Tampilkan postingan dengan label Penangkapan Ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penangkapan Ikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2018

ALAT TANGKAP TRAWL ( PUKAT HARIMAU )

A.  DEFINISI ALAT TANGKAP
Kata “ trawl “ berasal dari bahasa prancis “ troler “ dari kata “ trailing “ adalah dalam bahasa inggris, mempunyai arti yang bersamaan, dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata “tarik “ ataupun “mengelilingi seraya menarik “. Ada yang menterjemahkan “trawl” dengan “jaring tarik” , tapi karena hampir semua jarring dalam operasinya mengalami perlakuan tarik ataupun ditarik , maka selama belum ada ketentuan resmi mengenai peristilahan dari yang berwenang maka digunakan kata” trawl” saja.
Dari kata “ trawl” lahir kata “trawling” yang berarti kerja melakukan operasi penangkapan ikan dengan trawl, dan kata “trawler” yang berarti kapal yang melakukan trawling. Jadi yang dimaksud dengan jarring trawl ( trawl net ) disini adalah suatu jaring kantong yang ditarik di belakang kapal ( baca : kapal dalam keadaan berjalan ) menelusuri permukaan dasar perairan untuk menangkap ikan, udang dan jenis demersal lainnya. Jarring ini juga ada yang menyangkut sebagai “jaring tarik dasar”.
Stern trawl adalah otter trawl yang cara operasionalnya ( penurunan dan pengangkatan ) jaring dilakukan dari bagian belakang ( buritan ) kapal atau kurang lebih demikian. Penangkapan dengan system stern trawl dapat menggunakan baik satu jarring atau lebih.
B.  SEJARAH ALAT TANGKAP
Jaring trawl yang selanjutnya disingkat dengan “trawl” telah mengalami perkembangan pesat di Indonesia sejak awal pelita I. Trawl sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia sejak sebelum Perang Dunia II walaupun masih dalam bentuk (tingkat) percobaan. Percobaan-percobaan tersebut sempat terhenti akibat pecah Perang Dunia II dan baru dilanjutkan sesudah tahun 50-an (periode setelah proklamasi kemerdekaan). Penggunaan jaring trawl dalam tingkat percobaan ini semula dipelopori oleh Yayasan Perikanan Laut, suatu unit pelaksana kerja dibawah naungan Jawatan Perikanan Pusat waktu itu. Percobaan ini semula dilakukan oleh YPL Makassar (1952), kemudian dilanjutkan oleh YPL Surabaya.
Menurut sejarahnya asal mula trawl adalah dari laut tengah dan pada abad ke 16 dimasukkan ke Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, dan negara Eropa lainnya. Bentuk trawl waktu itu bukanlah seperti bentuk trawl yang dipakai sekarang yang mana sesuai dengan perkembangannya telah banyak mengalami perubahan-perubahan, tapi semacam trawl yang dalam bahasa Belanda disebut schrol net.
C.      PROSPEKTIF ALAT TANGKAP
Perkembangan teknologi menyebabkan kemajuan- kemajuan pada main gear, auxillary gear dan equipment lainnya. Pendeteksian letak jaring dalam air sehubungandepth swimming layer pada ikan, horizontal opening dan vertical opening dari mulut jaring, estimate catch yang berada pada cod end sehubungan dengan pertambahan beban tarik pada winch, sudut tali kekang pada otter board sehubungan dengan attack angel, perbandingan panjang dan lebar dari otter board, dan lain-lain perlengkapan.
Demikian pula fishing ability dari beberapa trawler yang beroperasi di perbagai perairan di tanah air, double ring shrimp trawler yang beroperasi di perairan kalimantan, irian jaya dan lain-lain sebagainya. Perhitungan recources sehubungan dengan fishing intensity yang akan menyangkut perhitungan- perhitungan yang rumit, konon kabarnya sudah mulai dipikirkan. Semakin banyak segi pandangan, diharapkan perikanan trawl akan sampai pada sesuatu benntuk yang diharapkan.
D.      KONSTRUKSI UMUM
 
Dari segi bentuk (konstruksi) cantrang ini terdiri dari bagian-bagian :
1)      Kantong (Cod End)
Kantong merupakan bagaian dari jarring yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan. Pada ujung kantong diikat dengan tali untuk menjaga agar hasil tangkapan tidak mudah lolos (terlepas).
2)      Badan (Body)
Merupakan bagian terbesar dari jaring, terletak antara sayap dan kantong. Bagian ini berfungsi untuk menghubungkan bagian sayap dan kantong untuk menampung jenis ikan-ikan dasar dan udang sebelum masuk ke dalam kantong. Badan tediri atas bagian-bagian kecil yang ukuran mata jaringnya berbeda-beda.
3)      Sayap (Wing).
Sayap atau kaki adalah bagian jaring yang merupakan sambungan atau perpanjangan badan sampai tali salambar. Fungsi sayap adalah untuk menghadang dan mengarahkan ikan supaya masuk ke dalam kantong.
4) Mulut (Mouth)
Alat cantrang memiliki bibir atas dan bibir bawah yang berkedudukan sama. Pada mulut jaring terdapat:
a.       Pelampung (float): tujuan umum penggunan pelampung adalah untuk memberikan daya apung pada alat tangkap cantrang yang dipasang pada bagian tali ris atas (bibir atas jaring) sehingga mulut jaring dapat terbuka.
b.      Pemberat (Sinker): dipasang pada tali ris bagian bawah dengan tujuan agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap berada pada posisinya (dasar perairan) walaupun mendapat pengaruh dari arus.
c.       Tali Ris Atas (Head Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, badan jaring (bagian bibir atas) dan pelampung.
d.      Tali Ris Bawah (Ground Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, bagian badan jaring (bagian bibir bawah) jaring dan pemberat.
5) Tali Penarik (Warp)
Berfungsi untuk menarik jarring selama di operasikan.
E.       JENIS-JENIS TRAWL
Alat tangkap trawl terbagi atas beberapa jenis diantaranya sebagai berikut :
1.      Berdasarkan jumlah kapal
Ø  dengan sebuah kapal
Pada jenis ini, alat tangkap trawl dioperasikan dengan sebuah kapal yang menarik jaring trawl tanpa menggunakan kapal tambahan.
Pada jenis ini alat tangkap trawl dioperasikan oleh dua buah kapal yang berjalan beriringan dengan menarik jaring di dasar perairan. Biasanya kapasitas jaring yang ditarik oleh dua kapal ini memiliki kapasitas yang sangat besar sehingga memerlukan 2 buah kapal penariknya.
2.      Berdasarkan letak jaring didalam air
Ayodhyua pada tahun 1981 membedakan jenis-jenis Trawl berdasarkan letak jaring dalam air menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu :
Ø  Surface Trawl (Jaring yang dioperasikan dipermukaan air)
Jaring ditarik dekat permukaan air (Surface Water) yang bertujuan untuk menarik ikan dipermukaan air. Ada beberapa kendala dalam pengoperasiannya, kecepatan menarik jaring harus lebih cepat dari kecepatan ikan berenang, oleh karena itu jenis Trawl ini sebaiknya digunakan untuk menangkap jenis ikan yang lambat berenangnya.
Ø  Mid Water Trawl (jaring yang dioperasikan diantara permukaan dan dasar perairan)
Jaring ditarik pada kedalaman tertentu dengan kecepatan tertentu secara horizontal. Untuk menjaga mulut jaring tetap terbuka, maka kecepatan kapal harus stabil. Di Eropa dan Kanada alat ini digunakan untuk menangkap ikan Herring sedangkan di Jepang masih dalarn taraf penetitian dan percobaan.
di dasar perairan)
Jaring ini banyak digunakan karena dapat menjaring semua jenis ikan, udang dan kerang. Pada kenyataannya sering tertangkap ikan Demersal waktu jaring di angkat ke atas.
Karena jaring dioperasikan di dasar taut, maka pertu diperhatikan beberapa persyaratan agar penangkapan berjalan baik tanpa merusak jaring , diantaranya :
a)        Dasar laut terdiri dari Lumpur dan pasir atau campuran keduanya, bukan berupa   karang
b)        Dasar laut bebas dari bangkai kapal atau benda lain yang dapat merusak jarring
c)        Perbedaan dasar laut tidak terlalu menyolok
d)       Kecepatan arus pasang tidak terlalu besar
e)        Keadaan cuaca tenang (tidak ada angin topan dan gelombang besar)
f)         Perairan mempunyai sumber ikan yang banyak
3.      Berdasarkan Hasil tangkap
Pada pegelompokan berdasarkan hasil tangkapan ini dikelompokkan menjadi 3 macam yaitu :
Ø  Trawl khusus ikan, yaitu trawl yang dioperasikan khusus menangkap ikan-ikan jenis tertentu saja dan ini biasanya sangat merugikan dan merusak lingkungan Dan juga ikan yang lain yang tidak diambil biasnya di jadikan sebagai penghasilan sampingan bahkan di kapal kapal trawl tertentu ikan yang bukan merupakan komoditas yang dicari akan dibuang.
Ø  Trawl udang, trawl udang adalah  trawl yang  diperuntukan untuk menangkap udang saja dan ikan yang didapat menjadi sampingan bahkan ada pula yang dibuang.
Ø  Trawl Campuran, Pada trawl jenis ini ikan dan udang yang didapat sama sama akan diambil dan dikemas serta di tanganai secara baik. Pada jenis ini penangkapan ikan tidak hanya menunggu satu komuditas saja tetapi juga melihat ikan yang memiliki harga jual tinggi, baik itu udang atau ikan.
F. TEKNIK OPERASIONAL TRAWL ( SETTING DAN HAULING)
1. Kecepatan/lama waktu menarik jaring
Waktu menarik jaring ideal ideal jika jaring dapat ditarik dengan kecepatan yang besar, tapi hal ini sukar untuk mencapainya, karena kita dihadapkan pada beberapa hal, antara lain keadaan terbukanya mulut jaring, apakah jaring berada di air sesuai dengan yang dimaksudkan (bentuk terbukanya), kekuatan kapal untuk menarik (HP), ketahanan air terhadap tahanan air, resistance yang makin membesar sehubungan dengan catch yang makin bertambah, dan lain sebagainya. Faktor-faktor ini berhubungan antara satu dengan yang lainnya dan masing-masing menghendaki syarat tersendiri.
Pada umumnya jaring ditarik dengan kecepatan 3-4 knot. Kecepatan inipun berhubungan pula dengan swemming speed dari ikan, keadaa dasar laut, arus, angin, gelombang dan lain sebagainya, yang setelah mempertimbangkan factor-faktor ini, kecepatan tarik ditentukan .
Lama waktu penarikan di dasarkan kepada pengalaman-pengalaman dan factor yang perlu diperhatikan adalah banyak sedikitnya ikan yang diduga akan tertangkap., pekerjaan di dek, jam kerja crew, dan lain sebagainya. Pada umumnya berkisar sekitar 3-4 jam, dan kadang kala hanya memerlukan waktu 1-2 jam.
2. Panjang Warp
faktor yang perlu diperhatikan adalah depth,sifat dasar perairan (pasir, Lumpur), kecepatan tarik. Biasanya panjang warp sekitar 3-4 kali depth. Pada fishing ground yang depthnya sekitar 9M (depth minimum). Panjang warp sekitar 6-7 kali depth. Jika dasar laut adalah Lumpur, dikuatirkan jaring akan mengeruk lumpu, maka ada baiknya jika warp diperpendek, sebaliknya bagi dasar laut yang terdiri dari pasir keras (kerikil ), adalah baik jika warp diperpanjang.
Pengalaman menunjukkan bahwa pada depth yang sama dari sesuatu Fishing ground adalah lebih baik jika kita menggunakan warp yang agak panjang, daripada menggunakan warp yang terlalu pendek. Hal ini dapat dipikirkan sebagai berikut.bentuk warp pada saat penarikan tidaklah akan lurus, tetapi merupakan suatu garis caternian. Pada setiap titik –titik pada warp akan bekerja gaya- gaya berat pada warp itu sendiri, gaya resistance dari air, gaya tarik dari kapal/ winch, gaya ke samping dari otter boat dan gaya-gaya lainnya. Resultan dari seluruh gaya yang complicataed ini ditularkan ke jaring (head rope and ground rope), dan dari sini gaya-gaya ini mengenai seluruh tubuh jaring. Pada head rope bekerja gaya resistance dari bottom yang berubah-ubah, gaya berat dari catch yang berubah-ubah semakin membesar, dan gaya lain sebagainya.
Gaya tarik kapal bergerak pada warp, beban kerja yang diterima kapal kadangkala menyebabkan gerak kapal yang tidak stabil, demikian pula kapal sendiri terkena oleh gaya-gaya luar (arus, angin, gelombang)
Kita mengharapkan agar mulut jaring terbuka maksimal, bergerak horizontal pada dasar ataupun pada suatu depth tertentu. Gaya tarik yang berubah-ubah, resistance yang berubah-ubah dan lain sebagainya, menyebabkan jaring naik turun ataupun bergerak ke kanan dan kekiri. Rentan yang diakibatkannya haruslah selalu berimbang. Warp terlalu pendek, pada kecepatan lebih besar dari batas tertentu akan menyebabkan jaring bergerak naik ke atas (tidak mencapai dasar), warp terlalu panjang dengan kecepatan dibawah batas tertentu akan menyebabkan jaring mengeruk lumpur. Daya tarik kapal (HP dari winch) diketahui terbatas, oleh sebab itulah diperoleh suatu range dari nilai beban yang optimal. Apa yang terjadi pada saat operasi penarikan, pada hakikatnya adalah merupakan sesuatu keseimbangan dari gaya-gaya yang complicated jika dihitung satu demi satu.
G.      HASIL TANGKAPAN
Yang menjadi tujuan penangkapan pada bottom trawl adalah ikan-kan dasar (bottom fish) ataupun demersal fish. Termasuk juga jenis-jenis udang (shrimp trawl, double ring shrimp trawl) dan juga jenis-jenis kerang. Dikatakan untuk periran laut jawa, komposisi catch antara lain terdiri dari jenis ikan patek, kuniran, pe, manyung, utik, ngangas, bawal, tigawaja, gulamah, kerong-kerong, patik, sumbal, layur, remang, kembung, cumi,kepiting, rajungan, cucut dan lain sebagainya.
Catch yang dominan untuk sesuatu fish ground akan mempengaruhi skala usaha, yang kelanjutannya akan juga menetukan besar kapal dan gear yang akan dioperasikan.
H.      DAERAH PENANGKAPAN
Didalam alat tangkap trawl yang memiliki syarat-syarat fishing ground, antara lain sebagai berikut:
1)      Dasar fishing ground terdiri dari pasir, Lumpur ataupun campuran pasir dan Lumpur.
2)      Kecepatan arus pada mid water tidak besar (dibawah 3 knot) juga kecepatan arus pasang tidak seberapa besar
3)      Kondisi cuaca,laut, (arus, topan, gelombang, dan lain-lain) memungkinkan keamanan operasi
4)      Perubahan milieu oceanografi terhadap mahluk dasar laut relatif kecil dengan perkataan lain kontinuitas recources dijamin untuk diusahakan terus-menerus
5)      Perairan mempunyai daya prokdutifitas yang besar serta recources yang melimpah
I.         HAL YANG MEMPENGARUHI KEGAGALAN TANGKAPAN
Pada saat operasi, dapat terjadi hal-hal yang dapat menggagalkan operasi antara lain :
·      Warp terlalu panjang atau speed terlalu lambat atau juga hal lain maka jaring akan mengeruk Lumpur
·      Jaring tersangkut pada karang / bangkai kapal
·      Jaring atau tali temali tergulung pada screw
·      Warp putus
·      Otterboat tidak bekerja dengan baik, misalnya terbenam pada lmpur pada waktu permulaan penarikan dilakukan
·      Hilang keseimbangan, misalnya otterboat yang sepihak bergerak ke arah pihak yang lainnya lalu tergulung ke jaring
·      Ubur-ubur, kerang-kerangan dan lain-lain penuh masuk ke dalam jaring, hingga cod end tak mungkin diisi ikan lagi.
·      Dan lain sebagainnya.
J.        PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TRAWL
Pemerintah kembali mengizinkan nelayan menggunakan jaring
trawl atau pukat hela. Sebelumnya, melalui Keputusan Presiden
(Keppres) RI Nomor 39/1980 pemerintah melarang jaring trawl karena
bisa membahayakan ekosistem laut. Walau kini diizinkan, jaring trawl
hanya boleh digunakan di kawasan tertentu.
Pemerintah telah mengeluarkan peraturan baru yang
membolehkan penggunaan trawl, yakni Peraturan Menteri (Permen) Nomor
06/Men/2008 tentang penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela di
Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara, “Jadi jaring trawl boleh digunakan, tapi hanya di daerah tertentu,” 

Selasa, 12 Desember 2017

"SET NET"

I. PENDAHULUAN
Latar  Belakang
Pada saat ini nelayan dan pengusaha perikanan tangkap dipusingkan dengan harga bahan bakar minyak yang cukup tinggi dan ditambah lagi semakin sulit atau jauh mencari daerah penangkapan ikan. Dengan keadaan seperti ini tentu sangat diperlukan untuk mencari alternatif jenis alat tangkap yang pengopeasiannya hemat energi (bahan bakar minyak) dimana set net kemungkinan dapat dikembangkan.
Tim perikanan asal Jepang dan Thailand memperkenalkan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan, disebut “set net” kepada nelayan Aceh untuk mengatasi ancaman ekspoitasi perikanan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). “Teknologi set net ini telah diterapkan di Jepang dan Thailand yang hasilnya sangat memuaskan, selain juga ramah lingkungan,” kata Prof Arimoto dari Tokyo University of Science and Technology dalam rapat uji coba dan pengembangan set net, di Banda Aceh.

II.TINJAUAN PUSTAKA
Pembahasan
set net merupakan alat tangkap yang pengoperasiannya mirip dengan perangkap bambu. Set net yang terbuat dari jaring biasanya digunakan nelayan tradisional, katanya. Set net dapat dipasang sampai kedalaman 15 meter bagi yang berukuran kecil, 40 meter untuk ukuran sedang dan lebih dari 40 meter ukuran besar, sedangkan perangkap tradisional hanya mencapai kedalaman tiga meter. Set net atau sero jarring adalah sejenis alat tangkap ikan bersifat menetap dan berfungsi sebagai perangkap ikan dan biasanya dioperasikan di perairan pantai. Ikan umumnya memiliki sifat beruaya menyusuri pantai
Bagian-bagian setnet
Terdiri atas 4 bagian utama yaitu :
1. Leadernet (dinding jarring) berfungsi untuk menghadang rute migrasi kelompok ikan dan mengarahkan kelompok ikan ke playground.
2. Playground (tempat bermain) berfungsi mencegah ikan-ikan untuk melarikan diri dari segala sisi.
3. Slope dan funnelnet berfungsi untuk mengarahkan ikan masuk ke bagnet dan memutuskan rute kelompok ikan.
4. Bagnet berfungsi sebagai tempat terakhir kelompok ikan berkumpul karena terperangkap dan tempat pemanenan hasil tangkapan.
Hasil tangkapan setnet umumnya adalah jenis ikan atau gerombolan ikan yang sedang melakukan migrasi, seperti migrasi untuk mencari ikan (feeding migration), migrasi untuk memijah (spawning migration) atau migrasi lainnya. Ikan yang memasuki setnet ada yang bermigrasi secara soliter, aggregation atau migrasi secara bergerombol dalam bentuk school atau dalam bentuk pood, seperti ikan tongkol, tuna, layang, selar, kembung, kuwe dan ikan ekonomis penting lainnya.
pada saat melakukan ruaya ini kemudian dihadang oleh jaring set net kemudian ikan tersebut tergiring masuk ke dalam kantong. Ikan yang telah masuk ke dalam kantong umumnya akan mengalami kesulitan untuk keluar lagi sehingga ikan tersebut akan mudah untuk ditangkap dengan cara mengangkat jarring kantong. Satu unit set net terdiri dari beberapa bagian yakni penaju (leader net), serambi (trap/play ground), ijeb-ijeb (entrance) dan kantong (bag/crib).
Jenis alat tangkap set net banyak dioperasikan oleh nelayan di Jepang sejak ratusan tahun yang lalu dengan berbagai ukuran yakni kecil, sedang, dan besar. Set net berukuran kecil umumnya dengan panjang penaju kurang dari 500 m dipasang pada kedalaman perairan kurang dari 20 m, sedang yang berukuran besar memiliki panjang penaju antara 4000-5000 m dan dipasang pada perairan dengan kedalaman antara 30 – 40 m. Berbagai jenis ikan yang tertangkap oleh set net di Jepang antara lain: sardine, ekor kuning, salmon, dan tuna. Produksi perikanan dari hasil tangkapan set net di Jepang dapat mencapai 3 % dari produksi total dari hasil tangkapan perikanan laut.
Di Indonesia terdapat berbagai jenis alat tangkap sejenis set net seperti jermal, sero, ambai, belat dan perangkap lainnya. Perbedaan jenis alat tangkap ini dengan set net adalah bahan yang digunakan yakni sebagian besar dari bambu, kecuali bagian kantong yang terbuat dari jaring. Jenis ikan yang tertangkap juga berbeda dimana alat tangkap perangkap (trap) di Indonesia umumnya menangkap jenis ikan demersal seperti layur, petek dan sebagian jenis ikan pelagis seperti sardine dan tembang. Namun pada prinsipnya hampir sama yakni menghadang ruaya ikan kemudian diarahkan masuk ke dalam perangkap/trap dan akhirnya ke kantong.
Uji Coba Set Net di Indonesia
Perikanan set net di Indonesia baru dalam taraf penelitian atau uji coba dan belum dikembangkan oleh nelayan secara komersial. Uji coba alat set net pertama kali dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Laut/Balai Penelitian Perikanan Laut di perairan Pacitan Jawa Timur pada tahun 1981. Pada tahun yang sama dilakukan juga uji coba di perairan Bajanegara Banten, kemudian diikuti uji coba di Prigi Jawa Timur pada tahun 1982 dan di perairan Selat Sunda, Banten pada tahun 1990 dan 1993. Set net yang diujicoba berukuran relatif kecil dengan panjang penuju antara 100-300 m dan dipasang di perairan pantai dengan kedalaman kurang dari 10 m.
Pada saat uji coba dilakukan penangkatan hasil tangkapan ikan dari kantong setiap hari. Rata-rata hasil tangkapan ikan berkisar antara 20-30 kg/angkat. Hasil tangkapan tertinggi pernah mencapai 100 kg/angkat pada saat dilakukan uji coba di Pacitan. Jenis ikan yang tertangkap saat itu didominasi oleh ikan demersal yang beruaya mengikuti pergerakan pasang surut seperti ikan layur, petek, mata besar dan sebagian ikan pelagis sejenis sardine.
Selanjutnya kegiatan ujicoba set net juga dilakukan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap di perairan Sorong Papua Barat pada tahun 2006. Tipe set net yang diujicoba hampir sama dengan uji coba sebelumnya namun memiliki ukuran yang lebih besar (penaju sekitar 500 m) dan dipasang di perairan yang lebih dalam (lebih dari 20 m).
Kelebihan dan Kelemahan Set Net
Kelebihan
Hemat bahan bakar karena alat dipasang menetap sehingga kapal tidak perlu berlayar jauh untuk mencari daerah penangkapan.
Jaring set net yang terpasang di laut dapat digunakan sebagai tempat berlindung (shelter) ikan-ikan yang berukuran kecil sehingga tidak dimakan predator.
Hasil tangkapan ikan relatif segar/masih hidup dan dapat diangkat/diambil sesuai dengan kebutuhan pasar.
Mudah dipindahkan dibanding dgn jenis trap yang ada di Indonesia.
Sangat sesuai untuk pengembangan usaha perikanan skala menengah kebawah.
Kelemahan
Hasil tangkapan set net sangat tergantung pada ruaya ikan sehingga untuk memasang set net harus diketahui jalur ruaya ikan terlebih dulu.
Jika digunakan penaju (lead net) cukup panjang akan mengganggu alur pelayaran kapal dan juga pengoperasian alat tangkap lain.
Tidak semua ikan tertangkap di dalam kantong, kadang-kadang tertangkap juga secara “gilled or entangled” di bagian penaju (lead net) atau serambi (trap net) terutama yang menggunakan bahan jarring sehingga diperlukan pekerjaan tambahan untuk memeriksa bagian tersebut.
Jaring harus sering dibersihkan terutama bagian kantong karena banyak ditempeli oleh kotoran dan teritip.
Kemungkinan Pengembangannya
Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan memiliki garis pantai sekitar 81.000 km dengan berbagai teluk dan semenanjung. Dengan topografi seperti ini maka wilayah perairan laut Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan perikanan set net. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebelum pemasangan set antara lain: ketersedian sumber daya ikan yang menjadi tujuan penangkapan, pola ruaya ikan yang menjadi tujuan penangkapan, kondisi perairan dimana set net akan dipasang (topografi dasar, keadaan arus, pasang surut, dan gelombang).
Pengembangann alat tangkap set net sebaiknya dilakukan di wilayah perairan Indonesia bagian timur karena disamping alasan sumberdaya ikan yang masih tersedia dan juga apabila dipasang dengan ukuran yang besar tidak terlalu mengganggu arus pelayaran dan pengoperasian alat tangkap lain. Jika dikembangkan di wilayah Indonesia timur tinggal memikirkan bagaimana cara pemasaran hasil tangkapannya. Set net juga menciptakan kerjasama antar nelayan sehingga mengurangi konflik yang timbul akibat perebutan wilayah penangkapan. “Perekonomian nelayan juga meningkat karena hasil tangkapan yang diperoleh dalam kondisi segar dan dapat dijual dengan harga tinggi.

III. PENUTUP
Kesimpulan
Set net merupakan alat tangkap yang pengoperasiannya mirip dengan perangkap bambu. Set net yang terbuat dari jaring biasanya digunakan nelayan tradisional, katanya. Set net dapat dipasang sampai kedalaman 15 meter bagi yang berukuran kecil, 40 meter untuk ukuran sedang dan lebih dari 40 meter ukuran besar, sedangkan perangkap tradisional hanya mencapai kedalaman tiga meter. Selain ramah lingkungan karena perairan pantai tetap terjaga, set net juga menciptakan kerjasama antar nelayan sehingga mengurangi konflik yang timbul akibat perebutan wilayah penangkapan. “Perekonomian nelayan juga meningkat karena hasil tangkapan yang diperoleh dalam kondisi segar dan dapat dijual dengan harga tinggi Cara kerja set net  sangat mudah karena nelayan hanya menggiring ikan dengan menggunakan leader net masuk ke perangkap akhir, sehingga ikan dalam kondisi segar dapat dipanen setiap hari. Penangkapan ikan yang dilakukan nelayan tradisional dengan menggunakan berbagai alat tangkap dapat mengakibatkan penurunan stok ikan dan degradasi lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Http://ikanmania.wordpress.com/2008/01/01/set-net-sebagai-alternatif-alat-tangkap-ikan-hemat-energi/
http://www.dkp-banten.go.id/news/?p=22
http://www.mail-archive.com/agromania@yahoogroups.com/msg00882.html

Senin, 11 Desember 2017

JENIS - JENIS PUKAT HELA (TRAWL) DAN PUKAT TARIK (SAINE NETS)


Pukat hela dan pukat tarik memiliki jenis yang bermacam - macam sesuai jenis ikan yang ditangkap. Berikut jenis dari masing - masing alat tangkap pukat hela dan pukat tarik.
A. Jenis - Jenis Pukat Hela (trawl)
    1. Pukat Hela Dasar ( Bottom trawl)
        a. Pukat hela dasar berpalang (Beam trawls)
Beam trawls














        b. Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls)
Otter trawls












        c. Pukat hela dasar dua kapal (Pair Trawls)
Pair trawls












        d. Nephrops trawl (Nephrops trawl)
Nephrops trawl











        e. Pukat hela dasar udang (Shrimp trawl)
Shrimp trawl












    2. Puka Hela Pertengahan (Midwater trawls)
        a. Pukat hela pertengahan berpapan (Otter trawls)

Otter trawls













        b. Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair Trawls)
Pair trawls











        c. Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawl)
Shrimp trawl












    3. Pukat Hela Kembar Berpapan (Otter twin trawls)
Otter twin trawls











    4. Pukat Dorong
Pukat dorong











B. Jenis - Jenis Pukat Tarik (Seine Nets)
    1. Pukat Tarik Pantai (Beach seines)
Beach seines

 















 2. Pukat Tarik Berkapal (Boat or vessel seines)
        a. Dogol (Danish seines)

Danish seines













        b. Scottish seines
Scottish seines















        c. Pair seines

Pair seines












        d. Payang
Payang
        e. Cantrang
Cantrang
        f. Lampara Dasar
Lampara dasar
Sumber : PERMEN KP No. 2 Tahun 2015

Rabu, 14 Juni 2017

KLASIFIKASI ALAT TANGKAP MENURUT BEBERAPA AHLI

Teknik penangkapan ikan ialah teknik atau cara-cara mempergunakan alat penangkapan ikan (Ayodhyoa, 1981). Menangkap ikan membutuhkan peralatan dan teknik yang tepat untuk menangkap ikan, baik yang masih traditional maupun yang menggunakan teknologi moderen.
Penangkapan Ikan

Sedangkan yang dimaksud dengan alat penangkapan ikan adalah segala macam alat yang di pergunakan dalam proses penangkapan ikan  termasuk kapal, alat tangkap dan alat bantu penangkapan (Pranoto, 1997). Dengan peralatan dan teknik penangkapan yang tepat akan dapat menangkap ikan dengan hasil yang baik. 

Untuk mempermudah pengenalan dan mempelajari beberapa jenis alat penangkap  ikan ini, para ahli perikanan membagi atas beberapa golongan ditinjau dari :
  • Bahan pembuat alat penangkapan ikan
  • Cara penangkapan
  • Hasil tangkapan
  • Daerah penangkapan


Klasifikasi Alat Tangkap Menurut Y. IITAKA
Seorang ahli perikanan dari Jepang telah membagi cara penangkapan kedalam 3 (tiga) klasifikasi adalah sebagai berikut :
1. Fishing With Net Gear adalah penangkapan dengan menggunakan alat tangkap berupa jaring sebagai alat tangkap pokoknya. Contoh :


  • Purse seine
  • Gillnet
  • Payang
  • Lampara
  • Beach seine
  • Trawl
  • Trammel net
  • Stick held dip net


2. Fishing with line gear adalah penangkapan dengan menggunakan alat tangkap berupa tali dan pancing. Kadang-kadang digunakan juga joran atau gandar sebagai alat bantunya. Contoh :
  • Long line
  • Hand line atau pancing ulur
  • Trolling atau pancing tonda
  • Pole and line
3. Fishing with miscellaneous gear adalah penangkapan dengan menggunakan alat tangkap non jaring bukan tali. Contoh :
  • Bubu (terbuat dari bambu, kawat atau rotan)
  • Panah (terbuat dari kayu dan besi)
  • Harpun (terbuat dari besi dan tali serta kayu)
  • Sero (terbuat dari bambu atu batu)
  • Tombak (terbuat dari bambu, kayu dengan mata tombak dri besi)
  • Alat tangkap yang dalam penangkapannya dengan cara menyelam, memungut ataupun membacok.
Klasifikasi Alat Tangkap menurut  ANDREAS VON BRANDT
Seorang ahli perikanan dari Jerman Barat dalam usahanya untuk memudahkan pengenalan dan pemahaman berbagai jenis alat tangkap  membagi 15 klasifikasi alat tangkap sebagai berikut :
  1. Fishing without gear atau penangkapan tanpa alat ialah usaha penangkapan ikan maupun hasil laut lainnya yang pada prinsipnya tanpa menggunakan alat yang berarti, dan umumnya dilakukan oleh satu orang saja. Contoh : Memungut, jerat (untuk udang pengko), capit (untuk udang barong, menyelam, sosok dan tongkat (untuk menangkap kura-kura).
  2. Fishing with wounding gear atau penangkapan dengan menimbulkan luka pada ikan yang ditangkap. Contoh  :  Panah, tombak dan harpan, dll
  3. Fishing by stupefying atau penangkapan dengan cara memabukkan. Pada metode ini ikan-ikan dimabukkan terlebih dahulu sebelum dilakukan penangkapan atau pemungutan hasil. Contoh :  Dengan racun akar pohon tuba, bahan peledak, pengeruhan air dan menggunakan aliran listrik.
  4. Line fishing atau penangkapan dengan menggunakan tali dan pancing, atau kadang-kadang dibantu dengan tangkai / joran. Contoh : Hand line/pancing ulur, long line, pole and line, trolling line.
  5. Fishing with traps atau penangkapan dengan menggunakan perangkap. Contoh  :  Bubu, jermal.
  6. Fishing with areal traps atau penangkapan dengan menggunakan satu areal perairanContoh  :  Sero, sero batu, perangkap setengah lingkaran, jaring siang, dll.
  7. Fishing with bags with fixed mounth atau penangkapan dengan jaring berkantong dengan mulut tetap. Contoh  : Jaring tadah (filter net), jermal.
  8. Fishing with dragged gear, atau penangkapan dengan alat tangkap yang ditarik/diseret pada dasar perairan. Contoh  :  Trawl
  9. Seining atau penangkapan dengan jaring yang dilingkarkan setengah lingkaran terhadap pantai atau kapal. Contoh  : Beach seine / jaring kantong
  10. Fishing with surrounding net atau penangkapan dengan jaring yang dilingkarkan pada gerombolan ikan (dengan lingkaran penuh). Contoh  :  Payang, lampara, purse seine, encircling Gill Net
  11. Fishing with the drive in methods yaitu penangkapan yang dalam operasinya alat tangkap ditenggelamkan kemudian didorong dan dikendalikan. Contoh  :  Seser (untuk menangkap nener) dan sudu (menangkap udang)
  12. Fishing with life nets atau penangkapan dengan jaring angkat. Contoh  :  Bagan, ancho, bouke-ami (stick held dip net)
  13. Fishing with falling gear atau penangkapan menggunakan alat tangkap jaring dengan cara menjatuhkan alat tersebut untuk mengurung ikan. Contoh :  Jala (cash net), squid drop net
  14. Fishing with Gill Net atau penangkapan dengan Gill Net (jaring insang), dimana ikan tertngkap dengn cra terjerat pada bagian insangnya. Contoh  : Bermacam-macam Gill Net
  15. Fishing with tagle net, atau penangkapan dimana ikan yng tertangkap terbelit pada badan jaring. Contoh  : Trammel net
Klasifikasi menurut  NOMURA & YAMAZAKI
Cara penggolongan lain dari alat tangkap  dapat dibedakan atas 2 (dua) macam yaitu :
1. Berdasarkan hasil-hasil yang tertangkap, dibedakan atas 3 golongan, yaitu  :
  • Penangkapan ikan satu persatu : Penangkapan tanpa alat, Penangkapan dengan alat menimbulkan luka, Penangkapan dengan menggunakan line fishing
  • Penangkapan ikan yang tidak pandang jenis atau berhambur. Contoh : dengan cara memabukkan (stuefying methods)
  • Penangkapan kelompok-kelompok atau kumpulan ikan, Dalam golongan ini termasuk golongan lain dari klasifikasi A. Von Brandt yang termasuk golongan  a dan b tersebut di atas.
2. Berdasarkan keadaan alat tangkap pada saat operasi maupun cara pengoperasiannya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) cara, yaitu :
  • Alat tangkap aktif yaitu alat tangkap yang dalam penggunaannya digerakkan secara aktif oleh penangkap. Contoh : Purse seine, Trawl, lampara, pole and line, trolling line, tombak, harpun, lampara dsar, dan lain-lain.
  • Alat tangkap pasif yaitu alat tangkap yang dalam penggunaannya dibiarkan pasif di dalm air, hingga ikan terperangkap/terjebak pada alat tersebut. Contoh : Gill Net, long line, sero, jermal, bubu, dan lain-lain