Sejalan dengan berkembangnya usaha budidaya ikan laut, terdapat beberapa masalah yang mengganggu, sehingga menghambat perkembangan usaha budidaya, yaitu hama dan penyakit ikan. Apabila keadaan tersebut tidak segera ditanggulangi lebih awal, maka kegiatan budidaya ikan laut akan terganggu, akibatnya ikan akan menurun karena tingkat kematiannya tinggi. Untuk menghindari hal tersebut perlu diupayakan pencegahan dan pengobatan terhadap hama dan penyakit ikan. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa tidak semua penyebab kematian dikarenakan penyakit, maka dalam menangani masalah ini, tindakan penanggulangannya dilakukan secara hati-hati dan teliti agar tidak menimbulkan kesalahan yang merugikan.
A. JENIS PENYAKIT
a. Penyakit pada kulit
Kulit ikan menunjukkan warna pucat dan berlendir. Tanda ini terlihat jelas pada ikan yang berwarna gelap. Penyakit yang disebabkan oleh jamur menimbulkan bercak-bercak warna kelabu, putih atau kehitam-hitaman pada kulit ikan. Ikan yang menderita penyakit kulit kadang-kadang menggosok-gosokkan badannya pada suatu benda di dalam air.
b. Penyakit pada insang
Ikan terlihat sulit bernafas. Tutup insang mengembang dan lembaran-lembaran insang pucat. Pada lembaran-lembaran insang terlihat bintik merah yang disebabkan oleh pendarahan kecil (peradangan). Jika terdapat bintik-bintik putih pada insang, hal ini diebabkan oleh parasit kecil yang menempel pada tempat tersebut.
c. Penyakit pada organ (alat-alat dalam)
Perut ikan membengkak dengan sisik-sisik ikan berdiri (penyakit dropsy), dapat juga sebaliknya, perut menjadi sangat kurus. Kotoran ikan berdarah, menandakan adanya radang usus. Penyakit pada gelembung renang, menyebabkan ikan berenang terjungkir balik karena terganggunya keseimbangan badan.
B. PENYEBAB PENYAKIT
B1. Non Parasit
Faktor-faktor kimia dan fisika, antara lain:
> Perubahan salinitas air secara mendadak;
> pH yang terlalu rendah (air asam), dan pH yang terlalu tinggi (air basa/alkalis);
> Kekurangan oksigen dalam air;
> Zat beracun, pestisida (insektisida, herbisida dan sebagainya);
> Perubahan suhu air yang mendadak;
> Kerusakan mekanis (luka-luka);
> Perairan terkena polusi;
B2. Makanan yang tidak baik :
> Kekurangan vitamin dan komposisi gizi yang buruk;
> Bahan makanan yang busuk dan mengandung kuman-kuman.
B3. Bentuk fisik dan kelainan-kelainan tubuh yang disebabkan oleh keturunan.
B4. Stres
Stres yang terjadi pada ikan berkaitan dengan timbulnya penyakit pada ikan tersebut. Stres merupakan suatu rangsangan yang menaikkan batas keseimbangan psikologi dalam diri ikan terhadap lingkungannya. Biasanya stres pada ikan diakibatkan perubahan lingkungan akibat beberapa hal atau perlakuan misalnya akibat pengangkutan/transportasi ikan-ikan yang dimasukkan ke dalam jaring apung di laut dari tempat pengangkutan biasanya akan mengalami shock, berhenti makan dan mengalami pelemahan daya tahan terhadap penyakit.
B5. Kepadatan Ikan
Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan (carrying capacity) akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti ammonia akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stres dan merupakan penyebab timbulnya serangan
penyakit.
C. Parasit (Pathogen)
` 1. Pengertian :
Parasit atau panthogen adalah organisme dalam bentuk hewan atau tumbuh-tumbuhan atas pengorbanan dari induk emangnya (hewan atau tumbuh-tumbuhan lain). Parasit dapat berkembang dan menyebabkan infeksi yang dapat menularkan penyakit itu sendiri.
Penyebab penyakit :
> Crustacea/udang renik
> Protozoa
> Jamur
> Bakteri
>Virus
D. PENGOBATAN PENYAKIT
1. Non parasit
1.1.Pencegahan penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit non parasit adalah
A. Lingkungan harus baik
Lingkungan, terutama sifat fisika, kimia biologi perairan akan sangat mempengaruhi keseimbangan antara ikan sebagai inang dan oranisme penyebab penyakit. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya tahan ikan, sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan ikan mudah stres dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit non parasit.
B.Kepadatan ikan yang seimbang
Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan (carrying cpacity) akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti amoniak akan meningkat seperti amoniak akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stres dan merupakan penyebab timbulnya penyakit.
C.Makanan yang seimbang
Pemberian makanan yang kurang bermutu dapat menyebabkan kekurangan vitamin yang diikuti oleh pertumbuhan yang lambat atau menurunnya daya tahan ikan sehingga mudah untuk terserang suatu penyakit, disamping tingkat pemberian pakan dan kualitas makanan juga akan mempengaruhi sistem kekebalan.
1.2. Pengobatan yang bisa dilakukan :
> Melalui suntikan dengan antibiotika.
> Melalui makanan.
> Perendaman.
> Penyemprotan dengan tekanan tinggi.
1.3. Parasit
Beberapa macam parasit ikan dan pengobatannya :
1. Crustacea
Beberapa jenis crustacea yang sudah diketahui sebagai parasit ikan diantaranya adalah copepoda dan isopoda. Salah satu jenis copepoda ialah : Argasilus sp didapati biasa menyerang pada ikan laut yang dipelihara. Untuk jenis isopoda yang biasa terdapat dan merupakan parasit ikan adalah Nirocila sp. Nirocila sp menyerang berbagai jenis ikan laut yang dipelihara, terutama terhadap ikan berukuran di atas 50 gram. Binatang ini mempunyai duri pengait pada kakinya sehingga dapat menempel dengan kuat pada insang atau di bagian sisi tubuh ikan yang diserang. Serangan pada bagian insang ini bisa mengakibatkan borok karena jaringan daging pada insang dimakan oleh parasit tersebut.
Nirocila sp tergolong binatang vivaparous. Telur yang dihasilkan dierami dan anak yang menetas tumbuh dan berkembang di dalam kantong yang terletak di bawah perutnya.
Nirocila muda kemudian dilepaskan dan berenang bebas yang kemudian dapat menginfeksi ikan yang lain. Nirocila sp adalah protandrous di mana pada waktu muda mereka berkelamin jantan dan berubah menjadi betina pada waktu dewasa (matang).
Nirocila sp tahan terhadap kebanyakan pestisida seperti Dipterex, Matathion dan Hhyrethroids syntetic. Organophospat DDVP cukup aman dan efektif untuk pemberantasan parasit ini, namun jarang terdapat dalam bentuk yang masih murni.
Pengobatan dan pencegahan : Untuk mengatasi serangan parasit ini disarankan memakai formalin dengan cara sbb :
> Angkat jaring apung dan simpanlah ikan-ikan yang terserang di dalam bak/tank.
> Semprotkan formalin 1% ke jaring tersebut.
> Tambahkan formalin (200 ppm) ke dalam bak sampai parasit tersebut lepas dari tubuh ikan dan
> Keluarkan parasit-parasit tersebut dan musnahkan.
Biasanya serangan Nirocila sp dewasa (ukuran 2 - 3 cm) jarang berakibat serius. Serangan parasit dewasa mudah terlihat sewaktu dilakukan grading, sehingga dengan mudah dapat diambil dengan tangan untuk kemudian dimusnahkan.
2. Cacing Pipih
Dectylogyrussp kadang-kadang ditemui menyerang ikan laut. Yang paling sering ditemukan menyerang ikan laut adalah Diplectanum sp.
Bentuk parasit ini adalah sbb : mempunyai dua buah mata, ada alat penghisap (sucker) pada bagian depan dan belakang. Bagian belakang berbentuk seperti martil dengan bentuk seperti jangkar pada tiap ujungnya, bagian dalam perut seperti usus dan alat kelamin jelas terlihat. Parasit ini mempunyai panjang antara 0,5 - 1,0 dan memangsa sel-sel epithel insang ikan yang diserang.
Ikan yang terserang parasit ini atau jenis-jenis parasit lain yang menyerang insang cenderung untuk berenang ke arah air yang berarus kuat atau berenang miring di mana terlihat berbaring dengan insang terbuka lebar dan bergerak cepat. Biasanya serangan parasit ini sering bersamaan pula dengan serangan bakteri vibriosis. Insang ikan yang terserang kelihatan pucat dan mengeluarkan lendir yang berlebihan seperti pada penyakit cryptocoryoniasis. Apabila kondisinya sudah sedemikian parah, pengobatan akan percuma.
Pencegahan dan pengobatan : Pengobatan harus dilakukan secepatnya pada saat ikan kelihatan mulai terserang penyakit ini, dengan cara sbb :
> Menggunakan formalin 200 ppm selama 1/2 sampai 1 jam dengan aerasi yang kuat, ulangi sampai 3 hari.
> Menggunakan formalin 25 ppm dan malachite green 0,15 ppm selama semalam perendaman.
> Menggunakan acriflavina 10 ppm 1 jam atau 100 ppm dicelupkan selama 1 menit.
> Menggunakan dipterex 20 ppm selama 1 jam.
> Menggunakan air tawar murni selama 1 jam (hanya untuk Kakap Putih dan Kerapu Lumpur).
3.Protozoa
Protozoa merupakan pathogen yang paling utama bagi usaha budidaya laut. Protozoa merupakan jazad renik bersel satu dengan ukuran yang bervariasi antara 10 - 500 mikron.
Parasit protozoa umumnya mempunyai bulu/cilia di sekeliling tubuhnya. Parasit pada budidaya ikan laut yang disebabkan oleh protozoa dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu : Cryptocaryoniasis, Brooklynelliasis dan Trichadiniasis.
A. Cryptocaryoniasis
Penyakit ini paling umum dijumpai pada budidaya laut yang disebabkan oleh protozoa. Organisme penyebabnya adalah Cryptocaryon irritans Brown, dijumpai secara luas seperti halnya Ichthyophthirius multifilis yang terdapat di air tawar. Pada stadium belum dewasa binatang ini cenderung berbentuk seperti buah pear. Bagian mulut (Cryclostomum) terlihat seperti pada ganbar 5 dimana terlihat sedang memangsa sel daging ikan.
Pemangsaan yang terus menerus kadang-kadang menyebabkan kerusakan pada kulit atau insang. Stadia "trophont" berbentuk seperti bola dengan garis tengah sekitar 300 mikron, terbungkus oleh bulu-bulu halus/cilia.
Ikan Kerapu Lumpur dapat terserang penyakit bintik putih seperti terserang Ichtyophthirius multifilis. Bintik putih terlihat berbentuk titik yang masuk cukup dalam. Dalam hal-hal tertentu di mana serangan penyakit ini ditunggangi oleh serangan bakteri maka akan timbul borok pada bagian yang terserang.
Ikan Kakap dan jenis ikan lain yang bersisik besar jarang terlihat bahwa tersebut terserang penyakti bintik putih. Ikan-ikan tersebut akan kehilangan nafsu makan, matanya membengkak, sisik-sisiknya lepas, kadang terjadi pendarahan pada kulitnya dan terjadi pembusukan bagian sirip akibat terinfeksi bakteri/infeksi sekunder.
Pada ikan Lutjanus (jenis Goden Snaper) kepala merupakan bagian yang paling rawan terhadap serangan parasit ini, yang kadang sampai sisik pada kepala bagian atas dan tutup insang mengelupas yang kemudian terlihat botak.
Insang pada ikan yang terserang parasit ini akan rusak dan tidak berfungsi. Keluarnya lendir yang berlebihan biaanya tidak sehebat seperti pada serangan parasit Diplectanum sp.
Penyakit yang paling sering dijumpai pada ikan-ikan dan sangat susah diberantas ini sesebabkan oleh protozoa yang bersarang pada lapisan lendir kulit dan sirip ikan, serata merusak lapisan insang. Binatang yang sangat kecil dan tidak bisa dilihat oleh mata biasa ini, pada selaput ikan bergerombol sampai berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus jumlahnya, hingga dapat terlihat sebagai bintik-bintik putih. Karena itu biasa disebut White spot.
Protozoa ini merusak sel-sel lendir ikan, dan dapat menyebabkan pendarahan, yang sering terlihat pada sirip dan insang ikan. Siklus hidup parasit ini sangat penting untuk diketahui, oleh karena itu segala cara pemberantasannya, pada dasarnya ialah memutuskan rantai kehidupan.
Sesudah 8 hari hidup pada ikan parasit ini sudah cukup dewasa untuk melangsungkan diri dari tubuh ikan, dan melayang-layang dalam air untuk beberapa saat lamanya. Kemudian ia melekatkan diri pada suatu benda, batu-batu, tumbuh-tumbuhan, gangang, dan sebagainya serta membentuk suatu lapisan kulit yang terlihat sebagai lendir. Bentuk demikian disebut cyste. Parasit ini dalam cyste membelah diri.
Dalam waktu 5 jam (lamanya tergantung suhu), terbentuklah beribu-ribu protozoa kecil-kecil. Kemudian dinding cyste itu pecah, lalu berhamburlah anak-anak parasit tersebut, melayang-layang dalam air, siap untuk menyerang ikan.
Apabila dalam waktu 48 jam mereka tidak dapat menemukan ikan-ikan untuk ditempelinya maka anak-anak parasit itu akan mati. Jika ada ikan, mereka segera menempel dan tumbuh pada selaput lendir ikan.
Pada selaput lendir ikan, parasit protozoa ini hidup terbungkus oleh selaput sel lendir. Obat-obat pemberantas tidak dapat meresap ke dalam parasit dalam keadaan tersebut, tanpa merusak selaput lendir ikan yang bersangkutan juga. Karena itu fase pre cyste, adalah fase yang mudah dikenai obat tanpa merusak ikan yang bersangkutan. Demikian juga cyste ketika benih parasit ini sudah keluar dari cyste. Sedangkan pada fase cyste, penyakit ini juga tidak tertembus oleh obat, karena berdinding lendir.
Terhadap penyakit ini tindakan yang lebih penting ialah pencegahan. Hal ini dilakukan dengan menciptakan suasana kesegaran dan kesehatan bagi ikan, sehingga ikan mempunyai daya tahan yang besar terhadap penyakit ini. Caranya ialah dengan memilih lokasi di mana air dapat selalu berganti lewat arus yang cukup.
Pencegahan dan pengobatan
Penanggulangan parasit ini cukup sulit. Stadia tomont berbentuk kista sangat tahan terhadap obat-obatan, sedangkan stadia trophonts seringkali masuk cukup dalam ke jaring daging ikan. Namun demikian perlakuan seperti tersebut di bawah ini dan telah banyak memberikan hasil yaitu :
> Celupkan ke dalam formalin 200 ppm selama 1/2 sampai 1 jam tergantung kepada daya tahan ikan.
> Celupkan ke dalam formalin 100 ppm dan acriflavin 10 ppm selama 1 jam.
> Celupkan dalam campuran formalin 25 ppm dan malachite green 0,15 ppm selama 12 jam.
> Menggunakan nitrofurazone 30 ppm selama 12 jam.
> Menggunakan methyllene blue 0,1 ppm selama setengah jam.
> Menggunakan air tawar murni selama 1 jam (hanya untuk ikan kakap dan kerapu lumpur).
Perlakuan tersebut diulangi 2 sampai 3 kali. Pengobatan juga dapat dilakukan dengan percampuran obat dalam ransum makanan, yaitu menggunakan metronidozone 5 gram untuk setiap kilogram makanan selama 10 hari. Berdasarkan hasil percobaan, gejala penyakit cryptocaryoniasis akan terlihat dalam waktu 5 hari setelah ikan sehat diolesi insang dari ikan yang sakit. Tindakan yang perlu diambil untuk menanggulangi penyakit ini adalah sebagai berikut :
> Isolasi ikan-ikan yan ternyata sakit khususnya benih/gelondongan sejauh mungkin dari ikan-ikan yang sehat.
> Ambil ikan-ikan yang mati atau sakit parah dari keramba untuk kemudian dimusnahkan.
> Lakukan pengobatan sedini mungkin (begitu terlihat tanda-tanda ada ikan yang terserang penyakit ini) untuk memotong siklus hidup penyakit ini dan jangan sampai menjadi stadia kista serta terbentuknya tomite (stadia muda dan berenang bebas dari Cryptocaryon irritans).
B. Brooklynelliasis
Penyakit ini disebabkan oleh Brooklynela sp, suatu protozoa berbentuk seperti kacang mirip dengan Chilodonella sp. mudah dikenal dengan adanya bulu rambut (cilia) yang panjang, sebuah macronucleus dan kantong berbentuk oval yang terlihat jelas. Brooklynela sp irritans, namun jenis ikan yang bisa terserang lebih sedikit.
Parasit ini dijumpai di bagian insang dan kulit dari ikan yang terserang. Tanda-tandanya penyakit yang ditimbulkan sama dengan penyerangan Cryptocaryon irritans, hanya saja jarang terjadi kerusakan kulit ikan yang terserang. Luka yang ditimbulkannya lebih tersebar dan terjadi pendarahan pada kulit bagian dalam.
Penyakit ini kemungkinan disebabkan oleh kesengajaan ikan menggesek-gesekkan badannya ke jaring atau wadah budidaya lainnya yang diakibatkan gatal akibat serangan parasit ini pada bagian kulit.
Pencegahan dan pengobatan
Pemberantasan parasit ini dapat dilakukan seperti pada seangan parasit Cryptocaryon irritans. Keberhasilan upaya pemberantasan dapat dilihat dengan pengamatan di bawah mikroskop terhadap preparat usapan (smear) pada ikan yang diobati. Serangan penyakit sekunder seperti kebusukan sirip dapat dicegah dengan pengobatan menggunakan acriflavine atau pemandian mengunakan antibiotic.
C. Trychodiniasis
Penyakit Trychodiniasis adalah penyakit yang disebabkan oleh Trichodina sp suatu protozoa bebrbentuk cakram dengan diameter sekitar 100 mikron dengan "gigi-gigi" yang terdapat di bagian tengah dan cilia pada bagian permukaan bawah.
Pemberantasan/pencegahan penyakit ini dapat dilakukan seperti terhadap serangan "Cryptocaryoniasis" atau "Brooklynelliasis".
4. Jamur
Jamur merupakan tumbuhan sederhana yang tidak membutuhkan cahaya untuk tumbuh, tetapi memakan bahan organik untuk mendapatkan energinya.
Jamur dapat menyebabkan penyakit bila tumbuh pada organisme hidup termasuk ikan. Dewasa ini ada dua penyakit ikan yang berasal dari jamur, yaitu : Saprolegniasis dan Ichthyosporidosis.
A. Saproleniasis
Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang disebut Saprolegnia sp. Serangan jamur ini menyebabkan perubahan warna pada kulit dan tumbuh jamur putih keabu-abuan yang makin lama makin melebar, dan menyebabkan kerusakan pada otot. Ikan-ikan yang sakit tersebut sebaiknya diambil dari kurungan pemeliharaan. Penyakit ini jarang sekali ditemukan dan tidak mudah menyerang ikan yang dalam keadaan sehat.
Penyakit ini terutama menyerang ikan kakap putih pada bagian sirip punggung dan melebar ke arah sirip ekor.
Pencegahan dan pengobatan
> Pengobatan dapat dicoba dengan jalan diolesi : Larutan yodium Tincture 0,1%
Larutan Potassium Dichromat 1% Atau perendaman dengan menggunakan :
Methylene blew 0,1 PPM, selama kira-kira 1 jam dan diulangi selama 3 hari.
B. Ichthyosporidosis
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Ichthyos poridium sp (Ichthyophonus sp). Jamur ini berkembang mengikis jaringan luar bagian kepala dan menyebabkan luka yan dalam yang berwarna kemerah-merahan dan dapat masuk ke dalam sampai ke bagian tengkorak kepala ikan. Kadang-kadang juga ditemukan di bawah kulit dan jaringan epitel kulit dari jaringan organ yang penting misalnya insang, usus, hati dan jantung dalam bentuk gumpalan granula.
Biasanya terdapat pada ikan kerapu dan berkembang lambat karena penyakit ini terutama teramati pada ikan-ikan atau ukuran pasar.
Sampai saat ini belum ada pengobatan yang manjur terhadap penyakit ini. Beberapa jenis antibiotik yang biasa terdapat di pasaran kurang mempan menghadapi penyakit ini. Untuk itu dapat dihindari dengan jalan menjaga makanan dari ikan rucah yang diberikan agar bersih dan tidak ada gumpalan-gumpalan penyakit di bagian kulitnya atau di bagian lain.
5. Bakteri
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri merupakan penyakit yang paling umum dijumpai pada usaha budidaya ikan laut.
Bakteri merupakan jasad renik yang kira-kira duapuluh kali lebih kecil dari sel-sel jamur, protozoa atau sel daging ikan. Biasa terdapat di udara, dalam tanah maupun dalam air dan benda padat lainnya. Sebagian besar bakteri sebenarnya tidak menyebabkan penyakit. Namun bakteri mempunyai kemampuan memperbanyak diri sangat cepat, sehingga apabila bakteri tersebut berada dalam bagian tubuh hewan. Bakteri ini bermacam-macam jenisnya. Yang menyerang manusia, berbeda dengan jenis yang menyerang ikan dan tumbuh-tumbuhan. Tetapi ada pula jenis-jenis yang dapat menyerang manusia dan hewan sekaligus.
Ikan yang terserang oleh bakteri dapat memperlihatkan gejala yang berbeda-beda. Jika bakterinya menyerang kerusakan-kerusakan pada kulit yang terlihat seperti kena api (luka bakar), seperti kudis/borok yang membusuk.
Infeksi bakteri biasanya timbul apabila ikan menderita stres. Kematian banyak terjadi pada ikan yang menderita stres karena serangan bakteri yang menyebabkan infeksi. Penyakit bakteri merupakan jenis yang terbanyak didapati pada usaha budidaya ikan di laut. YC. Chong (1986) menyebutkan bahwa di perairan Siangapura terdapat 3 kelompok utama penyakit yang disebabkan oleh bakteri, yaitu : pembusukan sirip/ekor, Vibriosis dan Streptococcosis
A. Pembusukan sirip/ekor (Bakteri Fin Rot)
Bakteri ini biasanya menyerang sirip-sirip, terutama sirip ekor dan dapat mengakibatkan luka dan pengelupasan kulit. Ikan-ikan yang terserang penyakit ini akan menalami luka/kerusakan pada bagian tepi dan sirip-siripnya, termasuk sirip ekor dan akan terkikis secara tidak teratur. Bahkan tidak jarang terjadi sirip yang terserang akan tinggal bagian pengkalnya saja. Jika diamati pada bagian yang terkena penyakit atau bagian yang luka hanya sedikit terdapat protozoa, tetapi diketemukan banyak sekali populasi bakteri yang terdiri dari bakteri Mycobacter sp.
Vibrio sp, jenis-jenis Pseudomonas dan Cocci gram positif. Diperkitakan bahwa kerusakan yang terjadi tersebut diakibatkan oleh serangan bakteri dengan populasi yang sangat padat. Bakteri ini mudah menular lewat luka-luka ikan yang lain akibat sentuhan ekor yang sakit. Bakteri yang paling dominan adalah Vibro sp karena mempunyai kemampuan yang baik untuk hidup di air laut dan pertumbuhannya untuk membentuk koloni lebih cepat dibandingkan dengan bakteri yang lain.
Pada dasarnya penyakit ini tidak begitu berbahaya, tetapi yang menjadikan bahaya justru infeksi sekunder jenis bakteri lain yang dapat memperparah penyakit tersebut dan menyebabkan kematian ikan. Pencegahan dan pengobatan Pencegahan dapat dilakukan dengan jalan perendaman ikan yang sakit
ke dalam bak air dengan menggunakan : Nitrofurozone 15 ppm, selama 3 - 4 jam.
> Suplhonamide 50 ppm, selama 3 - 4 jam.
> Neomycin sulphate 50 ppm, selama 1 - 2 jam.
> Chloramphenicol 50 ppm, selama 1 - 2 jam.
> Acriflavine 100 ppm, selama 1 menit.
Sesudah pengobatan, tempatkan ikan ke dalam kurungan yang bersih dengan kepadatan yang rendah dan aliran air yang baik, atau pada bak dengan penambahan aerasi secukupnya.
B. Vibriosis
Vibriosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Bakteri Vibrio sp termasuk kelompok bakteri yang heterogen dan gram negatif. Ada 2 bakteri penting yang diketahui menyerang ikan laut yaitu : V. alginolyticus dan V. parahaemollyticus. Vibriosisi merupakan penyakit sekunder, artinya penyakit ini muncul setelah adanya serangan penyakit yang lain misalnya protozoa atau penyakit lainnya.
Dari percobaan yang dilakukan terhadap bakteri yang diisolasikan dari ikan kerapu dan kakap putih yang sakit, ternyata bakteri ini tidak mampu membuat ikan menjadi sakit vibriosis setelah dilakukan penyuntikan dengan bakteri tersebut.
Terkecuali apabila dosisnya tinggi. Ikan kerapu yang terkena Vibriosisi akaibat suntikan bakteri tersebut, akan mengalami perubahan warna kulit menjadi lebih gelap dan daerah bekas suntikan akan menjadi borok. Selanjutnya akan terjadi pendarahan pada bagian peritonial dan ginjalnya akan rusak. Pengamatan di alapangan juga menunjukkan gejala ikan kurang nafsu makan, busuk sirip dan akumulasi cairan di bagian abdomen.
Pencegahan dan pengobatan
Beberapa pengobatan dengan antibiotik dapat dilakukan antara lain :
> Menggunakan Oxytetracycline sebanyak 0,5 garam per kg makanan ikan selama 7 hari.
>Menggunakan Sulphonamides 0,5 gram per kg makanan ikan selama 7 hari.
> Chloromphenicol sebanyak 0,2 gram per kg berat makanan ikan selama 4 hari.
Apabila ikan tak mau makan, cobalah pengobatan dengan perendaman sbb :
Nitrofurozon 15 ppm, selama lebih kurang 4 jam.
Sulphonamides 50 ppm, selama lebih kurang 4 jam.
C. Streptococcus
Bakteri dari genus Streptococcus ini kadang-kadang menyebabkan penyakit pada ikan laut yang dibudidayakan, seperti ikan kerapu merah dan ikan beronang. Tanda-tanda dari infeksi penyakit ini biasanya tidak jelas, namun ikan terkadang terlihat lesu, tidak sehat, berenang tidak teratur dan pendarahan pada cornea. Biasanya penyakit ini diamati lewat pemerikasaan laboratories.
Streptococcus sp termasuk bakteri yang resisten terhadap berbagai antibiotik yang secara terus menerus dipergunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang lain.
Pencegahan dan pengobatan
Berikut adalah perlakuan pengobatan yang disarankan tes sensitivitas antibiotik.
> Amphicilin 0,5 gram per kg makanan ikan untuk 2 hari.
> Oxytetracycline 0,5 gram per kg makanan ikan untuk 7 hari.
> Erythromycin estolate 1,0 gram per kg makanan untuk 5 hari.
Dapat juga menggunakan penicilin 3.000 unit per kg berat ikan yang disuntik secara intramascullar.
6. Virus
` Virus adalah patogen yang paling kecil. Ukurannya lebih kecil dari seperduapuluh kali besarnya bakteri. Virus menyerang mahluk hidup, berkembangbiak di dalam organisme inang dan pada saat itulah dia akan menyebabkan kerusakan ataupun penyakit pada organisme inang.
Virus sangat tahan terhadap segala jenis obat-obatan. Oleh karena itu, pemberantasan penyakit yang disebabkan oleh virus lebih ditekankan kepada upaya pencegahan dan membatasi penularannya. Salah satu virus yang telah diketahui menyerang ikan pada budidaya di laut adalah penyakit Symphocystis.
Penyakit Lymphocystis disebabkan oleh serangan virus yang termasuk famili Iridovirus.
Virus Lymphocytis berbentuk partikel berbidang banyak dengan sekitar 0,13 - 0,26 mikron. Terdiri dari inti DNA yang dibungkus oleh lapisan protein.
Infeksi pada ikan yang terserang menyebabkan tumbuhnya sel jaringan. Sel yang dikenal menyebabkan tumbuhnya sel jaringan. Sel yang dikenal dengan nama Lymphocystis menyerupai butiran sagu. Kelompok dari sel tersebut membentuk tumor pada kulit dan sirip.
Ikan kakap putih merupakan ikan yang sangat rawan terhadap serangan virus ini. Virus ini juga terbukti sangat mudah menular dengan menggunakan air sebagai media penularannya. Oleh karena itu, ikan yang terserang harus segera dipindahkan dan dipisahkan dari ikan yang sehat.
Pada dasarnya, penyakit yang diakibatkan virus belum dapat ditanggulangi secara pasti. Namun demikian pencegahan dapat dilakukan dengan jalan vaksinasi dengan obat antibiotik. Masalahnya adalah hingga saat ini, obat/vaksinasi untuk penyakit ini belum tersedia atau sulit didapatkan di pasaran.
Referensi : http://bisnis06.weebly.com/3/category/all/1.html
Rabu, 07 Maret 2018
Selasa, 06 Maret 2018
JENIS - JENIS IKAN AIR TAWAR
Ikan jenis air tawar terdiri dari ikan yang sangat mudah dipelihara dan diperbanyak. Pemeliharaan ini dapat memberi keuntungan kepada petani ikan. semula jenis-jenis ikan ini liar tetapi kemudian dapat dijinakkan setelah diketahui sifat sifat serta keadaan lingkungan hidup yang dikehendaki, beberapa jenis ikan air tawar antara lain adalah :
Ikan Mujair (Tilapia Mosambica)
Ikan mujair dapat dipelihara dengan mudah Ikan ini dapat hidup di air tawar dan di air payau berkembang biaknya dapat dikatakan sangat cepat akan tetapi kurang baik dipelihara dicampurkan dengan jenis ikan air tawar yang lain karena akan menghabiskan makanan untuk ikan-ikan yang lain telurnya ditetaskan dalam mulutnya yang kemudian disemburkan kemana-mana. Ikan mujair ini termasuk jenis ikan pemakan segala makanan jadi sangat baik dipelihara dikolam yang airnya banyak mengandung kotoran.
Ikan mujair adalah hewan bertulang belakang yang hidup di air dan bernafas dengan insang kemudian Ikan ini mempunyai sirip yang berfungsi untuk berenang dan tubuh yang ramping sangat mudah untuk bergerak di dalam air. Secara umum ciri-ciri memiliki bentuk tubuh adalah pipih, bentuk mulut ikan mujair agak besar dan mempunyai gigi yang halus, sirip dada dan sirip perut berwarna hitam kemerahan, sirip pungung berduri tajam dan keras, Sirip dapat menentukan arah gerak didalam air, memiliki gurat sisi untuk mengetahui tekanan air, memiliki suhu badan poikiloterm atau berdarah dingin yaitu suhu badan disesuaikan dengan lingkungan dan berkembangbiak dengan cara bertelur atau ovipar, panjang ikan mujair biasanya 2-3 kali badannya.
Sirip merupakan alat yang befungsi untuk mengatur kedudukan dan gerakan serta arah gerakan maupun menjaga keseimbangan pada posisi diam, sirip sangat berhubungan dengan bentuk tubuh secara keseluruhan masing-masing sirip dikontrol oleh serangkaian otot dan didukung pada bagian internal oleh sejumlah jari-jari tulang rawan atau tulang keras.
Ikan Tawes (Puntius Javanicus)
Sama halnya dengan ikan mujair ikan ini dapat pula hidup di air tawar atau di air payau makanan berupa plankton atau tumbuhan kecil yang terdapat dalam kolam tempat pemeliharaannya. Disungai-sungai masih banyak ikan tawes yang hidup tanpa dipelihara jenis ikan inipun dapat berkembang biak dengan cepat dan pemeliharaannya dapat disatukan dengan jenis ikan yang lain misalnya ikan mas atau nilem karena warna ikan ini putih kadang-kadang disebut ikan putihan, ikan tawes yang hidup bebas di sungai-sungai berpijah pada awal musim penghujan sedangkan yang telah dipelihara dikolam-kolam bisa berpijah setiap saat.
Ikan tawes termasuk ke dalam family Cyprinidae seperti ikan mas dan ikan nilem bentuk badan agak panjang dan pipih dengan punggung meninggi, kepala kecil, moncong meruncing, mulut kecil terletak pada ujung hidung, sungut sangat kecil. Di bawah garis rusuk terdapat sisik 5½ buah dan 3½ buah diantara garis rusuk dan permulaan sirip perut. Garis rusuknya sempurna berjumlah antara 29-31 buah. Badan berwarna keperakan agak gelap di bagian punggung pada mocong terdapat tonjolan-tonjolan yang sangat kecil. Sirip punggung dan sirip ekor berwarna abu-abu atau kekuningan dan sirip ekor bercagak dalam dengan lobus membulat, sirip dada berwarna kuning dan sirip dubur berwarna orange terang sirip dubur mempunyai 6½ jari-jari bercabang (Kottelat et al,1993).
Ikan Tambakan (Helastoma Temmineki).
punggung ditumbuhi duri-duri, bentuk badannya gepeng, ikan jenis ini sangat baik untuk dipelihara di kolam yang banyak diganggu ular pemakan ikan. Makanan ikan jenis ini berupa lumut-lumut halus sekali. Induknya dapat menghasilkan bibit yang banyak hanya saja ia bertelur pada masa-masa tertentu.
Ikan Tambakan (Helostoma temmincki) Bentuk mulut proctractile yaitu mullut dapat disembulkan, celah mulut horizintal sangat kecil, rahang atas dan bawah sama, bibir tebal dan mempunyai deretan gigi yang ujungnya tajam (Susanto, 1997). Ikan tambakan menyukai keadaan yang sedikit agak hangat yang biasanya terletak pada ketinggian 150-750 m dari permukaan laut. Kisaran temperatur 25-30 °C dan pH netral (Susanto, 1984).
Ikan Mas ( Cyprinus Carpic).
jenis ini banyak sekali dipelihara di sawah dan dikolam Dapat hidup didaerah dataran rendah ataupun dataran tinggi hidupnya terutama dari makanan berupa cacing-cacing dan bermacam-macam binatang air yang kecil juga senang pada dedak, ampas dan sebagainya.
Secara umum ikan mas memiliki bentuk tubuh yang agak memanjang dan sedikit memipih ke samping tipe mulut terminal dapat disembulkan, terdapat dua pasang sungut dan tidak bergerigi di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang terbentuk atas tiga baris gigi geraham. Tipe sisik pada ikan ini adalah lingkaran (cycloid) yang terletak beraturan garis rusuk (linea lateralis) yang lengkap terletak di tengah tubuh dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor (Lentera 2004).
Hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik kecuali pada beberapa varietas yang hanya memiliki sedikit sisik. Sisik ikan mas berukuran besar dan digolongkan ke dalam sisik tipe sikloid (lingkaran). Sirip punggungnya (dorsal) memanjang dengan bagian belakang berjari keras dan di bagian akhir (sirip ketiga dan keempat) bergerigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sisip perut (ventral). Sirip duburnya (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung yaitu berjari keras dan bagian akhirnya bergerigi. garis rusuknya (linea lateralis atau gurat sisi) tergolong lengkap berada di pertengahan tubuh dengan bentuk melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Ikan mas tergolong ikan air tawar namun ikan ini terkadang dapat ditemukan di perairan payau atau di muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-300/00.
Ikan Gurami (Osphoronemus Goramy)
jenis ikan ini hidup dari makanan berupa daun-daun ubi kayu, pepaya, talas ubi jalar dan sebgainya juga senang terhadap rayap dan binatang air kecil lainnya. Jenis ikan ini agak lambat pertumbuhannya mereka membuat sarang dari rumput-rumputan, sabut dan sebagainya.
Ikan yang lebar dan pipih panjang tubuh (SL, standard length) 2,0-2,1 kali tinggi tubuh panjang tubuh total (dengan sirip ekor) bisa mencapai 1.000 mm. Sirip perut dengan jari-jari pertama yang pendek berupa duri dan jari-jari kedua yang lentur panjang serupa cambuk. Rumus sirip punggung (dorsal) XI-XIV (jari-jari keras atau duri) dan 12-14 (jari-jari lunak) sementara sirip dubur (anal) X-XI dan 20-23. Ikan yang muda memiliki moncong yang meruncing, dengan 8-10 pita melintang (belang) di tubuhnya. Jika beranjak dewasa warna-warna ini memudar dan kepala ikan akan membengkak secara tidak teratur.
Ikan Nilem (Osteochilus Hasellti)
Jenis ikan ini mudah berkembang biak pada kolam atau sawah yang airnya selalu mengalir lebih disukai air yang jernih, makanannya berupa lumut-lumut halus. Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan endemik (asli) Indonesia yang hidup di sungai-sungai dan rawa-rawa. Ciri-ciri ikan nilem hampir serupa dengan ikan mas ciri-cirinya yaitu pada sudut-sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut-sungut peraba. Sirip punggung disokong oleh tiga jari-jari keras dan 12-18 jari-jari lunak. Sirip ekor berjagak dua bentuknya simetris sirip dubur disokong oleh 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak, irip perut disokong oleh 1 jari-jari keras dan 13-15 jari-jari lunak. Jumlah sisik-sisik gurat sisi ada 33-36 keping, bentuk tubuh ikan nilem agak memenjang dan piph ujung mulut runcing dengan moncong (rostral) terlipat serta bintik hitam besar pada ekornya merupakan ciri utama ikan nilem. Ikan ini termasuk kelompok omnivora makanannya berupa ganggang penempel yang disebut epifition dan perifition (Djuhanda, 1985).
Ikan Sepat Siam ( Trichogaster Pectoralis )
adalah jenis ikan rawa yang enak rasa dagingnya oleh karena itu banyak dijadikan ikan kering dan dijual dipasar-pasar. Makanannya berupa plankton-plankton dan tumbuhan air yang kecil-kecil jenis ikan ini suka membuat sarang busa disekitar tumbuh-tumbuhan air. Karena itu ia sangat senang hidup dirawa-rawa yang banyak tumbuhan.
Sepat siam (Trichogaster pectoralis) adalah sejenis ikan air tawar anggota suku gurami (Osphronemidae) di Jawa Timur ia juga dikenal dengan nama sliper. Dalam bahasa Inggris disebut Siamese gourami (Siam adalah nama lama Thailand) atau snake-skin gouramy merujuk pada pola warna belang-belang di sisi tubuhnya. Ikan rawa yang bertubuh sedang panjang total mencapai 25 cm lebar, pipih, dengan mulut agak meruncing.
Sirip-sirip punggung (dorsal) ekor, sirip dada dan sirip dubur berwarna gelap sepasang jari-jari terdepan pada sirip perut berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk atau pecut yang memanjang hingga ke ekornya dilengkapi oleh sepasang duri dan 2-3 jumbai pendek. Rumus sirip punggungnya VII (jari-jari keras atau duri) dan 10–11 (jari-jari lunak) dan sirip anal IX-XI, 36–38.
Ikan yang liar biasanya berwarna perak kusam kehitaman sampai agak kehijauan pada hampir seluruh tubuhnya. Terkadang sisi tubuh bagian belakang nampak agak terang berbelang-belang miring sejalur bintik besar kehitaman yang hanya terlihat pada individu berwarna terang terdapat di sisi tubuh mulai dari belakang mata hingga ke pangkal ekor.
Ikan Gabus (Channa striata)
Ikan Gabus (Channa striata) merupakan ikan liar tawar yang potensial di dosmestikasi ikan ini sejak lama dikenal sebagai ikan kosumsi yang cukup populer di semua pasar (Cahyono, 2000). Djuhanda (1981) mendeskripsikan Ikan Gabus ( Channa striata) memiliki bentuk tubuh hampir bulat panjang makin kebelakang makin menjadi gepeng. Punggungnya cembung, perutnya rata, sirip punggung lebih panjang dari sirip dubur, sirip yang pertama disokong oleh 38-45 jari-jari lunak, sirip yang disebut belakangan disokong oleh 23-27 jari-jari sirip dada lebar dengan ujung membulat disokong oleh 15-17 jari-jari lunak. Gurat sisi ada 52-57 keping, panjang tubuhnya dapat mencapai 100 cm.
Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh pipih ke arah vertikal (kompres) dengan profil empat persegi panjang ke arah anterior posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad pada rahang terdapat bercak kehitaman. Ujung sirip punggung nila lebih panjang daripada pangkal ekornya dan bibir relatif lebih tebal perut berwarna putih dan tubuh relatif lebih tinggi sisik di bawah dagu lebih cerah. Ujung sirip punggung lurus dengan pangkal ekor perut mengembung dan dagu tidak menonjol. Sirip-sirip pada ikan umumnya ada yang berpasangan dan ada yang tidak. Sirip punggung, sirip ekor dan sirip dubur disebut sirip tunggal atau sirip tidak berpasangan sirip dada dan sirip perut disebut sirip berpasangan. Macam-macam sirip ekor dapat dibedakan berdasarkan bentuk sirip tersebut bentuk sirip ekor ikan ada yang simetris apabila lembar sirip ekor bagian dorsal sama besar dan sama bentuk dengan lembar bagian ventral ada pula bentuk sirip ekor yang asimetris yaitu bentuk kebalikannya.
Bentuk-bentuk sirip ekor yang simetris yaitu bentuk-bentuk utama sirip ekor membulat, bersegi, sedikit cekung atau berlekuk tunggal, bulan sabit, bercagak, meruncing, lanset, pada Nila (Oreochromis niloticus) memiliki sirip berbentuk bersegi. Bentuk dan ukuran serta jumlah sisik ikan dapat memberikan gambaran bagaimana kehidupan ikan tersebut sisik ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka macam yaitu sisik ganoid merupakan sisik besar dan kasar, sisik sikloid dan stenoid merupakan sisik yang kecil, tipis atau ringan hingga sisik placoid merupakan sisik yang lembut. Umumnya tipe ikan perenang cepat atau secara terus menerus bergerak pada perairan berarus deras mempunyai tipe sisik yang lembut sedangkan ikan-ikan yang hidup di perairan yang tenang dan tidak berenang secara terus menerus pada kecepatan tinggi umumnya mempunyai tipe sisik yang kasar. Sisik sikloid berbentuk bulat pinggiran sisik halus dan rata sementara sisik stenoid mempunyai bentuk seperti sikloid tetapi mempunyai pinggiran yang kasar pada ikan nila mempunyai sisik ganoid yang besar dan kasar.
Bentuk, ukuran dan letak mulut ikan dapat menggambarkan habitat ikan tersebut ikan-ikan yang berada di bagian dasar mempunyai bentuk mulut yang subterminal sedangkan ikan ikan pelagik dan ikan pada umumnya mempunyai bentuk mulut yang terminal. Ikan pemakan plankton mempunyai mulut yang kecil dan umumnya tidak dapat ditonjolkan keluar. Pada rongga mulut bagian dalam biasanya dilengkapi dengan jari-jari insang yang panjang dan lemas untuk menyaring plankton. Umumnya mulut ikan pemakan plankton tidak mempunyai gigi ukuran mulut ikan berhubungan langsung dengan ukuran makanannya. Ikan-ikan yang memakan invertebrata kecil mempunyai mulut yang dilengkapi dengan moncong atau bibir yang panjang ikan dengan mangsa berukuran besar mempunyai lingkaran mulut yang fleksibel.
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell)
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) memiliki morfologi yang mirip dengan lele lokal (Clarias batrachus). Bentuk tubuh memanjang, agak bulat, kepala gepeng dan batok kepalanya keras, tidak bersisik dan berkulit licin, mulut besar, warna kulit badannya terdapat bercak-bercak kelabu seperti jamur kulit manusia (panu). Ikan lele dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish.8 Ciri-ciri morfologis lele dumbo lainnya adalah sungutnya. Sungut berada di sekitar mulut berjumlah delapan buah atau 4 pasang terdiri dari sungut nasal dua buah, sungut mandibular luar dua buah, mandibular dalam dua buah, serta sungut maxilar dua buah. Ikan lele mengenal mangsanya dengan alat penciuman, lele dumbo juga dapat mengenal dan menemukan makanan dengan cara rabaan (tentakel) dengan menggerak-gerakan salah satu sungutnya terutama mandibular (Santoso, 1994). Lele dumbo mempunyai lima buah sirip yang terdiri dari sirip pasangan (ganda) dan sirip tunggal. Sirip yang berpasangan adalah sirip dada (pectoral) dan sirip perut (ventral), sedangkan yang tunggal adalah sirip punggung (dorsal), ekor (caudal) serta sirip dubur (anal). Sirip dada ikan lele dumbo dilengkapi dengan patil atau taji tidak beracun. Patil lele dumbo lebih pendek dan tumpul bila dibandingkan dengan lele lokal (Santoso, 1994).
Ikan Patin (Pangasius)
Ikan patin Secara anatomi ikan ini memiliki bentuk tubuh memanjang dan agak pipih tubuh dominan berwarna putih seperti perak sedangkan bagian punggung berwarna kebiru–biruan. Patin memiliki tubuh yang licin tanpa sisik (Amri & Khairuman 2008). Secara umum tubuh ikan patin terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, badan dan ekor. Kepala ikan ini relatif kecil jika dibandingkan dengan ukuran badannya bentuk kepalanya agak pipih dengan batok kepala yang keras, mata dan hidung memiliki ukuran yang kecil. Mulutnya memiliki celah yang lebar dengan dua pasang sungut atau kumis pada bagian maksila dan mandibula. Sungut ini merupakan ciri khas catfish (ikan berkumis seperti kucing) yang berfungsi sebagai indra peraba saat berenang dan alat pencari pakan di dalam rongga mulut ikan ini memiliki gigi palatin yang terpisah dari tulang vomer. Penutup insang pada bagian kiri dan kanan kepalanya tidak terlalu besar sehingga tidak menutupi seluruh bagian kepala (Dewi 2011). Sama halnya dengan ikan–ikan lainnya ikan patin memiliki berbagai bentuk sirip di beberapa bagian tubuhnya. Sirip pada bagian punggung berupa jari–jari keras yang berubah menjadi patil yang bergigi dan besar di sebelah belakangnya. Jari-jari lunak pada sirip punggungnya terdapat 6-7 buah. Selain jari-jari keras dan lunak pada bagian punggungnya terdapat juga sirip lunak yang berukuran kecil sekali. Sirip ekor berbentuk simetris pada daerah sekitar dubur terdapat sirip yang agak panjang terdiri dari 30-33 jari-jari lunak. Sirip di bagian perut memiliki 6 jari-jari lunak pada bagian dadanya ikan ini memiliki sirip dengan 12-13 jari-jari lunak dengan sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi patil pada bagian ekor terdapat sirip yang bercagak dan bentuknya simetris (Dewi, 2011).
Ikan Mujair (Tilapia Mosambica)
Ikan mujair dapat dipelihara dengan mudah Ikan ini dapat hidup di air tawar dan di air payau berkembang biaknya dapat dikatakan sangat cepat akan tetapi kurang baik dipelihara dicampurkan dengan jenis ikan air tawar yang lain karena akan menghabiskan makanan untuk ikan-ikan yang lain telurnya ditetaskan dalam mulutnya yang kemudian disemburkan kemana-mana. Ikan mujair ini termasuk jenis ikan pemakan segala makanan jadi sangat baik dipelihara dikolam yang airnya banyak mengandung kotoran.
Ikan mujair adalah hewan bertulang belakang yang hidup di air dan bernafas dengan insang kemudian Ikan ini mempunyai sirip yang berfungsi untuk berenang dan tubuh yang ramping sangat mudah untuk bergerak di dalam air. Secara umum ciri-ciri memiliki bentuk tubuh adalah pipih, bentuk mulut ikan mujair agak besar dan mempunyai gigi yang halus, sirip dada dan sirip perut berwarna hitam kemerahan, sirip pungung berduri tajam dan keras, Sirip dapat menentukan arah gerak didalam air, memiliki gurat sisi untuk mengetahui tekanan air, memiliki suhu badan poikiloterm atau berdarah dingin yaitu suhu badan disesuaikan dengan lingkungan dan berkembangbiak dengan cara bertelur atau ovipar, panjang ikan mujair biasanya 2-3 kali badannya.
Sirip merupakan alat yang befungsi untuk mengatur kedudukan dan gerakan serta arah gerakan maupun menjaga keseimbangan pada posisi diam, sirip sangat berhubungan dengan bentuk tubuh secara keseluruhan masing-masing sirip dikontrol oleh serangkaian otot dan didukung pada bagian internal oleh sejumlah jari-jari tulang rawan atau tulang keras.
Ikan Tawes (Puntius Javanicus)
Sama halnya dengan ikan mujair ikan ini dapat pula hidup di air tawar atau di air payau makanan berupa plankton atau tumbuhan kecil yang terdapat dalam kolam tempat pemeliharaannya. Disungai-sungai masih banyak ikan tawes yang hidup tanpa dipelihara jenis ikan inipun dapat berkembang biak dengan cepat dan pemeliharaannya dapat disatukan dengan jenis ikan yang lain misalnya ikan mas atau nilem karena warna ikan ini putih kadang-kadang disebut ikan putihan, ikan tawes yang hidup bebas di sungai-sungai berpijah pada awal musim penghujan sedangkan yang telah dipelihara dikolam-kolam bisa berpijah setiap saat.
Ikan tawes termasuk ke dalam family Cyprinidae seperti ikan mas dan ikan nilem bentuk badan agak panjang dan pipih dengan punggung meninggi, kepala kecil, moncong meruncing, mulut kecil terletak pada ujung hidung, sungut sangat kecil. Di bawah garis rusuk terdapat sisik 5½ buah dan 3½ buah diantara garis rusuk dan permulaan sirip perut. Garis rusuknya sempurna berjumlah antara 29-31 buah. Badan berwarna keperakan agak gelap di bagian punggung pada mocong terdapat tonjolan-tonjolan yang sangat kecil. Sirip punggung dan sirip ekor berwarna abu-abu atau kekuningan dan sirip ekor bercagak dalam dengan lobus membulat, sirip dada berwarna kuning dan sirip dubur berwarna orange terang sirip dubur mempunyai 6½ jari-jari bercabang (Kottelat et al,1993).
Ikan Tambakan (Helastoma Temmineki).
punggung ditumbuhi duri-duri, bentuk badannya gepeng, ikan jenis ini sangat baik untuk dipelihara di kolam yang banyak diganggu ular pemakan ikan. Makanan ikan jenis ini berupa lumut-lumut halus sekali. Induknya dapat menghasilkan bibit yang banyak hanya saja ia bertelur pada masa-masa tertentu.
Ikan Tambakan (Helostoma temmincki) Bentuk mulut proctractile yaitu mullut dapat disembulkan, celah mulut horizintal sangat kecil, rahang atas dan bawah sama, bibir tebal dan mempunyai deretan gigi yang ujungnya tajam (Susanto, 1997). Ikan tambakan menyukai keadaan yang sedikit agak hangat yang biasanya terletak pada ketinggian 150-750 m dari permukaan laut. Kisaran temperatur 25-30 °C dan pH netral (Susanto, 1984).
Ikan Mas ( Cyprinus Carpic).
jenis ini banyak sekali dipelihara di sawah dan dikolam Dapat hidup didaerah dataran rendah ataupun dataran tinggi hidupnya terutama dari makanan berupa cacing-cacing dan bermacam-macam binatang air yang kecil juga senang pada dedak, ampas dan sebagainya.
Secara umum ikan mas memiliki bentuk tubuh yang agak memanjang dan sedikit memipih ke samping tipe mulut terminal dapat disembulkan, terdapat dua pasang sungut dan tidak bergerigi di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang terbentuk atas tiga baris gigi geraham. Tipe sisik pada ikan ini adalah lingkaran (cycloid) yang terletak beraturan garis rusuk (linea lateralis) yang lengkap terletak di tengah tubuh dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor (Lentera 2004).
Hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik kecuali pada beberapa varietas yang hanya memiliki sedikit sisik. Sisik ikan mas berukuran besar dan digolongkan ke dalam sisik tipe sikloid (lingkaran). Sirip punggungnya (dorsal) memanjang dengan bagian belakang berjari keras dan di bagian akhir (sirip ketiga dan keempat) bergerigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sisip perut (ventral). Sirip duburnya (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung yaitu berjari keras dan bagian akhirnya bergerigi. garis rusuknya (linea lateralis atau gurat sisi) tergolong lengkap berada di pertengahan tubuh dengan bentuk melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Ikan mas tergolong ikan air tawar namun ikan ini terkadang dapat ditemukan di perairan payau atau di muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-300/00.
Ikan Gurami (Osphoronemus Goramy)
jenis ikan ini hidup dari makanan berupa daun-daun ubi kayu, pepaya, talas ubi jalar dan sebgainya juga senang terhadap rayap dan binatang air kecil lainnya. Jenis ikan ini agak lambat pertumbuhannya mereka membuat sarang dari rumput-rumputan, sabut dan sebagainya.
Ikan yang lebar dan pipih panjang tubuh (SL, standard length) 2,0-2,1 kali tinggi tubuh panjang tubuh total (dengan sirip ekor) bisa mencapai 1.000 mm. Sirip perut dengan jari-jari pertama yang pendek berupa duri dan jari-jari kedua yang lentur panjang serupa cambuk. Rumus sirip punggung (dorsal) XI-XIV (jari-jari keras atau duri) dan 12-14 (jari-jari lunak) sementara sirip dubur (anal) X-XI dan 20-23. Ikan yang muda memiliki moncong yang meruncing, dengan 8-10 pita melintang (belang) di tubuhnya. Jika beranjak dewasa warna-warna ini memudar dan kepala ikan akan membengkak secara tidak teratur.
Ikan Nilem (Osteochilus Hasellti)
Jenis ikan ini mudah berkembang biak pada kolam atau sawah yang airnya selalu mengalir lebih disukai air yang jernih, makanannya berupa lumut-lumut halus. Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan endemik (asli) Indonesia yang hidup di sungai-sungai dan rawa-rawa. Ciri-ciri ikan nilem hampir serupa dengan ikan mas ciri-cirinya yaitu pada sudut-sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut-sungut peraba. Sirip punggung disokong oleh tiga jari-jari keras dan 12-18 jari-jari lunak. Sirip ekor berjagak dua bentuknya simetris sirip dubur disokong oleh 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak, irip perut disokong oleh 1 jari-jari keras dan 13-15 jari-jari lunak. Jumlah sisik-sisik gurat sisi ada 33-36 keping, bentuk tubuh ikan nilem agak memenjang dan piph ujung mulut runcing dengan moncong (rostral) terlipat serta bintik hitam besar pada ekornya merupakan ciri utama ikan nilem. Ikan ini termasuk kelompok omnivora makanannya berupa ganggang penempel yang disebut epifition dan perifition (Djuhanda, 1985).
Ikan Sepat Siam ( Trichogaster Pectoralis )
adalah jenis ikan rawa yang enak rasa dagingnya oleh karena itu banyak dijadikan ikan kering dan dijual dipasar-pasar. Makanannya berupa plankton-plankton dan tumbuhan air yang kecil-kecil jenis ikan ini suka membuat sarang busa disekitar tumbuh-tumbuhan air. Karena itu ia sangat senang hidup dirawa-rawa yang banyak tumbuhan.
Sepat siam (Trichogaster pectoralis) adalah sejenis ikan air tawar anggota suku gurami (Osphronemidae) di Jawa Timur ia juga dikenal dengan nama sliper. Dalam bahasa Inggris disebut Siamese gourami (Siam adalah nama lama Thailand) atau snake-skin gouramy merujuk pada pola warna belang-belang di sisi tubuhnya. Ikan rawa yang bertubuh sedang panjang total mencapai 25 cm lebar, pipih, dengan mulut agak meruncing.
Sirip-sirip punggung (dorsal) ekor, sirip dada dan sirip dubur berwarna gelap sepasang jari-jari terdepan pada sirip perut berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk atau pecut yang memanjang hingga ke ekornya dilengkapi oleh sepasang duri dan 2-3 jumbai pendek. Rumus sirip punggungnya VII (jari-jari keras atau duri) dan 10–11 (jari-jari lunak) dan sirip anal IX-XI, 36–38.
Ikan yang liar biasanya berwarna perak kusam kehitaman sampai agak kehijauan pada hampir seluruh tubuhnya. Terkadang sisi tubuh bagian belakang nampak agak terang berbelang-belang miring sejalur bintik besar kehitaman yang hanya terlihat pada individu berwarna terang terdapat di sisi tubuh mulai dari belakang mata hingga ke pangkal ekor.
Ikan Gabus (Channa striata)
Ikan Gabus (Channa striata) merupakan ikan liar tawar yang potensial di dosmestikasi ikan ini sejak lama dikenal sebagai ikan kosumsi yang cukup populer di semua pasar (Cahyono, 2000). Djuhanda (1981) mendeskripsikan Ikan Gabus ( Channa striata) memiliki bentuk tubuh hampir bulat panjang makin kebelakang makin menjadi gepeng. Punggungnya cembung, perutnya rata, sirip punggung lebih panjang dari sirip dubur, sirip yang pertama disokong oleh 38-45 jari-jari lunak, sirip yang disebut belakangan disokong oleh 23-27 jari-jari sirip dada lebar dengan ujung membulat disokong oleh 15-17 jari-jari lunak. Gurat sisi ada 52-57 keping, panjang tubuhnya dapat mencapai 100 cm.
Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh pipih ke arah vertikal (kompres) dengan profil empat persegi panjang ke arah anterior posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad pada rahang terdapat bercak kehitaman. Ujung sirip punggung nila lebih panjang daripada pangkal ekornya dan bibir relatif lebih tebal perut berwarna putih dan tubuh relatif lebih tinggi sisik di bawah dagu lebih cerah. Ujung sirip punggung lurus dengan pangkal ekor perut mengembung dan dagu tidak menonjol. Sirip-sirip pada ikan umumnya ada yang berpasangan dan ada yang tidak. Sirip punggung, sirip ekor dan sirip dubur disebut sirip tunggal atau sirip tidak berpasangan sirip dada dan sirip perut disebut sirip berpasangan. Macam-macam sirip ekor dapat dibedakan berdasarkan bentuk sirip tersebut bentuk sirip ekor ikan ada yang simetris apabila lembar sirip ekor bagian dorsal sama besar dan sama bentuk dengan lembar bagian ventral ada pula bentuk sirip ekor yang asimetris yaitu bentuk kebalikannya.
Bentuk-bentuk sirip ekor yang simetris yaitu bentuk-bentuk utama sirip ekor membulat, bersegi, sedikit cekung atau berlekuk tunggal, bulan sabit, bercagak, meruncing, lanset, pada Nila (Oreochromis niloticus) memiliki sirip berbentuk bersegi. Bentuk dan ukuran serta jumlah sisik ikan dapat memberikan gambaran bagaimana kehidupan ikan tersebut sisik ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka macam yaitu sisik ganoid merupakan sisik besar dan kasar, sisik sikloid dan stenoid merupakan sisik yang kecil, tipis atau ringan hingga sisik placoid merupakan sisik yang lembut. Umumnya tipe ikan perenang cepat atau secara terus menerus bergerak pada perairan berarus deras mempunyai tipe sisik yang lembut sedangkan ikan-ikan yang hidup di perairan yang tenang dan tidak berenang secara terus menerus pada kecepatan tinggi umumnya mempunyai tipe sisik yang kasar. Sisik sikloid berbentuk bulat pinggiran sisik halus dan rata sementara sisik stenoid mempunyai bentuk seperti sikloid tetapi mempunyai pinggiran yang kasar pada ikan nila mempunyai sisik ganoid yang besar dan kasar.
Bentuk, ukuran dan letak mulut ikan dapat menggambarkan habitat ikan tersebut ikan-ikan yang berada di bagian dasar mempunyai bentuk mulut yang subterminal sedangkan ikan ikan pelagik dan ikan pada umumnya mempunyai bentuk mulut yang terminal. Ikan pemakan plankton mempunyai mulut yang kecil dan umumnya tidak dapat ditonjolkan keluar. Pada rongga mulut bagian dalam biasanya dilengkapi dengan jari-jari insang yang panjang dan lemas untuk menyaring plankton. Umumnya mulut ikan pemakan plankton tidak mempunyai gigi ukuran mulut ikan berhubungan langsung dengan ukuran makanannya. Ikan-ikan yang memakan invertebrata kecil mempunyai mulut yang dilengkapi dengan moncong atau bibir yang panjang ikan dengan mangsa berukuran besar mempunyai lingkaran mulut yang fleksibel.
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell)
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) memiliki morfologi yang mirip dengan lele lokal (Clarias batrachus). Bentuk tubuh memanjang, agak bulat, kepala gepeng dan batok kepalanya keras, tidak bersisik dan berkulit licin, mulut besar, warna kulit badannya terdapat bercak-bercak kelabu seperti jamur kulit manusia (panu). Ikan lele dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish.8 Ciri-ciri morfologis lele dumbo lainnya adalah sungutnya. Sungut berada di sekitar mulut berjumlah delapan buah atau 4 pasang terdiri dari sungut nasal dua buah, sungut mandibular luar dua buah, mandibular dalam dua buah, serta sungut maxilar dua buah. Ikan lele mengenal mangsanya dengan alat penciuman, lele dumbo juga dapat mengenal dan menemukan makanan dengan cara rabaan (tentakel) dengan menggerak-gerakan salah satu sungutnya terutama mandibular (Santoso, 1994). Lele dumbo mempunyai lima buah sirip yang terdiri dari sirip pasangan (ganda) dan sirip tunggal. Sirip yang berpasangan adalah sirip dada (pectoral) dan sirip perut (ventral), sedangkan yang tunggal adalah sirip punggung (dorsal), ekor (caudal) serta sirip dubur (anal). Sirip dada ikan lele dumbo dilengkapi dengan patil atau taji tidak beracun. Patil lele dumbo lebih pendek dan tumpul bila dibandingkan dengan lele lokal (Santoso, 1994).
Ikan Patin (Pangasius)
Ikan patin Secara anatomi ikan ini memiliki bentuk tubuh memanjang dan agak pipih tubuh dominan berwarna putih seperti perak sedangkan bagian punggung berwarna kebiru–biruan. Patin memiliki tubuh yang licin tanpa sisik (Amri & Khairuman 2008). Secara umum tubuh ikan patin terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, badan dan ekor. Kepala ikan ini relatif kecil jika dibandingkan dengan ukuran badannya bentuk kepalanya agak pipih dengan batok kepala yang keras, mata dan hidung memiliki ukuran yang kecil. Mulutnya memiliki celah yang lebar dengan dua pasang sungut atau kumis pada bagian maksila dan mandibula. Sungut ini merupakan ciri khas catfish (ikan berkumis seperti kucing) yang berfungsi sebagai indra peraba saat berenang dan alat pencari pakan di dalam rongga mulut ikan ini memiliki gigi palatin yang terpisah dari tulang vomer. Penutup insang pada bagian kiri dan kanan kepalanya tidak terlalu besar sehingga tidak menutupi seluruh bagian kepala (Dewi 2011). Sama halnya dengan ikan–ikan lainnya ikan patin memiliki berbagai bentuk sirip di beberapa bagian tubuhnya. Sirip pada bagian punggung berupa jari–jari keras yang berubah menjadi patil yang bergigi dan besar di sebelah belakangnya. Jari-jari lunak pada sirip punggungnya terdapat 6-7 buah. Selain jari-jari keras dan lunak pada bagian punggungnya terdapat juga sirip lunak yang berukuran kecil sekali. Sirip ekor berbentuk simetris pada daerah sekitar dubur terdapat sirip yang agak panjang terdiri dari 30-33 jari-jari lunak. Sirip di bagian perut memiliki 6 jari-jari lunak pada bagian dadanya ikan ini memiliki sirip dengan 12-13 jari-jari lunak dengan sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi patil pada bagian ekor terdapat sirip yang bercagak dan bentuknya simetris (Dewi, 2011).
SISTEM PENCERNAAN IKAN
Uraian Sistem Pencernaan Pada Ikan (Lengkap) – Ikan merupakan kelompok hewan vertebrata yang hidup di air, baik air tawar, asin atau payau. Terdapat ikat herbivora yakni yan memakan alga atau autotrof lainnya; dan ikan karnivora yang merupakan predator perairan. Ikan memiliki sistem pencernaan untuk menghancurkan senyawa kompleks dalam makanan menjadi senyawa yang sederhana agar dapat diserap oleh tubuh dan kemudian diedarkan ke seluruh sel untuk proses pertumbuhan dan perkembangan. Sistem pencernaan yang dimiliki ikan pada umumnya memiliki kesamaan dengan sistem yang dimiliki oleh vertebrata daratan, hanya saja akan ada beberapa variasi organ yang dimiliki oleh ikan. sistem pencernaan ikan terdiri atas saluran dan kelenjar pencernaan. Berikut uraian lengkap mengenai sistem pencernaan pada ikan.
SISTEM PERNAFASAN
Organ penting ang berperan dalam sistim pernafasan ikan adalah insang juga berfungsi sebagai mengatur pertukaran air dan garam dan melepas nitrogen sisa hasil metabolisme. Pertukaran oksigen adalah tujuan utama dari respirasi ikan. Proses fisiologis pengambilan oksigen dari air jauh lebih sulit daripada mengeluarkan oksigen dari udara. Air sekitar 800 kali lebih padat daripada udara dan mengandung oksigen hanya sekitar 3%. Sedangkan udara mengandung sekitar 20% oksigen.
Proses respirasi memakan energi cukup tinggi dan sistem hanya bekerja dengan baik jika ikan dalam kondisi fisik yang baik, dan lingkungan mengandung oksigen terlarut yang memadai. Luas permukaan insang hanya sekitar 6-10 kali lebih besar dari luas permukaan seluruh tubuh. Areal ini relatif kecil dibandingkan dengan paru-paru sebagai organ pertukaran. Sebaliknya, permukaan paru-paru bisa 100 kali lebih besar dari permukaan tubuh mamalia. Pertukaran gas terjadi di lamellae sekunder dari insang dan sangat efisien. Efisiensi ini dicapai dengan aliran lawan arus air dan darah. Darah vena miskin oksigen bergerak berlawanan dengan aliran air yang relatif kaya oksigen. Dalam mekanisme ini, air harus mengalir terus-menerus melalui insang untuk menjaga respirasi efektif.
Sekitar 80% dari oksigen lingkungan dilepaskan selama respirasi. Pada manusia hanya 25% dari oksigen biasanya dilepas dari udara selama respirasi. Pada ikan, anestesi dicapai dengan menggunakan prinsip-prinsip ini. Agen anestesi dilarutkan dalam air dan anestesi dipertahankan dengan menjaga air obat mengalir di insang, bahkan jika seluruh tubuh ikan keluar dari air. Efektivitas ekstrim dari insang sebagai organ pertukaran gas juga membuat mereka sangat rentan terhadap bahan beracun. Zat beracun dapat terakumulasi dalam tubuh ikan hingga 1 juta kali konsentrasi zat yang sama di dalam air.
SISTEM EKSKRESI
Insang selain sebagai organ pernafasan, juga salah satu organ ekskretori utama. Insang mengeluarkan mayoritas amonia sedangkan sisanya dari produk limbah diekskresikan melalui ginjal.
Ekskresi produk sisa metabolisme hampir sama untuk semua ikan, namun, ginjal dan insang memainkan peran signifikan berbeda pada ikan air tawar dibandingkan dengan peran mereka dalam ikan air laut.
Ikan air tawar yang hipertonik dibandingkan dengan lingkungan. Sebagai konsekuensi langsung, air terus memasuki tubuh ikan melalui insang dan pengenceran darah.
SISTEM PEREDARAN DARAH
Jantung ikan terdiri dari dua bagian, satu atrium dan satu ventrikel
Jantung terdiri dari 4 bilik yaitu sinus venosis, atrium, ventricle dan elastic bulbus arteriosis.
Sirkulasi : darah mengalir dari jantung ke ventral aorta, ke arteri branchial afferent , ke insang untuk oxygenasi dan berlangsung melalui arteri efferent arteries ke dorsal aorta.
Bilik disusun secara linear dan darah bersirkulasi dalam jalur peredaran darah tunggal. Jantung dapat diakses untuk proses mengeluarkan darah, namun bagian yang lebih disukai adalah vena ekor.
Jaringan hematopoetic ikan terutama terdiri dari ginjal, tetapi juga mencakup limpa dan hati. Darah ikan memiliki kemiripan dengan darah reptil dan burung. Parameter darah normal pada hewan darat tidak dapat digunakan untuk ikan, karenaikan mengandung sel-sel yang jauh lebih rendah. Oleh karena itu, tidak mungkin meramalkan kondisi normal darah ikan menggunakan model hewan terestrial. Misalnya, leucosit pada ikan hanya 10% dan normal bagi ikan. Ikan juga mengandung haemoglobin rendah sehingga darahnya tampak pucat. Pembuluh getah bening ada tetapi tidak ada kelenjar getah bening yang terpisah. Jantung terletak di caudo-ventral ke insang. Jantung ikan terdiri dari 4 bilik yaitu; venosus sinous, satu atrium, satu ventrikel dan bulbus arteriosus.
SISTEM PENCERNAAN
Stomach (ikan karnifor memiliki saluran pencernaan lebih pendek dari herbivora)
Pyloric caeca (blind-ended finger-like projections extending outward from pyloric valve region)
intestine (mungkin dibagi menjadi intestin besar dan kecil)
liver dengan gall bladder (tidak memiliki bentuk lobul yang khas seperti mamalia. Tidak terdapat sel phagocytic (Kupffer cells) di liver.
pancreas (may be interspersed with mesentery of pyloric ceca or along portal veins of liver)
MULUT
Rongga mulut merupakan saluran pembuka pada sistem pencernaan maupun sistem pernafasan. Tidak seperti pada vertebrata daratan, mulut ikan tidak difungsikan untuk mencerna makanan baik secara mekanik ataupun enzimatis. Ikan tidak memiliki kelejar ludah oleh karena itu, tidak ada enzim yang disekesikan ke dalam rongga mulut. Artinya tidak terjadi pemecahan makanan di dalam mulut. Rongga mulut ikat tersusun atas sel – sel epitel yang menghasilkan lendir atau mukus yang berfungsi untuk melumatkan makanan ketika makanan ditelan di esofagus.
Tidak semua ikan memiliki gigi. Ikan hiu dan ikan pari (kelompok ikan tulang rawan – chondrichthyes) memiliki gigi polyphyodont yaitu jenis gigi yang terus diganti jika ada gigi yang tanggal. Ikan memiliki lidah yang menempel di dasar rongga mulut. Pada umumnya, lidah ikan tidak dapat digerakkan. Lidah ikan sangat sederhana, tipis, dan kaku. Tidak seperti pada vertebrata daratan, lidah ikan tidak digunakan sebagai alat pendorong makanan. Hal ini karena makanan terdorong bersama aliran arus air yang masuk. Pada langit – langit pangkal rongga mulut terdapat penebalan lapisan mukosa menjadi palatin yang berfungsi mengatur kelebihan air yang masuk dan memompakan ke bagian insang.
FARING
Faring merupakan saluran pendek setelah mulut. Faring dilapisi oleh sel – sel epitelium sama seperti rongga mulut. Faring dapat memiliki gigi pada permukaan atas atau bawah pada beberapa ikan. Gigi – gigi faring berfungsi untuk memecah makanan yang masuk sama seperti fungsi gigi geraham pada mamalia. Selain itu, faring terletak antara rongga mulut dan insang yang juga berfungsi sebagai filter makanan. Faring akan memfilter jika bukan partikel makanan yang masuk maka akan dialihkan ke insang untuk di buang.
ESOFAGUS
Esofagus atau kerongkongan merupakan saluran pencernaan setelah faring yang tersusu atas jaringan otot dan epitel. Sel- sel epitel squamosa (pipih) menyusun dinding – ding esofagus yang menghasilkan lendir atau mukus untuk mendorong makanan ke lambung dengan gerakan yang dihasilkan oleh jaringan otot polos. Esofagus juga berperan sebagai kontrol konsentrasi garam dalam makanan. Esofagus akan menyerap kelebihan garam secara difusi sehingga akan menurunkan konsentrasi garam dalam makanan. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan penyerapan air di usus.
LAMBUNG
Lambung merupakan saluran pencernaan yang membesar. Lambung ikan dilapisi oleh lapisan mukosa yang dihasilkan oleh sel – sel mukus pada dinding lambung. Lapisan ini berfungsi untuk melindungi sel – sel lambung dari keasaaman asam klorida yang disekresikan ke lumen lambung. Sama seperti pada vertebrata daratan, asam lambung berfungsi untuk menghancurkan ikatan protein dan mengaktifkan enzim pepsin. Pada ikan yang tidak bergigi (ikan herbivora) memiliki lambung gizzard sebelum saluran lambung ini. Gizzard berfungsi untuk menggerus makanan untuk sebelumnya masuk ke lambung. Pada pangkal lambung terdapat saluran lambung yang memendek dan mengecil sebelum masuk ke usus, saluran ini disebut dengan saluran pyloric yang berfungsi mengatur masuknya chyme dari lambung masuk ke usus. Pencernaan kimiawi pada ikan berlangsung pertama kali di lambung.
USUS
Usus merupakan saluran pencernaan yang panjang berkelok – kelok. Usus tersusun atas lapisan sel – sel epitel dan otot. Pada umumnya, anatomi usus sama seperti pada vertebrata daratan. Di dalam usus akan disekresikan enzim – enzim pencernaan dari pankreas (amilase, lipase, dan tripsin). Selain itu, hati akan mensekresikan getah empedu untuk pemecahan senyawa lemak dalam makanan. Seluruh penyerapan nutrisi makanan terjadi di sepanjang dinding usus halus, sementara zat makanan yang tidak tercerna akan diteruskan ke rektum untuk dibuang melalui anus.
REKTUM
Rektum merupakan segmen saluran pencernaan antara usus dengan anus. Rektum menjadi muara senyawa yang tidak dapat dicerna untuk dibuang melalui anus menjadi feses. Selain itu, di dalam rektum terjadi penyerapan air dan ion – ion yang dibutuhkan oleh tubuh. Pada larva ikan, penyerapan protein juga terjadi di dalam rektum. Ikan – ikan tertentu (beberapa ikan purba, ikan hiu, ikan pari), rektum bermuara di kloaka yang merupakan saluran dari urine, pencernaan, dan genitalia. Namun pada sebagian besar ikan, rektum bermuara di anus. 80 -90% limbah pencernaan ikan berupa limbah metabolisme protein (ammoniak) dan bakteri yang telah mati.
ANUS
Anus merupakan akhir dari saluran pencernaan. Sisa-sisa makanan yang tidak tercerna akan (feses) dibuang melalui anus. Umumnya anus terletak di depan lubang genitalia.
SISTEM PERNAFASAN
Organ penting ang berperan dalam sistim pernafasan ikan adalah insang juga berfungsi sebagai mengatur pertukaran air dan garam dan melepas nitrogen sisa hasil metabolisme. Pertukaran oksigen adalah tujuan utama dari respirasi ikan. Proses fisiologis pengambilan oksigen dari air jauh lebih sulit daripada mengeluarkan oksigen dari udara. Air sekitar 800 kali lebih padat daripada udara dan mengandung oksigen hanya sekitar 3%. Sedangkan udara mengandung sekitar 20% oksigen.
Proses respirasi memakan energi cukup tinggi dan sistem hanya bekerja dengan baik jika ikan dalam kondisi fisik yang baik, dan lingkungan mengandung oksigen terlarut yang memadai. Luas permukaan insang hanya sekitar 6-10 kali lebih besar dari luas permukaan seluruh tubuh. Areal ini relatif kecil dibandingkan dengan paru-paru sebagai organ pertukaran. Sebaliknya, permukaan paru-paru bisa 100 kali lebih besar dari permukaan tubuh mamalia. Pertukaran gas terjadi di lamellae sekunder dari insang dan sangat efisien. Efisiensi ini dicapai dengan aliran lawan arus air dan darah. Darah vena miskin oksigen bergerak berlawanan dengan aliran air yang relatif kaya oksigen. Dalam mekanisme ini, air harus mengalir terus-menerus melalui insang untuk menjaga respirasi efektif.
Sekitar 80% dari oksigen lingkungan dilepaskan selama respirasi. Pada manusia hanya 25% dari oksigen biasanya dilepas dari udara selama respirasi. Pada ikan, anestesi dicapai dengan menggunakan prinsip-prinsip ini. Agen anestesi dilarutkan dalam air dan anestesi dipertahankan dengan menjaga air obat mengalir di insang, bahkan jika seluruh tubuh ikan keluar dari air. Efektivitas ekstrim dari insang sebagai organ pertukaran gas juga membuat mereka sangat rentan terhadap bahan beracun. Zat beracun dapat terakumulasi dalam tubuh ikan hingga 1 juta kali konsentrasi zat yang sama di dalam air.
SISTEM EKSKRESI
Insang selain sebagai organ pernafasan, juga salah satu organ ekskretori utama. Insang mengeluarkan mayoritas amonia sedangkan sisanya dari produk limbah diekskresikan melalui ginjal.
Ekskresi produk sisa metabolisme hampir sama untuk semua ikan, namun, ginjal dan insang memainkan peran signifikan berbeda pada ikan air tawar dibandingkan dengan peran mereka dalam ikan air laut.
Ikan air tawar yang hipertonik dibandingkan dengan lingkungan. Sebagai konsekuensi langsung, air terus memasuki tubuh ikan melalui insang dan pengenceran darah.
SISTEM PEREDARAN DARAH
Jantung ikan terdiri dari dua bagian, satu atrium dan satu ventrikel
Jantung terdiri dari 4 bilik yaitu sinus venosis, atrium, ventricle dan elastic bulbus arteriosis.
Sirkulasi : darah mengalir dari jantung ke ventral aorta, ke arteri branchial afferent , ke insang untuk oxygenasi dan berlangsung melalui arteri efferent arteries ke dorsal aorta.
Bilik disusun secara linear dan darah bersirkulasi dalam jalur peredaran darah tunggal. Jantung dapat diakses untuk proses mengeluarkan darah, namun bagian yang lebih disukai adalah vena ekor.
Jaringan hematopoetic ikan terutama terdiri dari ginjal, tetapi juga mencakup limpa dan hati. Darah ikan memiliki kemiripan dengan darah reptil dan burung. Parameter darah normal pada hewan darat tidak dapat digunakan untuk ikan, karenaikan mengandung sel-sel yang jauh lebih rendah. Oleh karena itu, tidak mungkin meramalkan kondisi normal darah ikan menggunakan model hewan terestrial. Misalnya, leucosit pada ikan hanya 10% dan normal bagi ikan. Ikan juga mengandung haemoglobin rendah sehingga darahnya tampak pucat. Pembuluh getah bening ada tetapi tidak ada kelenjar getah bening yang terpisah. Jantung terletak di caudo-ventral ke insang. Jantung ikan terdiri dari 4 bilik yaitu; venosus sinous, satu atrium, satu ventrikel dan bulbus arteriosus.
SISTEM PENCERNAAN
Stomach (ikan karnifor memiliki saluran pencernaan lebih pendek dari herbivora)
Pyloric caeca (blind-ended finger-like projections extending outward from pyloric valve region)
intestine (mungkin dibagi menjadi intestin besar dan kecil)
liver dengan gall bladder (tidak memiliki bentuk lobul yang khas seperti mamalia. Tidak terdapat sel phagocytic (Kupffer cells) di liver.
pancreas (may be interspersed with mesentery of pyloric ceca or along portal veins of liver)
MULUT
Rongga mulut merupakan saluran pembuka pada sistem pencernaan maupun sistem pernafasan. Tidak seperti pada vertebrata daratan, mulut ikan tidak difungsikan untuk mencerna makanan baik secara mekanik ataupun enzimatis. Ikan tidak memiliki kelejar ludah oleh karena itu, tidak ada enzim yang disekesikan ke dalam rongga mulut. Artinya tidak terjadi pemecahan makanan di dalam mulut. Rongga mulut ikat tersusun atas sel – sel epitel yang menghasilkan lendir atau mukus yang berfungsi untuk melumatkan makanan ketika makanan ditelan di esofagus.
Tidak semua ikan memiliki gigi. Ikan hiu dan ikan pari (kelompok ikan tulang rawan – chondrichthyes) memiliki gigi polyphyodont yaitu jenis gigi yang terus diganti jika ada gigi yang tanggal. Ikan memiliki lidah yang menempel di dasar rongga mulut. Pada umumnya, lidah ikan tidak dapat digerakkan. Lidah ikan sangat sederhana, tipis, dan kaku. Tidak seperti pada vertebrata daratan, lidah ikan tidak digunakan sebagai alat pendorong makanan. Hal ini karena makanan terdorong bersama aliran arus air yang masuk. Pada langit – langit pangkal rongga mulut terdapat penebalan lapisan mukosa menjadi palatin yang berfungsi mengatur kelebihan air yang masuk dan memompakan ke bagian insang.
FARING
Faring merupakan saluran pendek setelah mulut. Faring dilapisi oleh sel – sel epitelium sama seperti rongga mulut. Faring dapat memiliki gigi pada permukaan atas atau bawah pada beberapa ikan. Gigi – gigi faring berfungsi untuk memecah makanan yang masuk sama seperti fungsi gigi geraham pada mamalia. Selain itu, faring terletak antara rongga mulut dan insang yang juga berfungsi sebagai filter makanan. Faring akan memfilter jika bukan partikel makanan yang masuk maka akan dialihkan ke insang untuk di buang.
ESOFAGUS
Esofagus atau kerongkongan merupakan saluran pencernaan setelah faring yang tersusu atas jaringan otot dan epitel. Sel- sel epitel squamosa (pipih) menyusun dinding – ding esofagus yang menghasilkan lendir atau mukus untuk mendorong makanan ke lambung dengan gerakan yang dihasilkan oleh jaringan otot polos. Esofagus juga berperan sebagai kontrol konsentrasi garam dalam makanan. Esofagus akan menyerap kelebihan garam secara difusi sehingga akan menurunkan konsentrasi garam dalam makanan. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan penyerapan air di usus.
LAMBUNG
Lambung merupakan saluran pencernaan yang membesar. Lambung ikan dilapisi oleh lapisan mukosa yang dihasilkan oleh sel – sel mukus pada dinding lambung. Lapisan ini berfungsi untuk melindungi sel – sel lambung dari keasaaman asam klorida yang disekresikan ke lumen lambung. Sama seperti pada vertebrata daratan, asam lambung berfungsi untuk menghancurkan ikatan protein dan mengaktifkan enzim pepsin. Pada ikan yang tidak bergigi (ikan herbivora) memiliki lambung gizzard sebelum saluran lambung ini. Gizzard berfungsi untuk menggerus makanan untuk sebelumnya masuk ke lambung. Pada pangkal lambung terdapat saluran lambung yang memendek dan mengecil sebelum masuk ke usus, saluran ini disebut dengan saluran pyloric yang berfungsi mengatur masuknya chyme dari lambung masuk ke usus. Pencernaan kimiawi pada ikan berlangsung pertama kali di lambung.
USUS
Usus merupakan saluran pencernaan yang panjang berkelok – kelok. Usus tersusun atas lapisan sel – sel epitel dan otot. Pada umumnya, anatomi usus sama seperti pada vertebrata daratan. Di dalam usus akan disekresikan enzim – enzim pencernaan dari pankreas (amilase, lipase, dan tripsin). Selain itu, hati akan mensekresikan getah empedu untuk pemecahan senyawa lemak dalam makanan. Seluruh penyerapan nutrisi makanan terjadi di sepanjang dinding usus halus, sementara zat makanan yang tidak tercerna akan diteruskan ke rektum untuk dibuang melalui anus.
REKTUM
Rektum merupakan segmen saluran pencernaan antara usus dengan anus. Rektum menjadi muara senyawa yang tidak dapat dicerna untuk dibuang melalui anus menjadi feses. Selain itu, di dalam rektum terjadi penyerapan air dan ion – ion yang dibutuhkan oleh tubuh. Pada larva ikan, penyerapan protein juga terjadi di dalam rektum. Ikan – ikan tertentu (beberapa ikan purba, ikan hiu, ikan pari), rektum bermuara di kloaka yang merupakan saluran dari urine, pencernaan, dan genitalia. Namun pada sebagian besar ikan, rektum bermuara di anus. 80 -90% limbah pencernaan ikan berupa limbah metabolisme protein (ammoniak) dan bakteri yang telah mati.
ANUS
Anus merupakan akhir dari saluran pencernaan. Sisa-sisa makanan yang tidak tercerna akan (feses) dibuang melalui anus. Umumnya anus terletak di depan lubang genitalia.
Senin, 05 Maret 2018
BUDIDAYA UDANG GALAH
Jenis udang air tawar udang galah memang memiliki potensi yang cukup besar sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang berlipat. Terbukti dari permintaan udang galah baik dalam negeri maupun dari luar negeri yang semakin meningkat. Udang galah adalah salah satu komoditas air tawar yang cukup bagus masa depannya karena selain harga jualnya lebih tinggi dibanding ikan air tawar lainnya juga dapat dipasarkan untuk kebutuhan dalam dan luar negeri, hal ini ditandai dengan permintaan ekspor ke berbagai negara seperti Jepang dan beberapa negara di Eropa. Dengan kata lain udang galah mempunyai nilai ekonomis tinggi dan berpotensi memperoleh keuntungan jika dikembangkan.
Budidaya udang galah bisa dilakukan di kolam ataupun tambak darat pada saat ini kegiatan pembesaran udang galah sudah meluas keberbagai daerah, meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur Bali dan daerah-daerah lainnya. Untuk menunjang keberhasilan kegiatan/usaha budidaya udang maka dibutuhkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan skala usaha yang dimiliki oleh pembudidaya.
Sistem Pemeliharaan
Sistem Pemeliharaan Tunggal (Monokultur)
Pada pemelihaaran udang galah secar tunggal kolam yang dipergunakan sebaiknya berukuran kian lebih 500 m² Serta kedalaman air minimal 1 m. basic kolam pemeliharaan yaitu tanah yang sedikit berpasir namun pematang kolam bisa berbentuk tanah atau tembokan semen. Air yang dipakai untuk pemeliharaan ini mesti bebas polusi, baik yang berasal dari limbah produksi, pabrik pertanian ataupun limbah rumah tangga. Debit air yang dibutuhkan yaitu 1 s/d 5 liter per detik untuk luasan 1000 m².
Sistem Pemeliharaan Campuran (Polikultur)
Pemeliharaan udang galah dengan system polikultur banyak dikerjakan oleh pembudidaya. Gabungan yang disarankan yaitu dengan ikan-ikan type herbivore (pemakan tumbuhan) layaknya tawes, gras crap serta gurami. Perlakuan kolam untuk pemeliharaan campuan tersebut hampir sama juga dengan yang dikerjakan untuk pemeliharaan tunggal. Dibutuhkan air yang mengalir secara terus-menerus serta pemupukan dengan kandungan lebih tingg dari 100-250 gram/m² ditambah pakan buatan (pellet).
Persiapan Kolam
Persiapan kolam pemeliharaan udang galah meliputi pengeringan kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah basic kolam, serta pembuatan kemalir. Pengapuran dengan dosis 10-25 gram/m² mempunyai tujuan untuk sanitasi kolam. Pemupukan sejumlah 100-250 gram/m² dapat dikerjakan apabila udang cuma diberi sedikit makanan tambahan, namun apabila makanan tambahan sudah terlalu banyak didalam kolam maka pemumpukan kolam tak perlu dilakukan. Untuk menghindar hewan liar pada saluran pemasukan diberikan saringan/filter. Penebaran udang dikerjakan sesudah 5 s/ d 7 hari dari pengisian air kolam.
Penebaran Benih
Benih udang galah yang ditebarkan sebaiknya berukuran besar supaya lebih tahan dibanding juvenil. Pada penebaran pada sistem pemeliharaan tunggal adalah 5-10 ekor/m² untuk tokolam berukuran 3-5 cm. menurut James P. mc. vey, Ph.d bahwa padat penebaran benih udang galah bisa 15 ekor per m² jika situasi air serta makanan tambahan cukup, namun jika air cukup atau tak ada makanan tambahan ( makan udang cuma dari pemupukan saja ), maka kepadatan benih udang cuma 10 ekor per/m², namun apabila tak ada air yang cukup serta juga tidak ada pupuk untuk kolam maka bisa dicoba kepadatan 2 ekor udang/m². Padat penebaran per m² yang disarankan pada pemeliharaan polikultur dengan pemupukan organic serta tambahan tumbuhan yaitu 10 ekor udang galah ditambah pupuk organic saja, padat penebaran per m² yang disarankan yaitu udang galah 10 ekor. Untuk pemeliharaan udang galah dengan system pemanenan dengan bertahap bisa dikerjakan penebaran lagi pada tiap-tiap panen 50% dari jumlah udang yang dipanen.
Pemberian Pakan
Selama pemeliharaan udang galah diberi makanan tambahan berbentuk pellet (25% protein) dengan jumlah pakan 5% dari berat keseluruhan biomasa populasi udang/hari frekwensi pemberiannya yaitu 2 kali/hari yakni pada sore hari serta malam hari dikarenakan pada saat itu udang lebih aktif. Untuk memastikan jumlah berat populasi udang yang ada yakni dengan langkah mengambil sedikit udang untuk sample yang lantas kita dapat tahu berat rara-ratanya. berat rata-rata tadi dikalikan dengan jumlah yang diperkirakan ada di dalam kolam untuk mendapatkan jumlah berat semuanya. jumlah pemberian 5%/hari mesti sesuai tiap-tiap dua minggu sekali.
Jika seluruh didalam situasi baik untuk perkembangan udang kita dapat menginginkan moralitas cuma kurang lebih 5% per bulannya. karena bisa diperkirakan jumlah udang yang akan dipanen kurangi 5% setiap bulannya. makanan udang didalam bentuk pellet bisa dibeli di pasaran bisa juga dibikin sendiri dengan mencampurkan seluruh bahan yang dibutuhkan serta menghancurkannya dengan mesin penggiling.
Pengelolaan Air
Pada kolam pemeliharaan udang galah untuk melindungi kesehatan udang mutu serta jumlah air mesti senantiasa dipantau. Umumnya untuk pemeliharaan udang system tunggal mutu air sering mengalami penurunan (buruk) sesudah 1 bulan. Masa pemeliharaan untuk melakukan perbaikan mutu air tersebut bisa ditebarkan ikan-ikan type pemakan plankton dengan kepadatan rendah. Mutu air yang redah ditandai dengan banyaknya udang dipermukaan saat pagi hari. Langkah lain yang bisa ditempuh yaitu mengganti jumlah air sepertiga sisi dengan air baru.
Penyakit
Penyakit udang yang sangat serius adalah yang dikarenakan oleh lingkungan serta situasi yang tidak menyenangkan layaknya terlampau padat, kekurangan makanan, penanganan yang tidak baik dan seterusnya. Jadi langkah penanggulangan yang sangat baik serta efisien adalah memberikan pertolongan pertama pada pengobatan seperti memberikan anti biotik atau fungisida keseluruh udang yang terkena penyakit atau pada kolam akan tetapi lebih baik mengeringkan kolam.
Pemanenan
Sesudah periode pemeliharaan 4-6 bulan udang bisa dipanen pada waktu panen keseluruhan ukurang beragam beratnya yakni 100-300 gram/ekor. Sistem pemanenan bisa dikerjakan secara bertahap dimana udang dipilih ukuran untuk konsumsi isi 10-15 ekor/kg. Teknik memanen yang sangat mudah serta sangat murah yaitu dengan cara mengeringkan kolam disamping itu pemanenan sebaiknya dikerjakan saat pagi hari dimana temperature air tetap rendah. Air segar perlu dialirkan kedalam kolam untuk menghindari supaya udang tidak mati kepanansan, air dibuang melewati pusat saluran pembuangan didalam kolam hingga seluruh udang dapat mengumpul di dalam bak penangkap maupun didalam saluran lantas ditangkap menggunakan jaring kecil (serok).
Budidaya udang galah bisa dilakukan di kolam ataupun tambak darat pada saat ini kegiatan pembesaran udang galah sudah meluas keberbagai daerah, meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur Bali dan daerah-daerah lainnya. Untuk menunjang keberhasilan kegiatan/usaha budidaya udang maka dibutuhkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan skala usaha yang dimiliki oleh pembudidaya.
Sistem Pemeliharaan
Sistem Pemeliharaan Tunggal (Monokultur)
Pada pemelihaaran udang galah secar tunggal kolam yang dipergunakan sebaiknya berukuran kian lebih 500 m² Serta kedalaman air minimal 1 m. basic kolam pemeliharaan yaitu tanah yang sedikit berpasir namun pematang kolam bisa berbentuk tanah atau tembokan semen. Air yang dipakai untuk pemeliharaan ini mesti bebas polusi, baik yang berasal dari limbah produksi, pabrik pertanian ataupun limbah rumah tangga. Debit air yang dibutuhkan yaitu 1 s/d 5 liter per detik untuk luasan 1000 m².
Sistem Pemeliharaan Campuran (Polikultur)
Pemeliharaan udang galah dengan system polikultur banyak dikerjakan oleh pembudidaya. Gabungan yang disarankan yaitu dengan ikan-ikan type herbivore (pemakan tumbuhan) layaknya tawes, gras crap serta gurami. Perlakuan kolam untuk pemeliharaan campuan tersebut hampir sama juga dengan yang dikerjakan untuk pemeliharaan tunggal. Dibutuhkan air yang mengalir secara terus-menerus serta pemupukan dengan kandungan lebih tingg dari 100-250 gram/m² ditambah pakan buatan (pellet).
Persiapan Kolam
Persiapan kolam pemeliharaan udang galah meliputi pengeringan kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah basic kolam, serta pembuatan kemalir. Pengapuran dengan dosis 10-25 gram/m² mempunyai tujuan untuk sanitasi kolam. Pemupukan sejumlah 100-250 gram/m² dapat dikerjakan apabila udang cuma diberi sedikit makanan tambahan, namun apabila makanan tambahan sudah terlalu banyak didalam kolam maka pemumpukan kolam tak perlu dilakukan. Untuk menghindar hewan liar pada saluran pemasukan diberikan saringan/filter. Penebaran udang dikerjakan sesudah 5 s/ d 7 hari dari pengisian air kolam.
Penebaran Benih
Benih udang galah yang ditebarkan sebaiknya berukuran besar supaya lebih tahan dibanding juvenil. Pada penebaran pada sistem pemeliharaan tunggal adalah 5-10 ekor/m² untuk tokolam berukuran 3-5 cm. menurut James P. mc. vey, Ph.d bahwa padat penebaran benih udang galah bisa 15 ekor per m² jika situasi air serta makanan tambahan cukup, namun jika air cukup atau tak ada makanan tambahan ( makan udang cuma dari pemupukan saja ), maka kepadatan benih udang cuma 10 ekor per/m², namun apabila tak ada air yang cukup serta juga tidak ada pupuk untuk kolam maka bisa dicoba kepadatan 2 ekor udang/m². Padat penebaran per m² yang disarankan pada pemeliharaan polikultur dengan pemupukan organic serta tambahan tumbuhan yaitu 10 ekor udang galah ditambah pupuk organic saja, padat penebaran per m² yang disarankan yaitu udang galah 10 ekor. Untuk pemeliharaan udang galah dengan system pemanenan dengan bertahap bisa dikerjakan penebaran lagi pada tiap-tiap panen 50% dari jumlah udang yang dipanen.
Pemberian Pakan
Selama pemeliharaan udang galah diberi makanan tambahan berbentuk pellet (25% protein) dengan jumlah pakan 5% dari berat keseluruhan biomasa populasi udang/hari frekwensi pemberiannya yaitu 2 kali/hari yakni pada sore hari serta malam hari dikarenakan pada saat itu udang lebih aktif. Untuk memastikan jumlah berat populasi udang yang ada yakni dengan langkah mengambil sedikit udang untuk sample yang lantas kita dapat tahu berat rara-ratanya. berat rata-rata tadi dikalikan dengan jumlah yang diperkirakan ada di dalam kolam untuk mendapatkan jumlah berat semuanya. jumlah pemberian 5%/hari mesti sesuai tiap-tiap dua minggu sekali.
Jika seluruh didalam situasi baik untuk perkembangan udang kita dapat menginginkan moralitas cuma kurang lebih 5% per bulannya. karena bisa diperkirakan jumlah udang yang akan dipanen kurangi 5% setiap bulannya. makanan udang didalam bentuk pellet bisa dibeli di pasaran bisa juga dibikin sendiri dengan mencampurkan seluruh bahan yang dibutuhkan serta menghancurkannya dengan mesin penggiling.
Pengelolaan Air
Pada kolam pemeliharaan udang galah untuk melindungi kesehatan udang mutu serta jumlah air mesti senantiasa dipantau. Umumnya untuk pemeliharaan udang system tunggal mutu air sering mengalami penurunan (buruk) sesudah 1 bulan. Masa pemeliharaan untuk melakukan perbaikan mutu air tersebut bisa ditebarkan ikan-ikan type pemakan plankton dengan kepadatan rendah. Mutu air yang redah ditandai dengan banyaknya udang dipermukaan saat pagi hari. Langkah lain yang bisa ditempuh yaitu mengganti jumlah air sepertiga sisi dengan air baru.
Penyakit
Penyakit udang yang sangat serius adalah yang dikarenakan oleh lingkungan serta situasi yang tidak menyenangkan layaknya terlampau padat, kekurangan makanan, penanganan yang tidak baik dan seterusnya. Jadi langkah penanggulangan yang sangat baik serta efisien adalah memberikan pertolongan pertama pada pengobatan seperti memberikan anti biotik atau fungisida keseluruh udang yang terkena penyakit atau pada kolam akan tetapi lebih baik mengeringkan kolam.
Pemanenan
Sesudah periode pemeliharaan 4-6 bulan udang bisa dipanen pada waktu panen keseluruhan ukurang beragam beratnya yakni 100-300 gram/ekor. Sistem pemanenan bisa dikerjakan secara bertahap dimana udang dipilih ukuran untuk konsumsi isi 10-15 ekor/kg. Teknik memanen yang sangat mudah serta sangat murah yaitu dengan cara mengeringkan kolam disamping itu pemanenan sebaiknya dikerjakan saat pagi hari dimana temperature air tetap rendah. Air segar perlu dialirkan kedalam kolam untuk menghindari supaya udang tidak mati kepanansan, air dibuang melewati pusat saluran pembuangan didalam kolam hingga seluruh udang dapat mengumpul di dalam bak penangkap maupun didalam saluran lantas ditangkap menggunakan jaring kecil (serok).
Jumat, 02 Maret 2018
TEKNOLOGI REHABILITASI HABITAT DAN PEMULIHAN SUMBER DAYA IKAN MELALUI PENGEMBANGAN TERUMBU BUATAN


Kekayaan ekosistem terumbu karang dan
letaknya yang dekat dengan hunian manusia (wilayah pesisir) menyebabkan tekanan
dari berbagai kegiatan untuk mengeksploitasi sumberdayanya. Beberapa penyebab
kerusakan terumbu karang diantaranya adalah penambangan batu karang,
penangkapan ikan tidak ramah lingkungan (muroami, bahan peledak, bahan kimia
beracun), pencemaran, sedimentasi, dan juga perubahan iklim global (kenaikan
suhu perairan). Kerusakan terumbu karang akan menyebabkan ekosistem tersebut
tidak dapat memenuhi fungsinya, baik sebagai pelindung pantai maupun tempat
berlindung, mencari makan, bertelur, dan asuhan berbagai jenis biota laut. Salah
satu rumusan kebijakan nasional pengelolaan terumbu karang adalah mengupayakan
pelestarian, perlindungan, perbaikan/rehabilitasi dan peningkatan kualitas
ekosistem terumbu karang bagi kepentingan seluruh masyarakat yang kelangsungan
hidupnya bergantung pada eksploitasi sumber daya alam yang terkandung di
dalamnya.
Tujuan dari pengembangan terumbu buatan
adalah menyediakan habitat buatan yang diharapkan mempunyai fungsi ekologis
seperti terumbu karang alami, diantaranya adalah :
·
Sebagai daerah pemijahan (spawning ground), daerah
asuhan (nursery ground), dan daerah mencari makan (feeding ground)
bagi ikan.
·
Pengikat polip karang, sehingga dapat tumbuh dan
berkembang.
·
Menjaga keseimbangan siklus rantai makanan
·
Meningkatkan keanekaragaman hayati laut
·
Meningkatkan stok ikan
·
Melindungi pantai dan ekosistem pesisir dari hempasan
gelombang
Rincian dan aplikasi teknis/persyaratan teknis:
a.
Pemilihan Bahan
· Bahan terumbu
buatan dipertimbangkan untuk hasil yang akan diperoleh dalam jangka waktu
panjang
· Terbuat dari material
yang mengandung karbonat, sehingga menyerupai terumbu karang, dan tepat untuk
pertumbuhan karang
· Mudah dibentuk
sesuai dengan organisme sasaran, dan mudah disusun untuk efisiensi biaya.
· Bobot dan daya
cengkeram kuat untuk mencegah penyapuan karena arus dan gelombang
b.
Pemilihan Lokasi
Pemilihan
lokasi untuk pemasangan terumbu buatan harus mempertimbangkan kondisi
lingkungan (fisik, kimia, dan biologi), sosial ekonomi budaya, serta faktor
penunjang lainnya. Kondisi lingkungan akan berpengaruh tinggi rendahnya
produktivitas primer di perairan. Dahuri (2003) menyatakan bahwa tingginya
produktifitas perairan akan memungkinkan perairan ini sering merupakan tempat
pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground)
dan mencari makan (feeding ground) dari kebanyakan ikan.
Beberapa
persyaratan lainnya yang harus dipertimbangkan dalam pemiliha lokasi :
Ø Lingkungan Fisik :
-
Dasar perairan memungkinkan untuk berlangsungnya
proses-proses dekomposisi bahan organik dan siklus hara.
-
Arus dan gelombang tidak kuat sekali, sehingga tidak
dapat merusak terumbu buatan.
-
Kecerahan diperlukan untuk penetrasi cahaya ke dalam air
dan terjangkau oleh indra organisme.
-
Suhu pada kisaran 28 – 30 oC, yang
memungkinkan organisme melangsungkan aktifitas metabolisme secara normal
-
Kedalaman yang optimum untuk terumbu buatan berkisar
antara 15–20 meter, sehubungan dengan keamanan, kemudahan peletakan dan
pemanfaatan.
-
Topografi dasar perairan dengan kemiringan maksimal 30odan
luas, supaya daya cengkeram terumbu kuat dan mudah dalam penyusunan.
-
Tekstur dasar batuan, keras dan kandungan lumpur sedikit,
tidak lebih dari10 %.
-
Geomorfologi jauh dari muara sungai, karena aliran sungai
menyebabkan pelumpuran pada areal terumbu buatan yang dapat mengurangi efektifitasnya.
-
Jarak dari terumbu karang alami kurang lebih 1 km. Pada
jarak ini fungsi terumbu buatan tidak meredistribusikan ikan dari terumbu
karang alami, tetapi menyediakan habitat baru bagi ikan-ikan yang ada di
sekitarnya serta masih memungkinkan penempelan spora biota karang dari terumbu
karang alami. Daerah jelajah ikan-ikan demersal diperkirakan tidak lebih dari
300 meter.
Ø Lingkungan Kimiawi
-
Fosfat dan nitrat, adalah unsur hara utama yang digunakan
oleh tumbuhan pengasil makanan dalam laut, berperan dalam menjaga kesuburan
perairan.
-
Oksigen terlarut, berfungsi untuk proses pembakaran yang
menghasilkan energi yang digunakan untuk kehidupan berbagai organisme, kadar
optimum 4 – 8 ppm.
-
Salinitas, optimum pada kisaran 32 – 35 ppt
-
Carbonat dan silikat, berguna untuk pembentukan kerangka
organisme terumbu karang.
Ø Lingkungan Biologi
-
Kelimpahan plankton, berfungsi sebagai produsen primer
yang menyediakan pakan dan menjaga kelangsungan siklus energi.
-
Orientasi organisme, menentukan akan respon oganisme
terhadap terumu buatan. Orientasi ini bisa mengikuti gerak arus, sehingga
peletakan terumbu buatan yang baik memotong arus. Ada beberapa sifat orientasi
organisme, yaitu geotaxykala, thigmotaxy, fototaxy, chemotaxy dan rheotaxy.
Sifat orientasi menyebabkan ada 3 kelompok ikan dalam menanggapi terumbu
buatan, yaitu tanggapan kuat, seperti ikan murai, gobi dan flounder, tanggapan
sedang, seperti kerapu, bayeman dan lencam serta sifat lemah, seperti ikan
belanak dan makerel.
-
Biomassa organisme, adanya populasi ikan juga akan
menentukan keberhasilan pengumpulan ikan oleh terumbu buatan.
-
Interaksi organisme, hubungan sesama organisme penting
dalam menentukan lokasi terumbu buatan karena keberadaan suatu organisme dapat
mengurangi atau memicu organisme lain untuk menghuni terumbu buatan.
Ø Kondisi Sosial - Ekonomi dan Budaya
-
Kebutuhan penduduk merupakan faktor penting untuk
menentukan skala prioritas yang dibutuhkan penduduk sehingga keberadaan terumbu
buatan dapat dimanfaatkan sesuai dengan apa yang diperlukan penduduk. Hal ini
akan menentukan jenis terumbu yang akan dibuat dan diperuntukkan untuk sektor
yang mana.
-
Keikut sertaan penduduk atau kepedulian akan memperoleh
hasil yang maksimal.
-
Kebiasaan penduduk akan menentukan langkah-langkah pengawasan
dan pengelolaan terumbu buatan yang tepat sesuai dengan kebiasaan penduduk
setempat. Sebelum penempatan terumbu buatan, sebaiknya mempertimbangkan tata
ruang daerah, yaitu peruntukan wilayah yang sudah direncanakan dan mengevaluasi
kembali kecocokannya, sehingga konflik antar sektor dapat dihindari.
-
Dekat dengan perkampungan nelayan, sehingga memudahkan
dalam pelaksanaan pembuatan, pemanfaatan hasil dan pengawasan.
Ø Faktor Penunjang
-
Aksesibilitas, memudahkan transportasi pengangkutan
bahan-bahan terumbu buatan ke lokasi penempatan. Kemudahan pencapaian lokasi
juga memudahkan kunjungan bagi yang berkepentingan.
-
Sarana, terdapatnya sarana di lokasi terpilih dapat lebih
mensukseskan pemasangan terumbu buatan.
-
Sumber daya manusia sangat menentukan keberhasilan dan
alih teknologi.
c.
Desain,
Konstruksi, dan Konfigurasi
-
Terumbu buatan dapat terdiri dari beberapa unit dengan
volume total maksimal 2.000 m3dan minimal 400 m3untuk memperoleh nilai
ekonomis.
-
Profil yang baik secara horisontal, sesuai dengan
distribusi ikan yang pada umumnya horisontal
-
Resolusi pandangan mata ikan rendah, sehingga warna yang
baik adalah hitam
-
Konstruksi hendaknya fleksibel, stabil, kontabilitas dan
adaptabilitas yang baik
-
Untuk menambah daya tarik ikan diperlukan konfigurasi
yang tepat untuk membangun satu unit terumbu buatan. Jarak antar unit terumbu
buatan sebaiknya 10 -50 meter. Kumpulan unit terumbu buatan membentuk kelompok,
dengan jarak antar kelompok 200 m. Kelompok terumbu buatan secara bersamaan
membentuk wilayah, dengan jarak antar wilayah terumbu buatan disarankan 600 m.
d.
Monitoring dan Evaluasi
Monitoring
dan evaluasi pada proses suksesi ekologi pada terumbu buatan dilakukan untuk
mengukur kemajuan yang terjadi dari proses rehabilitasi habitat dan pemulihan
sumber daya ikan. Kegiatan ini menjadi bagian integral dari kegiatan rehabilitasi
habitat sebagai suatu cara untuk menyediaakan informasi atau benchmark
yang dibutuhkan untuk memformulasi suatu keuntungan yang lebih besar dan
memperkecil dampak buruk yang timbul.
e.
Rincian Teknologi
-
Terumbu buatan tersusun dari beton (rangkaian besi yang
dicor dengan bahan pasir dan semen) berbentuk kubus berongga dengan ukuran yang
efektif adalah kubus (60 x 60x 60) cm dan tebal 10 cm.
-
1 unit terumbu buatan disusun dalam formasi piramida,
terdiri dari 73 buah kubus berongga, dengan susunan 3 buah di lapisan atas, 9
dan 25 buah buah tersusun dilapisan
ke
dua dan ke tiga dari permukaan, dan 36 buah pada lapisan dasar. Volume tiap
unit kurang lebih 13 m3
- Pengikat antar
beton kubus berongga untuk membentuk 1 unit terumbu buatan dan agar tidak mudah
tercerai-berai maka perlu diikat dengan menggunakan tali polyethylene.
- Lokasi penempatan
terumbu buatan dekat dengan perkampungan nelayan, sehingga pelaksanaan pembuatan,
penempatan, pemanfaatan hasil dan pengawasan dapat dilakukan oleh masyarakat
itu sendiri.
Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan KKP
Kamis, 01 Maret 2018
PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA UDANG ROTRIS
Udang rostris (Litopenaeus stylirostris) berasal dari kawasan Amerika
Latin khususnya dari negara Mexico, mempunyai prospek pasar
internasional yang cukup baik bagi dunia usaha dan sudah banyak
diproduksi secara massal dengan menerapkan teknologi sederhana hingga
intensif oleh beberapa negara di Amerikan dan Asia. Informasi yang
didapat dari hasil kajian dan hasil produksi di beberapa negara
produsen, bahwa udang rostris menunjukkan keunggukan-keunggulan sebagai
berikut:
- Laju pertumbuhan yang menyerupai udang windu (dapat mencapai ukuran 30 gr/4 bulan).
- Toleran terhadap suhu rendah dan perubahan salinitas (khususnya pada salinitas tinggi).
- Toleran terhadap lingkungan yang ekstrim (kindisi tanah gambut dan kondisi lainnya).
Pemicu munculnya penyakit pada udang rostris ada tiga, faktor yakni menurunnya kualitas lingkungan pemeliharaan, adanya jasad patogen, dan kondisi udang yang lemah. Bila udang rostris terserang penyakit dapat dipastikan ditimbulkan oleh beberapa faktor tersebut. Untuk mencegah dan mengobatinya maka harus diketahui faktor penyebabnya.
Klasifikasi
Klasifikasi dari udang rostris (Litopenaeus stylirostris) adalah sebagai berikut :
• Sub Phyllum : Crustacea
• Kelas : Malacostraca
• Ordo : Decapoda
• Famili : Penaidae
• Genus : Litopenaeus
• Species : Litopenaeus stylirostris
Morfologi
Ciri morfologi udang rostris ini tidak berapa beda dengan deskripsi udang pada umumnya. Secara jelas yang tampak adalah udang ini berwarna biru kehitaman, keki renang merah kebiru-biruan, rostrum panjang bergigi 7 pada bagian atas (dorsal) dan 1 gigi lunak yang berkembang di bagian ventral.
Persiapan Air Media
Dalam persiapan air media awal sudah dianggap baik apabila kondisi parameter kualitas air dan kelimpahan plankton tidak mengalami goncangan (fluktuasi) yang mencolok. Tahapan dalam persiapan air media awal adalah sebagai berikut :
- Pengamatan parameter kualitas tanah (pH : 6,5-7,5 ; kandungan bahan organic 8-10 %). Tujuan dari pengamatan parameter kualitas tanah ini adalah untuk mengetahui kondisi tanah tersebut sudah layak atau belum bagi kebutuhan biologis udang yang akan dipelihara.
- Pengisian air seluruh komponen petakan tambak hingga mencapai ketinggian yang optimal (1,2-1,4 m), dilakukan pada saat kondisi air laut sedang pasang tinggi. Kemudian air dibiarkan 2-5 hari dengan tujuan untuk mengetahui tingkat porositas tanah dan tingkat evaporasi (penguapan) air pada petakan tambak yang akan dioperasionalkan.
- Sterilisasi air media dengan kaporit berkisar antara 25-30 ppm dan ditebar merata, kemudian diaerasi (dikincir) yang kuat selama 3-5 jam. Pengadukan dengan kincir bertujuan agar kaporit yang diaplikasikan tersebar secara merata hingga ke dasar tambak, sehingga air media tersebut dapat segera steril.
- Pengamatan parameter kualitas air, seperti pH (7,5-8,5), suhu (28o-31o C), dan salinitas (15-35 ppt), serta parameter air lainnya. Pengukuran parameter kualitas air ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kualitas air secara awal, sehingga pada saat penebaran benur dapat disesuaikan (untuk proses adaptasi penebaran benur).
Pemilihan dan Penebaran Benih
Apabila kondisi air media sudah siap dalam artian baik kondisi parameter kualitas air dan kondisi kelimpahan plankton, maka segera dapat dilakukan penebaran benih.
Pemilihan standar benih udang rostris adalah sebagai berikut :
- Ukuran diusahakan seragam.
- Gerakan lincah dan menantang arus.
- Respon terhadap gerakan.
- Warna tubuhnya putih transparan.
- Kaki dan kulit bersih.
- Isi usus tidak putus, dan
- Adaptif (tahan) terhadap perubahan salinitas.
Benih udang rostris yang ditebar adalah ukuran PL-15 atau ukuran tokolan (sebesar pentol korek api) dan sudah dalam kondisi bebas virus. Standar baku benih yang baik adalah setelah dipilah dengan formalin, kematiannya maksimal tidak lebih dari 5 %. Benih tersebut diangkut ke tambak dan kemudian sebelum ditebar terlebih dahuludiadaptasikan terhadap parameter kualitas air yaitu suhu, salinitas, pH, dan parameter lainnya secara perlahan-lahan selama 5-15 menit.
Waktu penebaran yang baik diusahakan pagi hari (jam
0500- 0700).
Dengan padat penebaran yang optimal pada pembesaran udang rostris
dengan teknologi intensif pada system ini adalah berkisar antara 25-50
ekor/m2 (tergantung factor daya dukung lahan dan sarana penunjang
lainnya).
Masa Pemeliharaan
Selama masa pemeliharaan udang rostris berlangsung (masa operasional berjalan) perlakuan dan pengamatan sangatlah menentukan tingkat keberhasilan. Untuk itu, dalam kurun waktu tersebut ada beberapa kegiatan, perlakuan, dan pengamatan penting yang perlu diperhatikan, yaitu :
- Pengaturan dan pemberian pakan.
- Manajemen plankton.
- Pengelolaan air dan lumpur.
- Pengamatan kondisi dan pertumbuhan udang.
Faktor yang sangat penting selam masa pemeliharaan udang adalah pengamatan mengenai kondisi dan kesehatan udang rostris pada tambak yang dioperasionalkan. Untuk mengetahui kondisi ini dapat diindikatorkan dengan pengamatan secara visual yaitu diantaranya adalah :
- Udang ditempeli oleh jenis bakteri Zoothamium sp dan jenis lainnya pada insang dan tubuh.
- Insang kotor.
- Kepala (karapas) dan kulit (abdomen) berlumut.
- Ekor geripis.
- Anthena putus.
- Daging udang keropos.
- Warna tubuh dan ekor kemerahan.
Udang yang sehat dicirikan dengan normalnya fungsi fisiologis yang secara fisik dapat terlihat dari nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ dan jaringan tubuh. Udang akan tetap dalam kondisi sehat selama lingkungan masih mampu untuk mentolerir beban polusi internal sebagai hasil degradasi input produksi (pupuk, pakan, dan obat-obatan). Penyakit yang pada umumnya mulai terjadi pada bulan kedua pada masa pemeliharaan.
Kemampuan mengendalikan factor penyebab stress dan antisipasi yang tepat terhadap potensi serta gejala sakit akan menentukan kualitas dan kuantitas pada akhir masa pemeliharaan hingga panen. Hampir semua kunci manajemen kesehatan adalah pencegahan, namun tidak menutup kemungkinan dilakukannya pengobatan. Ada beberapa kegiatan monitoring kesehatan dan perlakuan udang selama masa pemeliharaan, diantaranya :
- Pengamatan Rutin
- Pengamatan Visual
- Pencegahan Penyakit
Penyakit yang biasa menyerang ikan sumatera adalah sebagai berikut :
1. White Spot Syndrom Virus (WSSV)
• Gejala / Ciri-ciri
- Udang menempel di pematang/bamboo.
- Berenang abnormal.
- Secara mikroskopik terlihat bercak putih dengan bentuk bunga dan inti kehitaman.
- Timbul bercak putih di kulit.
• Pengobatan
- Dengan bahan kimia
Dapat diberikan Vitamin C sebanyak 100 ppm yang dicampurkan dalam pakan dan diberikan kepada udang yang terserang selama 3 hari, atau dapat juga diberikan Fucoidan (ekstrak rumput laut) sebanyak 60 - 100 mg/ kg udang/ hari selama 15 hari.
- Dengan bahan alami
Dapat digunakan ekstrak dari daun sambiloto dengan cara diremas, air tersebut dicampur dengan pakan dan dikeringkan, setelah itu baru diberikan pada udang, atau dapat juga menggunakan ekstrak daun Maiyana dengan dosis 0,5 gr/5 liter air.
• Pengendalian
- Memilih benih yang telah bebas virus.
- Aplikasikan air steril dan juga pagar keliling.
2. Bakteri Zoothalium sp
• Gejala / Ciri-ciri
- Kulit dan badan berlumut.
- Karapas dan kulit abdomen.
- Warna tubuh kemerahan.
• Pengobatan
- Dengan bahan kimia
Dapat digunakan Formalin dengan dosis 30 ppm atau kaporit 1 ppm diberikan selama 1 hari.
- Dengan bahan alami
Menggunakan larutan kunyit atau daun sirih.
• Pengendalian
- Membuang lapisan dasar tambak.
- Pelihara ikan bandeng.
- Perbaiki dasar tambak.
3. Lumutan
• Gejala
- Kulit seperti berbulu.
- Tubuh keropos/kusam.
- Insang kotor.
• Pengobatan
- Dengan bahan kimia
Menggunakan Formalin 30 ppm atau larutan kaporit sebanyak 1 ppm, yang dilarukan dengan air tambak.
- Dengan bahan alami
Dapat menggunakan daun sadah sebanyak 2 gr/liter air, yang dilarutkan selama 15 menit. Atau dapat juga menggunakan daun sirih yang telah diremas, direndam dan disaring airnya, kemudian udang yang terserang penyakit ini direndam selama 15 menit.
• Pengendalian
Langkah pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan membuang lapisan Lumpur organic dan memberikan pengapuran pada dasar tambak.
DAFTAR PUSTAKA
Kokarkin, C., 2002. “Petunjuk Teknis Budidaya Udang Rostris”. Dirjen Perikanan. Jakarta.
Junaidah, S., 2004. “Petunjuk Teknis Pembenihan Udang Rostris”. Dirjen Perikanan Budidaya. BBPBAP Jepara.
Basri H. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Udang Rostris Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor
- Laju pertumbuhan yang menyerupai udang windu (dapat mencapai ukuran 30 gr/4 bulan).
- Toleran terhadap suhu rendah dan perubahan salinitas (khususnya pada salinitas tinggi).
- Toleran terhadap lingkungan yang ekstrim (kindisi tanah gambut dan kondisi lainnya).
Pemicu munculnya penyakit pada udang rostris ada tiga, faktor yakni menurunnya kualitas lingkungan pemeliharaan, adanya jasad patogen, dan kondisi udang yang lemah. Bila udang rostris terserang penyakit dapat dipastikan ditimbulkan oleh beberapa faktor tersebut. Untuk mencegah dan mengobatinya maka harus diketahui faktor penyebabnya.
Klasifikasi
Klasifikasi dari udang rostris (Litopenaeus stylirostris) adalah sebagai berikut :
• Sub Phyllum : Crustacea
• Kelas : Malacostraca
• Ordo : Decapoda
• Famili : Penaidae
• Genus : Litopenaeus
• Species : Litopenaeus stylirostris
Morfologi
Ciri morfologi udang rostris ini tidak berapa beda dengan deskripsi udang pada umumnya. Secara jelas yang tampak adalah udang ini berwarna biru kehitaman, keki renang merah kebiru-biruan, rostrum panjang bergigi 7 pada bagian atas (dorsal) dan 1 gigi lunak yang berkembang di bagian ventral.
Persiapan Air Media
Dalam persiapan air media awal sudah dianggap baik apabila kondisi parameter kualitas air dan kelimpahan plankton tidak mengalami goncangan (fluktuasi) yang mencolok. Tahapan dalam persiapan air media awal adalah sebagai berikut :
- Pengamatan parameter kualitas tanah (pH : 6,5-7,5 ; kandungan bahan organic 8-10 %). Tujuan dari pengamatan parameter kualitas tanah ini adalah untuk mengetahui kondisi tanah tersebut sudah layak atau belum bagi kebutuhan biologis udang yang akan dipelihara.
- Pengisian air seluruh komponen petakan tambak hingga mencapai ketinggian yang optimal (1,2-1,4 m), dilakukan pada saat kondisi air laut sedang pasang tinggi. Kemudian air dibiarkan 2-5 hari dengan tujuan untuk mengetahui tingkat porositas tanah dan tingkat evaporasi (penguapan) air pada petakan tambak yang akan dioperasionalkan.
- Sterilisasi air media dengan kaporit berkisar antara 25-30 ppm dan ditebar merata, kemudian diaerasi (dikincir) yang kuat selama 3-5 jam. Pengadukan dengan kincir bertujuan agar kaporit yang diaplikasikan tersebar secara merata hingga ke dasar tambak, sehingga air media tersebut dapat segera steril.
- Pengamatan parameter kualitas air, seperti pH (7,5-8,5), suhu (28o-31o C), dan salinitas (15-35 ppt), serta parameter air lainnya. Pengukuran parameter kualitas air ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kualitas air secara awal, sehingga pada saat penebaran benur dapat disesuaikan (untuk proses adaptasi penebaran benur).
Pemilihan dan Penebaran Benih
Apabila kondisi air media sudah siap dalam artian baik kondisi parameter kualitas air dan kondisi kelimpahan plankton, maka segera dapat dilakukan penebaran benih.
Pemilihan standar benih udang rostris adalah sebagai berikut :
- Ukuran diusahakan seragam.
- Gerakan lincah dan menantang arus.
- Respon terhadap gerakan.
- Warna tubuhnya putih transparan.
- Kaki dan kulit bersih.
- Isi usus tidak putus, dan
- Adaptif (tahan) terhadap perubahan salinitas.
Benih udang rostris yang ditebar adalah ukuran PL-15 atau ukuran tokolan (sebesar pentol korek api) dan sudah dalam kondisi bebas virus. Standar baku benih yang baik adalah setelah dipilah dengan formalin, kematiannya maksimal tidak lebih dari 5 %. Benih tersebut diangkut ke tambak dan kemudian sebelum ditebar terlebih dahuludiadaptasikan terhadap parameter kualitas air yaitu suhu, salinitas, pH, dan parameter lainnya secara perlahan-lahan selama 5-15 menit.
Waktu penebaran yang baik diusahakan pagi hari (jam
Masa Pemeliharaan
Selama masa pemeliharaan udang rostris berlangsung (masa operasional berjalan) perlakuan dan pengamatan sangatlah menentukan tingkat keberhasilan. Untuk itu, dalam kurun waktu tersebut ada beberapa kegiatan, perlakuan, dan pengamatan penting yang perlu diperhatikan, yaitu :
- Pengaturan dan pemberian pakan.
- Manajemen plankton.
- Pengelolaan air dan lumpur.
- Pengamatan kondisi dan pertumbuhan udang.
Faktor yang sangat penting selam masa pemeliharaan udang adalah pengamatan mengenai kondisi dan kesehatan udang rostris pada tambak yang dioperasionalkan. Untuk mengetahui kondisi ini dapat diindikatorkan dengan pengamatan secara visual yaitu diantaranya adalah :
- Udang ditempeli oleh jenis bakteri Zoothamium sp dan jenis lainnya pada insang dan tubuh.
- Insang kotor.
- Kepala (karapas) dan kulit (abdomen) berlumut.
- Ekor geripis.
- Anthena putus.
- Daging udang keropos.
- Warna tubuh dan ekor kemerahan.
Udang yang sehat dicirikan dengan normalnya fungsi fisiologis yang secara fisik dapat terlihat dari nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ dan jaringan tubuh. Udang akan tetap dalam kondisi sehat selama lingkungan masih mampu untuk mentolerir beban polusi internal sebagai hasil degradasi input produksi (pupuk, pakan, dan obat-obatan). Penyakit yang pada umumnya mulai terjadi pada bulan kedua pada masa pemeliharaan.
Kemampuan mengendalikan factor penyebab stress dan antisipasi yang tepat terhadap potensi serta gejala sakit akan menentukan kualitas dan kuantitas pada akhir masa pemeliharaan hingga panen. Hampir semua kunci manajemen kesehatan adalah pencegahan, namun tidak menutup kemungkinan dilakukannya pengobatan. Ada beberapa kegiatan monitoring kesehatan dan perlakuan udang selama masa pemeliharaan, diantaranya :
- Pengamatan Rutin
- Pengamatan Visual
- Pencegahan Penyakit
Penyakit yang biasa menyerang ikan sumatera adalah sebagai berikut :
1. White Spot Syndrom Virus (WSSV)
• Gejala / Ciri-ciri
- Udang menempel di pematang/bamboo.
- Berenang abnormal.
- Secara mikroskopik terlihat bercak putih dengan bentuk bunga dan inti kehitaman.
- Timbul bercak putih di kulit.
• Pengobatan
- Dengan bahan kimia
Dapat diberikan Vitamin C sebanyak 100 ppm yang dicampurkan dalam pakan dan diberikan kepada udang yang terserang selama 3 hari, atau dapat juga diberikan Fucoidan (ekstrak rumput laut) sebanyak 60 - 100 mg/ kg udang/ hari selama 15 hari.
- Dengan bahan alami
Dapat digunakan ekstrak dari daun sambiloto dengan cara diremas, air tersebut dicampur dengan pakan dan dikeringkan, setelah itu baru diberikan pada udang, atau dapat juga menggunakan ekstrak daun Maiyana dengan dosis 0,5 gr/5 liter air.
• Pengendalian
- Memilih benih yang telah bebas virus.
- Aplikasikan air steril dan juga pagar keliling.
2. Bakteri Zoothalium sp
• Gejala / Ciri-ciri
- Kulit dan badan berlumut.
- Karapas dan kulit abdomen.
- Warna tubuh kemerahan.
• Pengobatan
- Dengan bahan kimia
Dapat digunakan Formalin dengan dosis 30 ppm atau kaporit 1 ppm diberikan selama 1 hari.
- Dengan bahan alami
Menggunakan larutan kunyit atau daun sirih.
• Pengendalian
- Membuang lapisan dasar tambak.
- Pelihara ikan bandeng.
- Perbaiki dasar tambak.
3. Lumutan
• Gejala
- Kulit seperti berbulu.
- Tubuh keropos/kusam.
- Insang kotor.
• Pengobatan
- Dengan bahan kimia
Menggunakan Formalin 30 ppm atau larutan kaporit sebanyak 1 ppm, yang dilarukan dengan air tambak.
- Dengan bahan alami
Dapat menggunakan daun sadah sebanyak 2 gr/liter air, yang dilarutkan selama 15 menit. Atau dapat juga menggunakan daun sirih yang telah diremas, direndam dan disaring airnya, kemudian udang yang terserang penyakit ini direndam selama 15 menit.
• Pengendalian
Langkah pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan membuang lapisan Lumpur organic dan memberikan pengapuran pada dasar tambak.
DAFTAR PUSTAKA
Kokarkin, C., 2002. “Petunjuk Teknis Budidaya Udang Rostris”. Dirjen Perikanan. Jakarta.
Junaidah, S., 2004. “Petunjuk Teknis Pembenihan Udang Rostris”. Dirjen Perikanan Budidaya. BBPBAP Jepara.
Basri H. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Udang Rostris Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor
Langganan:
Komentar (Atom)



