Selasa, 12 Desember 2017

"SET NET"

I. PENDAHULUAN
Latar  Belakang
Pada saat ini nelayan dan pengusaha perikanan tangkap dipusingkan dengan harga bahan bakar minyak yang cukup tinggi dan ditambah lagi semakin sulit atau jauh mencari daerah penangkapan ikan. Dengan keadaan seperti ini tentu sangat diperlukan untuk mencari alternatif jenis alat tangkap yang pengopeasiannya hemat energi (bahan bakar minyak) dimana set net kemungkinan dapat dikembangkan.
Tim perikanan asal Jepang dan Thailand memperkenalkan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan, disebut “set net” kepada nelayan Aceh untuk mengatasi ancaman ekspoitasi perikanan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). “Teknologi set net ini telah diterapkan di Jepang dan Thailand yang hasilnya sangat memuaskan, selain juga ramah lingkungan,” kata Prof Arimoto dari Tokyo University of Science and Technology dalam rapat uji coba dan pengembangan set net, di Banda Aceh.

II.TINJAUAN PUSTAKA
Pembahasan
set net merupakan alat tangkap yang pengoperasiannya mirip dengan perangkap bambu. Set net yang terbuat dari jaring biasanya digunakan nelayan tradisional, katanya. Set net dapat dipasang sampai kedalaman 15 meter bagi yang berukuran kecil, 40 meter untuk ukuran sedang dan lebih dari 40 meter ukuran besar, sedangkan perangkap tradisional hanya mencapai kedalaman tiga meter. Set net atau sero jarring adalah sejenis alat tangkap ikan bersifat menetap dan berfungsi sebagai perangkap ikan dan biasanya dioperasikan di perairan pantai. Ikan umumnya memiliki sifat beruaya menyusuri pantai
Bagian-bagian setnet
Terdiri atas 4 bagian utama yaitu :
1. Leadernet (dinding jarring) berfungsi untuk menghadang rute migrasi kelompok ikan dan mengarahkan kelompok ikan ke playground.
2. Playground (tempat bermain) berfungsi mencegah ikan-ikan untuk melarikan diri dari segala sisi.
3. Slope dan funnelnet berfungsi untuk mengarahkan ikan masuk ke bagnet dan memutuskan rute kelompok ikan.
4. Bagnet berfungsi sebagai tempat terakhir kelompok ikan berkumpul karena terperangkap dan tempat pemanenan hasil tangkapan.
Hasil tangkapan setnet umumnya adalah jenis ikan atau gerombolan ikan yang sedang melakukan migrasi, seperti migrasi untuk mencari ikan (feeding migration), migrasi untuk memijah (spawning migration) atau migrasi lainnya. Ikan yang memasuki setnet ada yang bermigrasi secara soliter, aggregation atau migrasi secara bergerombol dalam bentuk school atau dalam bentuk pood, seperti ikan tongkol, tuna, layang, selar, kembung, kuwe dan ikan ekonomis penting lainnya.
pada saat melakukan ruaya ini kemudian dihadang oleh jaring set net kemudian ikan tersebut tergiring masuk ke dalam kantong. Ikan yang telah masuk ke dalam kantong umumnya akan mengalami kesulitan untuk keluar lagi sehingga ikan tersebut akan mudah untuk ditangkap dengan cara mengangkat jarring kantong. Satu unit set net terdiri dari beberapa bagian yakni penaju (leader net), serambi (trap/play ground), ijeb-ijeb (entrance) dan kantong (bag/crib).
Jenis alat tangkap set net banyak dioperasikan oleh nelayan di Jepang sejak ratusan tahun yang lalu dengan berbagai ukuran yakni kecil, sedang, dan besar. Set net berukuran kecil umumnya dengan panjang penaju kurang dari 500 m dipasang pada kedalaman perairan kurang dari 20 m, sedang yang berukuran besar memiliki panjang penaju antara 4000-5000 m dan dipasang pada perairan dengan kedalaman antara 30 – 40 m. Berbagai jenis ikan yang tertangkap oleh set net di Jepang antara lain: sardine, ekor kuning, salmon, dan tuna. Produksi perikanan dari hasil tangkapan set net di Jepang dapat mencapai 3 % dari produksi total dari hasil tangkapan perikanan laut.
Di Indonesia terdapat berbagai jenis alat tangkap sejenis set net seperti jermal, sero, ambai, belat dan perangkap lainnya. Perbedaan jenis alat tangkap ini dengan set net adalah bahan yang digunakan yakni sebagian besar dari bambu, kecuali bagian kantong yang terbuat dari jaring. Jenis ikan yang tertangkap juga berbeda dimana alat tangkap perangkap (trap) di Indonesia umumnya menangkap jenis ikan demersal seperti layur, petek dan sebagian jenis ikan pelagis seperti sardine dan tembang. Namun pada prinsipnya hampir sama yakni menghadang ruaya ikan kemudian diarahkan masuk ke dalam perangkap/trap dan akhirnya ke kantong.
Uji Coba Set Net di Indonesia
Perikanan set net di Indonesia baru dalam taraf penelitian atau uji coba dan belum dikembangkan oleh nelayan secara komersial. Uji coba alat set net pertama kali dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Laut/Balai Penelitian Perikanan Laut di perairan Pacitan Jawa Timur pada tahun 1981. Pada tahun yang sama dilakukan juga uji coba di perairan Bajanegara Banten, kemudian diikuti uji coba di Prigi Jawa Timur pada tahun 1982 dan di perairan Selat Sunda, Banten pada tahun 1990 dan 1993. Set net yang diujicoba berukuran relatif kecil dengan panjang penuju antara 100-300 m dan dipasang di perairan pantai dengan kedalaman kurang dari 10 m.
Pada saat uji coba dilakukan penangkatan hasil tangkapan ikan dari kantong setiap hari. Rata-rata hasil tangkapan ikan berkisar antara 20-30 kg/angkat. Hasil tangkapan tertinggi pernah mencapai 100 kg/angkat pada saat dilakukan uji coba di Pacitan. Jenis ikan yang tertangkap saat itu didominasi oleh ikan demersal yang beruaya mengikuti pergerakan pasang surut seperti ikan layur, petek, mata besar dan sebagian ikan pelagis sejenis sardine.
Selanjutnya kegiatan ujicoba set net juga dilakukan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap di perairan Sorong Papua Barat pada tahun 2006. Tipe set net yang diujicoba hampir sama dengan uji coba sebelumnya namun memiliki ukuran yang lebih besar (penaju sekitar 500 m) dan dipasang di perairan yang lebih dalam (lebih dari 20 m).
Kelebihan dan Kelemahan Set Net
Kelebihan
Hemat bahan bakar karena alat dipasang menetap sehingga kapal tidak perlu berlayar jauh untuk mencari daerah penangkapan.
Jaring set net yang terpasang di laut dapat digunakan sebagai tempat berlindung (shelter) ikan-ikan yang berukuran kecil sehingga tidak dimakan predator.
Hasil tangkapan ikan relatif segar/masih hidup dan dapat diangkat/diambil sesuai dengan kebutuhan pasar.
Mudah dipindahkan dibanding dgn jenis trap yang ada di Indonesia.
Sangat sesuai untuk pengembangan usaha perikanan skala menengah kebawah.
Kelemahan
Hasil tangkapan set net sangat tergantung pada ruaya ikan sehingga untuk memasang set net harus diketahui jalur ruaya ikan terlebih dulu.
Jika digunakan penaju (lead net) cukup panjang akan mengganggu alur pelayaran kapal dan juga pengoperasian alat tangkap lain.
Tidak semua ikan tertangkap di dalam kantong, kadang-kadang tertangkap juga secara “gilled or entangled” di bagian penaju (lead net) atau serambi (trap net) terutama yang menggunakan bahan jarring sehingga diperlukan pekerjaan tambahan untuk memeriksa bagian tersebut.
Jaring harus sering dibersihkan terutama bagian kantong karena banyak ditempeli oleh kotoran dan teritip.
Kemungkinan Pengembangannya
Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan memiliki garis pantai sekitar 81.000 km dengan berbagai teluk dan semenanjung. Dengan topografi seperti ini maka wilayah perairan laut Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan perikanan set net. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebelum pemasangan set antara lain: ketersedian sumber daya ikan yang menjadi tujuan penangkapan, pola ruaya ikan yang menjadi tujuan penangkapan, kondisi perairan dimana set net akan dipasang (topografi dasar, keadaan arus, pasang surut, dan gelombang).
Pengembangann alat tangkap set net sebaiknya dilakukan di wilayah perairan Indonesia bagian timur karena disamping alasan sumberdaya ikan yang masih tersedia dan juga apabila dipasang dengan ukuran yang besar tidak terlalu mengganggu arus pelayaran dan pengoperasian alat tangkap lain. Jika dikembangkan di wilayah Indonesia timur tinggal memikirkan bagaimana cara pemasaran hasil tangkapannya. Set net juga menciptakan kerjasama antar nelayan sehingga mengurangi konflik yang timbul akibat perebutan wilayah penangkapan. “Perekonomian nelayan juga meningkat karena hasil tangkapan yang diperoleh dalam kondisi segar dan dapat dijual dengan harga tinggi.

III. PENUTUP
Kesimpulan
Set net merupakan alat tangkap yang pengoperasiannya mirip dengan perangkap bambu. Set net yang terbuat dari jaring biasanya digunakan nelayan tradisional, katanya. Set net dapat dipasang sampai kedalaman 15 meter bagi yang berukuran kecil, 40 meter untuk ukuran sedang dan lebih dari 40 meter ukuran besar, sedangkan perangkap tradisional hanya mencapai kedalaman tiga meter. Selain ramah lingkungan karena perairan pantai tetap terjaga, set net juga menciptakan kerjasama antar nelayan sehingga mengurangi konflik yang timbul akibat perebutan wilayah penangkapan. “Perekonomian nelayan juga meningkat karena hasil tangkapan yang diperoleh dalam kondisi segar dan dapat dijual dengan harga tinggi Cara kerja set net  sangat mudah karena nelayan hanya menggiring ikan dengan menggunakan leader net masuk ke perangkap akhir, sehingga ikan dalam kondisi segar dapat dipanen setiap hari. Penangkapan ikan yang dilakukan nelayan tradisional dengan menggunakan berbagai alat tangkap dapat mengakibatkan penurunan stok ikan dan degradasi lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Http://ikanmania.wordpress.com/2008/01/01/set-net-sebagai-alternatif-alat-tangkap-ikan-hemat-energi/
http://www.dkp-banten.go.id/news/?p=22
http://www.mail-archive.com/agromania@yahoogroups.com/msg00882.html

Teknik dasar cara memancing - teknik Memasang Umpan dan jenis jenis umpan

Teknik Memasang Umpan
Dalam Memancing, umpan merupakan bagian terpenting yang perlu diperhatikan. Berikut beberapa teknik memasang umpan dan penjelasannya:
1. Texas Rig
Teknik memasang umpan cara Texas kemungkinan akan mendapatkan lebih banyak ikan bass dibanding dengan teknik lainnya. Teknik ini terbukti unggul saat ikan bersembunyi di tempat tertutup, penetrasi medan yang keruh dimana hanya beberapa umpan yang sanggup melakukannya. Kemungkinan ini merupakan umpan yang 'bebas sangkutan' yang pernah digunakan, teknik tersebut digunakan untuk menarik ikan keluar dari tumbuhan yang lebat, semak belukar, dibawah dermaga dan diantara kayu-kayuan. Henjutan keatas secara perlahan kemudian turunkan serta berhenti sejenak sebelum benang digulung kembali merupakan cara yang paling efektif untuk menarik perhatian ikan.
2. Carolina Rig
Teknik memasang umpan cara Carolina bisa dipakai untuk memancing ikan bass di air dangkal dan dekat dengan tumbuhan air , tetapi lebih efektif di air dalam yang jauh dari daerah yang tertutup rapat oleh tumbuhan air seperti batas tumbuhan, lubang dan di pinggiran tumbuhan air. Cobalah menggunakan pemberat dari kuningan dari pada timah untuk mengeluarkan suara yang keras saat mengenai kayu atau bebatuan. Gulung benang/kenur dengan cara menarik secara perlahan dan sebentar-bentar menyentuh dasar. Umpan terapung akan berenang dan naik turun dibelakang pemberat, sedangkan umpan tenggelam akan bergerak dengan cepat di dasar.
3. Drop-Shot Rig
Walaupun awalnya diciptakan untuk ikan bass, teknik drop-shot ini juga berhasil menangkap spesies lainnya seperti ikan walleye dan panfish. Teknik ini umumnya digunakan untuk mancing secara vertikal dibawah kapal dan di air yang dalam. Teknik tersebut menempatkan sebuah umpan berjarak tertentu dari dasar, sehingga bergerak secara sempurna dan horizontal di air. Applikasi yang sangat bagus tersebut terbukti unggul bila dipakai untuk mancing di daerah yang kecil yang dapat menarik ikan. Posisikan pemberat menyentuh dasar dan goyangkan ujung joran secara perlahan untuk membuat umpan bergoyang. Baik melempar maupun ngacar, diamkan sejenak umpan sesering mungkin sebelum menggeser pemberat beberapa kaki.
4. Wacking Rig
Teknik memasang umpan yang sangat sederhana-apa yang anda butuhkan hanyalah sebuah kail dan sebuah umpan lembut - tetapi bisa sebanding dengan emas. Teknik ini memerlukan umpan lunak yang tidak dipasangi pemberat dan hanya memasang mata kail menembus bagian tengah umpan. Presentasi ringan ini akan jatuh secara perlahan di pinggiran tumbuhan air yang dangkal dan ke dalam kantong-kantong. Cara terbaik untuk mempersembahkan teknik ini adalah dengan menarik secara perlahan dan diamkan, yang menyebabkan umpan terlipat, mengelepak, dan bergetar saat jatuh ke bawah. Umumnya, umpan lunak berbentuk lurus dan panjang digunakan untuk teknik pemasangan ini, tetapi bentuk lain juga terbukti efektif. Penambahan berat dengan teknik ini memungkinkan anda mencapai ikan di air yang lebih dalam. Juga boleh dicoba memakai pelampung dengan teknik ini.
5. Rigging Soft Jerkbaits
Beberapa pemancing mengalami kesulitan untuk belajar memasang dan mancing dengan umpan lunak. Teknik memasang umpan yang betul sangatlah penting untuk memberikan gerakan umpan yang berenang dengan cepat, acak dan sulit diprediksi-seperti halnya ikan kecil yang dijadikan umpan-yang sangat menggoda ikan bass maupun ikan pertandingan lainnya. Umpan Soft Jerks baik digunakan kala mancing di daerah yang dipenuhi oleh tumbuhan air dan terdapat lubang-lubang atau kantong-kantong, disekitar dermaga, dan area bebatuan. Teknik ini dapat dijalankan dengan menggulung benang secara perlahan disertai dengan sentakan untuk meniru ikan kecil yang ketakutan, atau dikarau dengan cepat dengan henjutan joran untuk memperoleh reaksi sambaran.
6. Jig Rig
Walaupun banyak pemancing yang tidak memikirkan cara tersebut, jig adalah juga sebuah teknik ikatan sebuah mata kail yang beralur dan dicetak dengan pemberat secara permanen pada ujung kail. Jig merupakan ikatan yang paling terkenal yang pernah dipakai dalam memancing. Jig dapat dipasangkan dengan umpan plastik lunak berbagai bentuk dan model yang dapat anda pikirkan, termasuk bentuk cacing, udang, pipa, kepompong, kadal-kemudian sesuaikan dengan ukuran jig untuk menyeimbangkan dengan umpan yang digunakan. Lemparkan jig pada areal air yang terbuka, gundukan dan titik-titik tertentu, atau lemparkan di sekitar tanaman air yang dangkal. Lambungkan jig naik turun di dasar atau berenang di tempat terbuka. Bereksperimen dengan aksi-aksi untuk mendapatkan cara mana yang terbaik untuk setiap situasi anda.
7. Rigging a Tube
Umpan berbentuk pipa merupakan umpan lunak yang terkenal lebih dari 25 tahun. Sulit untuk mengatakan mirip apakah sebuah umpan berbentuk pipa tersebut mencoba meniru, tetapi umpan tersebut benar-benar bisa digunakan untuk memancing ikan. Umpan berbentuk pipa sangatlah serbaguna dan dapat digunakan untuk mancing dengan aksi-aksi yang berbeda dan berbagai cara mengikatnya-seperti Carolina, Texas, dan drop-shot rigs, bisa digunakan pada jig atau kail (baik dengan maupun tanpa pemberat), dan bahkan gaya wacky, atau dengan kail, jig, pemberat dan yang dapat bergetar yang didesain khusus untuk umpan berbentuk pipa. Umpan berbetuk pipa bisa digunakan sepanjang tahun, tetapi keistimewaan mereka terletak pada peragaan saat kondisi sulit, terutama pada masa ikan bertelur dan saat suhu air menjadi agak dingin di musim gugur. Lemparkan umpan ini disekitar dermaga, tumbuhan air atau semak yang tertutupi kayu, pergunakan umpan ini untuk melewati bongkahan dan hamparan tumbuhan air atau digunakan untuk mancing ikan dasar dengan menggunakan pemberat.
8. Float Rigs
Biasanya secara tradisional, teknik mancing dengan pelampung selalu menggunakan umpan hidup, sedangkan persembahan umpan lunak palsu seperti jig yang dipasang dengan umpan berbentuk kepompong berekor keriting, pacat atau ulat wacky-rigged juga bisa digunakan dalam situasi di mana ikan sedang makan dengan sangat agresif. Satu buah umpan lunak mungkin bisa menangkap beberapa ekor ikan, suatu keuntungan besar dibandingkan dengan umpan hidup yang perlu diganti setiap kali mendapatkan ikan atau umpan dicuri oleh ikan. Umpan lunak dapat dipasang di bawah pelampung yang terpasang mati atau pelampung yang bisa bergerak bebas, yang memungkinkan kedalaman umpan dapat disesuaikan dengan mengatur stopper pelampung. Ini dikarenakan umpan biasanya suka berada di tempat tertutup, teknik menggunakan pelampung sangat efektif digunakan pada daerah yang tidak begitu banyak tumbuhan air, di sepanjang pinggiran tumbuhan air dan di atas gundukan –gundukan atau daerah-daerah yang dangkal. Juga bisa digunakan untuk mancing di sungai-sungai, di tepi sungai dan pertemuan arus. Perlakukan umpan lunak dengan aksi henjutan perlahan dan berhenti.
9. Spinner Rigs
Biasanya secara tradisional, teknik mancing dengan spinner rig selalu menggunakan umpan hidup, umpan lunak palsu juga bisa digunakan saat ikan-ikan dalam keadaan agresif atau ketika kumpulan ikan-ikan kecil mencuri umpan hidup. Semakin jarang umpan yang dicuri berarti semakin sedikit waktu untuk mengganti umpan dan berarti semakin banyak waktu buat menangkap ikan.
Cara Memasang Umpan
Cara Memasang Umpan Sotong
Salah satu umpan yang paling digemari oleh pemancing di dunia adalah sotong dan ia boleh digunakan secara seekor atau secara irisan , baik umpan hidup atau yang sudah mati. Bagi saya sotong adalah yang paling saya gemari sekali pabila digunakan sebagai umpan karena sotong adalah makanan utama ikan di laut. Boleh di kata kesemua ikan di laut memakan sotong.
Cara menyimpan Umpan
Terdapat banyak jenis sotong yang ada di pengairan negara kita dan kesemua jenis boleh digunakan dari jenis sotong kurita (octopus), sotong pisang (squid), sotong arus (cuttlefish) dan lain lagi. Bagi penggunaan sotong kita haruslah menyimpannya dengan baik karena sotong yang busuk atau rusak tidak akan menarik minat ikan untuk memakannya. Selalu menggunakan sotong yang segar dan baik.
Cara untuk menyimpan sotong supaya ia akan selalu segar adalah membalutnya dengan kertas beberapa ekor sebungkus dan menanamnya ke dalam es yang dihancurkan( buried in crushed ice ). Tentukan setiap bungkusan hanya terdapat antara 3 - 5 ekor sahaja. Dengan membuat begini kita akan hanya mengeluarkan sebungkus sekali dan cara ini adalah cara efektif menjaga sotong yang lain tetap segar.
Cara mengkait Umpan Sotong
Sotong Hidup 

Terdapat beberapa cara untuk mengkait sotong tersebut, apa yang penting adalah cara kita mengkaitnya perlu memahami beberapa faktor yaitu :
a. Mata kail 
Kail memainkan peranan yang amat penting semasa mengguna umpan sotong hidup karena jika kail itu besar dan berat maka ia akan membunuh umpan tersebut. Anda perlu menyesuaikan kail dengan sotong. Bagi saya mata kail berukuran antara 1/0 hingga 5/0 adalah yang paling sesuai sekali terutama yang dibuat dari aloi (alloy) atau " carbon steel " karena kail yang terbuat daripada jenis ini adalah sangat ringan.
b. Jenis perambut
Jenis perambut yang digunakan juga memainkan peranan yang penting karena ia akan menentukan umpan dapat bergerak secara alami (natural). jika "wire leader" digunakan cobalah menggunakan yang paling halus sekali. Bagi saya , "wire leader" yang saya selalu gunakan adalah dari jenis 25 paun hingga 40 paun sahaja. Dan jikanya saya tidak menggunakan "wire Leader" saya menggunakan "mono leader" antara 30 paun hingga 60 paun dengan kail dari jenis " O ' Shaughnessy " yang mempunyai batang (shank) yang panjang.
Selepas kita mengkaji faktor di atas maka terdapat beberapa cara untuk mengkait umpan sotong yang hidup. Jika kita perhatikan sotong yang hendak digunakan, di atas dekat ekor sotong terdapat satu lubang di antara ekor sotong , masukkan mata kail melalui lubang tersebut dan kaitkan keluar kail tersebut melalui sisi (side) yang sama.
jikanya Umpan itu besar atau kita perlu menggunakan 2 mata kail maka satu mata kail dimasukkan ke dalam sotong tersebut dan satu lagi dibiarkan di luar sotong tersebut.
Ikan mirip manusia dalam selera makan, jika umpan yang kita berikan bukan seleranya maka ikan akan enggan memakannya. Sangat penting memahami karakteristik ikan.
Cara Memasang Umpan KetamSalah satu umpan yang jarang di pakai oleh pemancing adalah ketam dan ia boleh digunakan seekor atau beberapa ketam baik dalam kondisi hidup atau yang sudah mati. Umpan ini boleh juga digunakan untuk memancing ikan kerapu terutamanya kerapu merah dan kerapu tikus. Umpan ini boleh digunakan di laut dan muara dan di sungai.
Cara menyimpan Umpan
Terdapat banyak jenis ketam yang dijumpai di pengairan negara kita dan boleh dikatakan beberapa jenis saja yang boleh digunakan dari jenis ketam batu, ketam nyiur, ketam biru atau ketam renjong dan sejenis ketam yang kecil yang selalu dijumpai di kawasan hutan bakau. Bagi penggunaan ketam kita haruslah menyimpannya dengan baik karena ketam yang mati dan busuk tidak akan menarik minat ikan untuk memakannya. Lebih baik mengunakan ketam yang segar dan baik.
Cara untuk menyimpan ketam yang mati supaya ia akan selalu segar adalah untuk membungkus nya dengan kertas seekor sebungkus dan menanamnya ke dalam es yang dihancurkan.( buried in crushed ice). Lebih baik ketam dibekukan terlebih dahulu. Tentukan setiap bungkusan hanya terdapat se ekor sahaja. Dengan membuat begini kita akan hanya mengeluarkan sebungkus sekali dan ini tidak akan menjaga yang lain ketam yang lain tetap segar.

Cara mengkait UmpanKetam Hidup
Terdapat beberapa cara untuk mengkait udang tersebut, apa yang penting adalah cara kita mengkaitnya perlu memahmi beberap faktor:
a. Mata kail 
Kail memainkan peranan yang amat penting saat mengguna umpan ketam hidup karena jika kail itu terlalu besar dan berat maka ia akan membunuh umpan tersebut. Anda perlulah menyesuaikan kail dengan udang. Bagi saya mata kail berukuran antara 1/0 hingga 4/0 adalah yang paling sesuai sekali terutama yang diperbuat dari aloi (alloy ) atau " carbon steel " karena kail yang diperbuat daripada jenis ini adalah sangat ringan.
b. Jenis perambut
Jenis perambut yang digunakan juga memainkan peranan yang penting karena ia akan menentukan jika umpan dapat bergerak secara alami (natural) tergantung dari jenis kail yang perlu digunakan. jikanya "wire leader" digunakan cobalah menggunakan yang paling halus sekali. Bagi saya , "wire leader" yang saya selalu gunakan adalah dari jenis 15 paun hingga 60 paun sahaja. Dan jikanya saya tidak menggunakan "wire Leader" saya menggunakan "mono leader" antara 40 paun hingga 80 paun dengan kail dari jenis "kirby " yang mempunyai mata yang mendongak ke tepi (off set point).
Selepas kita mengkaji faktor di atas maka terdapat beberapa cara untuk mengkait umpan ketam yang hidup. jikanya ketam itu terlalu besar maka kita bolehlah memotongnya atau menggunakan sebahagian dari ketam tersebut. Untuk mengkait kail pada ketam kita boleh mengkaitnya pada bahagian antara kaki ketam tersebut atau antara penyepit ketam seperti dipaparkan di bawah. Ukuran yang sesuai digunakan jika memancing dengan menggunakan ketam se ekor bergantung pada ukuran ikan yang dipancing.
Kita boleh juga mengkait ketam tersebut secara sebahagian atau secara mengumpulkan beberapa kaki ketam ( lebih kurang 3-5) dan mengkaitnya pada mata kail atau menggunakan japitnya dengan mengkait pada bahagian tengah penjepit.
Ketam mati dan busuk tidak boleh digunakan karena ia tidak menarik perhatian ikan yang kita buru.
Cara Memasang Umpan Ikan Hidup / Mati Salah satu umpan yang digemari oleh pemancing di seluruh dunia adalah ikan dan ia boleh digunakan secara seekor atau secara irisan baik Umpan hidup atau yang sudah mati. Umpan ini selalu digunakan untuk menangkap ikan yang lebih besar dan ganas. Bagi saya umpan ikan adalah yang paling saya gemari sekali apabila digunakan sebagai umpan karena ikan adalah makanan utama ikan jenis pemangsa di laut seperti ikan tenggiri, haruan tasik ,gerpoh dan banyak lagi dan bagi air tawar ikan seperti ikan haruan, tapah, toman dan lain lagi.. semua ikan yang di iktiraf sebagai "sport fish" memakan umpan ikan.
Cara menyimpan Umpan 
Terdapat banyak jenis ikan yang ada di pengairan negara kita dan boleh dikatakan banyak jenis yang boleh digunakan. Ikan seperti ikan kembung, belanak, tamban, tongkol, sepat, puyu seperti ikan alu alu dan anak ikan yu, boleh digunakan. Boleh dikatakan kebanyakan ikan boleh dijadikan umpan. Pada umumnya ikan yang berlemak, berkilat dan mempunyai darah yang banyak menjadi pilihan utama pemancing karena ia menarik perhatian ikan yang di buru. Bagi penggunaan ikan kita haruslah menyimpannya dengan baik karena yang busuk atau rusak tidak akan menarik minat ikan untuk memakannya.
Cara untuk menyimpan ikan supaya ia akan selalu segar adalah untuk meletak sedikit garam pada ikan yang mati dan membalut nya dengan kertas ekor sebungkus dan menanamnya ke dalam es yang dihancurkan.( buried in crushed ice). Tentukan setiap bungkusan hanya terdapat antara 1 ekor saja. Gunakan es yang banyak supaya ikan akan selalu segar dan keras. Dengan membuat begini kita akan hanya mengeluarkan sebungkus sekali dan ini tidak akan membazirkan yang lain serta akan masih menyimpan yang lain segar.
Cara mengkait Umpan Ikan
Ikan Hidup
Terdapat beberapa cara untuk mengkait ikan tersebut, apa yang penting adalah
a. Mata kail 
Kail memainkan peranan yang amat penting semasa mengguna umpan sotong hidup karena jika kail itu besar dan berat maka ia akan membunuh umpan tersebut. Anda perlu menyesuaikan kail dengan ikan. Bagi saya mata kail bersaiz antara 1/0 hingga 8/0 adalah yang paling sesuai sekali terutama yang diperbuat dari aloi (alloy) atau "carbon steel" karena kail yang diperbuat daripada jenis ini adalah sangat ringan. Penggunaan kail bergantung pada ikan yang ingin di pancing, misalnya bagi ikan Tenggiri mata kail bersaiz antara 5/0 hingga 7/0 boleh di gunakan manakala untuk ikan yu atau Tuna yang besar maka saiz 5/0 hingga 10/0 boleh digunakan.
b. Jenis perambut 
Jenis perambut yang digunakan juga memainkan peranan yang penting karena ia akan menentukan jika umpan dapat bergerak secara alami (natural) serta apa jenis kail yang perlu digunakan. jikanya " wire leader " digunakan cobalah menggunakan yang paling halus sekali. Bagi saya , "wire leader" yang saya selalu gunakan adalah dari jenis 25 paun hingga 40 paun sahaja untuk ikan tenggiri dan 80 paun hingga 120 paun bagi ikan yu.. Dan jikanya saya tidak menggunakan "wire Leader" saya menggunakan "mono leader" antara 60 paun hingga 120 paun dengan kail dari jenis "O'Shaughnessy " yang mempunyai batang (shank) yang panjang.
Setelah kita mengkaji beberapa faktor di atas maka terdapat beberapa cara untuk mengkait umpan ikan yang hidup. Cara anda mengkait dan kedudukan mata kail amat lah penting sekali. Saya akan memaparkan beberapa cara dan posisi di mana mata kail perlu dicangkuk mengikut keadaan .
1. Cara untuk mengkait umpan bagi memancing di permukaan air (Surface Fishing)
Ada kalanya kita menghendaki umpan hidup kita berada di atas permukaan air karena ikan yang kita buru banyak bermain di permukaan. Ikan seperti ikan tenggiri, haruan tasik, ikan layaran atau mersuji. Kita boleh mengkait ikan pada beberapa tempat supaya umpan ikan akan hanya bergerak di beberapa meter dari permukaan air. Kita boleh mengkait ikan pada belakang ikan dekat dengan ekor, kita boleh juga mengkait ikan pada kawasan belakang kepala atau melalui mulut ikan umpan tersebut.
2. Cara untuk mengkait umpan bagi memancing di dasar atau ke bawah (Bottom or Fishing)
Ada kalanya kita ingin umpan hidup berada di dasar atau di kawasan bawah permukaan air di mana ikan yang diburu banyak berada di dasar. Ikan seperti ikan gerpoh, haruan tasik, ikan layaran atau mersuji. Kita boleh mengkait ikan pada beberapa tempat supaya umpan ikan akan hanya bergerak di dasar laut atau di bawah air. Kita boleh mengkait ikan pada belakang ikan dekat dengan ekor di mana kail di letakkan pada bahagian bawah ikan.
3. Cara untuk mengkait umpan bagi memancing di arus yang kuat atau jika menggunakan batu pemberat. (Fast current or with sinkers)
Ada kalanya Semasa kita memancing di air yang arusnya deras, maka kita memerlukan batu pemberat di mana kita perlu umpan ikan itu berada di kedalaman yang di tentukan. Kita perlu umpan hidup kita bermain di dasar atau di kawasan bawah permukaan air di mana ikan yang diburu banyak bermain. Ikan seperti ikan , Ikan gerpoh, haruan tasik, ikan layaran atau mersuji. Kita boleh mengkait ikan pada beberapa tempat supaya umpan ikan akan hanya berlegar di dasar laut atau di bawah air. Kita boleh mengkait ikan pada belakang ikan dekat dengan kepala di mana kail di letakkan pada bahagian atas ikan atau melalui mata umpan ikan tersebut. Cara ini dapat membantu ikan tersebut berada pada tahap yang di tentukan dan juga ikan tidak akan mati sesenang itu.
Cara Memasang Umpan Cacing atau Pumpun/ KetahSalah satu umpan yang paling popular di gunakan di kalangan pemancing ialah cacing atau pumpun dan ia boleh digunakan secara seekor atau secara hirisan. Perbedaan antara cacing dengan pumpun adalah cacing hidup di kawasan air tawar dan sesuai di gunakan untuk memancing di kawasan sungai, lombong dan tasik. Umpan pumpun / ketah dapat di jumpai di tepi laut dan di kawasan hutan bakau. Ia selalu di gunakan di laut dan di muara sungai di mana airnya payau atau masin. Cacing dan pumpun adalah yang paling saya gemari sekali pabila digunakan sebagai umpan karena ia adalah makanan utama ikan di sungai,kuala sungai,muara dan laut. Boleh di kata kesemua ikan terutama ikan yang mempunyai sesungut suka memakan umpan ini. Udang galah serta ketam pun suka pada umpan ini juga.
Cara menyimpan Umpan
Terdapat beberapa jenis Pumpun / ketah seperti pumpun sarang, pumpun bulu dan pumpun laut ke semua pumpun ini boleh digunakan dan perhatian perlu diberi supaya pumpun ini tidak mati. Ini disebabkan karena pumpun yang mati akan berbau busuk dan tidak akan menarik perhatian ikan untuk memakannya. Cara untuk menjaga umpan ini adalah mudah sekali dengan melembapkan sarang atau tanah yang diambil bersamaan umpan tersebut. jikanya tidak menggunakan tanah, kita boleh juga menggunakan serbuk kayu ( saw dust ) atau kertas yang lembap untuk menyimpan nya. Tentu saja umpan disimpan di tempat yang teduh dan jangan biarkannya terkena matahari langsung. Gunakan umpan yang segar dan baik. Apabila membeli umpan dari jenis ini, tentukanlah ia tidak berbau dan mati. jikanya kita menggunakan pumpun sarang, tentukanlah sarangnya tidak dikopek dan selalulah membasahi sarang tersebut supaya ia tidak kering.
Bagi cacing cara menjaga agar umpat tetap segar sama dengan pumpun tetapi untuk mendapat kesan yang baik dari umpan tersebut dilebih baik umpan cacing dicari dan diambil dari kawasan sekitr tempat memancing. Sebuah pengalaman saat kita mencari umpan cacing di tempat tinggal kita yang jaraknya jauh dari lokasi biasanya sangat sedikit ikan yang kita dapat, sekarang silahkan anda mencari umpan cacing di kawasan tempat kita memancing, maka kemungkinan besar anda akan mendapatkan ikan. Kenapa bisa begitu, karena ikan mirip manusia, jika orang jawa yang biasa makan nasi gudeg atau nasi pecel setiap harinya disuguhi burger atau kentang yang didatangkan dari eropa dan harganya mahal, maka orang jawa tersebut akan merasa lebih enak makan nasi gudek dan nasi pecel dari pada makanan eropa yang mahal mahal. Hal ini karena lidah orang eropa dan lidah orang jawa berbeda. Demikian juga dengan ikan, lebih menyukai cacing lokal ketimbang cacing impor.
Cara mengkait Umpan 
Terdapat beberapa cara untuk mengkait umpan sebagai berikut :
a. Mata kail 
Kail memainkan peranan yang amat penting semasa mengguna umpan dari jenis ini. Terdapat di pasaran sejenis mata kail yang dipanggil " Worm HooK " atau Mata Kail Cacing. Anda perlulah menyesuaikan kail dengan cacing atau pumpun yang hendak digunakan. Bagi saya mata kail berukuran antara 22 hingga 1/0 adalah yang paling sesuai sekali terutama yang diperbuat daripada aloi (alloy) atau "carbon steel" karena kail yang diperbuat daripada jenis ini adalah sangat ringan. Pilihlah mata kail yang mempunyai tangkal yang panjang serta bergigi (barb) untuk menahan cacing atau pumpun dari terkeluar.

b. Jenis perambut 
Jenis perambut yang digunakan juga memainkan peranan yang penting karena ia akan menentukan jikanya umpan dapat bergerak secara alami (natural) serta apa jenis kail yang perlu digunakan. Kita tidak memerlukan "wire leader, saya menggunakan "mono leader" antara 8 paun hingga 15 paun dengan kail dari jenis "kirby ", "O'Shaughnessy "atau "Siwash" yang mempunyai mata yang mendongak ke tepi (off set point) atau yang mempunyai tangkal yang panjang.

Senin, 11 Desember 2017

JENIS - JENIS PUKAT HELA (TRAWL) DAN PUKAT TARIK (SAINE NETS)


Pukat hela dan pukat tarik memiliki jenis yang bermacam - macam sesuai jenis ikan yang ditangkap. Berikut jenis dari masing - masing alat tangkap pukat hela dan pukat tarik.
A. Jenis - Jenis Pukat Hela (trawl)
    1. Pukat Hela Dasar ( Bottom trawl)
        a. Pukat hela dasar berpalang (Beam trawls)
Beam trawls














        b. Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls)
Otter trawls












        c. Pukat hela dasar dua kapal (Pair Trawls)
Pair trawls












        d. Nephrops trawl (Nephrops trawl)
Nephrops trawl











        e. Pukat hela dasar udang (Shrimp trawl)
Shrimp trawl












    2. Puka Hela Pertengahan (Midwater trawls)
        a. Pukat hela pertengahan berpapan (Otter trawls)

Otter trawls













        b. Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair Trawls)
Pair trawls











        c. Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawl)
Shrimp trawl












    3. Pukat Hela Kembar Berpapan (Otter twin trawls)
Otter twin trawls











    4. Pukat Dorong
Pukat dorong











B. Jenis - Jenis Pukat Tarik (Seine Nets)
    1. Pukat Tarik Pantai (Beach seines)
Beach seines

 















 2. Pukat Tarik Berkapal (Boat or vessel seines)
        a. Dogol (Danish seines)

Danish seines













        b. Scottish seines
Scottish seines















        c. Pair seines

Pair seines












        d. Payang
Payang
        e. Cantrang
Cantrang
        f. Lampara Dasar
Lampara dasar
Sumber : PERMEN KP No. 2 Tahun 2015

AIR LAUT DI OLAH JADI AIR LAYAK MINUM

Air minum sangat dibutuhkan untuk menunjang kelangsungan hidup bagi setiap individu. Manusia mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu namun tanpa air manusia akan mati dalam beberapa hari saja. Sebagian besar masyarakat di Indonesia telah mengkonsumsi air sehat walaupun belum tentu layak minum. Air layak minum memerlukan persyaratan tertentu khusus. Kita ketahui sumber air berasal air tanah, mata air, air sungai, danau dan air laut. Untuk lebih mudahnya ditinjau dari kandungan air didalamnya maka air laut amat sedikit digunakan untuk diolah menjadi air layak pakai dan layak minum. Hal ini disebabkan karena air laut memiliki kandungan lebih komplek khususnya garam yang memerlukan peralatan khusus untuk memisahkannya. Disamping itu kandungan garam (NaCl) cukup banyak didalam air laut jika dibandingkan dengan air yang berasal dari sumber lainnya.
Luas lautan Indonesia mencapai sekitar 3.288.683 km². sehingga Indonesia juga mendapat julukan negara maritim dan melihat  Indonesia yang terletak ditengah kepungan air laut kekurangan air bersih banyak menimpa masyarakat yang tinggal di pesisir pantai. Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memiliki luas wilayah 251.810,71 km yang sebagian besar 95,97% atau 241.251,30 km² merupakan perairan dan terdiri dari gugusan kepulauan sebanyak 1.062 pulau. Jika ditelaah hampir setiap pulau belum semuanya memiliki air layak minum hal ini sulit untuk dilaksanakan karena membutuhkan dana yang besar. Membangun instalasi air bersih dan layak minum sangat besar dananya, apalagi bahan dasarnya dari air laut. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menciptakan proses yang sangat sederhana untuk memperoleh air layak pakai dan layak minum. Pengolahan air laut menjadi air tawar layak pakai dan minum dikenal juga dengan istilah desalinasi. Proses ini dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu :
  1. Proses pertukaran ion proes ini ditemukan Way pada 1852, saat melakukan eksperimen menghilangkan ammonia dalam larutan air yang meresap melalui tanah dari hasil penemuan ini kemudian dikembangkan proses konversi kimia. Proses ini kemudian digunakan secara dan berskala (Industri). Proses pembuatan air minum dari air laut dengan teknik pertukarn ion memanfaatkan proses kimiawi untuk memisahkan garam dalam air. Ion garam (Na+Cl-) ditukar dengan ion seperti Ca+2 dan SO4-2. Kedua komponen ini diperoleh dari bahan alam dan sintetis. Ion alam dapat diperoleh dari seperti zeolit sedangkan yang Ion sintetis dapat diperoleh dari resin (resin kation dan resin anion). Pada proses pertukaran ion merupakan reaksi kimia dengan ion terhidrata dan sifatnya bergerak di dalam zat padat, dipertukarkan atas dasar ekuivalen dengan ion yang bermuatan sama yang terdapat di dalam larutan. Zat padat mempunyai struktur seperti jala terbuka dan ion yang bergerak itu menetralisir muatan atau muatan potensial. Pertukaran kation berlangsung bila kation yang bergerak dan bermuatan positif terikat pada gugus yang bermuatan negatif. Proses pertukaran ion berlangsung bila anion bergerak, bermuatan negatif yang melekat pada gugus bermuatan positif di dalam resin, penukar kalor saling bertukar dengan anion di dalam larutan.
  2. Proses distilasi atau poses penyulingan air laut dengan kandungan berbagai zat dipisahkan dengan cara pemanasan sehingga unsur air akan menguap. Selanjutnya uap air ini didinginkan menjadi titik air yang selanjutnya dapat ditampung menjadi sekumpulan air bersih layak pakai dan minum. Komponen lain seprti logam atau garam yang ada dalam air laut akan tertinggal  dengan sendirinya berdasarkan kaedah gravitasi .
  3. Proses Filtrasi proses ini lebih dikenal dengan proses Reverse Osmosis (RO) yaitu salah satu teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar yang paling sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum. Keistimewaannya adalah mampu menyaring molekul yang lebih besar dari molekul air. Proses filtrasi dikenal dengan Teknologi membrane. Sedangkan teknologi membrane dapat melalui proses elektrodialisis dan RO. Dari kedua teknologi ini RO lebih sering digunakan.
Dari ketiga proses itu yang paling sederhana dan mudah adalah proses distilasi namun demikian proses ini memerlukan bahan bakar yang cukup banyak sehingga belum seimbang antara pengeluaraan bahan bakar dengan output yang dihasilkan. Berbagai penelitian terhadap kemungkinan pemanfaatan air laut untuk dijadikan air layak pakai dan minum telah dilakukan dengan berbagai jenis dan tipe peralatan pendukungnya termasuk didalamnya tentang penggunaan bahan bakar untuk proses yang dilakukan. Penggunaan bahan bakar minyak atau fosil untuk masa yang akan datang haruslah dipertimbangkan secara baik karena semakin lama semakin mahal dan persediaan bahan bakar ini semakin menipis. Sehingga penggunaan sinar matahari atau juga lazim disebut sinar surya dapat digunakan mengganti energi fosil ini. Energi surya dapat digunakan sebagai bahan pemanas proses distilasi air laut menjadi air minum. Di beberapa daerah yang letaknya dekat dengan khatulistiwa menjadikan energi surya menjadi sumber energi yang paling banyak dapat digunakan.
Kini pemakaian energi surya untuk pemanasan pada proses distilasi ini dalam skala besar akan dibangun oleh PT Pembangunan Jaya Ancol. Inovasi yang dilakukan antara lain 7.000 m³ air laut diubah menjadi 5.000 m³ air tawar per hari. Sisanya sekitar 2.000 m³ menjadi air berkadar garam tinggi yang digunakan untuk kolam apung salah satu wahana wisata di Ancol Taman Impian. Skala ini tentunya memerlukan investasi yang sangat besar dan banyak kesulitan jika disetiap daerah khususnya di daerah kepulauan akan dibangun instalasi yang demikian. Oleh karenanya perlu dilakukan inovasi untuk memperoleh air bersih layak minum ini untuk masyarakat pedesaan atau pesisir dengan memanfaatkan energi surya. Namun demikian proses distilasi dengan menggunakan sinar surya terbatas hanya paling lama 10 jam dalam sehari semalam. Selebihnya energi pemanasan tidak dapat lagi diperoleh sehingga diperlukan inovasi baru bagaimana supaya dapat beroperasi 24 jam.
Proses distilasi air laut untuk menghasilkan air layak pakai dan layak minum sangat sederhana. Air laut dipanasi dalam ruangan sehingga menghasilkan uap air kemudian uap air dikondensasi sehingga menjadi butiran air yang menempel dinding dan dikumpulkan lalu air yang dihasilkan sudah layak pakai. Untuk menjadikan air layak minum dengan teknologi penyinaran ultra violet yang dilakukan secara intermitten dapat membunuh kuman yang ada dalam air sehingga produk air menjadi sehat dan layak minum.
Sinar surya yang digunakan untuk pemenasan dalam proses distilasi ini tidak dilakukan secara langsung tetapi melalui Photo Voltage (PV) dirubah menjadi energi listrik yang kemudian melalui inverter energi ini digunakan sebagai pemanas coil air yang akan diuapkan. Pada sore dan malam hari energi listrik untuk pemanas coil diganti dengan sinar infrared sehingga proses ini terus berjalan hingga keesokan paginya matahari menyinari bumi kembali dan PV dapat memanfaatkannya. Melalui teknologi ultra violet yang juga diperoleh dari sinar matahari air di sterilisasi dengan sinar ini sehingga layak minum. Kajian ini sedang dilakukan dan perakitan telah dibuat tinggal menunggu hasil uji air yang dihasilkan.
Sumber [www.haluankepri.com]

Rabu, 06 Desember 2017

KONSERVASI SUMBERDAYA PERIKANAN

Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan. Sumberdaya hayati perairan tidak dibatasi secara tegas dan pada umumnya mencakup ikan, amfibi dan berbagai avertebrata penghuni perairan dan wilayah yang berdekatan, serta lingkungannya. Di Indonesia menurut UU RI no. 9/1985 dan UU RI no. 31/2004, kegiatan yang termasuk dalam perikanan dimulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Dengan demikian perikanan dapat dianggap merupakan usaha agribisnis.
Sumberdaya Perikanan
Dunia telah mengakui bahwa indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dimana terdiri dari 17.508 pulau dengan garis pantai sekitar 81.000 km. Indonesia memiliki luas wilayah lautan sekitar 5,8 juta km2 atau sekitar 70% dari luas total teritorial Indonesia. Dengan potensi fisik ini, tentunya kita harus berbangga atas potensi ini, serta mampu mengelolanya dengan baik. Sayangnya, dengan potensi yang cukup besar ini, kita (bangsa indonesia) belum mampu menunjukan kerdiriannya sebagai bangsa bahari. Indikasinya sangat jelas, sampai hari ini masyarakat kita yang berprofesi sebagai nelayan masih hidup di bawah garis kemiskinan. Harusnya dengan potensi kekayaan bahari tersebut, sudah mampu membuat bangsa ini sejahtera. Ini merupakan bukti kegagalan pemerintah kita dalam penegelolaan sektor kelautan dan perikanan. Sekaligus mengindikasikan perhatian pemerintah terhadap sektor ini masih dipandang sebelah mata.
Laut kita memiliki karakteristik yang sangat spesifik Dikatakan spesifik, karena memiliki keaneragaman biota laut (ikan dan vegetasi laut) dan potensi lainnya seperti kandungan bahan mineral. Dalam definisi undang-undang no 31 tahun 2004 tentang perikanan, dikatakan bahwa ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebahagian hidupnya berada dalam lingkungan perairan. Sumber daya perikanan, merupakan hasil kekayaan laut yang memiliki potensi besar untuk menambah devisa negara. Menurut Rohmin Dahuri, bahwa potensi pembangunan pesisir dan lautan kita terbagi dalam tiga kelompok yaitu: (1) sumber daya dapat pulih (renewable recorces), (2) sumberdaya tak dapat pulih (non-renewable recorces) dalam hal ini mineral dan bahan tambang, (3) jasa-jasa lingkungan (Environmental service). Sayangnya ketiga potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu akan menarik kiranya bila kita membeberkan ketiga kelompok potensi kelautan kita.
Sumberdaya dapat pulih terdiri dari ikan dan vegetasi lainnya. Namun yang menjadi primadona kita selama ini adalah pada sebatas ikan konsumsi seperti ikan pelagis, ikan demersal, ikan karang, udang dan cumi-cumi. Sedangkan untuk vegetasinya adalah terumbu karang, padang lamun, rumput laut, dan hutan mangrove. Sumber daya perikanan laut sebagai sumber daya yang dapat pulih sering kita salah tafsirkan sebagai sumber daya yang dapat eksploitasi secara terus menerus tanpa batas. Dalam data Ditjen Perikanan, (1995), Potensi sumber daya perikanan laut di Indonesia terdiri dari sumberdaya perikanan pelagis besar dengan potensi produksi sebesar 451.830 ton/tahun dan pelagis kecil sebesar 2.423.000 ton/tahun sedangkan sumberdaya perikanan demersal memiliki potensi produksi sebesar 3.163.630 ton/tahun, udang sebesar 100.728 ton/tahun, ikan karang dengan potensi produksi sebesar 80.082 ton/tahun dan cumi-cumi sebesar 328.968 ton/tahun. Dengan demikian potensi lestari sumber daya perikanan laut dengan tingkat pemanfaatan baru sekitar 48%.
Sementara itu potensi vegetasi biota laut juga sangat besar. Salah satunya adalah terumbu karang. Dimana terumbu karang ini memilki fungsi yang sangat startegis bagi kelangsungan hidup ekosistem laut yakni fungsi ekologis yaitu sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan, tempat bermain dan asuhan berbagai biota. Terumbu karang juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomis penting seperti berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang dan kerang mutiara Data Ditjen Perikanan tahun 1991 menunjukan, potensi lestari sumberdaya ikan pada terumbu karang di perairan indonesia diperkirakan sebesar 80.802 ton/km2/tahun, dengan luas total terumbu karang 50.000 km2. Vegetasi lainnya adalah rumput laut. Rumput laut memiliki potensi lahan untuk budidaya sekitar 26.700 ha dengan kemampuan potensi produksi sebesar 482.400 ton/tahun (Ditjen Perikanan, 1991).
Disamping potensi sumber daya dapat pulih (renewable recources), wilayah pesisir dan laut kita juga memiliki potensi sumber daya tak terbaharukan (non-renewable recources). Potensi ini meliputi mineral dan bahan tambang diantaranya berupa minyak, gas, batu bara, emas, timah, nikel, bauksit dan juga granit, kapur dan pasir. Potensi lain yang tidak kalah pentingnya lagi adalah kawasan pesisir dan laut kita sangat potensial untuk pengelolaan jasa lingkungan (environmental service). Yang dimaksud dengan jasa lingkungan adalah pemanfaatan kawasan pesisir dan lautan sebagai sarana rekreasi dan pariwisata, media transportasi dan komunikasi, sarana pendidikan dan penelitian, pertahanan keamanan, kawasan perlindungan dan sistem penunjang kehidupan serta fungsi ekologis lainnya.
Potensi lain yang juga belum tergarap adalah pemanfaatan wilayah pesisir dan laut sebagai penghasil daya energi, belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal wilayah pesisir dan lautan merupakan salah satu sumber energi alternatif yang sangat ramah lingkungan. Sumber energi yang dapat dimanfaatkan antara lain berupa : arus pasang surut, gelombang, perbedaan salinitas, angin, dan pemanfaatan perbedaan suhu air laut di lapisan permukaan dan lapisan dalam perairan atau yang kita kenal dengan OTEC (Ocean Thermal Energy Convertion).
Gambaran potensi wilayah laut dan pesisir kita tersebut hanyalah sebahagian kecil yang dimanfaat secara optimal. Tentunya masih banyak potensi lain yang dapat dikembangkan guna kemakmuran rakyat. Namun sangat disayangkan potensi sumber daya pesisir dan lautan belum bisa mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat khususnya nelayan. Hal yang terjadi justru sebaliknya ditengah kebanggaan kita sebagai bangsa bahari justru nelayan kitalah yang paling termarjinalkan. Suatu fenomena yang kontras. Rohmin Dahuri pernah mengatakan seandainya saja potensi wilayah pesisir dan laut dikelola secara baik maka hasilnya akan baik. Namun model pengelolaan wilayah pesisir dan laut selama ini sangat berorientasi pada aspek eksploitasi. Hal ini terlihat jelas selama pemerintahan orde baru kegiatan pengelolaan wilayah pesisir dan laut hanya sebatas untuk pemenuhan pundi uang bagi negara. Sementara pengelolaan secara terpadu dan berkelanjutan belum sepenuhnya dilakukan. Pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan bisa jadi suatu saat nanti akan menjadi penyedia primer bahan pangan. Tidak berlebihan kiranya mengingat jumlah penduduk yang meningkat tiap tahunnya serta semakin kurangnya lahan pertanian akibat adanya aktivitas pembangunan perumahan dan jalan. Dengan demikian mau tidak mau, suka tidak suka potensi sumberdaya wilayah pesisir dan lautan akan menjadi kiblat ekonomi Indonesia masa depan. Jika potensi kekayaan ini dibiarkan merana tidak dikelola dengan baik maka indonesia sebagai negara bahari bisa jadi hanya tinggal nama (Abidin, 2006).
Konservasi Sumberdaya Ikan
Pengertian konservasi, khususnya konservasi sumberdaya ikan telah dipahami sebagai upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya ikan. Nyata bahwa konservasi bukan hanya upaya perlindungan semata, namun juga secara seimbang melestarikan dan memanfaatkan berkelanjutan sumberdaya yang ujung-ujungnya tentu saja untuk kesejahteraan masyarakat. Upaya Konservasi sumberdaya ikan dilakukan pada level ekosistem, jenis dan genetik.
Penetapan Kawasan konservasi perairan merupakan salah satu upaya konservasi ekosistem yang dapat dilakukan terhadap semua tipe ekosistem, yaitu terhadap satu atau beberapa tipe ekosistem penting untuk dikonservasi berdasarkan kriteria ekologis, sosial budaya dan ekonomis. Kawasan Konservasi Perairan didefinisikan sebagai kawasan perairan yang dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi, untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan.
Kata kunci pengelolaan kawasan konservasi perairan adalah dikelola dengan sistem zonasi dengan tujuan untuk perikanan yang berkelanjutan. Paling tidak ada 4 (empat) pembagian zona yang dapat dikembangkan di dalam KKP, yaitu zona inti, zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan dan zona lainnya. Melalui pengaturan zonasi serta perkembangan desentralisasi dalam pengelolaan kawasan konservasi, ini merupakan pemenuhan hak-hak bagi masyarakat khususnya nelayan. Kekhawatiran akan mengurangi akses nelayan yang disinyalir banyak pihak dirasakan sangat tidak mungkin. Justru hak-hak tradisional masyarakat sangat diakui dalam pengelolaan kawasan konservasi. Masyarakat diberikan ruang pemanfaatan untuk perikanan di dalam kawasan konservasi (zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan maupun zona lainnya), misalnya untuk budidaya dan penangkapan ramah lingkungan maupun pariwisata bahari dan lain sebagainya. Pola-pola seperti ini dalam konteks pemahaman konservasi terdahulu (sentralistis) hal ini belum banyak dilakukan.
Konservasi saat ini telah menjadi tuntutan dan kebutuhan yang musti dipenuhi sebagai harmonisasi atas kebutuhan ekonomi masyarakat dan keinginan untuk terus melestarikan sumberdaya yang ada bagi masa depan. Data direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut (KTNL) menyebutkan bahwa sampai bulan Mei 2009 tercatat seluas 13,5 juta hektar kawasan konservasi perairan laut di Indonesia. Jumlah ini melampaui target kawasan konservasi, sebagai komitmen pemerintah indonesia yang disampaikan yaitu 10 juta hektar kawasan konservasi pada tahun 2010. Dari jumlah luasan tersebut DKP menginisiasi dan memfasilitasi + 8,1 juta hektar, sedangkan inisiasi Dephut + 5,4 juta hektar. Luasan 8,1 juta hektar tersebut terdiri dari sebuah taman nasional perairan laut sawu seluas 3,5 juta hektar dan 35 lokasi kawasan konservasi laut daerah (KKLD) yang luasnya mencapai 4,6 juta hektar. Pada dasarnya Luasan kawasan konservasi itu sendiri bukan merupakan target utama, Target ke depan adalah melakukan pengelolaan kawasan konservasi tersebut secara efektif mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.
Kawasan konservasi perairan (KKP) laut secara individu maupun jaringan merupakan alat utama dalam melindungi keanekaragaman hayati perairan laut. Namun, kesepakatan tentang seberapa besar habitat yang harus dilindungi keanekaragaman hayati lautnya dalam menjamin konektivitas ekologi belum ada kata putus. Di Indonesia diharapkan sedikitnya 10 persen dari luasan KKP dijadikan zona inti untuk perlindungan mutlak habitat sumberdaya ikan. Lebih lanjut dengan pengelolaan yang konsisten selama beberapa tahun diharapkan mampu menyokong hasil tangkapan ikan di luar kawasan konservasi meningkat 40 persen.
Pengelolaan kawasan konservasi tersebut dikelola oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. Dalam hal ini dapat melibatkan masyarakat melalui kemitraan antara unit organisasi pengelola dengan kelompok masyarakat dan/atau masyarakat adat, lembaga swadaya masyarakat, korporasi, lembaga penelitian, maupun perguruan tinggi. Jadi, pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah pusat saja, tetapi juga oleh pemerintah provinsi dan kabupaten sesuai kewenangannya. Ditingkat pusat, DKP telah membentuk Unit Pelaksana Teknis, yaitu Balai Kawasan Konservasi Perairan (BKKPN) yang berkedudukan di Kupang dan Loka Kawasan Konservasi Perairan (LKKPN) yang ada di Pekan Baru. Sedangkan di Daerah, untuk mengelola KKLD, dapat pula dibentuk UPT daerah atau bahkan dapat ditingkatkan menggunakan pola pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) jika memang kegiatan konservasi di wilayah tersebut cukup menjanjikan sehingga perlu dikelola secara professional.
Sebagai upaya tindaklanjut pengembangan kawasan konservasi perairan (laut) dilakukan penguatan manajemen maupun keterkaitan ekologis antar kawasan konservasi dalam bentuk jejaring kawasan konservasi. Jejaring adalah Merupakan keterkaitan antara kawasan konservasi laut (KKL) yang mempresentasikan daya lenting spesies dan habitatnya untuk mencapai keseimbangan ekosistem melalui pengelolaan bersama. Jejaring (network) antar KKP mempunyai peranan yang penting dalam mempertahankan keanekaragaman hayati di kawasan tersebut. Beberapa alasan dalam membuat jejaring antar KKP diantaranya adalah untuk : (1) menggambarkan, menjaga dan memelihara keanekaragaman hayati; (2) memberikan model pemanfaatan KKP yang mendukung ekosistem setempat; (3) menjaga atau melindungi tempat biota laut yang dilindungi dari berbagai ancaman; (4) Menjaga keberadaan potensi sumberdaya perikanan laut, serta (5) upaya memperluas dan meningkatkan ketahanan KKP. Keterkaitan (connectivity) merupakan kata kunci pengembangan jejaring kawasan konservasi perairan. Adanya keterkaitan bioekologis merupakan pertimbangan dasar untuk mengelola beberapa KKP dalam satu sistem pengelolaan bersama untuk mewujudkan KKP yang tahan (resilient) terhadap ancaman dan dapat berfungsi efektif untuk mendukung perikanan berkelanjutan.
Jejaring KKP sebagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan, Pasal 19 dinyatakan bahwa dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan dapat dibentuk jejaring kawasan konservasi perairan, baik pada tingkat lokal, nasional, regional, maupun global. Jejaring KKP tersebut dibentuk berdasarkan keterkaitan biofisik antar KKP disertai dengan bukti ilmiah yang meliputi aspek oceanografi, limnologi, bioekologi perikanan, dan daya tahan lingkungan. Jejaring KKP pada tingkat lokal maupun nasional dilaksanakan melalui kerja sama antar unit organisasi pengelola sedangkan di tingkat regional maupun global dilaksanakan melalui kerja sama antar negara. Yang dimaksud dengan jejaring KKP pada tingkat regional adalah kawasan konservasi perairan yang terdapat dalam suatu hamparan ekoregion yang mencakup dua atau lebih negara bertetangga serta memiliki keterkaitan ekosistem. Sedangkan jejaring KKP pada tingkat global adalah kawasan konservasi perairan yang terdapat dalam suatu hamparan beberapa ekoregion yang berbeda tetapi mempunyai keterkaitan ekosistem secara global dan mencakup beberapa negara.
Sampai saat ini keberadaan kawasan konservasi perairan (laut) belum terintegrasi antara KKP satu dengan KKP lainnya. Pada dasarnya diantara beberapa KKP tersebut terdapat suatu keterkaitan jejaring yang sangat kuat baik dalam aspek ekologis maupun pengelolaan. Penyusunan keterkaitan jejaring KKP berdasarkan 2 (dua) kriteria dasar yaitu; (1) Kriteria Ekologis; Kriteria ini menunjukkan bahwa antara KKP satu dengan lainnya terdapat keterkaitan dalam hal ekologis (Ekoregion), keterkaitan (network) ini berupa secara fisik dan biologis. (2) Kriteria Pengelolaan; Kriteria ini menunjukkan bahwa antara KKP satu dengan lainnya terdapat keterkaitan dalam hal pengelolaan. Bentuk jejaring pengelolaan berupa sistem pengelolaan bersama terhadap KKP tersebut.
Dalam pengelolaan KKP secara bersama beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan yaitu : Keterlibatan stakeholders dalam pengelolaan bersama KKP sangat penting dalam mendukung terlaksananya pengelolaan yang baik. Masing-masing stakeholders mempunyai peran dan tugas dalam pengelolaan tersebut. Selain itu, dalam upaya pengelolaan KKP diperlukan suatu lembaga/badan/dinas pengelola yang akan menyusun program dan kegiatan kerja, pengusulan anggaran, pengelolaan kegiatan, pemantauan dan evaluasi program dan kegiatan, penyelesaian permasalahan dan penyampaian informasi. Selain itu tugasnya adalah melibatkan berbagai stakeholders lain dalam pengelolaan KKP. Guna pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan, pendanaan kawasan konservasi merupakan hal yang tidak bisa dikesampingkan oleh karena itu berbagai mekanisme pendanaan yang ada dapat digunakan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip konservasi yang dilakukan (Suraji, 2011)