Rabu, 21 Maret 2018

MANAJEMEN PAKAN PADA BUDIDAYA PERIKANAN

Kebutuhan pakan harian dinyatakan sebagai tingkat pemberian pakan  (feeding rate) perhari yang ditentukan berdasarkan persentase dari bobot ikan.

Tingkat pemberian pakan ditentukan oleh ukuran ikan dimana sebakin besar ikan maka feeding-ratenya semakin kecil, tetapi jumlah pakan hariannya semakin besar, maksud dari pernyataan ini yaitu semakin besar ikan jumlah pakan yang diberikan sebenarnya semakin kecil namun jumlah pakan yang diberikan perhari akan semakin besar, hal ini bertentang dengan pemberian pakan untuk skala pembenihan dimana feeding-rate pakan yang diberikan akan semakin besar hal ini karena ikan yang masih kecil membutuhkan pakan dalam jumlah yang cukup besar untuk memperlancar pertumbuhan jaringan-jaringan tubuhnya. 
Pemberian pakan ikan. [sumber]
Banyak faktor yang mempengaruhi jumlah pemberian pakan yang akan diberikan kepada ikan peliharaan setiap harinya, namun yang terpenting adalah suhu air, ukuran ikan, dan kualitas air selain itu ada beberapa faktor lainnya. Suhu air yang rendah akan mempengaruhi proses metabolisme didalam tubuh ikan sehingga pada batas-batas suhu air terendah kadang-kadang ikan tidak mau makan. Demikian juga bila kandungan oksigen terlarut dalam air rendah maka nafsu ikan dengan sendirinya akan berkurang. Sehingga apabila prosentase pakan yang diberikan cukup tinggi maka kemungkinan besar akan mempengaruhi kualitas air tempat pemeliharaan ikan tersebut.

Secara berkala jumlah pakan harian ikan disesuaikan dengan pertambahan bobot ikan dan perubahan populasi. Untuk imformasi bobot rata-rata dan populasi ikan akan diperoleh apa bila dilakukan kegiatan pemantauan ikan dengan cara sampling, oleh karena itu dengan sendirinya penyesuaian pakan ditetapkan setelah proses sampling.

Kegiatan sampling pada ikan-ikan tertentu bukan hanya untuk menentukan jumlah pakan yang akan diberikan juga berfungsi untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ikan yang dipelihara sehingga dapat diambil kepastian bahwa ikan yang dipelihara perlu atau tidak dilakukan pemisahan ukuran atau yang disebebut dengan kegiatan grading. Kegiatan grading ini sangat  perlu dilakukan jika kita membudidayakan jenis ikan yang memiliki sifat kanibalisme atau pada ikan pemakan daging.

Pakan buatan yang diberikan harus berkualitas tinggi, karena larva membutuhkan pakan untuk membantu pembentukan jaringan-jaringan tubuhnya maka pakan yang diberikan harus mengandung kandungan protein yang cukup banyak disamping kandungan gizi lainnya. Dan yang sangat penting untuk diperhatikan dari pakan buatan adalah daya cerna yang tinggi sehingga pakan buatan itu mudah sekali dicerna oleh burayak atau larva ikan tersebut.

Untuk biota yang dipelihara dalam wadah pemeliharaan (baik ikan ataupun udang) yang bersifat nokturnal (aktif pada malam hari) maka sebaiknya jumlah pakan yang diberikan lebih banyak pada sore hari akan biota yang bersifat nokturnal akan mencari makan pada malam hari sedangkan untuk pagi hari dan siang hari biota tersebut akan bersembunyi oleh karena itu jumlah makanan sore hari sebaiknya lebih banyak dari makanan pagi hari. 

Konversi pakan diartikan sebagai kemampuan spesies akuakultur mengubah pakan menjadi daging, sama halnya dengan FCR (feed conversion ratio) yang merupakan ukuran yang menyatakan rasio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging ikan kultur. 

Nilai konversi pakan sangat tergantung dari kebiasaan makan, ukuran ikan yang kita pelihara, kualitas air (baik itu kandungan oksigen dalam air, kandungan amonia, pH dan sebagainya) juga tergantung dari kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan. 

Mengenai frekuensi pemberian pakan kepada ikan setiap harinya, belum didapatkan data-data lengkap. Namun dalam penentukan frekuensi pakan ini ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan. Pada umumnya ukuran ikan yang masih kecil akan lebih sering diberikan pakan perharinya dibandingkan dengan ikan yang berukuran besar. Sebagai contoh untuk ikan mas yang berukuran burayak frekuen pemberian pakan dilakukan sebanyak 6 sampai 7 kali dalam sehari sedangkan  untuk ikan mas yang berukuran lebih besar pemberian pakan dilakukan 2 sampai 3 kali sehari.

Frekuensi pemberian pakan pada ikan sangat penting untuk diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap jumlah pakan yang dikonsumsi dan efisiensi pakan. Menurut NCR (1977) dan Hickling (1971), frekuensi pemberian pakan perlu diperhatikan agar penggunaan pakan lebih efisiensi. Frekuensi pemberian pakan ditentukan antara lain oleh spesies, ukuran ikan serta faktor-faktor yang mempengaruhi nafsu makan ikan. Ketiga faktor tersebut sangat berkaitan satu dengan yang lainnya, dimana semakin kecil ikan yang diberi makan makin sering frrekuensi pemberian pakannya, hal ini berhubungan dengan kapasitas dan laju pengosongan lambung, makin cepat waktu untuk megosongkan lambung maka makin banyak frekuensi pemberian pakan yang dibutuhkan. Setelah mengalami pengurangan isi lambung nafsu makan beberapa jenis ikan akan meningkat kembali jika tersedia makanan, oleh karena itu frekuensi pemberian pakan untuk benih akan berbeda dengan frekuensi pemberian pakan untuk ikan dewasa.

METODE PEMBERIAN PAKAN IKAN
Teknik pemberian pakan pada ikan bervarisi, tetapi teknik yang paling mendasar untuk penyebaran pakan ke dalam kolam meliputi penaburan sedikit demi sedikit (spreinkling), penghamburan (broadcasting) dan secara mekanik. Teknik penaburan sedikit demi sedikit merupakan metode tradisional, dengan metode ini pakan harian yang diberikan dilemparkan kedalam kolam dengan genggaman tangan selama priode 3 sampai 4 jam pada pagi hari dan priode yang serupa pada sore hari.

Pemberian pakan pada kegiatan pembenihan yaitu pada saat perawatan larva-benih dilakukan dengan cara memberikan pakan yang sudah dibuat adonan pasta yang dibuat bola-bola kecil seperti kelereng/gundu, hal ini dilakukan karena jenis pakan yang diberikan berupa tepung ikan atau pellet yang diameternya sangat kecil sedangkan benih ikan belum efektif untuk mengambil pakan yang ada dipermukaan air. Dalam pemberiannya maka tepung ikan terlebih dahulu diberi air hangat secukupnya, buat adonan lalu bentuk bulatan kecil, tebar bulatan pakan tersebut pada pojok/pojok kolam atau wadah, pemberian dilakukan secara bertahap karena pemberian pakan pada larva/benih dilihat dari tingkat kekenyangan (adlibitum).

PENANGANAN DAN PENYIMPANAN PAKAN DI LOKASI BUDIDAYA
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan dan penyimpanan pakan dilokasi budidaya adalah sebagai berikut :
  1. Berikan pakan secara hati-hati dan secermat mungkin dalam memilihnya seperti, dapatkan pakan yang benar-benar baru doproduksi yang memenuhi standar kegizian dan fisik, belilah pakan untuk waktu 4 – 6 minggu saja.
  2. Sewaktu pakan diangkut dan ditangani lindungilah pakan itu dari kelembaban, panas dan sinar matahari langsung.
  3. Simpanlah pakan ditempat yang sejuk, ternaungi, kering dan berventilasi
  4. Hindari pemberian pakan yang bulukan (dicemari kapang ) atau rusak/busuk yang ditandai oleh warna abu-abu, biru atau hijau pada pelet, asam atau apak, berbau lapuk, pakan yang telah basah dan pelet yang mengumpal atau menyatu.
Untuk pakan yang berbentuk basah (emulsi, suspensi) sebaiknya tidak kita simpan, melainkan kita habiskan dalam satu kali pakai. Apabila terpaksa dapat kita simpan dalam ruangan dingin (lemari es) itupun jangan terlalu lama, cukup antara 2-3 hari saja. Sebab bila terlalu lama mutunya akan merosot atau menurun dan akan berpengaruh buruk terhadap kehidupan burayak atau benih yang kita beri makan pakan tersebut.

Makanan kering (pelet, remah, tepung) dapat kita simpan lebih lama namun tetapi agar dalam waktu penyimpanan tidak mengalami kerusakan, maka kadar airnya harus rendah antar 10-12 persen. Dengan kandungan kadar air yang cukup rendah dan penyimpanan yang baik makanan kering dapat disimpan dalam waktu 1 – 2 bulan

Semoga Bermanfaat...

Sumber : Modul Pembenihan Ikan Patin. BPPP Tegal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar