Rabu, 21 Juni 2017

Mengenal Lebih Jauh Jenis Sisik Ikan

Sisik secara umumnya berarti semacam lapisan kulit yang keras dan berhelai-helai, seperti pada ikan, ular atau kaki ayam. Dalam ilmu botani, sisik digunakan pula untuk menyebut dedaunan kecil yang tidak hijau, seperti yang terdapat pada kuncup atau batang yang termodifikasi.
Sisik Ikan
Dalam ilmu zoologi, sisik (Ingg. scale, Gr. lepid, dan Lat. squama) umumnya merujuk kepada keping-keping kecil yang kaku, yang tumbuh di kulit binatang sebagai pelindung tubuhnya. Misalnya pada ikan, kadal atau ular. Kupu-kupu juga memiliki sisik, yakni keping-keping amat kecil di atas sayapnya, yang mudah rontok dan berfungsi untuk membentuk pola warna di atas sayap tersebut.
Sisik-sisik pada hewan, secara struktur umumnya merupakan bagian dari sistem integumen, yakni penutup luar tubuh binatang.
Ikan merupakan salah satu hewan yang memiliki sisik, namun kita jarang sekali mengetahui kegunaan dari sisik yang menempel pada tubuh ikan tersebut.
Ada beberapa macam sisik ikan yang dikenal, yakni:
  1. Sisik kosmoid (cosmoid) yang sesungguhnya hanya dijumpai pada ikan-ikan bangsa Crossopterygi yang telah punah. Sisik ini berlapis-lapis, di mana lapisan terdalam terbangun dari tulang yang memipih. Di atasnya berada selapis tulang yang berpembuluh darah, dan di atasnya lagi, selapis bahan serupa email gigi yang disebut kosmin (cosmine). Kemudian di bagian terluar terdapat lapisan keratin. Ikan coelacanth memiliki semacam sisik kosmoid yang telah berkembang, yang kehilangan lapisan kosmin dan lebih tipis dari sisik kosmoid sejati.
    Ikan Coelacanth merupakan salah satu ikan yang memiliki sisik kosmoid
  2. Sisik ganoid ditemukan pada ikan-ikan suku Lepisosteidae dan Polypteridae. Sisik-sisik ini serupa dengan sisik kosmoid, dengan sebuah lapisan ganoin terletak di antara lapisan kosmin dan enamel. Sisik-sisik ini berbentuk belah ketupat, mengkilap dan keras.
    Sisik Ganoid
  3. Sisik plakoid dimiliki oleh ikan hiu dan ikan-ikan bertulang rawan lainnya. Sisik-sisik ini memiliki struktur serupa gigi.
    Sisik Plakoid
  4. Sisik leptoid didapati pada ikan-ikan bertulang keras, dan memiliki dua bentuk. Yakni sisik sikloid (cycloid) dan ktenoid (ctenoid).
  5. Sisik-sisik sikloid memiliki tepi luar yang halus, dan paling umum ditemukan pada ikan-ikan yang lebih primitif yang memiliki sirip-sirip yang lembut. Misalnya adalah ikan-ikan salem dan karper.
    Sisik Sikloid
  6. Sisik-sisik ktenoid bergerigi di tepi luarnya, dan biasanya ditemukan pada ikan-ikan yang lebih ‘modern’ yang memiliki sirip-sirip berduri.
    Sisik Ktenoid

Sejalan dengan pertumbuhannya, sisik-sisik sikloid dan ktenoid terus bertambah lingkaran tahunnya. Sisik-sisik ini tersusun di tubuh ikan seperti genting, dengan arah menutup ke belakang. Dengan demikian memungkinkan aliran air yang lebih lancar di sekeliling tubuh dan mengurangi gesekan.
Sisik pada ikan merupakan bagian yang penting dan perkembangan yang istimewa untuk evolusi pada ikan. Meskipun belum banyak diketahui secara dekat, beberapa jenis ikan telah berubah sisiknya menjadi lebih keras seperti tulang.
Sisik sangat berguna bagi ahli ichtyologi dalam pekerjaan identifikasi. Sering bahwa sebuah sisik sudah cukup untuk mengklasifikasikan seekor ikan, paling tidak hingga famili dimana dia termasuk di dalamnya. Perhitungan jumlah sisik merupakan alat Bantu lain yang terbukti berguna dalam taksonomi.
Sisik dari banyak species ikan dapat digunakan untuk menaksir umur ikan. Lingkaran dasar sebagaimana terdapat pada batang pohon, terbentuk setiap tahun sejalan dengan tumbuhnya ikan dan sisiknya berkembang bersama dengan itu.
Warna indah dari banyak ikan juga berasal dari sisik ikan tersebut.  Warna cemerlang bergantung pada pemantulan cahaya secara fisik, yang meningkatkan pengaruhnya pada warna yang dipantulkan kembali kepada yang melihatnya, dari pigmen-pigmen gelap di bawah kulit ikan tersebut.
Perubahan warna memegang peranan penting sebagai sinyal dalam tingkah laku ikan., dan dapat digunakan untuk persembunyian dan kamuflase. Dalam perubahan warna ini telah ditemukan dua mode cara kontrol. Mode pertama adalah pengaruh hormonal yang berpusat di pituitary, yang mengeluarkan hormon-hormon yang umumnya berkenaan dengan penguatan warna. Adrenalin menumpahkan epinephrine, yang mempunyai pengaruh pada penumpukan melanopora dan dengan demikian menyebabkan warna ikan menjadi pucat. This is typical fright response. Mode ke dua adalah kontrol syarat. Dua set ujung syarat antagonik berakhir pada kromatophora-kromatopora.

Sumber : Buku Tingkah Laku Ikan

5 Makhluk Aneh Penghuni Palung Mariana

1. GOBLIN SHARK
Seperti halnya kebanyakan makhluk laut dalam, sains tidak banyak mengetahui tentang hiu ini. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana tepatnya mereka bereproduksi, ikan ini tetap menjadi misteri dan contoh bagaimana sebuah keanekaragaman hayati yang luar biasa terjadi di Bumi.
Goblin Shark
2. DEEP SEA HATCHETFISH
Ada banyak ikan yang berpenampilan aneh di lautan, tapi tak banyak yang menyerupai peralatan buatan manusia. Deep Sea Hatchetfish menyerupai sebuah kapak yang bisa berenang. Ada lebih dari 40 spesies ikan ini, semuanya memiliki tubuh yang kurus, dan banyak dari mereka memiliki sisik yang mengkilap yang membuat mereka memiliki penampilan seperti kapak berwarna metalik. Ikan ini berukuran kecil dan bahkan yang terbesar hanya bisa tumbuh sepanjang 15 cm. Penampilan mereka yang nampak rapuh ini sangat menarik mengingat mereka hidup di kedalaman 1.524 meter.
Deep Sea Hatchetfish
Tubuh ikan ini memiliki kemampuan bioluminens dan mereka dapat mengatur kecerahan cahaya mereka tergantung seberapa banyak cahaya yang mereka terima dari permukaan. Mereka melakukannya dengan teknik kamuflase yang pandai. Cahaya redup yang mereka hasilkan mengurangi intensitas bayangan mereka, membuatnya semakin sulit disergap oleh predator dari bawah.

3. FRILLED SHARK
Hiu yang satu ini memiliki bentuk tubuh bulat gabungan dari seekor belut dan kepala datar yang cukup aneh, mirip kepala dinosaurus.Hiu ini mendapatkan namanya dari sederetan insang berenda yang ada pada tubuhnya, dan hiu ini bisa tumbuh hingga 1,8 meter. Hiu ini memiliki lebih dari 20 baris gigi berbentuk segitiga setajam pisau yang siap merobek-robek daging mangsanya.
Frilled Shark
Hiu ini kemungkinan menghabiskan hidupnya di dekat dasar laut dan mereka menyukai perairan dengan kedalaman 1.219 meter. Terkadang, hiu ini tak sengaja tertangkap jala manusia dan terbawa sampai ke permukaan, dan hampir semuanya, mereka langsung tewas saat itu juga, membuatnya semakin sulit bagi kita untuk mengamati dan mempelajari perilaku mereka berikut siklus hidupnya.
Selama bertahun-tahun, banyak orang beranggapan bahwa hiu ini berenang dan berburu seperti belut. Beberapa peneliti beranggapan bahwa struktur anatomi dan organ pada hiu ini membuatnya tak mungkin melakukan pergerakan seperti belut, melainkan menurut mereka, hiu ini mungkin berburu menangkap mangsanya seperti cara ular berburu di darat, dan hal ini semakin membuat sosok hiu ini semakin aneh dan misterius.

4. TELESCOPE OCTOPUS
Seperti penghuni laut dalam yang lain, gurita yang satu ini mengapung di kegelapan pada perairan terdalam di lautan Bumi. Tidak seperti gurita pada umumnya, gurita ini tidak berkeliaran di dasar laut. Melainkan berenang di air pada kedalaman lebih dari 1.981 meter dan ia tidak berenang dengan arah horizontal tapi lebih cenderung vertikal, mungkin ini semacam cara agar predator dari bawah kesulitan melihat bentuknya.
Telescope Octopus
Jika kita cukup beruntung bertemu dengan gurita ini, kita mungkin akan bertanya-tanya terkait penampilannya. Tubuh gurita ini hampir transparan dan diantara kedelapan tentakelnya ada sebuah jaring yang membuat penampilan gurita ini menyerupai hantu. Pada tubuhnya kita akan melihat dua bola mata yang menonjol, tidak seperti yang kita lihat pada gurita pada umumnya. Sepasang mata ini memberikan sudut pandang yang luas sehingga sang gurita dapat melihat predator dan mangsanya lebih baik. Seperti sesuatu hal yang ada pada film fiksi ilmiah, kedua mata itu juga dapat berputar, mungkin hal ini adalah cara mereka agar dapat melihat dengan baik dalam kegelapan pekat.

5. ZOMBIE WORM
Resminya, makhluk ini bernama Osedax, dan dengan penampilannya yang berbulu, cacing ini juga disebut dengan Bone Worm atau Zombie Worm. Cacing ini bisa memakan batu karang atau bahkan tulang makhluk terbesar yang ada di Bumi, termasuk Paus Biru.
Cacing ini mengeluarkan asam untuk membantunya menembus dan mengakses isi dari tulang belulang paus yang telah mati. Kemudian ia akan menggunakan bakteri untuk mengubah protein dan lemak yang ada pada tulang menjadi nutrisi yang menjadi santapannya. “Cabang” berbulunya yang bergoyang melambai-lambai di dalam air berfungsi untuk menyerap oksigen agar si cacing tetap hidup.
Zombie Worm
Cacing betina dapat tumbuh sampai 5 cm. Pejantannya memiliki ukuran yang jauh lebih kecil (berukuran mikroskopis) jika dibandingkan dengan betina, dan si betina akan mengumpulkan para pejantan kecil ini di dalam tubuh mereka. Kemudian para pejantan akan mencari jalan untuk menemukan telur si betina. Cacing betina kemudian akan melepaskan telurnya yang telah dibuahi ke dalam air, siklus hidup cacing pun sudah dimulai dan cacing ini kembali melanjutkan tugasnya membersihkan bangkai paus di dasar lautan terdalam.



Selasa, 20 Juni 2017

TIPS MENCEGAH PEMBUSUKAN IKAN

Kita telah mengetahui bahwa pembusukan ikan terutama disebabkan oleh enzym dan bakteri. Oleh karena itu untuk mencegah pembusukan, akan sangat efektif bila kedua penyebab utama itu disingkirkan dari ikan, dibunuh, dan dicegah kedatangan penyebab lain yang berasal dari luar. Pembusukan itu sendiri bagaimana pun tidak dapat dicegah atau dihindari. Sampai saat manusia baru berhasil untuk memperlambat atau menunda proses pembusukan itu.
Ikan Segar
Usaha Mencegah Pembusukan Ikan
Usaha terbaik yang dapat dilakukan untuk mempertahankaan mutu ikan terhadap pembusukan adalah sebagai berikut:
1. Mengurangi sebanyak mungkin jumlah enzim dan bakteri pada tubuh ikan.
Bakteri terdapat pada bagian kulit dan terutama sekali pada insang dan isi perutnya sedangkan enzim pada daging dan sebagian besar pada perutnya. Jika setelah ditangkap dibuang isi perutnya dan insangnya serta kemudian dicuci bersih, dihilangkan lendir-lendirnya maka berarti sebagian besar bakteri dan enzim telah dibuang.

2. Membunuh sisa-sisa bakteri dan enzim atau sekurang-kurangnya menghambat kegiatannya.
Bakteri yang tertinggal pada ikan dapat diperangi dengan berbagai cara yang pada dasarnya dapat dibagi dalam 5 kategori:
  • Penggunaan suhu rendah
    Penggunaan es sebagai salah satu upaya pencegahan pembusukan ikan
  • Penggunaan suhu tinggi
    Pemindangan merupakan salah satu upaya pencegahan pembusukan ikan dengan suhu tinggi 
  • Pengeringan (dehidrasi) 
    Pengeringan ikan
  • Penggunaan zat-zat anti septic
  • Penyinaran atau irradiasi

Untuk dapat hidup dengan baik, bakteri memerlukan suhu tertentu, tergantung dari jenisnya. Ada tiga macam bakteri berdasarkan pertahanannya terhadap suhu seperti pada tabel berikut :
Kisaran suhu bagi kehidupan bakteri
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kebanyakan bakteri akan mati atau sekurang-kurangnya akan terhenti kegiatannya bila suhu ikan diturunkan sampai dibawah 0 0 C atau bila dinaikkan sampai diatas 100 derajat celcius. Penggunaan suhu rendah kita lakukan dengan menggunakan es atau dengan cara pendinginan   lainnya. Sedangkan suhu tinggi dipakai misalnya dalam pengalengan atau pemindangan. Ikan asin, ikan asap, ikaan asam, dan sebagainya akan lebih awet jika disimpan pada suhu rendah.

Air merupakan kebutuhan yang pokok bagi pertumbuhan bakteri. 
Bakteri selalu menyerap makanannya dalam bentuk larutan, dan untuk itu diperlukan air. Jadi dalam suasana kering, bakteri tidak akan dapat makan sehingga akan mati. Atas dasar inilah maka ikan dapat diawetkan dengan mengurangi kadar airnya, yaitu dengan cara:

  • Pengeringan dengan udara (Drying)
  • Osmose (penggunaan garam)
  • Pemasakan (perebusan, pengukusan, pengetiman)
  • Pengeringan dengan pembekuan pada ruang hampa ( vacuum freeze drying).

Beberapa zat kimia seperti asam cuka, klor (kaporit), Aureonmycin, asam benzoat, natrium benzoat, dll, sangat efektif dipakai untuk membunuh kuman bakteri dan menghentikan enzym. Zat-zat tersebut dapat dipakai untuk mengawetkan ikan dalam batas-batas tertentu.
3. Melindungi ikan terhadap kontaminasi bakteri dari luar.
Pengawetan tidak akan banyak berarti jika ikan yang telah diawetkan tidak dilindungi dari penyebab kerusakan baru yang datang dari luar ikan. Kerusakan ini bermacam-macam pada ikan olahan dan hasil olahannya, antara lain:

  • Pembusukan akibat pencemaran bakteri dari air, pembungkus, dari ikan lain, dan sebagainnya.
  • Oksidasi lemak yang menimbulkan bau tengik, 
  • Kerusakan-kerusakan fisik karena serangga, jamur, kecerobohan dalam penanganan, dan sebagainya.

Untuk melindungi ikan terhadap kerusakan-kerusakan ini kita harus menyelenggarakan sanitasi dan hygiene yang baik dalam proses penanganan, melakukan pembungkusan / pengepakan yang baik, serta usaha-usaha proteksi yang lain.
Sumber : Modul Teknologi Hasil Perikanan

WADAH BUDIDAYA PERIKANAN ( KOLAM TANAH )

Penggunaan kolam secara tradisional sudah dimulai sejak lama. Karakteristik dari kolam tradisional adalah sistem budidaya terutama hanya memanfaatkan pakan alami yang terdapat dalam kolam. Kepadatan ikan yang dipelihara dalam kolam umumnya rendah, biasanya hanya terdiri atas satu jenis saja (monokultur) sedangkan lahan yang digunakan biasanya relatif luas.
Dari segi penyerapan tenaga kerja, budidaya ikan dengan menggunakan kolam tradisional hanya melibatkan sedikit saja aktivitas manusia. Meskipun demikian, jika prosesnya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan memberikan beberapa keuntungan antara lain adalah sebagai berikut. Dari segi ekonomi, pembuatan kolam merupakan salah satu cara pemanfaatan lahan pekarangan/lahan kosong sehingga dapat memberikan tambahan penghasilan. Fungsi sosial di mana hasil yang diperoleh akan memberikan tambahan gizi keluarga petani, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan bangsa di masa yang akan datang.
Struktur kolam tradisional umumnya masih menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia, seperti untuk pematang biasanya digunakan tanah yang dipadatkan, jadi belum menggunakan bahan modern seperti semen, ataupun beton. Saluran pembuangan dan pemasukan air kebanyakan belum dibuat sesuai prinsip efisiensi atau belum di buat secara permanen. Di samping itu kebanyakan petani mengelola kolam tradisional hanya sebagai usaha tambahan di samping mata pencaharian utama mereka sebagai petani. Berdasarkan kondisi seperti dijelaskan di atas, maka kolam tradisional masih digolongkan ke dalam budidaya sistem ekstensif. Budidaya dengan sistem ini sekarang sudah banyak ditinggalkan karena keuntungan yang dihasilkan pada umumnya tidak terlalu besar. Jenis ikan yang dipelihara di kolam antara lain ikan mas (Cyprinus carpio), lele (Clarias batrachus), mujair (Tilapia mozambica), dan nila (Oreochromis nilotica).
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat kolam ikan. Mulai dari menganalisis jenis tanah, kontur lahan, tata letak kolam, irigasi, penggalian, pembuatan tanggul hingga pengaturan sirkulasi air.
JENIS TANAH
Jenis tanah yang paling baik untuk membuat kolam tanah adalah tanah liat berpasir. Jenis tanah ini cukup kedap air, teksturnya solid sehingga pembuatan tanggulnya pun lebih mudah.
Bila tanah yang tersedia terlalu gembur, perlu usaha ekstra agar berfungsi dengan baik. Misalnya dinding kolam diberi lapisan semen atau batu bata. Cara ini efektif mencegah kebocoran, namun biaya kontruksinya jauh lebih mahal.
Cara sederhana menentukan jenis tanah adalah dengan menggenggam segumpal tanah yang telah dibasahi dengan air. Kemudian kepalkan tanah tersebut kuat-kuat. Kemudian buka telapak tangan Anda. Bila di permukaan telapak tangan hanya ada sedikit pasir maka bisa dikatakan tanah liat berpasir. Bila jumlah pasir yang menempel di telapak tangan banyak, tanah tersebut dikategorikan tanah gembur.
KONTUR LAHAN
Setelah menganalisis jenis tanah, amati kontur lahan yang akan dijadikan kolam ikan. Apakah lahan datar atau lahan miring. Kemiringan lahan menentukan metode penggalian dan pembuatan tanggul. Pada lahan miring, pengaturan pola aliran air lebih mudah.
Penggalian tanah di lahan miring cukup dilakukan pada satu sisi. Kemudian tanah hasil galian digunakan untuk membuat tanggul di sisi lain. Sedangkan pada lahan datar, penggalian dilakukan di semua sisi. Hasil galian dijadikan untuk membuat tanggul. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar dibawah ini.
Teknik galian pada lahan miring dan lahan datar
PEMATANG KOLAM
Pematang kolam dibuat untuk menahan massa air didalam kolam agar tidak keluar dari dalam kolam. Oleh karena itu jenis tanah yang akan digunakan untuk membuat pematang kolam harus kompak dan kedap air serta tidak mudah bocor.
Jenis tanah yang baik untuk pematang kolam adalah tanah liat atau liat berpasir. Kedua jenis tanah ini dapat diidentifikasi dengan memperhatikan tanah yang ciricirinya antara lain memiliki sifat lengket, tidak poros, tidak mudah pecah dan mampu menahan air. Ukuran pematang disesuaikan dengan ukuran kolam. Tinggi pematang ditentukan oleh kedalaman air kolam, sebaiknya dasar pematang kolam ini ditanam sedalam 20 cm dari permukaan dasar kolam.

Pematang merupakan salah satu bagian yang sangat penting dari konstruksi kolam. Bentuk pematang harus memadai, karena pematang berfungsi untuk :

  • Menahan volume air dalam kolam
  • Menahan luapan air yang timbul karena banjir maupun hujan lebat

Kedua sisi pematang dibuat miring, kemiringan pematang merupakan perbandingan antara sisi tegak dan sisi mendatar sebesar 1 : 1 sampai 1 : 1 ½ . untuk kemiringan pematang bagian luar kolam adalah sebesar 1 : 1 sampai 1 ¼ , sedangkan kemiringan pematang bagian dalam kolam 1 : 1 ½ , kalau tanahnya tanah lempung atau 1 : 1 ¾ kalau tanahnya kurang mengandung tanah lempung. Lebar bagian atas pematang minimal 1.0 meter.

Tinggi pematang disesuaikan dengan luas kolam, sebagai patokan bagian atas pematang harus berada lebih tinggi dari rencana permukaan air kolam. Luas kolam 2.000 m2 tinggi pematang yang muncul diatas air cukup 30 cm, sedangkan untuk kolam dengan luas 4.000 m2 tinggi pematang yang muncul di atas permukaan harus 50 cm. Yang perlu diingat, bahwa penampang melintang sebuah pematang harus seperti bangun trapesium.
Bentuk pematang yang biasa dibuat dalam kolam budidaya ikan ada dua bentuk yaitu berbentuk trapesium sama kaki dan bentuk trapesium tidak sama kaki. Bentuk pematang trapesium sama kaki artinya perbandingan antara kemiringan pematang 1 : 1
Pematang kolam trapesium sama kaki
Untuk menghindari terjadinya erosi, sebaiknya pada pematang ditanami rumput atau tanaman lain yang juga dapat berfungsi sebagai peneduh.

Sedangkan bentuk pematang trapesium tidak sama kaki artinya perbandingan antara kemiringan pematang 1 : 1,5
Pematang kolam trapesium tidak sama kaki
Apabila jenis tanahnya memungkinkan, kolam ikan bisa dibuat hanya dengan menggunakan tanggul tanah. Dari segi konstruksi, pembuatan tanggul tanah lebih murah dan mudah. Berikut langkah-langkah membuat tanggul :
1. Pematang tanah
Kolam pematang tanah
  • Tetapkan luas kolam yang akan digali, tentukan garis batasnya.
  • Kemudian mulai menggali lapisan tanah atas sedalam kurang lebih 10 cm. Pisahkan tanah lapisan atas ini, untuk nanti ditebarkan kembali ke dasar kolam. Tanah bagian atas ini kaya akan bahan organik yang berguna bagi kehidupan ikan.
  • Mulai gali kembali permukaan tanah sedalam 60 cm. Bagian tanah yang ini digunakan untuk membuat pematang. Bersihkan dari batuan, akar atau pun sampah lainnya agar pematang yang disusun tidak bocor.
  • Pematang dibuat dengan penampang berbentuk trapesium. Lebar di bagian bawah dan menyempit di bagian atas. Semakin lebar pematang semakin baik, karena akan semakin kokoh. Tapi tentunya semakin lebar pematang akan memakan tempat. Sesuaikan lebar pematang dengan luas kolam.
  • Sebelum pematang dibuat, sebaiknya gali dasar tanggul sedalam 20-25 cm sebagai pondasi . Kemudian isi dengan tanah hasil galian dan mampatkan. Tanah galian untuk membentuk pematang bisa diairi terlebih dahulu agar solid.
2. Pematang tembok
Pematang tembok diperlukan apabila kita menginginkan kolam yang lebih permanen dan jenis tanah yang ada tidak memungkinkan untuk membuat pematang tanah. Tembok bisa digunakan sebagai pelapis atau pembatas. Sebagai pelapis artinya, lapisan tembok hanya memperkuat pematang tanah. Biasanya diterapkan pada kolam tunggal.
Kolam pematang tembok
Untuk jumlah kolam yang banyak, biasanya seluruh pematang dibuat dari lapisan batu-bata dan adukan semen atau dibeton. pematang menjadi pembatas antara kolam yang satu dengan kolam yang lain. Pembuatan pematang dari tembok tentunya memerlukan biaya yang jauh lebih besar daripada tanggul tanah.
DASAR KOLAM BUDIDAYA
Dasar kolam untuk budidaya ikan ini dibuat miring ke arah pembuangan air, kemiringan dasar kolam berkisar antara 1-2% yang artinya dalam setiap seratus meter panjang dasar kolam ada perbedaan tinggi sepanjang 1-2 meter .
Cara pengukuran yang mudah untuk mengetahui kemiringan dasar kolam adalah dengan menggunakan selang air yang kecil. Pada masing-masing ujung pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air ditempatkan sebatang kayu atau bambu yang sudah diberi ukuran, yang paling bagus meteran, kemudian selang kecil yang telah berisi air direntangkan dan ditempatkan pada bambu, kayu atau meteran. Perbedaan tinggi air pada ujungujung selang itu menunjukkan perbedaan tinggi tanah/ kemiringan dasar kolam.
Kemiringan dasar kolam budidaya ikan
KEMALIR
Kemalir atau parit dangkal yang berada pada bagian tengah atau sekeliling tepi kolam merupakan bagian kolam yang cukup penting. Fungsi kemalir sebagai tempat berlindung ikan terhadap serangan hama, bahaya kekeringan dan sengatan matahari, serta sebagai tempat berkumpulnya ikan pada saat akhir penangkapan ikan.

Ukuran kemalir tergantung pada luas kolam. Bila luas kolam kecil (100 – 500 m2), kemalir dapat dibuat dengan ukuran lebar 1 meter dengan kedalaman 30 cm. Bila kolam lebih luas lagi, kemalir dapat dibuat dengan ukuran lebar 2 – 2,5 meter dengan kedalaman 50 cm.
Saluran air didasar kolam
INLET DAN OUTLET AIR KOLAM
Pintu pemasukkan dan pengeluaran air sangat penting bagi suatu kolam, agar sirkulasi air dapat lancar. Secara tradisional, pintu pemasukkan atau pengeluaran air dapat terbuat dari batang bambu atau pipa PVC. Pintu pemasukkan air diletakkan menembus pada bagian atas pematang kolam, sedangkan pintu pengeluaran air terletak didasar kolam dan sejajar dengan dasar kemalir, menembus pematang kolam sampai kebagian luar kolam. Setiap pintu air ini dilengkapi dengan saringan yang terbuat dari anyaman bambu. Saringan ini berfungsi untuk mencegah masuknya sampah atau ikan lain kedalam kolam atau mencegah keluar ikan yang sedang dipelihara. Setiap saat pintu ini harus diperiksa agar jangan sampai tersumbat oleh kotoran.
Penampang melintang kolam tradisional
Keterangan gambar:
P = pematang
PA = Permukaan Air
B1 = pintu pengeluaran air dengan saringan
DK = dasar kolam
B2 = pintu pemasukkan dengan saringan
K = kemalir
Sumber : 
3. Modul Keteknikan Budidaya Perikanan

WADAH BUDIDAYA PERIKANAN ( KOLAM PARIT )

Usaha budidaya ikan di dengan sistem air deras merupakan metode budidaya ikan yang memberikan produksi ikan yang tinggi dalam masa pemeliharaan yang relatif singkat dan mampu memberikan keuntungan yang berlipat ganda bagi pembudidaya ikan.
Sesuai dengan namanya, kolam ini memanfaatkan aliran air yang relatif deras untuk mempercepat pertumbuhan ikan yang dipelihara. Hal ini tentu saja dapat dimengerti, sebab aliran air yang deras akan memberikan beberapa keuntungan, yaitu :

  1. Aliran air yang deras mampu menyediakan kandungan oksigen terlarut dalam air pada tingkat yang jenuh. Dengan demikian oksigen terlarut dalam air selalu tersedia.
  2. Dengan selalu tersedianya kandungan oksigen terlarut dalam air, kolam dapat dapat ditebari ikan dengan kepadatan yang tinggi.
  3. Aliran air yang deras akan mampu dengan segera membuang sisa makanan dan kotoran hasil metabolisme dari dalam kolam, sehingga kemungkinan terjadinya proses pembusukan yang akan memperlambat pertumbuhan ikan dapat dihindari.
Sistem air deras ternyata berkembang dengan pesat. Salah satu usaha budidaya dengan sistem air deras adalah KOLAM PARIT.

Kolam Parit [sumber]
Dibanding kolam air deras lainnya kolam air deras dengan menggunakan kolam parit relatif lebih murah dalam pembuatannya. Parit atau saluran air yang cocok untuk usaha budidaya ikan mempunyai debit air antara 100 – 125 liter setiap detiknya. Sedangkan kedalaman air tidak kurang dari 40 cm dan tidak lebih dari 1 meter. Akan tetapi, seandainya tidak ter-sedia parit ataupun saluran air yang memenuhi syarat seperti di atas, dapat juga dipergunakan parit atau saluran lain, dan tentu saja hasilnya akan sedikit berbeda.
TEKNIK PEMBUATAN KOLAM PARIT
Bahan utama yang dibutuhkan dalam usaha budidaya ikan dalam parit adalah kayu, bambu dan jaring kawat Kayu yang digunakan tidak periu mahal tetapi hams cukup tahan bila direndam di dalam air. Umumnya petani mempergunakan kayu albasia yang mempunyai ukuran panjang 3 meter, lebar 7 cm dan tebal 7 cm.
Bambu yang akan digunakan sebaiknya dipilih yang tua, lurus dan cukup panjang ruasnya. Setelah dibersihkan, bambu ini kemudian dipotong-potong dengan ukuran panjang 70 -100 cm, dan lebar S cm. Seandainya digunakan jaring kawat, maka pilihlah ukuran mata jaring yang sesuai dengan ukuran benih ikan yang akan dipelihara. Potonglah jaring tersebut dengan ukuran lebar 70 -100 cm dan panjang disesuaikan dengan lebar parit atau saluran air.
Konstruksi Kolam Parit [sumber]
Setelah diperoleh lokasi yang memenuhi syarat, maka pembuatan kolam dapat dilakukan dengan cara:
  1. Buatlah kerangka dari kayu dengan ukuran yang disesuaikan dengan lebar parit atau saluran air. Agar rangka ini tidak dapat hanyut karena arus air, sebaiknya ditanam sedalam 20 cm pada setiap tebing parit atau saluran air. Kerangka terdiri dari dua buah kayu yang dipasang melintang sesuai dengan lebar parit atau saluran air. Letak kayu ini sejajar satu sama lain, dan kayu yang satu berada di atas kayu yang lain dengan jarak 40 – 60 cm.
  2. Pasanglah potongan bambu yang telah disiapkan sebelumnya pada kerangka kayu. Ujung bambu harus tertanam ke dasar perairan sedalam 10cm dan ujung yang lain muncul di permuiraan air minimal setinggi 20 cm. Jarak antara setiap potongan bambu cukup 2-2,5 cm atau disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan dipelihara.jika digunakan jaring kawat, maka bagian bawah juga harus ditanam ke dasar perairan sedalam 10 cm dan bagian atasnya juga muncul ke permukaan air setinggi minimal 20 cm.
  3. Sebaiknya panjang parit yang dipergunakan tidak terlalu besar. Perbanding-an antara panjang dan lebar kolam sebaiknya tidak lebih dari 2:1, artinya jika lebar parit atau saluran air 2 meter maka panjang kolam adalah 4 meter.
  4. Kerangka kolam harus dibuat duabuah dengan jarak satu sama lain ditentukan berdasarkan lebar parit atau saluran air. Kerangka ini berfungsi untuk mem-batasi ruang gerak ikan, sehingga akan memudahkan pada saat panenan.

Sumber : 1. Ir. Eddy Afrianto dan Ir. Evi Liviawaty. Berbagai Metode Budidaya Ikan. 
               2. Cara Budidaya Ikan dalam Parit Bermutu Tinggi

Jumat, 16 Juni 2017

NILAI SEEKOR PARI MANTA

Pari Manta merupakan jenis pari terbesar di dunia dan termasuk salah satu ikan terbesar di dunia. Pari Manta Karang bisa tumbuh hingga 4,5 meter (dari ujung sayap ke ujung sayap yang lainnya), sedangkan Pari Manta Oseanik bisa tumbuh hingga 8 meter. Pari Manta betina butuh 8-10 tahun hingga mencapai kedewasaan seksual, dan bisa melahirkan hanya 1 ekor anak setiap 2-5 tahun.

Ikan yang sangat cerdas ini tumbuh dengan baik di Indonesia. Ikan ini memiliki rasio otak dan badan paling besar bila dibandingkan dengan ikan-ikan lain. Beberapa fakta tentang Pari Manta Indonesia yang unik diantaranya:
  1. Kedua jenis Pari Manta yakni Pari Manta Karang dan Pari Manta Oseanik hidup di perairan Indonesia.
  2. Raja Ampat merupakan satu-satunya tempat di dunia dimana kedua spesies manta dapat dijumpai ditempat yang sama.
  3. Populasi-populasi kunci Pari Manta di Indonesia dapat dijumpai di Sangalaki (Kaltim), Nusa Penida (Bali), Komodo (Flores), dan Raja Ampat (Papua Barat).

Ikan Pari Manta sepenuhnya tidak berbahaya karena tidak memiliki duri dibagian ekornya, berbeda dengan pari biasa (Stringrays). Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para penyelam dan pesnorkel serta para pecinta lautan. Komunitas-komunitas lokal di sejumlah besar negara diuntungkan dari pariwisata manta. Tahukah anda berapa nilai seekor Pari Manta?

Estimasi secara global, nilai pariwisata Pari Manta sebesar 1,7 triliun rupiah per tahunnya. Sedangkan perkiraan nilai perdagangan pelat insang Pari Manta secara global hanya mencapai 60 miliar rupiah. Indonesia merupakan negara terbesar kedua didunia untuk tujuan pariwisata manta. Estimasi nilai seekor Pari Manta sebagai asset pariwisata sepanjang hidupnya ditaksir mencapai 12 miliar rupiah, sedangkan estimasi nilai jual seekor Pari Manta sebagai objek perikanan (ikan mati) ditaksir < 6 juta rupiah.

Kelangsungan hidup Pari Manta saat ini sangat terancam dengan terus meningkatnya permintaan untuk pelat insangnya yang digunakan dalam pengobatan tradisional Cina. Indonesia tampaknya menjadi negara penangkap Pari Manta terbesar di dunia dan dinilai dapat membahayakan populasi Pari Manta. Dengan rendahnya laju reproduksi, umur yang panjang, kecenderungan agregasi di lokasi yang mudah diprediksi, dan kurangnya rasa takut terhadap manusia, Pari Mata sangat rentan terhadap tekanan dari ekspolitasi perikanan.

Beberapa upaya telah dilakukan untuk meminimalisir eksploitasi terhadap ikan yang termasuk dalam kategori terancam punah ini. Kesadaran global tentang tingginya ancaman terhadap Pari Manta telah berkembang secara eksponensial di beberapa tahun terakhir. Convention on Migratory Species (CMS) telah mengakui manta sebagai spesies terancam yang memerlukan perlindungan internasional. Pada 4 Maret 2013 Pari Manta jugal telah dimasukkan dalam Apendiks II dari Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Di Indonesia sendiri Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menerbitkan regulasi mengenai perlindungan penuh terhadap spesies Pari Manta Karang dan Pari Manta Oseanik melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta.

Pada dasarnya setiap orang dapat berperan dalam perlindungan terhadap Pari Manta, mulai dari masyarakat hingga aparat pemerintah tidak terkecuali Penyuluh Perikanan. Penyuluh Perikanan yang memiliki wilayah kerja di pesisir pantai khususnya mereka yang berada di populasi-populasi kunci Ikan Pari Manta seperti
yang telah disampaikan di atas dapat berperan dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat (nelayan) tentang pentingnya Pari Manta sebagai asset pariwisata yang dapat memberikan keuntungan jauh lebih besar dibandingkan sebagai produk perikanan. Memang bukan pekerjaan yang mudah bagi penyuluh perikanan untuk merubah pola pikir nelayan terkait dengan konservasi Pari Manta, terlebih nilai Pari Manta sebagai asset pariwisata tidak secara langsung dapat dirasakan dampaknya oleh pelaku utama perikanan dalam hal ini nelayan. Namun demikian, bukankah perubahan besar terjadi diawali dari hal-hal kecil? So, imposible is nothing.

SAVE MANTA !!!

Sumber : Indonesia Manta Project