Senin, 22 Januari 2018

HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA IKAN PATIN


Hama dan penyakit ikan patin sering kali menjadi faktor penyebab kurangnya jumlah tangkapan pada masa panen dalam berternak ikan patin, hal ini tentu saja akan merugikan apalagi jika modal yang sudah diinvestasikan untuk mendukung budidaya ikan tsb memakai dana yang lumayan besar.
1)    Mengenali Jenis-Jenis Hama yang Menyerang Ikan Patin
Hama ikan patin yang biasa mengganggu pada saat pembesaran ikan jika menggunakan media kolam dalam jaring terapung, hampang dan keramba bisanya kebanyakan terdiri dari hewan-hewan yang biasa hidup di air juga seperti : ikan buntal (Tetraodon sp.), udang, seluang (Rasbora). Adapun hewan lain yang bisa menjadi hama antara lain: ular air, kura-kura, biawak dan lingsang. Selain itu juga burung bisa menjadi hama pada waktu pembesaran ikan.
Jika memggunakan teknik pembesaran dengan sistim jala terapung sebaiknya memilih lokasi untuk membesarkan ikan yang letaknya jauh dari pantai, hal ini bertujuan untuk mengindari serangan dari hama penggangu. Pada umumnya kawasan di pinggiran waduk dan danau adalah lokasi yang disukai hama untuk bersarang. Untuk mengindari hal tsb sebaiknya secara rutin membersihkan semak dan belukar yang selalu tumbuh di kawasan lokasi pembesaran ikan.
Hama ikan patin yang berupa burung yang biasa mengganggu antara lain :
–  Burung bangau (Lepto-tilus javanicus)
–  Burung pecuk (Phalacrocorax carbo sinensis)
–  Burung blekok (Ramphalcyon capensis capensis)
Adapun cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan dari burung-burung tsb adalah dengan memberikan tutup pelindung bagian atas pada wadah atau media tempat budidaya dengan mengunakan lembaran-lembaran jaring. Metode seperti ini memberikan 2 keuntungan yaitu selain mencegah burung pengganggu masuk, juga bisa mencegah ikan patin yang sedang dibudidayakan rame-rame lompat keluar.
2)    Merawat Ikan Yang Sakit Akibat Hama Dan Penyakit ikan Patin
Penyakit ikan patin secara umum dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu penyakit yang diakibatkan adanya faktor infeksi dan penyakit yang diakibatkan oleh faktor non-infeksi. Penyakit yang bersifat infeksi biasanya diakibatkan oleh adanya gangguan organism pathogen.
a)      Penyakit ikan patin akibat infeksi
Bakteri, virus dan jamur merupakan organisme pathogen di dalam air yang biasanya menimbulkan infeksi penyakit pada ikan patin. Parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) adalah salah satu organisme pathogen yang biasa menyerang pada waktu pembenihan ikan patin sehingga mengurangi produksi benih karena benih banyak yang mati.
Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Hama serupa juga terdapat pada usaha pembesaran patin sistem hampang (pen) dan karamba. Karamba yang ditanam di dasar perairan relatif aman dari serangan hama. Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama lain berupa ikan liar pemangsa adalah udang, dan seluang (Rasbora). Ikan-ikan kecil yang masuk kedalam wadah budidaya akan menjadi pesaing ikan patin dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen. Untuk menghindari serangan hama pada pembesaran di jala apung (rakit) sebaiknya ditempatkan jauh dari pantai. Biasanya pinggiran waduk atau danau merupakan markas tempat bersarangnya hama, karena itu sebaiknya semak belukar yang tumbuh di pinggir dan disekitar lokasi dibersihkan secara rutin. Cara untuk menghindari dari serangan burung bangau (Lepto-tilus javanicus), pecuk (Phalacrocorax carbo sinensis), blekok (Ramphalcyon capensis capensis) adalah dengan menutupi bagian atas wadah budi daya dengan lembararan jaring dan memasang kantong jaring tambahan di luar kantong jaring budi daya. Mata jaring dari kantong jaring bagian luar ini dibuat lebih besar. Cara ini berfungsi ganda, selain burung tidak dapat masuk, ikan patin juga tidak akan berlompatan keluar.
Penyakit.
Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibatadanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular. Sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.
Penyakit akibat infeksi Organisme patogen yang menyebabkan infeksi biasanya berupa parasit, jamur, bakteri, dan virus. Produksi benih ikan patin secara masal masih menemui beberapa kendala antara lain karena sering mendapat serangan parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) sehingga banyak benih patin yang mati, terutama benih yang berumur 1-2 bulan. Dalam usaha pembesaran patin belum ada laporan yang mengungkapkan secara lengkap serangan penyakit pada ikan patin, untuk pencegahan, beberapa penyakit akibat infeksi berikut ini sebaiknya diperhatikan.
A.      Parasit.
Penyakit white spot (bintik putih) disebabkan oleh parasit dari bangsa protozoa dari jenis Ichthyoptirus multifilis Foquet. Pengendalian: menggunakan metil biru atau methilene blue konsentrasi 1% (satu gram metil biru dalam 100 cc air). Ikan yang sakit dimasukkan ke dalam bak air yang bersih, kemudian kedalamnya masukkan larutan tadi. Ikan dibiarkan dalam larutan selama 24 jam. Lakukan pengobatan berulang-ulang selama tiga kali dengan selang waktu sehari. Kendala yang sering dihadapi adalah serangan parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) mengakibatkan banyak benih mati, terutama benih yang berumur 1-2 bulan. Penyakit ini dapat membunuh ikan dalam waktu singkat. Organisme ini menempel pada tubuh ikan secara bergerombol sampai ratusan jumlahnya sehingga akan terlihat seperti bintik-bintik putih. Tempat yang disukai adalah di bawah selaput lendir sekaligus merusak selaput lendir tersebut.
Jamur.
Penyakit yang disebabkan oleh jamur  biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan. Penyakit ini biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan. Penyebab penyakit jamur adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Pada kondisi air yang jelek, kemungkinan patin terserang jamur lebih besar. Pencegahan penyakit jamur dapat dilakukan dengan cara menjaga kualitas air agar kondisinya selalu ideal bagi kehidupan ikan patin. Ikan yang terlanjur sakit harus segera diobati. Obat yang biasanya di pakai adalah malachyt green oxalate sejumlah 2 –3 g/m air (1 liter) selama 30 menit. Caranya rendam ikan yang sakit dengan larutan tadi, dan di ulang sampai tiga hari berturut- turut.
Bakteri.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri juga menjadi ancaman bagi ikan patin. Bakteri yang sering menyerang adalah Aeromonas sp. dan Pseudo-monas sp. Ikan yang terserang akan mengalami pendarahan pada bagian tubuh terutama di bagian dada, perut, dan pangkal sirip. Penyakit bakteri yang mungkin menyerang ikan patin adalah penyakit bakteri yang juga biasa menyerang ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu Aeromonas sp. dan Pseudomonas sp. Ikan patin yang terkena penyakit akibat bakteri, ternyata mudah menular, sehingga ikan yang terserang dan keadaannya cukup parah harus segera dimusnahkan. Sementara yang terinfeks, tetapi belum parah dapat dicoba dengan beberapa cara pengobatan. Antara lain:
   Dengan merendam ikan dalam larutan kalium permanganat (PK) 10-20 ppm selama 30–60 menit,
   Merendam ikan dalam larutan nitrofuran 5- 10 ppm selama 12–24 jam, atau
   Merendam ikan dalam larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.
D.     Penyakit non-infeksi.
Penyakit non-infeksi banyak diketemukan adalah keracunan dan kurang gizi. Keracunan disebabkan oleh banyak faktor seperti pada pemberian pakan yang berjamur dan berkuman atau karena pencemaran lingkungan perairan. Gajala keracunan dapat diidentifikasi dari tingkah laku ikan. Ikan akan lemah, berenang megap-megap dipermukaan air. Pada kasus yang berbahaya, ikan berenang terbalik dan mati. Pada kasus kurang gizi, ikan tampak kurus dan kepala terlihat lebih besar, tidak seimbang dengan ukuran tubuh, kurang lincah dan berkembang tidak normal.
Sumber :
Anonim (1995). Pembesaran Ikan Patin Dalam Hampang (Banjarbaru: Lembar Informasi Pertanian).
Aida, Siti Nurul, dkk. (1992/1993). Pengaruh Pemberian Kapur Pada Mutu Air dan Pertumbuhan Ikan Patin di Kolam Rawa Non Pasang Surut dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar.
Arifin, Zainal, Pengaruh Pakan Terhadap Pematangan Calon Induk Ikan Patin (Pangasius pangasius) dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 1992/1993.
Susanto, Heru (1999). Budi Daya Ikan Patin. Jakarta: Penebar Swadaya, 1999 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar