
Morfologi Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum) dan Ikan Bawal Bintang (Trachinotus blochii)
Ikan
bawal (Colossoma macropomum) memiliki warna tubuh abu-abu tua, pada
tubuh bagian ventral berwarna merah pada bawal muda, dan akan memudar
sejalan dengan pertambahan umur. Ikan bawal memilki gigi-gigi yang tajam
(Djarijah, 2004).
Dari arah samping, tubuh bawal tampak membulat
(oval) dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2:1. Bila dipotong
secara vertical, bawal memiliki tubuh pipih (compressed) dengan
perbandingan antara tinggi dan lebar tubuh 4:1. Bentuk tubuh seperti ini
menandakan gerakan ikan bawal tidak cepat seperti ikan lele atau grass
cap, tetapi lambat seperti ikan gurame atau tambakan. Sisiknya kecil
berbentuk ctenoid, dimana setengah bagian sisik belakang menutupi sisik
bagian depan. Warna tubuh bagian atas abu-abu gelap, sedangkan bagian
bawah berwarna putih. Pada bawal dewasa, bagian tepi sirip perut, sirip
anus dan bagian bawah sirip ekor berwarna merah. Warna merah ini
merupakan ciri khusus bawal sehingga oleh orang inggris dan amerika
disebut red bally pacu (Arie, 2000).
Klasifikasi dan tatanama ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum) menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Subfilum : Craniata
Kelas : Pisces
Subkelas : Neopterigii
Ordo : Cypriniformes
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Characidae
Genus : Colossoma
Species : Colossoma macropomum
Ikan
bawal air tawar (Colossoma macropomum) memiliki badan agak bulat,
bentuk tubuh pipih, sisik kecil, kepala hampir bulat, lubang hidung agak
besar, sirip dada di bawah tutup insang, sirip perut dan sirip dubur
terpisah, punggung berwarna abu-abu tua, serta perut putih abu-abu dan
merah (Saint-paul dalam Supriatna 1998). Ikan bawal air tawar (Colossoma
macropomum) memilki dua buah sirip punggung yang letaknya agak bergeser
ke belakang. Sirip perut dan sirip dubur terpisah, sedangkan sirip ekor
berbentuk homocercal. Ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum)
memiliki bibir bawah menonjol dan memiliki gigi besar serta tajam untuk
memecah bibi-bijian atau buah-buahan yang ditelannya. Lambung ikan bawal
air tawar (Colossoma macropomum) berkembang baik dan memiliki 43-75
buah pyloric caeca. Ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum) memiliki
insang permukaan, sehingga permukaan pernapasannya lebih luas dari pada
jenisikan lain. Permukaan pernapasan yang luas ini memungkinkan ikan
bawal (Colossoma macropomum) air tawar mampu bertahan hidup pada
perairan yang memiliki kandungan oksigen rendah. Pada kondisi perairan
dengan kandungan oksigen terlarut kurang dari 0,5 mg O2/l masih
memungkinkan ikan ini dapat bertahan selama beberapa jam (Djarijah
2001).
Dari arah samping, tubuh ikan bawal tampak membulat
(lonjong) dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2:1. Bila
dipotong secara vertikal, bawal memiliki bentuk tubuh pipih (compressed)
dengan perbandingan antara tinggi dan lebar tubuh 4:1. Bentuk tubuh
seperti ini menandakan gerakan ikan bawal tidak cepat seperti ikan lele
atau grass carp, tetapi lambat seperti ikan gurame dan tambakan.
Sisiknya kecil berbentuk stenoid, di mana setengah bagian sisik belakang
menutupi sisik bagian depan. Warna tubuh bagian atas abu-abu gelap,
sedangkan bagian bawah berwarna putih. Pada ikan bawal dewasa, bagian
tepi sirip perut, sirip anus dan bagian bawah sirip ekor berwarna merah.
Warna merah ini merupakan ciri khusus ikan bawal tawar (Colossoma
macropomum) sehingga oleh orang Inggris dan Amerika disebut red bally
pacu (Arie 2000). Kepala ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum)
berukuran kecil yang terletak di ujung kepala tetapi agak sedikit ke
atas. Bawal memiliki lima buah sirip, yaitu sirip punggung, sirip dada,
sirip perut, sirip anus dan sirip ekor. Sirip punggung tinggi kecil
dengan sebuah jari-jari tegak keras, tetapi tidak tajam, sedangkan
jari-jari lainnya lemah. Sirip punggung pada ikan bawal air tawar
(Colossoma macropomum) terletak agak ke belakang. Sirip dada, sirip
perut dan sirip anus kecil dan jari-jarinya lemah. Demikian pula dengan
sirip ekor, jari-jarinya lemah tetapi berbentuk cagak (Arie 2000).
Ikan
bawal air tawar (Colossoma macropomum) atau lebih dikenal dengan
sebutan tambaqui adalah ikan introduksi yang berasal dari Amerika Latin,
terutama dari Brazil. Ikan ini merupakan ikan yang potensial untuk
dibudidayakan karena berbagai kelebihannya. Ikan ini mempunyai tingkat
kelangsungan hidup yang tinggi (hingga 90%) dan dapat dipelihara dalam
kolam dengan kepadatan yang tinggi. Ikan bawal air tawar hidup
bergerombol di daerah yang aliran sungainya deras, tetapi ditemukan pula
di daerah yang airnya tenang, terutama saat masih dalam kondisi benih.
Di habitat asalnya, ikan ini ditemukan di sungai Orinoco di Venezuela
dan sungai Amazon di Brazil (Arie 2000). Di dalam negeri sendiri ikan
bawal tawar (Colossoma macropomum) mulai digemari oleh berbagai kalangan
masyarakat, terutama di Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Dari keempat provinsi tersebut, Jawa Barat dapat dikatakan
sebagai pelopor karena di provinsi inilah ikan bawal tawar pertama kali
dikembangkan. Dalam satu musim tidak kurang 500 juta ekor benih dijual
ke berbagai provinsi di Indonesia. Indonesia juga mengekspor ikan bawal
dalam ukuran kecil atau sebagai ikan hias ke negara Hongkong dan
Amerika. Sampai saat ini baru sekitar 10 % dari seluruh permintaan dapat
dipenuhi (Arie 2000).
Ikan bawal bintang termasuk ikan predator
perenang cepat. Pada saat juvenil ikan hidup bergerombol didaerah muara
sungai dan berkarang namun setelah besar hidup soliter di daerah karang
maupun laut lepas. Bawal bintang berbentuk sangat gepeng dan ramping
(much compressed) dengan ekor bercagak (forked). Tubuh bagian lateral
dan ventral berwarna putih keperakan sedangkan bagian dorsal abu-abu
kehijauan. Mulut sub terminal dan bisa dikatup sembulkan, dengan
dilengkapi gigi beludru halus (feliform teeth). Permukaan tubuh ditutupi
sisik kecil bertipe sisir (stenoid), dan mempunyai gurat sisi (lateral
fin) melengkung mengikuti profil punggung. Ikan dewasa (matang gonad)
berukuran lebih dari 1 kg dengan panjang lebih dari 25 cm. Ukuran dewasa
biasanya berumur sekitar 3 tahun. Ikan bawal bintang memilki nama asing
yaitu Pompanoo Silver (Hartanto dkk., 2009).
Bawal bintang
merupakan ikan introduksi dari Taiwan dan memiliki prospek baik di
kawasan Asia Pasifik dengan harga yang cukup tinggi. Pembenihan dan
budidaya bawal bintang di Taiwan sudah berkembang baik sedangkan di
Indonesia komoditas hanya dibudidayakan di karamba jaring apung (KJA)
dengan benih yang diperoleh dari usaha pembenihan di Taiwan.
Bawal
bintang termasuk ke dalam kelompok ikan pemakan segala (Omnivora),
tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa ikan ini cenderung menjadi
karnivora (pemakan daging). Hal tersebut terlihat dari bentuk giginya
yang tajam. Pada ukuran larva bawal bintang, ikan ini menyukai
zooplankton dari jenis rotifera (Brachionus dan Artemia) untuk jenis
phytoplankton adalah Tetraselmis sp. (Balai Budidaya Laut Batam, 1999).
Pada ukuran benih menyukai makanan sejenis plankton (Fitoplankton dan
zooplankton) serta tumbuhan air atau dedaunan (herbivora).
Kualitas
dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya bawal bintang, agar
dapat tumbuh dan berkembangbiak. Kualitas pakan dapat dipenuhi dengan
pemberian ikan rucah segar, pellet, pencampuran vitamin dan
multivitamin. Sedangkan untuk kuantitas pakan yang baik diberikan 3-5 %
dari berat total induk yang akan dipijahkan (Warta Budidaya, 2007).
Pencernaan Ikan Bawal Air Tawar dan Ikan Bawal Bintang
Sistem Pencernaan
Ditinjau
dari karakteristik saluran pencernaannya, ikan bawal mempunyai potensi
tumbuh yang cukup tinggi, karena bagian organ pencernaannya cukup
lengkap. Ikan ini mempunyai gigi yang berfungsi memotong dan
menghancurkan pakan, seperti halnya ikan piranha sehingga ikan ini mampu
beradaptasi terhadap segala jenis makanan, termasuk hijauan kasar
seperti daun-daunan. Lambung ikan ini berbentuk U dengan kapasitas cukup
besar. Ususnya panjang, dan pada bagian anteriornya dilengkapi dengan
piloric caeca yang didalamnya terjadi proses pencernaan enzimatis
seperti halnya pada usus dan lambung. Bagian akhir dari usus terjadi
diferensiasi usus yang lebih lebar yang disebut rectum. Pada bagian ini
tidak lagi terjadi pencernaan, fungsinya selain sebagai alat ekskresi,
juga membantu proses osmoregulasi (Hoar 2006). Berdasarkan kebiasaan
makanan terlihat perbedaan struktur anatomis alat pencernaan ikan.
Perbedaan yang mencolok ditemukan pada struktur tapis insang, struktur
gigi pada rongga mulut, keberadaan dan bentuk lambung, serta panjang
usus. Tapis insang pada ikan herbivora banyak, panjang, dan rapat,
sementara pada ikan omnivora sedang dan pada ikan karnivora sedikit,
pendek, dan kaku. Rongga mulut pada ikan herbivora sering tidak bergigi,
sementara pada ikan omnivora bergigi kecil dan pada ikan karnivora
umumnya bergigi kuat dan panjang. Ikan herbivora berlambung palsu atau
tidak berlambung, sementara ikan omnivora berlambung dengan bentuk
kantong dan ikan karnivora berlambung dengan bentuk bervariasi.
Usus
ikan herbivora sangat panjang beberapa kali panjang tubuhnya, sementara
pada ikan omnivora sedang 2 sampai 3 kali panjang tubuh dan pada ikan
karnivora pendek, kadang lebih pendek dari panjang tubuhnya. Organ hati
dan pankreas adalah kelenjar pencernaan yang mensekresikan bahan yang
kemudian digunakan dalam proses pencernaan makanan. Bahan hasil sekresi
kedua organ tersebut akan masuk ke usus melalui ductus choledochus dan
ductus pankreaticus. Adanya hubungan antara kelenjar pencernaan dan usus
depan maka letak kelenjar tersebut berada di sekitar usus depan dan
lambung. Keasaman (pH) lambung pada saat lambung kosong (tidak ada
makanan) berkisar antara 4 - 7,4 sedangkan pada saat penuh berkisar
antara 2,2 - 2,8. Keasaman (pH) usus adalah netral atau hampir alkalis,
yaitu antara 6 sampai 8. Pada ikan grass carp pH berkisar antara 7,4 -
8,5 pada usus bagian anterior, pada bagian pertengahan berkisar antara
7,2 - 7,6 dan di bagian posterior sekitar 6,8 (Hickling 1960 dalam
Opusynski dan Shireman 1994). Spesies lain dari ikan laut dengan pH usus
berkisar antara 6,1 - 8,6 (Horn 1989 dalam Opuszynski dan Shireman
1994).
Berdasarkan kebiasaan makannya, Ikan bawal air tawar termasuk
jenis ikan omnivor (Saint-paul dalam Supriatna 1998). Ikan bawal air
tawar (Colossoma macropomum) bersifat kanibal pada saat stadium larva.
Jadi pada saat fase tersebut larva tidak boleh kekurangan makanan karena
sifat kanibalnya akan muncul (Arie 2000) dan untuk Ikan bawal bintang
merupakan ikan karnivora yang cenderung bersifat omnivora, dengan pakan
utama plankton dan menyukai udang ataupun ikan-ikan kecil dan hewan
lainnya. (Tatang 1981). Panjang usus berkisar 2 - 2,5 kali panjang
badan.
Usus ikan bawal dilengkapi dengan pyloric caeca pada bagian
anterior, yang merupakan modifikasi dari usus ikan fungsinya sebagai
organ pencernaan dan bentuknya agak membesar dari pada sehingga menurut
Suhartono 1991 banyak terdapat enzim yang diproduksi oleh bakteri. Ikan
yang memiliki pyloric caeca (Gambar 3) biasanya ikan yang memiliki
pencernaan yang berbeda dengan ikan secara umum. Pyloric caeca berfungsi
sebagai organ tambahan dalam proses pencernaan, sehingga proses
pencernaan dapat berlangsung dengan cepat dan maksimal (Souza et al
2005). Selain itu pyloric caeca diketahui merupakan tempat utama dalam
pengabsorbsi nutrien dan alat pembantu osmoregulasi tubuh pada beberapa
jenis ikan (Veillette 2007).
Struktur dan Fungsi Saluran Pencernaan
Menurut
Weichert (1959), kelenjar pencernaan pada ikan terdiri hati dan
pankreas. Kedua organ tersebut megekskresikan bahan yang kemudian
digunakan dalam proses pencernaan makanan. Saluran pencernaan pada ikan
dimulai dari rongga mulut. Di dalam saluran rongga mulut terdapat
gigi-gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah dan lidah pada
dasar mulut yang tidak dapat digerakan serta banyak menghasilkan
lendir, bukan sebagai kelenjar ludah (penghasil enzim). Dari rongga
mulut makanan masuk ke esophagus melalui faring yang terdapat di daerah
sekitar insang. Esofagus berbentuk kerucut, pendek, terdapat di belakang
insang dan bila tidak dilalui makanan lumennya menyempit. Dari
kerongkongan makanan di dorong masuk ke lambung, lambung pada umumnya
membesar, tidak jelas batasnya dengan usus. Pada beberapa jenis ikan,
terdapat tonjolan buntu untuk memperluas bidang penyerapan makanan. Dari
lambung, makanan masuk ke usus yang berupa pipa panjang berliku-liku
dan sama besarnya. Hal yang mencolok pada segmen ini adalah adanya
penebalan lapisan otot melingkar yang mengakibatkan terjadinya
penyempitan saluran. Dengan menyempitnya saluran pencernaan pada segmen
ini bahwa segmen pyloric caeca berfungsi sebagai pengatur pengeluaran
makanan dari lambung ke segmen usus. Pada pyloric caeca terdapat enzim
tripsin dan kimotripsin (Poernomo 1992). Selanjutnya dari usus akan
bermuara pada anus.
Organ Pencernaan Ikan Bawal Sumber :http://konservasi-laut.blogspot.com.anatomi-ikan-bawaldorang.html
Proses
pencernaan hewan laut khususnya ikan, sebenarnya tidak berbeda dengan
pencernaan pada hewan-hewan lain, kecuali pada ikan yang tidak mempunyai
lambung. Sebab, enzim pencernaan berasal dari lambung, usus kecil dan
pankreas. Protein mulai dicerna di lambung oleh hasil pengaktifan
pepsinogen menjadi pepsin (pH 1,5-2,5). Di dalam lambung merupakan suatu
persiapan untuk pencernaan di dalam usus. Di dalam usus peptid akan
mengalami hidrolisis dimana prosesnya dilakukan oleh enzim
karboksipeptidase, tripsin, khimotripsin, elastase sebagai
katalisatornya menjadi polipeptida, tripeptida dan dipeptida.
Selanjutnya oligopeptid tersebut akan dihidrolisis oleh enzim peptidase
menjadi bentuk tritida dan dipeptid hingga akhirnya menjadi asam amino.
Pencernaan protein ikan yang tidak berlambung terjadi di usus depan dan
diperankan oleh enzim protease yang bersala dari pankreas.
Menurut
Isnaeni (2006), proses pencernaan secara lebih sempurna dan penyerapan
sari makanan berlangsung di dalam usus. Di usus, bahan makanan
(karbohidrat, lipid dan protein) dicerna lebih lanjut dengan bantuan
enzim dan diubah menjadi berbagai komponen penyusunnya agar dapat
diserap dan digunakan secara optimal oleh hewan. Berikut proses
pencernaan karbohidrat, lipid dan protein.
Pencernaan Karbohidrat
Di dalam mulut, karbohidrat dalam makanan dicerna secara mekanik dengan bantuan gigi.
• Pencernaan Protein
Apabila
dalam lambung terdapat protein, sel dinding lambung akan menghasilkan
gastrin, yaitu senyawa kimia yang merangsang lambung untuk mengeluarkan
asam dari sel parietal dan pepsinogen dari sel kepala (chief cells).
Selanjutnya, enzim pemecah protein (proteolitik) akan menguraikan
protein dengan cara memutuskan ikatan peptide pada protein sehingga
dihasilkan asam amino.
• Pencernaan Lipid
Pencernaan lipid
baru dimulai pada saat bahan makanan sampai di usus.Pencernaan ini
terjadi dengan bantuan enzim lipase usus, lipase lambung dan lipase
pankreas. Lipase akan menghidrolisis lipid dan trigliserida menjadi
digliserida, monogliserida, gliserida dan asam lemak bebas. Lipase dalam
bentuk zimogen (prolipase) akan diaktifkan oleh protein khusus dari sel
epitel usus (disebut kolipase) sehingga dapat memecah lipid menjadi
asam lemak.
2.2.3 Enzim Pencernaan
Enzim adalah katalisator
biologis dalam reaksi kimia yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan.
Enzim adalah protein yang disintesis di dalam sel dan dikeluarkan dari
sel penghasilnya melalui proses eksositosis. Enzim yang disekresikan ke
luar digunakan untuk pencernaan di luar sel (di dalam rongga pencernaan)
atau disebut extracelluler digestion, sedangkan enzim yang
dipertahankan di dalam sel digunakan untuk pencernaan di dalam sel itu
sendiri atau disebut intracelluler digestion (Affandi et al 2005). Enzim
pencernaan yang disekresikan dalam rongga pencernaan berasal dari
sel-sel mukosa lambung, pyloric caeca, pankreas dan mukosa usus. Oleh
karena itu, perkembangan sistem pencernaan erat kaitannya dengan
perkembangan aktivitas enzim di dalam rongga saluran pencernaan (Walford
dan Lam 1993).
Enzim berperan sebagai katalisator dalam hidrolisis
protein, lemak dan karbohidrat menjadi bahan-bahan yang sederhana.
Sel-sel mukosa lambung menghasilkan enzim protease dengan suatu
aktivitas proteolitik optimal pada pH rendah. Pyloric caeca yang
merupakan perpanjangan usus terutama mensekresikan enzim yang sama
seperti yang dihasilkan pada bagian usus, yaitu enzim pencernaan
protein, lemak dan karbohidrat yang aktif pada pH netral dan sedikit
basa. Cairan pankreas banyak mengandung tripsin, yaitu suatu protease
yang aktivitasnya optimal sedikit di bawah alkalis, di samping itu
cairan ini juga mengandung amilase, maltase dan lipase. Pada ikan yang
tidak memiliki lambung dan pyloric caeca, aktivitas proteolitik terutama
berasal dari cairan pankreas. Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa
komposisi cairan pencernaan berhubungan dengan makanan yang dimakan oleh
suatu spesies ikan. Hasil dari studi tertentu memberikan dukungan yang
jelas bahwa komposisi cairan digestif berhubungan dengan makanan yang
dimakan oleh suatu spesies ikan (Handayani 2008).
Enzim berperan
dalam mengubah laju reaksi sehingga kecepatan reaksi yang diperlihatkan
dapat dijadikan ukuran keaktifan enzim. Satu unit enzim adalah jumlah
enzim yang mengkatalisis transformasi 1 mikromol substrat dalam waktu 1
menit pada suhu 25°C dan pada keadaan pH optimal. Aktivitas enzim
bergantung pada konsentrasi enzim, substrat, suhu, pH, dan inhibitor.
Huisman (1976) menyatakan bahwa enzim pencernaan yang dihasilkan oleh
lambung ikan aktif pada pH 2-4. Aktivitas enzim pencernaan adalah suatu
indikator yang baik untuk menentukan kapasitas pencernaan.
Aktivitas
enzim yang tinggi secara fisiologis mengindikasikan bahwa larva siap
untuk memproses pakan dari luar (Gawlicka etal 2000). Aktivitas enzim
pencernaan meningkat dengan meningkatnya umur larva. Peningkatan ini
disebabkan oleh semakin sempurnanya organ penghasil enzim. Akan tetapi,
untuk beberapa jenis enzim akan menurun sesuai dengan kebiasaan makanan
dari ikan (Infante dan Cahu 2001). Berdasarkan evaluasi yang dilakukan
Haryati (2002) ada keterkaitan antara aktivitas enzim pencernaan dan
perkembangan struktur organ pencernaan dan kebiasaan makanan dari ikan
bandeng. Pada saat struktur anatomis dan histologis alat pencernaan
belum sempurna, enzim endogen yang disekresikan sangat sedikit. Hal ini
dicerminkan oleh aktivitas enzim pepsin, tripsin, a-amilase dan lipase
yang sangat rendah. Dengan bertambahnya umur larva, struktur anatomis
organ pencernaan semakin sempurna hingga mencapai fase definitif.
Setelah mencapai bentuk definitif, produksi enzim pencernaan sudah cukup
tinggi sehingga ikan mampu mencerna pakan yang tidak mengandung enzim.
Aktivitas
enzim amilase terus meningkat dengan meningkatnya umur, sedangkan
aktivitas enzim lipase dan tripsin menurun pada saat larva umur 35 hari.
Penurunan aktivitas enzim protease diduga karena adanya perubahan dalam
kebiasaan makanan, yaitu dari karnivora menjadi omnivora. Aktivitas
enzim amilase pada ikan karnivora lebih rendah dibandingkan dengan pada
ikan omnivora dan herbivora (Furuichi 1988). Dengan demikian, kemampuan
ikan mencerna karbohidrat sangat rendah terutama pada ikan karnivora.
Kecernaan suatu makanan bervariasi menurut spesies ikan. Secara umum
kecernaan protein mulai dari 70 sampai 90%, karbohidrat bervariasi dari
15 sampai 40% dan untuk selulosa sekitar 1% (Zonneveld et al. 1991).
Organ
pencernaan utama yang mensekresikan lipase adalah usus, pankreas dan
pyloric caeca. Secara umum, ikan yang mendapatkan pakan berupa
uniseluler dan diatom (kandungan lemak kasar 1,98%) mempunyai aktivitas
lipase yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diberi pakan alga
hijau berfilamen (kandungan lemak kasar 0,98%). Enzim yang disekresikan
ke dalam lumen (rongga) saluran pencernaan berasal dari mukose larinl,
piyloric caeca, pankreas dan mukosa usus. Enzim-enzim karbohidrase,
protease dan lipase mempengaruhi pencernaan makanan di usus anterior.
2.2.4 Proteinase
Protein
adalah bahan organik dengan berat yang tinggi, tersusun dari sejumlah
asam amina yang disatukan dalam ikatan peptid. Pada hidrolisis protein
sederhaha hanya menghasilkan asam amino, sedangkan hidrolisis protein
yang berikatan dengan senyawa lain menghasilkan tambahan grup nonprotein
(gugusprostetik). Selama pencernaan, rantai peptida dihidrolisis satu
per satu menjadi asam amino atau gugus asam amino. Enzim-enzim
pencernaan protein yang dikenal secara umum dapat dilihat pada tabel 1.
Menurut
Handajani (2006) enzim protease dibagi menjadi endopeptidase dan
eksopeptidase. Endopeptidase berperan sebagai katalisator dalam
menghidrolisis rantai peptid bagian tengah dan rantai peptid yang sangat
spesifik. Sedangkan eksopeptidase mengkatalisis dalam melepaskan ujung
asam amino. Endopeptidase dan eksopeptidase dapat ditemukan sebagai
enzim intra selular maupun ekstra selular.
1. Pepsin
Enzim
endopeptidase yang berperan penting dalam pencernaan protein antara lain
adalah pepsin. Pepsin merupakan enzim yang disekresikan oleh mukosa
lambung. Enzim ini memiliki aktivitas proteolitik optimal pada pH 2.
Pepsin ditemukan pada seluruh hewan vertebtata kecuali pada ikan yang
tidak memiliki lambung. Aktivitas pepsin tergantung pada pH, suhu dan
jenis substrat. Kekuatan mencerna dari cairan gastrik bergantung pada
jumlah pepsin pH. Konsentrasi enzim tertentu, aktivitas proteolitik dari
cairan digestif akan mencapai maksimal pada pH lebih rendah dari 4.
Cairan
gastrik cukup mengandung HCl untuk mencapai pH asam. Di dalam lambung,
hanya lapisan luar dari makanan yang mempunyai nilai pH yang cocok untuk
aktivitas pepsin, sedangkan bagian dalam mempunyai nilai pH yang lebih
tinggi. Konsekuensinya adalah pencernaannya terjadi secara bertahap,
sehingga ketika lapisan luar telah menjadi cair baru kemudian lapisan
berikutnya mengalami pengasaman dan selanjutnya akan dicerna hingga
menjadi cair. Selain dipengaruhi pH, pencernaan di lambung juga disokong
oleh konsentrasi pepsin yang tinggi, suhu yang tinggi dan gerakan
lambung yang intensif. Sebagai hasil akhir dari hidrolisis enzim pepsin
ini adalah protease, pepton dan peptida. Untuk dapat diserap, hasil
hidrolisis enzim dihirolisis lagi oleh enzim eksopeptidase.
2. Tripsin
Enzim
ini disekresikan oleh pankreas eksokrin. Aktivitas tripsin dapat
ditemukan dalam segmen usus, diserap oleh mukosa usus. Tripsin aktif
secara maksimal pada media basa karena pada pH 7-11, tergantung
substrat. Hasil akhir hidrolisis tripsin adalah Protease, pepton,
peptida dan asam amino. Aktivitas proteolitik pada segmen usus umumnya
menurun dari bagian depan ke arah bagian belakang dan enzim ini resisten
terhadap autolisis di dalam usus. Walaupun demikian enzim yang ada pada
hormon tersebut akan diserap kembali oleh dinding usus di bagian
belakang (Handajani, 2006).
Aktivitas enzim sangat mempengaruhi
kecernaan dapat ditentukan dengan umur ikan, keadaan fisiologis dan
musim, serta berkorelasi positif dengan kebiasaan makanan ikan (Kuzmina
1996). Menurut Souza et al. (2007) pada ikan di daerah tropis memiliki
enzim alkali protease diperoleh dari pyloric caeca dan berfungsi dalam
menjaga kestabilan suhu yang baik dan mempunyai aktivitas yang tinggi
pada rentang pH yang luas. Ada macam-macam jenis ikan air tawar salah
satunya adalah ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum) memiliki
pyloric caeca yang dapat menghasilkan enzim alkali protease. Enzim
alkaliprotease merupakan salahsatu turunan dari enzim serin. Alkali
protease ditemukan aktif pada pH antara 8-13 dan banyak yang termasuk
kedalam golongan protese serin subtisilin. Asam amino serin, histidin
dan aspartat pada sisi aktif protease kelompok ini ditemukan bersifat
consevered (Neurath 1989 dalam Suhartono 2000). Protease alkali tersebar
luas pada virus, bakteri dan golongan eukariot, sehingga menunjukkan
peranannya yang sangat penting bagi makhluk hidup. Berdasarkan kemiripan
strukturnya, alkali protease dibedakan menjadi 20 famili yang
diperkirakan berakar pada 6 molekul enzim pemula (ancestor ) (Rao et
al.1998).
Alkali protease diproduksi oleh berbagai spesies
bakteri, kapang dan khamir. Enzim alkali protease spesifik terhadap
residu asam amino aromatik atau hidrofobik fenilalanin atau leusin pada
sisi karboksil dari titik pemutusan, mempunyai spesifitas yang mirip,
tapi sedikit lebih kuat dibandingkan dengan akhimotripsin (Suhartono
2000).
Enzim alkali protease banyak dihasilkan dari golongan
Bacillus. Alkali protease yang banyak dikenal adalah substilin, yang
meliputi substilin Carlsberg dan subtisilin BPN. Subtisilin Carlsberg
pertama sekali dikenali dalam keseluruhan asam amino yang telah
disekuen. Subtisilin clasberg dihasilkan oleh Bacillus licheniformis
bersifat tahan panas, pH optimumnya kira-kira 10, oleh sebab itu banyak
bermanfaat dalam berbagai industri deterjen dan industri pangan
khususnya pembuatan protein hidrolisat (Aunstrup 1979). Subtisilin Novo
atau subtisilin BPN yang dihasilkan oleh Bacillus amiloliquefacien,
sangat mirip dengan substisilin Carlsberg dalam hal stabilitas dan
aktivitasnya. Kisaran temperatur pH dan subtisilin BPN sedikit lebih
sempit untuk subtisilin BPN. Kedua jenis enzim tersebut tidak memiliki
residu sistein, aktif pada pH 8-9 serta dihambat senyawa yang bereaksi
dengan serin (Raoet al.1998). Menurut Primanita Sukma (2003) usus ikan
bawal hitam memiliki isolat proteolitik juga ditemukan di daerah usus
sepanjang 3-6 cm dari lambung namun protease ekstraseluler yang
diekresikan bersifat tidak stabil.
Bakteri Saluran Pencernaan Ikan
Bakteri
merupakan mikroorganisme bersel satu, tidak berklorofil, berkembang
biak dengan membelah diri, dan ukurannya sangat kecil. Bakteri termasuk
ke dalam golongan prokariot dengan dinding sel yang kompleks. Di sebelah
luar dinding sel terdapat selubung atau kapsul. Di dalam bakteri tidak
terdapat membran dalam (endomembran) dan organel bermembran seperti
kloroplas dan mitokondria (Dwidjoseputro, 2005).
Lingkungan
mengandung beranekaragam bakteri dalam jumlah yang berbeda-beda. Keadaan
lingkungan menentukan jumlah dan spesies bakteri yang dominan di
lingkungan tersebut (Gandjar et al. 1992). Salah satu lingkungan yang
menjadi habitat bakteri adalah saluran pencernaan ikan. Saluran
pencernaan adalah tabung khusus yang terbagi menjadi beberapa bagian
yang memanjang dari bibir hingga anus yang meliputi lambung, usus kecil
dan usus besar. Fungsi utama saluran pencernaan adalah mengubah makanan
menjadi komponen yang dapat dicerna dan diserap oleh tubuh, dan dalam
proses metabolismenya bersimbiosis dengan bakteri (Zoetendal et al.
2004).
Menurut Leano et al. (2005), jumlah bakteri yang ditemukan
dalam saluran pencernaan ikan lebih tinggi dibandingkan dengan
lingkungan perairan sekitarnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa saluran
pencernaan ikan menyediakan habitat yang menguntungkan bagi bakteri.
Fatimah (2005) dalam penelitiannya menyatakan bahwa dengan metode kultur
konvensional didapatkan beberapa genus bakteri yang memiliki potensi
sebagai bakteri proteolitik, diantaranya adalah dari genus Aeromonas dan
Enterobacter. Al-Harbi et al (2005) menyebutkan pada penelitiannya
bahwa terdapat 19 spesies bakteri yang berhasil diidentifikasi dari
perairan payau di Arab Saudi menggunakan kultur konvensional, dimana
sebagian besar ditemukan di usus. Bakteri tersebut di antaranya adalah
berasal dari genus Vibrio, Streptococcus dan Chryseomonas.
Usus
beberapa spesies ikan laut banyak mengandung bakteri halofilik (Clarke
dan Bauchop 1977). Bakteri halofilik telah diisolasi dari usus ikan laut
dalam, dengan metode Dorayaki yang menggunakan agar laut di bawah
tekanan in situ (Nakayama et al, 1994). Aeromonas salmocida dideteksi
dalam mukus ikanikan salmon (Cipriano et al 1992). Berdasarkan kriteria
fisiologisnya, telah diindentifikasi 504 jenis total bakteri saluran
pencernaan ikan rainbow trout. Dari jumlah tersebut, 153 strain telah
ditentukan urutan gen 16S rRNA. Mikroba yang dominan adalah dari subklas
Gamma-Proteobacteria (genera Citrobacter, Aeromonas dan Pseudomonas),
bakteri gram positif dengan G + C rendah (genus Carnobacterium) dan
subklas Beta-Proteobacteria (Spanggaard et al 2000). Umumnya makanan
yang pertama kali didapatkan dari luar untuk semua ikan dalam mengawali
hidupnya adalah plankton yang bersel tunggal dan berukuran kecil. Jika
untuk pertama kali ikan itu menemukan makanan berukuran tepat dengan
mulutnya, diperkirakan akan dapat hidup. Tetapi apabila dalam waktu yang
relative singkat ikan tidak dapat menemukan makanan yang cocok dengan
ukuran mulutnya akan terjadi kelaparan dan kehabisan tenaga yang
menyebabakan kematian. Setelah dewasa ikan itu akan mengikuti pola
kebiasaan induknya (Effendi, 2002).