh vibriosis adalah umum, tetapi dipertimbangkan lebih kecil dibanding wabah karena virus.

Penanggulangan Vibrio
Upaya penanggulangan penyakit kunang-kunang ini telah dilakukan dengan pemberian berbagai macam antibotik. Pemberian antibiotik secara terus menerus memberikan dampak negatif pada larva udang karena akan meninggalkan residu dalam tubuh dan menyebabkan resistensi terhadap V. Harveyi.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan suatu metode pencegahan dan penanggulangan penyakit vibriosis pada udang windu antara lain penggunaan obat-obatan dan antibiotik. Namun penggunaan antibiotik dan bahan-bahan kimia tidak efektif lagi karena tidak memberikan hasil yang memuaskan, yaitu pada dosis tertentu justru berdampak negatif pada ikan/udang itu sendiri, bahkan dapat menimbulkan resistensi bagi bakteri Vibrio spp. Oleh karena itu perlu dicari alternatif lain dalam upaya penanggulangan penyakit pada usaha budidaya udang windu yang lebih efektif, murah dan ramah lingkungan.
 Vibriosis dikendalikan oleh terjaganya kesehatan dan manajemen air yang ketat untuk mencegah masukan vibrios di air ( Baticados, et al., 1990) dan untuk mengurangi tekanan pada udang ( Lightner, 1993). Pemilihan Lokasi baik, Disain Kolam Dan Kolam Persiapan adalah juga penting ( Nash et Al., 1992). Pergantian air setiap hari dan suatu pengurangan biomass di kolam dengan pemanenan parsial direkomendasikan untuk mengurangi angka kematian disebabkan oleh vibriosis. Pengairan, mengeringkan dan mengatur lime/dolomite ke kolam panenan juga direkomendasikan ( Anderson et Al., 1988).
Luminescent vibriosis dapat dikendalikan di hatchery dengan mencuci telor dengan yodium ( Sparkdin) dan formaldehida dan menghindarkan pencemaran oleh kotoran bertelur. V. harveyi di kolam air dapat inactivated oleh Dioksida Khlor ( Klosant). Probiotics ( Ultrazyme-P-Fs dan Bioremid-Aqua) diatur secara langsung ke dalam air atau dengan cara dicampur pakan. Immunostimulants ( Immunomax-Fs) juga telah sukses dapat mengurangi angka kematian udang yang diakibatkan oleh  vibriosis. Penggunaan Lactobacillus sp sebagai  bakteri probiotic di dalam budidaya  udang windu ( P.Monodon) juga terbukti dapat menekan vibrio . Jiravanichpaisal Dan Chuaychuwong et Al ( 1997)  telah menyelidiki suatu perawatan  efektif dengan Lactobacillus sp  terhadap vibriosis dan penyakit bercak putih pada  P. monodon. Mereka menyelidiki pertumbuhan beberapa bakteri probiotic, dan survival mereka di air laut yang salinitasnya 20 ppt  kurang lebih selama 7 hari. Aktivitas dua Lactobacillus sp dalam menghambat terhadap Vibrio Sp., E. coli, Staphylococcus sp ternyata mempunyai pengaruh yang efektif.
             Efek konsentrasi tembaga pada luminesensi dan racun V. harveyi telah diselidiki oleh Nakayama. T. et al ( 2007). Mereka menemukan konsentrasi tembaga ( unsur  tidak zat pembunuh kuman) kurang dari 40 ppm tidak punya efek pada pertumbuhan udang. Sedang  V. harveyi yang diberi dengan 40 ppm konsentrasi tembaga menunjukkan terjadinya pengurangan cahayanya ( luminesensi ). Oleh karena itu, kombinasi prebiotics, probiotics, immuno-stimulants dan unsur  non-antibiotic ( LBEENEX) mempunyai kekuatan besar melawan vibriosis dan Luminescent Bakteri ( LB)  dikombinasikan dengan cara budidaya tambak yang baik ( BAP),merupakan suatu alat manajemen yang efektif untuk mengendalikan bakteri luminesensi beracun yang ada dikolam budidaya.
Bakteri probiotik yang bersifat non patogen dan memiliki kemampuan mengurangi, menghambat ataupun, membunuh bakteri patogen, serta memungkinkan sebagai makanan di dalam perairan merupakan alternatif lain yang dapat digunakan untuk pencegahan penyakit. Beberapa sumber bakteri probiotik yang telah diteliti antara lain air laut, air tambak, sedimen laut, dan karang.
Selain itu teknik lain yang perlu dikaji dan dievaluasi untuk menanggulangi penyakit pada budidaya udang windu adalah merangsang kekebalan non-spesifik udang melalui penggunaan vaksin dan immunostimulan. Teknik tersebut telah banyak dilakukan baik di dalam negeri maupun dari manca negara, namun optimalisasi penggunaan suatu jenis immunostimulan masih perlu dilakukan. Penggunaan bahan aktif dari sponge dan mangrove sebagai antibakteri juga telah mulai dirintis, namun sampai saat ini optimalisasi penggunaannya masih perlu dikaji lebih lanjut sehingga diperoleh hasil yang memuaskan dan bisa diterapkan dalam skala lapangan.

 

Daftar Pustaka

Anderson, I.G., Shamsudin, M.N. and Shariff, M. 1988. Bacterial septicemia in juvenile tiger shrimp, Penaeus monodon, cultured in Malaysian brackishwater ponds. Asian Fis.Sci. 2: 93-108.
Baticados, M.C.L., Lavilla-Pitogo, C.R., Cruz-Lacierda, E.R., de la Pena, L.D. and Sunaz, N.A. 1990. Studies on the chemical control of luminous bacteria Vibrio harveyi and V splendidus isolated from diseased Penaeus monodon larvae and rearing water. Dis. Aquat. Org. 9: 133-139.
Herawati, E. 1996. Karakterisasi Fisiologi dan Genetik Vibrio Berpendar sebagai
Penyebab Penyakit Udang Windu. Bogor: Institut Pertanian Bogor.