Kamis, 12 April 2018

BUDIDAYA UDANG

Budidaya Udang


Jika ingin memulai bisnis Budidaya Udang Windu Air Tawar yang perlu diperhatikan tentunya lokasi budidayanya sendiri. Kita tidak BOLEH sembarang dalam memilih lokasi budidaya udang air tawar ini, karena nanti akan berdampak tidak maksimalnya budidaya udang kita. Untuk lokasi budidaya udang windu air tawar yang dianjurkan yaitu seperti berikut ini :
Tanah yang ideal untuk tambak udang adalah yang bertekstur liat atau liat berpasir, karena dapat menahan air.
Tekstur tanah dasar terdiri dari lumpur liat berdebu atau lumpur berpasir, dengan kandungan pasir tidak lebih dari 20%.
Jenis perairan yang dikehendaki oleh udang adalah air payau atau air tawar tergantung jenis udang yang dipelihara. Daerah yang paling cocok untuk pertambakan adalah daerah pasang surut dengan fluktuasi pasang surut 2 - 3 meter.
Parameter fisik: suhu/temperatur = 26 - 30 derajat C; kadar garam/salinitas = 0 - 35 permil dan optimal = 10 - 30 permil; kecerahan air = 25 - 30 cm (diukur dengan secchi disk)
Parameter kimia: pH = 7, 5 – 8, 5; DO = 4 - 8 mg/liter; Amonia (NH3) <>

Untuk tambak budidaya udang windu sendiri ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar hasil budidaya bisa maksimal yaitu :
Tahan terhadap damparan ombak besar, angin kencang dan banjir. Jarak minimum pertambakan dari pantai adalah 50 meter atau minimum 50 meter dari bantara sungai.
Lingkungan tambak beserta airnya harus cukup baik untuk kehidupan udang sehingga dapat tumbuh normal sejak ditebarkan sampai dipanen.
Tanggul harus padat dan kuat tidak bocor atau merembes serta tahan terhadap erosi air.
Desain tambak harus sesuai dan mudah untuk operasi sehari-hari, sehingga menghemat tenaga.
Sesuai dengan daya dukung lahan yang tersedia.
Menjaga kebersihan dan kesehatan hasil produksinya.
Saluran pemasuk air terpisah dengan pembuangan air.

Lokasi budidaya udang air tawar sudah ditentukan dan syarat sudah mencukupi,   selanjutnya yaitu menyiapkan benih udang windu untuk dibudidayakan. Benur/benih udang bisa didapat dari beli di tempat pembenihan (Hatchery) atau dari alam.

     Di alam terdapat dua macam golongan benih udang windu (benur) menurut ukurannya, yaitu :
a)     Benih yang masih halus, yang disebut post larva.
Terdapat di tepi-tepi pantai. Hidupnya bersifat pelagis, yaitu berenang dekat permukaan air. Warnanya coklat kemerahan. Panjang 9-15 mm. Cucuk kepala lurus atau sedikit melengkung seperti huruf S dengan bentuk keseluruhan seperti jet. Ekornya membentang seperti kipas.
b)     Benih yang sudah besar atau benih kasar yang disebut juvenil.
Biasanya telah memasuki muara sungai atau terusan. Hidupnya bersifat benthis, yaitu suka berdiam dekat dasar perairan atau kadang menempel pada benda yang terendam air. Sungutnya berbelang-belang selangseling coklat dan putih atau putih dan hijau kebiruan. Badannya berwarna biru kehijauan atau kecoklatan sampai kehitaman. Pangkal kaki renang berbelang-belang kuning biru.
Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 – 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.

Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.

Sumber: http://pertanian.magelangkota.go.id/informasi/teknologi-pertanian/48-budidaya-udang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar