Selasa, 07 Agustus 2018

BUDIDAYA UDANG VANNAMEI

Udang adalah komoditas unggulan perikanan budidaya termasuk komoditas budidaya yang sudah dikenal dan sangat diminati oleh masyarakat. Udang vaname dikenal sebagai komoditas budidaya air payau. Selain itu udang vaname dapat dibudidayakan di media air tawar dengan menggunakan metode tradisional ataupun semiintensif.

Udang vaname dikenal memiliki nama ilmiah yakni penaeus vannamei. Udang jenis ini memiliki 2 gigi pada tepi rostrum pada bagian ventral dan 8 – 9 gigi pada bagian tepi rostrum bagian dorsal. Penaeus vannamei memiliki toleransi salinitas yaitu dari 2 – 40 ppt tapi akan tumbuh cepat pada salinitas yang lebih rendah saat lingkungan dan darah isoosmotik (Wyban et al., 1991).

Kondisi udang yang dapat hidup dengan salinitas yang sangat tinggi ini kemudian menjadikan beberapa pembudidaya mencoba melakukan budidaya udang vaname di air tawar melalui proses aklimatisasi dan dalam prosesnya berhasil dilakukan budidaya udang vaname pada salinitas rendah yakni pada salinitas 2 ppt.

Budidaya udang vaname di air tawar memiliki beberapa keunggulan diantaranya mengurangi risiko udang terjangkit penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri yang banyak menginfeksi udang di perairan air payau. Harus dipahami bahwa yang dimaksud dengan air tawar disini adalah air tawar yang mengandung sedikit garam. Jadi bukan air tawar murni seperti budidaya air tawar pada umumnya. Budidaya udang vaname dengan air tawar maksudnya air tawar yang masih mengandung kadar garam tapi sedikit dan salinitasnya mendekati kondisi air tawar yaitu 2 ppt tersebut di atas.

Udang vaname adalah udang yang berasal dari kawasan sub tropis akan tetapi karena daya tahan udang ini yang cukup hebat udang ini juga dapat dikembangkan di daerah tropis seperti Indonesia dengan teknik budidaya yang tepat. Ada beberapa tips yang bisa anda gunakan untuk membudidayakan udang ini.

Persiapan Tambak
Pertama dilakukan proses pengeringan tambak selama 7-10 hari sampai tanah terlihat pecah-pecah untuk memutus siklus hidup pathogen dan mengurai gas beracun H2S. Setelah itu dilakukan proses pembalikan tanah agar fitoplankton dapat tumbuh sebagai pakan alami udang vaname. Perlu juga dilakukan pengukuran pH air apabila pH kurang dari 6,5 maka perlu dilakukan proses pengapuran.

Pemupukan dan Pengisian Air
Pemupukan dilakukan setelah proses pengeringan dan pengapuran, pupuk yang digunakan adalah pupuk Urea 150 kg/ha dan pupuk kandang 2000 kg/ha. Setelah itu dilakukan pengisian air dengan kedalaman 1 m atau kurang di petak pembesaran. Biarkan air selama 2-3 minggu sampai siap untuk proses selanjutnya yaitu penebaran bibit udang vaname.

Pemilihan Benih
Benih yang digunakan dalam cara budidaya udang vaname ini adalah benih jenis PL10-PL12 yang mendapatkan sertifikasi SPF (Specific Pathogen Free). Benih harus tampak bagus tanpa cacat mempunyai ukuran seragam, berenang melawan arus, insang sudah berkembang dan usus terlihat jelas.

Penebaran Benih
Sebelum ditebar benih udang vaname perlu melalui proses aklimitasi karena hal ini sangat berpengaruh pada daya tahan udang ini saat proses pembenihan dan pemeliharaan. Caranya menyiram kantung tempat benih dengan air tambak dan diapungkan ditambak selama 15-20 menit. Setelah itu dibuka dan dimiringkan pelan-pelan agar benih udang keluar dan benih udang vaname sebaiknya ditebar pada siang hari.

Pemberian Pakan
Pakan yang biasa dianjurkan pada panduan cara ternak udang di Indonesia adalah pelet yang mengandung 30% protein. Jumlah pakan yang diberikan dipengaruhi oleh umur udang atau menggunakan pedoman ABW. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 4-5 kali sehari. Selain umur banyaknya pakan dipengaruhi oleh kondisi tanah tambak kualitas air dan tingkat kesehatan udang.

Pemeliharaan
Langkah pemeliharaan pertama adalah kontrol tingkat salinitas, salinitas air yang baik adalah 10-25 ppt. Selain itu pemeriksaan pH air dan tanah secara berkala bila kurang dari 7,5 maka perlu dilakukan proses pengapuran tambahan. Sebelum udang berumur 60 hari perlu juga diperiksa tinggi air dan dilakukan pengisian air dengan salinitas yang disebutkan diatas bila air kurang karena proses penguapan.

Pengendalian Hama
Hama yang menyerang tambak udang vaname biasanya adalah hewan-hewan yang hidup disekitar tambak seperti burung, ketam, ikan liar dan pengerek. Untuk ketam dan pengerek yang biasanya melubangi pematang disekitar tambak dan kita bisa memasang pagar plastik untuk mencegah hewan ini masuk. Ikan liar bisa dibasmi dengan saponin sedangkan burung kita perlu mengontrol tambak sesering mungkin.

Pengendalian Penyakit
Pengendalian penyakit yang tepat dilakukan bersamaan dengan proses pembibitan dan pemeliharaan. Bila kita melakukan proses pemeliharaan dengan baik maka penyakit tidak akan menyerang udang. Selain itu kita juga perlu melakukan pemeriksaan fisik udang dan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dilaboratorium agar penyakit udang yang menyerang bisa terdeteksi.

Pemanenan
Proses pemanenan dilakukan setelah udang vaname berumur 120 hari dan mencapai berat yaitu 50 ekor/kg. Bila udang sudah mencapai berat tersebut sebelum 120 hari maka pemanenan bisa dilakukan. Pemanenan dilakukan pada waktu malam hari untuk mempertahankan kualitas udang 2-4 hari. Sebelum pemanenan tambak diberi kapur dolomite 80 kg/ha dan mempertahankan ketinggian air untuk mencegah proses molting. Bila kita melakukan teknik beternak udang vaname dengan benar maka hasil yang kita dapatkan akan sangat memuaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar