Rabu, 02 Mei 2018

PEMILIHAN NENER PADA PEMBESARAN IKAN BANDENG

Ikan bandeng merupakan salah satu jenis ikan laut yang dapat dibudidayakan ditambak. Saat ini, ikan bandeng telah dibudidayakan juga di keramba jarring apung pada air tawar, hal ini dikarenakan sifat ikan ini yang eurihaline (tolerensi terhadap salinitas yang tinggi).
       Nener bandeng yang berasal dari alam merupakan hasil pemijahan ikan bandeng secara alami di laut. Ikan bandeng yang telah matang gonad akan memijah secara alami dan akan menghasilkan telur sebanyak 5.700.000 butir dalam tubuhnya. Pelepasan telur ini terjadi pada malam hari dan akan menetas dalam waktu 24 jam menjadi nener yang berukuran 5 mm. Nener ini akan terbawa oleh arus air mendekati pantai dan kemudian akan ditangkap oleh para penyeser. Nener yang ditangkap penyeser berukuran kurang lebih 13 mm.
       Nener ikan bandeng yang diperoleh dari alam ditangkap oleh pencari nener bergantung kepada musim, lokasi, cara dan waktu penangkapan. Pada musim nener jumlah nener cukup melimpah, sehingga dapat mengakibatkan menurunnya harga nener. Selain itu nener yang ditangkap pada awal musim penangkapan mempunyai daya tahan dan vitalitas yang tinggi dalam pengangkutan serta mempunyai harga jual yang lebih mahal.

       Namun demikian, nener dari alam ini tidak tersedia sepanjang tahun sehingga untuk mengusahakan pembesaran ikan bandeng secara intensif dibutuhkan nener bandeng yang berasal dari panti pembenihan (hatchery). Nener dari alam selain hanya bersifat musiman juga mempunyai ukuran yang sangat beragam.
       Oleh karena itu, nener yang berasal dari panti pembenihan sangat dibutuhkan untuk memenuhi kekurangan nener ditambak-tambak pembesaran.
Nener yang dihasilkan dari panti pembenihan mempunyai keunggulan, karena ukurannya relatif rata dan umurnya diketahui secara tepat.
       Nener yang berasal dari alam atau pembenihan, yang akan digunakan untuk usaha pembesaran ikan bandeng ditambak, harus nener yang sehat. Nener yang sehat dapat dilihat dari ciri-ciri umumnya yaitu :
1.  Tubuhnya mulus, tidak terdapat luka, kemerahan
2.  Sirip-siripnya utuh; tidak cacat, patah-patah
3.  Warnanya tidak kusam
4.  Gerakannya aktif
Secara anatomi, bentuk nener (larva ikan bandeng), gelondongan dan bandeng dewasa tidak berbeda; yang berbeda adalah ukurannya saja.  Dengan menggunakan nener yang sehat, akan diperoleh target produksi yang sesuai dengan rencana.  Hal ini disebabkan nener yang sehat memiliki ketahanan tubuh yang baik, sehingga tingkat mortalitas selama masa pengangkutan benih dan masa pembesaran rendah.
       Selain nener yang sehat dalam pemilihan benih ikan bandeng, juga harus diperhatikan ukuran nener tersebut. Ukuran benih yang akan ditebar ke dalam tambak pembesaran sebaiknya seragam agar pertumbuhan ikan selama pemeliharaan juga akan seragam.
       Ukuran ikan  yang ditebar ke tambak pembesaran bisa dimulai dari ukuran nener sampai gelondongan, yang membedakannya adalah waktu pe-meliharaan  ditambak pembesarannya. Jika yang ditebar adalah nener kecil maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ukuran konsumsi yaitu 4 – 6 ekor/kg bisa mencapai lebih dari 6 bulan, sedangkan jika yang ditebar adalah gelondongan, maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ukuran konsumsi berkisar antara 3 – 4 bulan.

       Dalam memilih nener yang berasal dari alam maupun panti benih  dapat dilakukan dengan menghitung jumlah ruas tulang belakang. Nener yang berkualitas baik memiliki jumlah ruas tulang belakang antara 44– 45. Jumlah ruas tulang belakang dapat dihitung menggunakan mikroskop sederhana pada pembesaran 10 kali ataupun kaca pembesar dengan nener ditempatkan pada sumber cahaya seperti lampu senter.

SUMBER:
Alipuddin M., 2003.  Modul Penebaran Nener pada Pembesaran Ikan Bandeng. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

REFERENSI:
Ahmad, T. 1998. Budidaya Bandeng Secara Insentif. Penebar Swadaya. Jakarta
BBAP Jepara. 1985. Pedoman Budidaya Tambak. Ditjen Perikanan, BBAP Jepara.
Hadi, W. Dan J. Supriatna. 186. Tehnik Budidaya Bandeng. Bharata Karya Aksara. Jakarta
Idel, A. dan S. Wibowo. 1996. Budidaya Tambak Bandeng Modern. Gitamedia Press. Surabaya
Soeseno, S, 1987. Budidaya Ikan dan Udang dalam Tambak. PT. Gramedia. Jakarta.

ALAT TANGKAP GILL NET (Jaring Insang)

GILLNET


Gillnet disebut juga jaring insang karena alat tangkap ini dibuat dan dirancang secara khusus agar Ikan yang kita tangkap terkena melalui insang ikan makanya alat tangkap gilnet ini sama dengan alat tangkap yang sifatnya menjerat ikan melalui insang. 

Alat tangkap Gillnet atau jaring insang ini banyak digunakan oleh para nelayan Tradisional maupun nelayan modern dikarenakan alat ini sangat praktis untuk menangkap ikan juga ramah terhadap lingkungan.



Alat tangkap Gillnet atau jaring insang ini tersebar di seluruh indonesia bahkan diseluruh dunia menggunakannya. Yang membedakan dalam operasi alat tangkap ini hanyalah besarnya mata jaring yang dapat disesuaikan dengan jenis ikan yang akan kita tangkap.


Istilah “gill net” didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap “gilled-terjerat” pada sekitar operculum nya pada mata jaring. Sedangkan “gill net dasar” atau “bottom gill net” adalah jaring insang, jaring rahang yang cara operasinya ataupun kedudukan jaring pada fishing ground direntangkan pada dasar laut, 

yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal, dengan bahan jaring terbuat dari multi fibre.

ALAT TANGKAP GILL NET (Jaring Insang)

1. Sejarah Alat Tangkap Jaring Insang

Dalam bahasa Jepang gill net disebut dengan istilah “sasi ami”, yang berdasarkan pemikiran bahwa tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut “menusukkan diri-sasu” pada “jaring-ami”. 

Di Indonesia penamaan gill net ini beraneka ragam, ada yang menyebutkan nya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring kuro, jaring udang dsb nya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang Bayeman), dan lain sebagainya. 

Tertangkapnya ikan ikan-ikan dengan gill net ialah dengan cara bahwa ikan-ikan tersebut terjerat (gilled) pada mata jaring atupun terbelit-belit (entangled) pada tubuh jaring.

2. Prospektif Alat Tangkap

Prospektif gill net dasar atau bottom gill net di Indonesia sangat baik, hal ini dikarenakan secara kuantitatif, jumlahnya cukup besar di Indonesia. Hal-hal yang mempengaruhi besarnya bottom gill net secara kuantitatif di Indonesia :

1.      Bahan dasar (material) pembuatan bottom gill net mudah diperoleh
2.      Proses pembuatan bottom gill net mudah
3.      Harganya relatif murah
4.      Fishing method dari bottom gill net mudah
5.      Biaya relatif murah sehingga dapat dimilliki oleh siapa saja
A. KONSTRUKSI ALAT TANGKAP ( BOTTOM GILL NET ) Jaring Insang Dasar

1. KONSTRUKSI UMUM
  
Pada umumnya yang disebutkan dengan gill net dasar ialah jaring dengan bentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain, jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjang jaring.


Pada lembaran-lembaran jaring, pada bagian atas dilekatkan pelampung (float) dan pada bagian bawah dilekatkan peemberat (sinker). 

Dengan menggunakan dua gaya yang berlawanan arah, yaitu bouyancy dari float yang bergerak menuju keatas dan sinking force dari sinker ditambah dengan berat jaring didalam air yang bergerak menuju kebawah, maka jaring akan terentang.



2. DETAIL KONSTRUKSI JARING INSANG


Pada kedua ujung jaring diikatkan jangkar, yang dengan demikian letak jaring akan telah tertentu. Karena jaring ini direntang pada dasar laut, maka dinamakan bottom gill net, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal. 

Posisi jaring dapat diperkirakan pada float berbendera atau bertanda yang dilekatkan pada kedua belah pihak ujung jaring, tetapi tidaklah dapat diketahui keadaan baik buruknya rentangan jaring itu sendiri.

3. KARAKTERISTIK JARING INSANG


Set bottom gill net direntang pada dasar laut, sehingga yang menjadi tujuan penangkapan adalah ikan-ikan damersal. Bottom gill net berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, ris atas dan ris bawah serta dilengkapi dengan jangkar.

Besarnya mata jaring bervariasi tergantung sasaran yang akan ditangkap baik udang maupun ikan.

Jaring gill net direntangkan pada float berbendera yang diletakkan pada kedua belah pihak

ujung jaring tetapi tidak dapat diketahui keadaan baik buruknya rentangan itu sendiri.
    4. BAHAN DAN SPESIFIKASINYA

    Pengenalan bahan jaring sintetis dengan mutu yang tinggi telah merangsang perkembangan pemakaian alat ini. Hal ini disebabkan efisiensi penangkapan yang jauh lebih baik yakni 2-13 kali lebih tinggi pada PA monofillament yang transparant (jernih) dibanding dengan bahan serat alami (kapas, rami, rami halus).

    1. Persyaratan

    Persyaratan efisiensi penangkapan yang baik memerlukan rendahnya daya rangsang alat untuk organ penglihatan atau organ lateral line sebelum ikan terkait atau terjerat dalam jaring gill net harus disesuaikan dengan kebiasaan hidup ikan melebihi trawl dan purse seine.

    Bahan dari gill net harus mempunyai daya tampak sekecil mungkin dalam air, terutama sekali untuk penangkapan di siang hari pada air jernih. Serat jaring juga harus sehalus dan selunak mungkin untuk mengurangi daya penginderaan dengan organ side line. Serat jaring yang lebih tipis juga kurang terlihat. 

    Sebaliknya bahan harus cukup kuat untuk menahan rontaan ikan yaang tertangkap dan dalam upayanya untuk membebaskan diri. 

    Lebih lanjut diperlukan kemuluran dan elastisitas yang tepat untuk menahan ikan yang terjerat atau terpuntal sewaktu alat dalam air atau sewaktu penarikan keatas kapal tetapi tidak menyulitkan sewaktu ikan itu diambil dari jaring. 

    Bahan yang daya mulurnya tinggi untuk beban kecil tidak sesuai untuk gull net karena ukuran ikan yang terjerat pada insang tergantung pada ukuran mata jaring. Jaring perlu memiliki kekuatan simpul yang stabil dan ukuran mata jaring tidak boleh dipengaruhi air.

    2. Macam dan Ukuran benang.


    PA continous filament adalah bahan yang paling lunak dari semua bahan sintetis dalam kondisi basah, warna putih mengkilat yang alami adalah jauh lebih terlihat dalam air jernih. Warna hijau, biru, abu-abu dan kecoklatan merupakan warna-warna yang nampak digunakan paling umum pada perikanan komersial.

    Sebab banyaknya macam dari gill net sesuai dengan ukuran, ukuran mata jaring, jenis ikan, pola operasi, kondisi penangkapan, dll tidak mungkin memberi rekomendasi yang menyeluruh untuk seleksi bahan jaring. Semua nilai R tex adalah nominal dan berkenaan dengan netting yarn yang belum diselup dan belum diolah.

    3. Warna Jaring


    Warna jaring yang dimaksudkan disini adalah terutama dari webbing. Warna float, ropes, sinkers dan lain-lain diabaikan, mengingat bahwa bagian terbesar dari gill net adalah webbing. 

    Pada synthetic fibres, net preservation dalam bentuk pencelupan telah tidak diperlukan, kemudian pula warna dari twine dapat dibuat sekehendak hati, yang dengan demikian kemungkinan mengusahakan warna jaring untuk memperbesar fishing ability ataupun catch akan dapat lebih diusahakan. 

    Dengan perkataan lain, warna jaring yang sesuai untuk tujuan menangkap jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan dapat diusahakan. 

    Warna jaring dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-faktor depth dari perairan, transparancy, sinar matahari, sinar bulan dan lain-lain faktor, dan pula sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat “terlihat” oleh ikan –ikan yang berbeda-beda. 

    Karena tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ini ialah dengan cara gilled dan entangled, yang kedua-duanya ini barulah akan terjadi jika ikan tersebut menubruk atau menerobos jaring, maka hendaklah diusahakan bahwa efek jaring sebagai penghadang, sekecil mungkin.

    A. HASIL TANGKAPAN GILLNET

    Karena jaring ini direntang pada dasar laut, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal. 

    Jenis-jenis ikan seperti cucut, tuna, yang mempunyai tubuh sangat besar sehingga tak mungkin terjerat pada mata jaring ataupun ikan-ikan seperti flat fish yang mempunyai tubuh gepeng lebar, yang bentuk tubuhnya sukar terjerat pada mata jaring, ikan-ikan seperti ini akan tertangkap dengan cara terbelit-belit (entangled). 

    Jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis, misalnya herring, cod, halibut, mackerel, yellow tail, sea bream, tongkol, cakalang, kwe, layar, selar, dan lain sebagainya. Jenis-jenis udang, lobster juga menjadi tujuan penangkapan jaring ini.

    B. DAERAH PENANGKAPAN.

    Pada umumnya yang menjadi fishing ground atau daerah penangkapan adalah daerah pantai, teluk, dan muara-muara yang mengakibatkan pula jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis.

    C. ALAT BANTU PENANGKAPAN.

    Alat bantu penangkapan merupakan faktor penting untuk mengumpulkan ikan pada suatu tempat yang kemudian dilakukan operasi penangkapan. Alat bantu yang digunakan dalam operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bottom gill net adalah :

    * LAMPU / LIGHT FISHING
    Light Fishing











    L ight Fishing

    Kegunaan lampu untuk alat penangkapan аdаlаh untuk mengumpulkan kawanan ikan kеmudіаn melakukan operasi penangkapan dеngаn menggunakan gill net. Jenis-jenis lampu уаng digunakan bermacam-macam аntаrа lаіn :

    Ancor / obor

    Lampu petromak / starmking

    Lampu listrk ( penggunaannya mаѕіh terbetas )

    Faktor уаng paling berpengaruh dalam penggunaan lampu аdаlаh kekuatan cahaya lampu уаng digunakan, ѕеlаіn іtu јugа ada bеbеrара faktor lаіn :

    Kecerahan : Jіkа kecerahan kecil, bеrаrtі banyak partikel-partikel dalam air maka pembiasan cahaya terserap dan akhirnya tіdаk menarik perhatian dаrі ikan уаng ada disekitarnya. Jadi kecerahan menentukan kekuatan lam

    Gelombang, angin, arus : Akаn mempengaruhi kedudukan lampu. Adanya faktorfakttor іtu menyebabkan kondisi sinar уаng semula lurus menjadi bengkok.


    Sinar bulan : Pada waktu bulan purnama sukar sekali mengadakan penangkapan menggunakan lampu karena cahaya terbagi rata, sadangkan penangkapan menggunakan lampu diperlukan keadaan gelap agar cahaya lampu terbias sempurna dalam air.

    * PAYAOS

    Payaos merupakan rumpon laut dalam yang berperan dalam pengumpulan ikan pada tempat tertentu dan dilakukan operasi penangkapan. 

    Payaos pelampungnya terdiri dari 60-100 batang bambu yang disusun dan diikat menjadi satu sehingga membentuk rakit (raft), selain dari bambu pelampung juga terbuat dari alumunium. 

    Tali pemberat (tali yang menghubungkan antara pelampung dan pemberat) mencapai 1000-1500 m, terbuat dari puntalan rotan, bahan syntetik seperti polyethylene, nylon, polyester, polypropylene. Sedangkan pemberat berkisar 1000-3500 kg yang terbuat dari batu dimasukkan dalam keranjang rotan dan cor-coran semen. Dan untuk rumbai-rumbainya digunakan daun nyiur dan bekas tali polyethylene dan ban bekas.

    D. TEKNIK OPERASI
    Pada saat melakukan setting, kapal diarahkan ke tengah kemudian dilakukan pemasangan jaring bottom gill net oleh Anak Buah Kapal (ABK). 

    Jaring bottom gill net dipasang tegak lurus terhadap arus sehingga nantinya akan dapat menghadang gerombolan ikan yang sebelumnya telah dipasangi rumpon, dan gerombolan ikan tertarik lalu mengumpul di sekitar rumpon maupun light fishing dan akhirnya tertangkap karena terjerat pada bagian operculum (penutup insang) atau dengan cara terpuntal.

    Holling

    Setelah dilakukan setting dan ikan yang telah terkumpul dirasa sudah cukup banyak, maka dilakukan holling dengan menarik jaring bottom gill net dari dasar perairan ke permukaan ( jaring ditarik keatas kapal ). Setelah semua hasil tangkap dan jaring ditarik ke atas kemudian baru dilakukan kegiatan penyortiran.
    E. HAL – YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENANGKAPAN

     FAKTOR LUAR :~
    1. Keadaan Musim ( cuaca )

    Karena fishing ground atau daerah penangkapan merupakan daerah teluk, sehingga baik buruknya musim atau cuaca akan mempengaruhi keberhasilan suatu penangkapan.

    2. Keberadaan Resources (sumberdaya ikan)

    Makin banyak jumlah unit dari suatu alat tangkap, maka akan tejadi over fishing sehingga keberadaan resources akan terancam. Hal ini akan mengurangi jumlah penagkapan di suatu daerah penangkapan. Untuk mengatasinya maka dilakukan pembatasan ukuran mesh size gill net itu sendiri.

    3. Teknik Penangkapan

    Apabila salah dalam pengoperasian alat tangkap maka akan didapatkan hasil tangkapan (catch) yang minimum.

    4. Market (Pemasaran)

    Pemasaran atau market ke daerah konsumsi atau tujuan juga mempengaruhi keberhasilan suatu penangkapan.

     FAKTOR DALAM :
    1. Bahan Jaring
    Operasi Gill Net
    Supaya ikan mudah dapat terjerat pada mata jaring, maka bahan jaring harus dibuat sebaik mungkin. 

    Bahan atau twine yang paling banyak digunakan adalah yang terbuat dari syntetis. Twine yang dipergunakan hendaklah “lembut tidak kaku, pliancy, suppleness”. 

    Dengan demikian maka twine yang digunakan adalah cotton, hennep, linen, amylan, nylon, kremona, dan lain-lain sebagainya, dimana twine ini mempunyai fibres yang lembut. 

    Bahan-bahan dari manila hennep, sisal, jerami dan lain-lain yang fibres-nya keras tidak digunakan. Untuk mendapatkan twine yang lembut, ditempuh cara yang antara lain dengan memperkecil diameter twine ataupun jumlah pilin per-satuan panjang dikurangi, ataupun bahan-bahan celup pemberi warna ditiadakan.

    2. Ketegangan rentangan tubuh jaring

    Yang dimaksud rentangan disini ialah baik rentangan ke arah lebar demikian pula rentangan ke arah panjang. Ketegangan rentangan ini, akan mengakibatkan terjadinya tension baik pada float line ataupun pada tubuh jaring. 

    Dengan perkataan lain, jika jaring direntang terlalu tegang maka ikan akan sukar terjerat, dan ikan yang telah terjeratpun akan mudah lepas. Ketegangan rentangan tubuh jaring akan ditentukan terutama oleh bouyancy dari float, berat tubuh jaring, tali temali, sinking force dari sinker dan juga shortening yang digunakan.

    3. Shortening atau shrinkage

    Supaya ikan-ikan mudah terjerat (gilled) pada mata jaring dan juga supaya ikan-ikan tersebut setelah sekali terjerat pada jaring tidak akan mudah terlepas, maka pada jaring perlulah diberikan shortening yang cukup.

    4. Tinggi Jaring

    Yang dimaksud dengan istilah tinggi jaring disini ialah jarak antara float line ke sinker line pada saat jaring tersebut terpasang di perairan. Jenis jaring yang tertangkapnya ikan secara gilled, lebih lebar jika dibandingkan dengan jaring yang tertangkapnya ikan secara entangled. Hal ini tergantung pada swimming layer dari pada jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan.

    5. Mesh size

    Dari percobaan-percobaan terdapat kecenderungan bahwa sesuatu mesh size mempunyai sifat untuk menjerat ikan hanya pada ikan-ikan yang besarnya tertentu batas-batasnya. Dengan perkataan lain, gill net akan bersikap selektif terhadap besar ukuran dari catch yang diperoleh. 

    Jenis Dan Bentuk Purse seine

    Oleh sebab itu untuk mendapatkan catch yang besar jumlahnya pada pada suatu fishing ground, hendaklah mesh size disesuaikan besarnya dengan besar badan ikan yang jumlahnya terbanyak pada fishing ground tersebut.

    SUMBER BACAAN / DAFTAR PUSTAKA

    Ayodhyoa,A.U. Fishing Methods. Bagian Penangkapan Ikan , Fakultas Perikanan IPB. Bogor. 1975.

    Ayodhyoa,A.U. Metode Penangkapan Ikan. Fakiltas Perikanan IPB. Bogor. 1974.

    FAO Catalogue of Small Scale Fishing Gear. Published by arrangement with the Food and Agriculture Organization of the United Nations by Fishing New .

    Fisherman’s Manual. Published by World Fishing. London. 1976.

    Klust,Gerhard. Bahan Jaring Untuk Alat Penangkap Ikan. Team Penerjemah BPPI Semarang. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang. 1987.

    Nomura,Masatsune dan Tomeyoshi Yamazaki. Fishing Techniques (1). Japan International Cooperation Agency. Tokyo. 1977

    Selasa, 01 Mei 2018

    MENGAPA HARUS MAKAN IKAN

    Ikan, merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung berbagai macam zat nutrisi. Sebagai salah satu sumber protein hewani, ikan mengandung asam lemak tak jenuh (Omega-3, Eicosapentaenoic acid/EPA, Docosahexanoic acid/DHA), yodium, selenium, flourida, zat besi, magnesium, zink, taurin, co-enzyme Q10. Disamping itu, ikan juga mengandung kalori yang rendah. Para ahli kesehatan dari Australia dan Amerika Serikat menyarankan untuk mengkonsumsi seafood lebih banyak karena dapat memberikan manfaat bagi pertumbuhan, peningkatan stamina serta mencegah stroke. Food and Drug Administration (FDA) pernah mempublikasikan beberapa studi tentang manfaat mengkonsumsi seafood bagi kesehatan termasuk untuk mencegah kegemukan.

    Studi oleh US FDA pada dasarnya dilakukan untuk melihat manfaat kesehatan dari nutrisi ikan seperti minyak Omega-3 dibandingkan dengan isu sakit akibat merkuri. Beberapa studi medis menyatakan bahwa sesungguhnya membatasi konsumsi seafood memberikan dampak negatif. Terutama calon ibu dan ibu menyusui, seharusnya lebih banyak mengkonsumsi seafood. US FDA saat ini menyarankan wanita hamil untuk mengkonsumsi 340 gram ikan tiap minggu, sedangkan Food Standard Australia New Zealand (FSANZ) merekomendasikan konsumsi ikan setara 40 gram. Jumlah tersebut bagi sebagian pakar gizi dianggap sebagai jumlah minimal. Bagaimanapun penelitian telah membuktikan bahwa konsumsi ikan dapat meningkatkan IQ (Intelegence Quotient) bayi.

    Tim dari US National Institute of Health, meneliti efek Omega-3 terhadap 9.000 ibu dan bayinya, dan menemukan bahwa ibu yang paling sedikit asuman asam lemak esensial Omega-3 memiliki anak dengan IQ verbal sembilan poin lebih rendah dari rata-rata. Mereka yang konsumsi ikan yang kaya Omega-3, pada anak usia tiga setengah bulan, memiliki kemampuan gerak yang lebih baik.

    Dalam meninngkatkan tingkat konsumsi ikan di Indonesia guna mendukung peningkatan ketahanan pangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan sendiri telah melaksanakan beberapa program dan kegiatan diantaranya:
    1. Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN);
    2. Menginisiasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan);
    3. Membentuk forum Peningkatan Konsumsi Ikan (FORIKAN); dan lainnya.

    Namun demikian, tingkat konsumsi ikan (jumlah dan jenis konsumsi ikan) juga terkait dengan berbagai faktor yaitu : (1) pengetahuan gizi dan teknik pengolahan ikan yang masih terbatas; (2) Kemudahan mendapatkan ikan yang bervariasi; (3) Harga ikan yang dinilai bergengsi (seperti udang, cumi, kakap merah) cukup mahal dibandingkan dengan daya beli masyarakat pada umumnya; (4) belum berkembangnya citra/image/gengsi ikan sebagai makanan acara khusus; (5) masih terdapatnya nilai budaya, tabu, mitos dan pantangan sekelompok masyarakat mengenai dampak negatis konsumsi ikan; dan (6) promosi konsumsi ikan yang belum optimal.

    Sumber : Pedoman Penghitungan Angka Konsumsi Ikan – KKP - 2016

    BUDIDAYA CACING SUTRA DALAM KOLAM TERPAL

    Kebutuhan dalam kegiatan pembenihan ikan lele memiliki karakteristik dengan memberikan pakan caing sutra, selama ini cacing sutra merupakan produk alami dan tidak di budidayakan. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan cacing sutra para pembudidaya yang semakin meningkat harus diimbangi produk cacing sutra yang banyak. Untuk mengatasi kebutuhan cacing sutra maka dimulai dengan berbudidaya cacing sutra dengan berbagai media dan wadah.
    Cacing sutra merupakan pakan alami terbaik saat ini untuk pertumbuhan larva lele dan posisinya belum bisa tergantikan. Namun, terkadang di daerah tertentu pakan ini sulit didapat. Nah, bagi peternak yang susah mendapatkan, kini cacing sutra bisa di budidayakan. Sudah ada buku yang membahas tuntas tentang budidaya cacing sutra di berbagai wadah. Dan berikut cara beternak cacing sutra secara umum :
     Cacing sutera atau lebih sering di sebut dangan nama cacing darah atau cacing rambut merupakan binatang kecil dengan ukuran 1-3 cm. Cacing jenis ini biasanya hidup berkelompok mirip beberapa binatang seperti semut atau lebah. Cacing sutera memiliki tempat tinggal dengan perairan yang jernih dan kaya akan bahan organik. Dikarenakan mengandung protein yang tinggi dan sedikit lemak , cacing ini lebih sering di gunakan sebagai pakan beberapa jenis ikan hias seperti ikan cupang atau louhan.
    Sebetulnya cacing sutera di jaman dahulu lebih mudah di temukan di sisi parit ataupun perairan yang jernih. Semakin majunya jaman sekarang parit ataupun beberapa tempat dengan perairan jenih sudah jarang di temukan cacing sutera ini  mungkin karena limbah rumah tangga dan juga limbah industri yang membuat ekosistem dari cacing ini punah. Oleh karena itu mensiasatinya beberapa orang mencoba untuk membudidayakannya. Selain mendapatkan untung pribadi , pembudidayaan cacing sutera ini juga merupakan langkah kompleks untuk membantu ekosistem tetap stabil.
    Cara Hidup Cacing Sutera
    Cacing sutera adalah binatang yang hanya bisa hidupdi dalam air yang mengandung lumpur denan tingkat kedalaman antara 0-4 cm . karena hidup di dalam air , setidaknya ada beberapa kriteria air yang bisa menunjang hidupnya maupun perkembang biakan cacing sutera , yaitu :
        Memiliki PH seimbang antara 5.5 – 8.0
        Suhu udara yang stabil antara  25-28 derajat celcius
        Supply oksigen dalam air 2.5 – 7.0 ppm
        Debit air yang sedikit karena melihat ukuran cacing yang tergolong kecil.
    Reproduksi
    Cacing sutera itu sendiri merupakan salah satu hewan yang  bersifat hermaprodit  atau dalam bahasa awamnya yaitu memiliki dua alat kelamin. jadi tidak terlalu report untuk mengembangkannya.
    Dalam pembudidayaanya cacing sutera bisa langsung di berikan kepada larva ikan ataupun dengan beberapa cara packaging yaitu dalam bentuk kering dengan cara di oven atau dengan cara di bekukan
    Disini kita akan bahas langkah langkah bagaimana membudidayakan cacing sutera mulai dari langkah persiapan sampai cacing sutera siap untuk di panen .
    1. Persiapan Awal
    Hasil tergantung dari persiapan adalah kata kata yang memang terbukti , persiapan yang matang dan maksimal akan mempengaruhi hasil yang baik juga. Disini kita akan mempersiapkan mulai dari bahan , alat , dan segala penunjang untuk membudidayakan cacing sutera ini.
    Kali ini kita mulai dari mempersiapkan tempat dan alat penunjang untuk membudidayakan cacing ini. ada beberapa media dan alat  yang bisa di pakai untuk membudidayakan cacing sutera seperti :
        Nampan /Terpal : Tempat kecil seperti namban bisa untuk kalian yang sedang mencoba atau bisa di bilang orang awal dalam pengembang biakan hewan ini. Akan tetapi pengembang biakan menggunakan media nampan mempengaruhi dalam sedikit atau banyaknya cacing bisa di budidayakan.
        Nampan Besar / Kolam kecil : Jika kalian sudah menguasai dengan baik bagai mana cara mengembangbiakan cacing ini , nampan besar / kolam kecil bisa jadi solusi untuk memperbanyak jumlah cacing yang bisa di hasilkan.
        Kolam lele / Kolam Besar : Untuk media yang satu ini boleh di coba buat kalian yang memang sudah siap menjadi juragan cacing sutera , karena jumlah yang banyak dalam pengembang biakan cacing, effisiensi dalam bekerjapun akan lebih ringan karena kita bisa mengembang biakan cacing dalam skala banyak di 1 atau 2 kolam sekaligus.
        Pipa Paralon : Pipa paralon ini merupakan alat penting penunjang bagi para pembudidaya cacing sutera.  karena pipa paralon ini berfungsi untuk mengaliri air ke dalam kolam / nampan cacing sutera yang membaut seolah olah menjadi pensuplai air bersih dan juga oksigen kedalam kolam.  (Baca juga : Budidaya lobster air tawar di aquarium)
        Ember plastik, seser, saringan plastik : 3 alat ini akan sangat membantu kita disaat memindahkan ataupun ketika akan panen cacing sutera nati.
        Pompa air : Ini adalah alat investasi terbesar jika kita berbisnis dalam cacing sutera , karena alat ini akan membantu kita memindahkan air ataupun pengaliri air kedalam bak penampung ataupun kolam penampung tempat kolam sutera berada. Sebetulnya bisa saja kita mengguanakan cara tradisional dengan membuat tempat penampungan lebih rendah dari sumber air , akan tetapi cara ini sudah jarang di pakai selain tenaga yang di gunakan lebih besar , keterbatasan tempat pengembangbiakan menjadi faktor kenapa para pengusaha cacing ini menggunakan pompa air untuk menyedot dan mengalirkan air.
        Baskom / tempat penampungan kecil : Nah untuk alat ini sih bisa di bilang optional karena bisa menggunakan ini atau tidak .
    2. Persiapan Bibit
    Pada tahap persiapan pengembang biakan ini yang pertama kali di lakukan adalah mencari bibit atau indukan dari cacing sutera. Bibit / indukan bisa di cari di pengembang lain atau di tempat yang menjual pakan ikan hias atau bahkan bisa kita dapatkan secara gratis di parit atau tempat yang biasa cacing sutera tumbuh.
    Jika kita sudah mendapatkan bibit atau indukan , lebih baik kita melakukan karantina terhadap bibit yang kita akan jadikan induknya. Guna karantina bibit adalah untuk menghasilkan bibit unggul agar pengembang biakannya cukup baik. Langkah-langkah nya yaitu cacing di simpan di tempat nampan lalu dialiri air bersih selama kurang lebih 2-3 hari dengan debit dan tekanan air yang kecil  asalkan kandungan oksigen cukup. Cara ini juga bisa di katakan ampuh untuk membasmi bakteri patogen yang nanti akan menghambat pertumbuhan cacing.
    3. Pengembang biakan
    Setelah melewati 2 langkah awal , kita masuk kedalam langkah pengembang biakan . Disini akan di jelaskan 2 cara pengembang biakan , yaitu dengan menggunakan nampan dan juga kolam. Pada basicnya semua sama hanya , cara mana yang cukup dan bisa kita jalani.
    a. Menggunakan Nampan/Terpal
    Budidaya menggunakan nampan atau lebih di kenal dengan nama sistem SCRS (Semi Closed Resirculating System). Sebuah cara atau sistem dimana akan irit air karena dengan cara SCRS membuat air yang telah di gunakan di putar kembali untuk pengairan cacing. Penambahan volume air akan di lakukan ketika volume air berkurang karena penguapan atau lainnya. tak hanya Nampan saja , via terpal pun bisa di gunakan sistem ini asalkan tempat yang memadai
    Perlu di ketahui menggunakan cara ini mempunyai beberapa keuntungan di antaranya :
         Lebih irit dalam penggunaan air : Seperti yang sudah di jelaskan di atas cara SCRS ini akan irit air karena air akan di putar kembali  sehingga debit air yang di butuhkan akan tetap.
        Menghemat pengeluaran obat obatan atau probiotik: penghematan ini ada karena obat yang kita berikan menggunakan media air akan di putar kembali  sehingga tidak perlu penggunaan obat yang banyak.
        Irit lahan : Ini adalah keuntungan yang membuat pera pengembang biak cacing sutera suka karena tidak membutuhkan lahan yang besar , cukup di pekarangan rumah dengan menggunakan meja susun bisa membuat rumah peternakan cacing sutera.
    Cara pengembang biakannya bisa dilakukan dengan cara membuat kubangan lumpur dengan ukuran kurang lebih 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran air dari pipa yang sudah kita siapkan tadi. Setiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran kurang lebih 20 x 20 cm dengan tinggi tanggul 10 cm, antar tanggul  diberi lubang dengan diameter lubang 1 cm.
    b. Menggunakan media kolam
    Untuk yang tertarik menggunakan media kolam  , ada beberapa cara untuk memulainya , akan tetapi lebih di anjurkan menggunakan kolam bekas hasil budidaya ikan lele atau air bekas budidaya lele karena dalam penelitian air kolam ikan lele yang akan dipanen  kurang lebih 7 hari sebelum panen mengandung  mikro algae, Coelosphacrium sP , Lyngbyadan Sprirulina sP yang bisa membantu dalam pengembang biakan cacing sutera.
    Cara awalnya kolam dikeringkan terlebih dahulu sebelum diolah. setelah di keringkan air limbah ikan lele yang tadi kita sudah bahas diaduk-aduk selama beberapa menit daan kemudian di masukan ke kolam yang akan kita gunakan untuk membudidayakan cacing sutera.
    4. Pemupukan
    Sama seperti kebanyakan pembudidayaan , semua membutuhkan pupuk atau vitamin untuk mempercepat ataupun menghasilkan hasil yang baik tak terkecuali cacing sutera ini.  lahan di pupuk menggnakan dedak halus atau ampas tahu dengan banyak yang menyesuaikan atau dengan pupuk kandang kurang lebih 300 gr/ m2 . Cacing sutra sangat menyukai bahan organik seperti yang di sebutkan tadi sebagai bahan makanannya.
    5. Fermentasi
    Langkah fermentasi ini adalah langkah untuk meningkatkan kandungan unsur N-organik dan C-organik agar cacing sutera mendapatkan makan yang terbaik . Caranya adalah lahan yang sudah di sediakan dan sudah di masukan pupuk direndam dengan air setinggi kurang lebih 5 cm selama 2-4 hari.
    6. Penebaran benih /bibit
    Penebaran bibit cacing indukan dilakukan sebanyak kurang lebih 10 gelas (2-3 liter) jika di dalam kolam, selanjutnya di rendam dan di aliri air dengan ketinggian 5-7 cm.  Penebaran harus secara merata dan diusahakan selama proses budidaya selalu di aliri air  dari pipa dengan debit 2-5 Liter/detik.
    7. Pemeliharaan
    Dalam tahap ini merupakan tahap yang lebih ringan dari tahap persiapan di atas karena selama dalam masa pemeliharaan cacing sutera kita hanya menjaga  airnya tetap mengalir kecil dengan ketinggian air pada 5-10 cm. biasanya pada umur 10 hari bibit cacing sutra mulai tumbuh merata pada seluruh permukaan lumpur kolam. Jaga debit mengalir air dan jumlah air di setiap kolam / nampan.
    Budidaya ini bisa dilakukan oleh siapa saja namun dengan menggunakan sistim budidaya yang baik dan pemantauan yang baik juga sehungga menghasilkan produk yang bermutu dan bagus  jauh dari hama maupun penyakit, dan bebas bakteri patogen. Dalam pemeliharanya  jangan lupa pemberian pakan cacing yang berasal dari bahan organik yang bercampur dengan lumpur atau sedimen di dasaran perairan.
    8. Panen
    Setelah melewati masa masa di atas dan menunggu kurang lebih 2-3 bulan cacing sutera sudah bisa dipanen,. dan panen selanjutnya  bisa dilakukan setiap dua minggu sekali.
    Cara pemanenanya bisa dengan memakai serok yang terbuat dari bahan halus serta lembut seperti bahan plastik / melamin. Biasanya cacing sutera yang bar di panen akan bercampur dengan media budidayanya. Cara memisahkannya cukup  dimasukan ke dalam ember yang sudah di isii air agar cacing nantinya terpisah sendiri . kemudian ember ditutup hingga bagian dalam berubah menjadi gelap dan dibiarkan selama 6 jam.
    Setelah melewati waktu di atas, cacing bisa  diangkat menggunakan tangan. Biasanya dengan cara ini didapat cacing sutera kurang lebih 30-50 gram/m2 per dua minggu.

    Sumber : Media Penyuluhan Perikanan Kabupaten Pati